LOGINMalam hari di sudut elit J-City memancarkan ketenangan yang relatif. Lampu-lampu jalan membiaskan pendar keemasan yang menawan, menerangi deretan arsitektur modern kota yang seolah tak pernah tidur.Namun, kedamaian di luar sana berbanding terbalik dengan kelelahan yang menghimpit dada Tyas.Di dalam hunian mewahnya, Tyas mengembuskan napas panjang yang sarat akan keletihan. Energinya terkuras habis usai seharian penuh meladeni agenda klien penting dari luar negeri.Rencana awalnya yang hanya sebatas mengantar dan menyambut mereka hingga ke pintu hotel berubah menjadi pendampingan belanja hingga berburu kuliner malam.Tyas melempar tubuhnya yang terasa kaku ke atas sofa ruang tengah yang empuk. Sorot matanya bergulir lirih menuju jam dinding bernuansa minimalis.Jarum jam telah menunjuk tepat ke angka tujuh malam. Menurut perhitungan di kepalanya, bahwa mungkin Mawar seharusnya telah menginjakan kaki di vila persembunyian Dewi dengan selamat.Pada mulanya, sempat terselip letupan
Roda mobil taksi online melaju dengan kecepatan sedang membelah remang malam. Di dalam kabin yang hening, Mawar duduk menyandarkan punggungnya seraya menggenggam erat tas kecil di pangkuannya.Sesuai dengan instruksi yang disampaikan oleh Tyas, kendaraan ini tak langsung membawanya ke tujuan akhir, melainkan menuju sebuah vila yang disewa khusus sebagai tempat tinggal palsu.Langkah ini diambil guna mengecoh pengawasan mata-mata keluarga Manggala yang mungkin membuntutinya, agar mereka percaya bahwa ia benar-benar sedang menghabiskan waktu berlibur di sana.Setibanya di vila sewaan Tyas, Mawar tidak langsung beranjak. Ia menunggu beberapa menit di dalam kegelapan yang sunyi sampai sebuah mobil lain merapat perlahan.Sesuai rencana, mobil penjemput itu membawanya keluar secara senyap melalui akses jalan belakang vila.Intrik Tyas teramat ketat dan penuh kalkulasi; Mawar diwajibkan berganti kendaraan beberapa kali untuk menghapus jejak dari pengawasan keluarga Manggala yang begitu keta
Sore hari di ruang VIP sebuah kafetaria elit kawasan J-City terasa begitu sunyi dan dingin. Udara berpendingin ruangan berembus pelan, membawa aroma pekat biji kopi pilihan. Andien duduk kaku di atas kursi busa yang empuk dengan secangkir kopi hitam yang mengepul tipis di hadapannya. Raut wajahnya dipaksakan tenang, tetapi topeng ketenangan itu sebenarnya amat rapuh. Di balik ketenangannya yang palsu, gejolak emosi dan kecemasan membakar jiwanya; ia merasa tegang dan diliputi kebingungan mendalam, sama sekali tak tahu harus memulai dari mana untuk mengutarakan niatnya kepada Jovian—pria yang telah menjalin hubungan asmara dengannya selama beberapa bulan terakhir. "Andien..." Panggil Jovian lembut, memecah hening yang merayap. Matanya yang tajam menatap khawatir pada Andien yang terus-menerus terdiam menatap cangkir kopinya tanpa menyentuhnya sedikit pun. Andien mendongak pelan. Manik matanya bertemu dengan pandangan hangat Jovian, memancarkan sorot beban emosional yang teramat b
Siang hari di sebuah restoran bintang lima kawasan elit J-City memancarkan suasana yang sangat eksklusif.Tyas dan putranya, Aidan, tengah menikmati makan siang dalam keheningan yang damai. Hanya suara dentingan halus dari sendok dan garpu yang berbenturan dengan piring porselen tebal yang terdengar mengisi area privat tempat mereka duduk.Begitu suapan terakhir usai dipindahkan, Tyas merengkuh gelas air mineral kristal miliknya, lalu menyesap isinya secara perlahan demi menetralisasi rasa.Tringgg! Tringgg!Dering nyaring dari ponsel milik Tyas mendadak memecah atmosfer tenang di area meja tersebut. Suara itu berulang kali menuntut perhatian.Tyas mengulurkan tangannya menggapai perangkat seluler itu. Di layar yang menyala, tertera sebuah nama yang tak biasa—sosok yang teramat jarang menghubungi dirinya jika bukan karena kebutuhan mendesak.Tyas menghela napas pendek, meredam keterkejutan dingin yang menyelinap. Jemarinya menggeser tombol hijau pada layar."Halo..." Jawab Tyas b
Udara di dalam kamar rawat inap tempat Ghina terbaring terasa sejuk, dilingkupi aroma khas antiseptik yang bercampur samar dengan keharuman manis buah jeruk yang baru dikupas. Di samping ranjang, Bima duduk di atas kursi besi berlapis busa. Jemarinya yang tangkas dengan cekatan mengupas sebuah jeruk, mengelupas serat-serat putihnya dengan ketenangan yang dipaksakan untuk menutupi riak kecemasan di dalam dadanya. Sementara itu, Ghina terduduk bersandar pada headboard ranjang rumah sakit. Lehernya masih diperban rapi, menutupi bekas luka traumatis yang hampir merenggut nyawanya. Tangannya bergerak lincah menari di atas layar sentuh ponsel pintar miliknya. Sejak insiden penyerangan tragis oleh Ririn, dokter melarang keras Ghina untuk menggunakan pita suaranya terlebih dahulu demi mempercepat proses pemulihan cedera di area lehernya. Perlahan, Ghina menghentikan jemarinya dan melirik Bima dari sudut mata. Ada kehangatan sekaligus rasa tidak enak hati yang membuncah di dalam benaknya.
Pagi hari menyapa kediaman Saifanny dengan nuansa yang asing dan muram. Di atas sana, langit sebenarnya memancarkan cahaya cerah yang menembus celah-celah awan, tetapi secara tiba-tiba tetesan hujan deras turun membasahi pekarangan.Suasana kontras antara sinar matahari dan gemericik air hujan itu seolah mencerminkan kekacauan emosional yang tengah mengintai di balik dinding rumah tersebut.Adrian menghentikan sedan mewahnya tepat di depan gerbang kediaman Saifanny. Ia sudah mengetahui dengan pasti bahwa wanita itu telah kembali dari perjalanannya.Informasi tersebut didapatnya dari anak buah Ghina dan guru Syahdan yang mengabarkan bahwa putranya sudah kembali masuk sekolah pagi ini.Adrian menghela napas pendek, meredam debar ketegangan yang merayapi dadanya. Tangannya terulur menggapai knop pintu mobil, memutar dan membukanya dengan gerakan tertahan.Ia melangkah pelan menembus pekarangan yang basah oleh sisa air hujan, mengusung ekspresi wajah yang diselimuti keseriusan dingin—se
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin







