LOGINSiang itu, di bawah naungan rimbun pepohonan Kafe Garden J-City, Andien duduk berhadapan dengan sahabat karibnya, Karina.Meski Bima saat ini masih dalam masa cuti, namun Andien memilih untuk menjaga jarak dan menolak melihat keberadaan pria berkacamata itu untuk sementara waktu."Jadi... Apa yang ingin kau bicarakan, Andien?" mulai Karina membuka konversasi, sepasang matanya menatap penuh rasa penasaran seolah sanggup membaca ekspresi wajah Andien yang sudah tidak tahan untuk menumpahkan cerita hidupnya.Andien mengembuskan napas panjang yang sarat akan beban batin. Jemari tangannya bergerak tak tenang, memainkan lingkar telinga cangkir kopi di hadapannya."Aku... mungkin akan kembali menetap di Australia. Berada di sini, aku merasa... hampa. Entahlah, aku sendiri tidak bisa menjelaskannya."Karina seketika mengerutkan alisnya dalam-dalam."Kau bilang baru kembali dari staycation mewah di hotel bintang lima bersamanya, jadi aku sempat berpikir kau akan menumpahkan sebuah kisah cinta
Pagi itu, di dalam ruang kerja pribadi Nabilla, ketegangan yang asing samar-samar merayap di antara interior mewah. Indra duduk tegap di atas sofa panjang beludru berwarna merah marun, dengan sepasang mata birunya yang fokus meneliti lembar demi lembar draf naskah film di tangannya. Ia membaca setiap bait dialog dengan raut wajah yang serius. Sementara itu, Nabilla tampak duduk tenang di kursi kebesarannya sembari menyesap secangkir teh hangat, memantau gerak-gerik sang kekasih. Nabilla perlahan meletakkan cangkir porselennya begitu menangkap gestur Indra yang telah merampungkan bacaannya. "Bagaimana? Ini film yang sangat bagus, kan?" tanya Nabilla memecah kesunyian. Indra meletakkan naskah tersebut ke atas permukaan meja, lalu ganti meraih cangkir teh di hadapannya untuk membasahi tenggorokan. "Noona yakin aku harus ikut casting ini? Aku belum memiliki pengalaman sebagai seorang aktor, dan aku juga baru seminggu mempelajari teknik akting," ucap Indra, menyuarakan kerisauan
Pagi itu, di dalam kamar suite mewah hotel bintang lima, Bima bersusah payah mengguncang tubuh Andien yang sulit untuk dibangunkan dari tidurnya."Andien, bangun. Siang ini kita sudah harus checkout," ucap Bima sembari terus mengguncang pelan tubuh wanita itu.Andien hanya menggeliat malas di balik selimut tebal, merasai enggan yang teramat sangat untuk melangkah meninggalkan kenyamanan hotel tersebut."Kita perpanjang saja jadwal menginapnya. Aku masih ingin berada di tempat ini," ucap Andien dengan suara yang parau dan serak khas orang baru terbangun.Bima menepuk pelan pipi mulus Andien menggunakan telapak tangannya."Jangan bercanda, Andien. Tarif menginap di hotel ini mahal sekali," ucap Bima demi meyakinkan kekasihnya.Bima bergerak menarik kedua belah tangan Andien menggunakan tangannya sendiri agar wanita itu mau bangkit.Namun, di luar dugaan, Andien justru membalas dengan menarik tubuh Bima menggunakan kekuatan penuhnya.Sentakan itu membuat keseimbangan Bima runtuh, hingga
Malam itu, kemewahan hotel bintang lima dilingkupi keheningan yang menenangkan. Di atas kasur berukuran king-size, Bima sedang fokus membaca buku elektronik melalui layar iPadnya.Keheningan itu pecah saat Andien yang baru saja melangkah keluar dari kamar mandi, langsung menjatuhkan tubuhnya untuk merebahkan diri di atas pangkuan pria itu.Tindakan tiba-tiba tersebut sukses membuat Bima sedikit tersentak kaget."Bima... " panggil Andien manja.Namun, Bima tidak memberikan respons verbal apa pun; sepasang matanya tetap terpaku meneliti bacaan digital di hadapannya.Didorong rasa gemas, Andien melakukan gerakan tiba-tiba. Ia bangkit berdiri, merentangkan kedua belah kakinya, lalu mendudukkan dirinya tepat di atas pangkuan Bima secara intens.Bima menjadi semakin terkejut didera serangan kontak fisik sedekat itu. Ia seketika menurunkan iPadnya ke atas kasur."Bima... Ini malam kedua kita menginap di hotel ini, apa kau benar-benar tidak mau melakukan apa pun?" tanya Andien dengan binar ma
Sore itu, suasana di dalam rumah Saifanny dilingkupi oleh keheningan yang menenangkan batin.Wanita itu sedang duduk bersandarkan sofa sambil memeriksa lembar demi lembar buku pelajaran milik putranya, Syahdan.Ia memantau setiap perkembangan materi pelajaran yang dipelajari buah hatinya di sekolah dengan raut wajah yang teramat serius.Sesekali, Saifanny menyunggingkan seulas senyuman manis nan bangga saat sepasang matanya mendapati deretan nilai sempurna tertera pada setiap lembar tes dan ujian Syahdan.Namun, detik berikutnya, senyuman itu perlahan luruh dan memudar dari bibirnya. Saifanny menyadari sebuah fakta genetis yang tak terbantahkan; Syahdan mewarisi kecerdasan luar biasa itu bukan hanya dari dirinya, melainkan dari Adrian juga.Pikiran Saifanny seketika melompat, teringat kembali pada sosok pria yang telah menuduhnya dengan kejam di rumah sakit tempo hari.Ia tahu bahwa Adrian pasti sudah berkali-kali mencoba menghubunginya demi melayangkan permohonan maaf, namun Saifanny
Pagi itu, Adrian terbangun dengan rasa pegal yang teramat pekat menjalar di seluruh bodi tubuhnya.Pria itu baru bisa menutup matanya hanya selama beberapa jam saja, sementara sisa malamnya habis ia gunakan untuk merenungi segala perbuatan dan ucapan gegabahnya yang telah membuat orang-orang terdekat memilih untuk menjauhinya.Tringgg! Tringgg!Ponsel Adrian berdering nyaring di atas nakas, memecah kesunyian kamar. Layar digitalnya menampakkan nomor resmi dari kantor pusat Utama Group."Halo Pak, selamat pagi. Saya menghubungi Anda hanya untuk mengingatkan kembali bahwa hari ini akan ada agenda rapat direksi," ucap suara sekretaris di seberang telepon dengan intonasi formal yang kaku.Adrian memejamkan sepasang matanya sekilas, mengembuskan napas panjang demi meredam gejolak batin."Iya, saya ke kantor sekarang," ucap Adrian dengan nada suara yang teramat datar.Rumor mengenai Arkana yang mendadak dilarikan ke rumah sakit akibat kondisi kritis rupanya sudah mulai menyebar luas di kala







