Mag-log in“Teknisi hotel bilang server overheat, Pak. Kami masih verifikasi. Soal barang, ini daftarnya.” AKP Dedi kasih kertas. Tas, dompet, KTP, uang 3 juta, kerudung, heels patah. Ponsel: nihil.
"Kenapa juga kakak saya lewat tangga darurat ya, Pak?" Pak Darman heran.
"Untuk hal itu belum diketahui, Pak."
"Apa mati lampu? Atau mungkin ada tanda kalau lift rusak sehingga tak bisa digunakan?"
AKBP Dedi terdiam sejenak atas pertanyaan dari
Senin siang, jam 13.00. Tempat praktek Arsen.Pasien baru saja selesai, Arsen baru lepas handscoon, mau makan siang yang dibawakan Azalea. Nasi + sambal cumi hitam level 5, favoritnya.Pintu diketuk.“Dok, ada tamu. Katanya Bu Venia, pengacara Dokter Vanessa,” kata suster.Arsen menghela napas panjang. Mukanya langsung berubah.Bu Venia masuk, masih dengan kerudung coklat, bawa map tebal, senyum profesional. Tapi di belakangnya, 2 pasien yang antri langsung berbisik-bisik, “Itu pengacara dokter viral itu kan?”“Maaf mengganggu jam praktek, Dok,” kata Bu Venia sopan. “Saya minta bicara 4 mata sebagai pengacara dari Vanessa dan karena sebentar lagi Vanessa diizinkan untuk pulang, maka kemungkinan besar, Vanessa akan ke rutan. Jadi saya ingin bicara soal perdamaian.”Arsen menerima kedatangan Bu Venia, tapi dia tahan emosi. Dia bilang pelan, tapi tegas, supaya pasien di luar tidak dengar.
Seminggu setelah ditetapkan jadi tersangka, Bu Lidya memanggil pengacara untuk membela Vanessa. Ia hubungi 7 kantor pengacara mahal di Jakarta Selatan, yang biasanya langganan perusahaan Pak Hasan.Semua menolak.“Maaf Bu, kasusnya sudah viral dan bukti kuat, kami tidak bisa.”“Maaf Bu, klien kami kebanyakan perusahaan, tidak ambil kasus pidana obat.”“Maaf Bu, kami takut dibully netizen juga.”Akhirnya ia mencari LBH. Datang ke LBH dengan mata sembab, pakai baju daster. Ia bahkan tak peduli bagaimana penampilan kacaunya sekarang.Dan untungnya, ada satu orang yang mau membantu kasus untuk Vanessa. Namanya Ibu Venia, pengacara muda umur 32 tahun, kerudung coklat dan terlihat tegas.“Bu, saya lihat semua bukti. Semua kuat. Jadi mungkin, tugas saya bukan untuk menghilangkan hukuman, tapi mempersingkat masa hukuman. Dari yang seharusnya 4 tahun, mungkin bisa jadi 1 tahun percobaan atau rehabilitasi, ka
Pak Djoko menghela napas.“Secara hukum, video pengakuan dan video Fierza itu milik kalian, itu bukti kalian. Kalian berhak pakai untuk membela diri. Tapi saran saya sebagai penyidik, jangan kalian viralkan sendiri dengan caption emosi. Berikan ke kami. Kami yang akan rilis resmi lewat Humas Polres. Biar netizen percaya, bukan dikira editan. Dan biar kalian tidak terjerat UU ITE balik karena pencemaran nama baik, walaupun kalian benar. Kalau Humas Polres yang rilis, itu resmi, tidak bisa dituntut balik.”Arsen menatap Azalea. Azalea mengangguk pelan.“Baik, Pak. Kami serahkan semua ke Bapak. Asal nama kami bersih, Pak. Itu saja.”Pak Djoko tersenyum, pertama kalinya.“Serahkan pada kami, Dok. Keadilan butuh proses, tapi kebenaran tidak pernah tidur.”Mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Wajah mereka bercampur aduk. Tapi akhirnya Arsen memutuskan untuk tidak kembali ke rumahnya. Ia memilih kembali ke a
Azalea ragu untuk menekan tombol post pada media sosialnya. Ia butuh pendapat Arsen sebelum memviralkan videonya yang berbicara dengan Vanessa. Ia tidak mau salah langkah lagi seperti di pemakaman.Ia mengetikkan pesan di ponselnya untuk Arsen.Azalea : Mas, aku mau viralkan video Vanessa ngaku. Boleh ya? Aku sudah tidak tahan kita dihujat...Baru mau ia kirim pesan itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Arsen yang menghubunginya terlebih dahulu. Suaranya tegang tapi cepat.“Zel! Kamu di mana?”“Di rumah produksi, Mas.”“Dengerin aku, Zel. Kamu harus bertemu dengan aku sekarang. Kalau bisa, kamu ke kantor polisi sekarang. Bawa HP kamu yang ada rekaman Vanessa itu. Jangan viralkan dulu! Bawa aja ke sini!”Azalea langsung menyiapkan barang-barangnya dan pergi ke kantor polisi.Sesampainya di Polres, di ruang penyidik lantai 2, ternyata di sana ada Arsen, polisi, dan yang lainnya yang tidak Azalea
Tangannya berhenti di atas tombol Ya.“Mas?” tanya Azalea pelan.Arsen tersenyum pahit.“Kita simpan dulu, Zel. Jangan kita hapus. Bukan untuk dipenjara. Tapi untuk jaga diri kita. Kalau besok mereka fitnah kita lagi, bilang kita yang bunuh Pak Hasan, kita punya bukti siapa yang sebenarnya mulai semua ini.”Azalea mengangguk.Mobil melaju pelan meninggalkan TPU Tanah Kusir yang hujan, meninggalkan makam Pak Hasan, dan meninggalkan Bu Lidya serta Vanessa yang masih duduk berduaan di tanah becek, berpelukan di depan kuburan, tanpa suami, tanpa papa.*Rumah produksi.Ponsel Arsen yang tadi ia silent selama pemakaman, ia nyalakan lagi sesampainya di rumah produksi Azalea.TING! TING! TING! TING! TING! TING!Notifikasi meledak seperti bom. 387 notifikasi WhatsApp. 124 DM Instagram. 56 missed call.Arsen mengernyit. Ia buka Instagram.Di explore, di akun gosip @lambe_ped*sss, @info
Hujan deras di TPU Tanah Kusir belum berhenti saat pemakaman selesai. Tanah makam Pak Hasan masih merah, masih basah, bunga masih segar.Arsen dan Azalea masih berdiri di barisan paling belakang, di bawah satu payung hitam yang sama. Mereka tidak maju, tidak mau mengganggu keluarga.Vanessa yang tadi merangkak di tanah, sekarang sudah dipapah kembali ke kursi roda oleh perawat, mukanya penuh tanah dan air mata. Bu Lidya yang tadi pingsan, sudah siuman, tapi matanya kosong, menatap nisan kayu bertuliskanH. Hasan Bin H. Wijaya -Ustadz sudah selesai doa. Pelayat satu per satu mulai pulang.Arsen berbisik ke Azalea. “Kita samperin Tante Lidya ya, ucapin belasungkawa terakhir, terus kita pulang.”Azalea mengangguk. “Iya, Mas.”Mereka berjalan pelan melewati becek, mendekati Bu Lidya dan Vanessa yang masih di samping makam.Bu Lidya melihat kedatangan mereka. Awalnya wajahnya datar. Lalu begitu meliha
Bara tidak menjawab. Ia membuang muka, menatap ke arah lain. Rahangnya mengeras.Yang menjawab justru suara lain dari belakang rombongan. Suara yang lebih melengking, lebih tua, dan lebih menyakitkan dari apa pun."Ngapain kamu ke sini, Azalea? Mau bikin malu keluarga kami, ya?"Bu Ratna. Ibu mertu
Jam pada telepon genggam Azalea Maharani menunjukkan pukul 14.27 WIB ketika pesan itu masuk. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal, tanpa nama kontak, hanya deretan angka asing yang tiba-tiba mengusik ketenangannya.*Mbak Azalea, maaf mengganggu. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa saat ini suami Mb
"Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur
Azalea telah genap sepekan menempati kamar berukuran 2x3 di Kost Putri Mawar. Kasur busanya tipis, kipas anginnya berderit, dan kamar mandinya selalu antre pada pukul 05.00 pagi. Namun, setiap malam ia dapat terlelap tanpa memimpikan tamparan dari Bara. Tanpa mendengar ucapan Bu Ratna dari balik pi







