LOGINJust because of her manly name, Mil was forced to live in a boarding house together with five men—Greypi, Kim, Soju, Orij and Vince. At first, it was hard to survive under the roof with five handsome men who have different characters. One is a clean freak, the other is a pushover, the third guy is a playboy, the fourth man is a joker and the last is a mysterious loner. But as she spend her time with them, they soon created strong bond and became friends; even though the boys still fight with each other sometimes. Everything was good. Not until… “I think, I love you.” “I like you!” “Will I court you just because of that damn promise?! F*ck, Mil! Use your brain!” “Because of you, I can’t look at the other girls anymore. So take a responsibility.” “There’s something between us. Because I like you.” Just when she thought everything is great, they suddenly start fighting to win her heart.
View MoreDi sebuah kamar hotel yang remang-remang, Damar duduk di tepi tempat tidur dengan ekspresi penuh pemikiran. Kemeja putihnya terbuka sebagian, memperlihatkan dadanya yang bidang. Dari balik cermin besar di sudut ruangan, bayangan seorang wanita tampak mendekat dengan anggun. Rachel, dengan gaun satin berwarna merah marun yang membalut tubuhnya dengan sempurna, melangkah pelan menuju Damar.
Ia berhenti tepat di hadapan pria itu, menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada tantangan di sana, ada rindu yang terpendam. Damar perlahan bangkit, tinggi badannya yang menjulang membuat Rachel harus sedikit mendongak untuk tetap menatap matanya. Dengan lembut, jari-jari Damar menyentuh dagu Rachel, mengangkat wajahnya agar sejajar dengannya.
Rachel tersenyum samar, matanya sedikit menyipit, seolah sedang menunggu langkah berikutnya. Damar mendekat, napasnya hangat di kulit Rachel. Bibirnya yang sedikit terbuka mendekati leher jenjang wanita itu, lalu menekankan kecupan singkat yang membuat Rachel menarik napas dalam. Sentuhan ringan itu seolah melepaskan sesuatu dalam dirinya.
Tangan Damar melingkari pinggang Rachel, menariknya lebih dekat. Kehangatan tubuhnya terasa nyata, sementara Rachel membiarkan tangannya menyusuri bahu hingga ke dada bidang pria itu. Senyumnya semakin dalam ketika ia merasakan jantung Damar berdegup sedikit lebih cepat.
Damar menatapnya dalam, seolah meminta izin tanpa kata. Rachel mengangguk samar, lalu ia sendiri yang menarik Damar lebih dekat, mencium bibir pria itu dengan lembut. Ciuman itu bermula penuh kelembutan, sebelum berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam dan mendesak. Dunia di sekitar mereka memudar, hanya ada mereka berdua di dalam kamar itu.
Damar dengan hati-hati membimbing Rachel ke tepi tempat tidur. Saat tubuhnya menyentuh seprai putih yang dingin, Rachel mendongak, membiarkan Damar menelusuri bahunya dengan bibirnya, menyusuri setiap inci kulitnya dengan kesabaran yang menggoda. Jemarinya menarik tali gaun Rachel, membiarkannya meluncur turun dengan perlahan, memperlihatkan kulit seputih mutiara di bawah cahaya lampu kamar.
Tatapan Damar menggelap, hasrat dan kekaguman bercampur menjadi satu. Dengan lembut, ia membungkuk, mengecup kulit Rachel dengan kehangatan yang seolah membakar. Rachel menggigit bibirnya, merasakan getaran di seluruh tubuhnya. Desahan kecil lolos dari bibirnya saat ciuman Damar turun semakin dalam.
Namun, saat itu juga, sesuatu terjadi. Dalam desahannya, sebuah nama keluar tanpa sadar.
"Arman..."
Damar terhenti.
Ia menegang, tubuhnya yang semula penuh gairah kini berubah kaku. Perlahan, ia menarik diri, menatap Rachel dengan sorot mata yang sulit diartikan.
“Kamu bilang apa?” tanya Damar dengan nada marah.
Rachel perlahan bangun, menatapnya dengan bingung. “Ada apa, Arman? Kenapa kamu berhenti?” tanyanya, menyebut nama yang asing di telinga Damar.
Damar mengerutkan kening. “Namaku… Damar, bukan Arman!” suaranya penuh amarah dan kebingungan.
Namun, Rachel justru tertawa kecil, seolah menganggapnya bercanda. “Kamu mabuk ya, Arman?” katanya sambil tersenyum.
Damar semakin gelisah. Perasaan aneh merayapi tubuhnya. Ia menoleh ke cermin di sudut kamar dan saat itu juga, darahnya berdesir.
Wajah di dalam pantulan itu bukan miliknya. Rahang yang lebih tegas, mata yang berbeda, tubuh yang lebih kekar, itu bukan dia. Ia merasakan napasnya memburu, jantungnya berdegup kencang.
Siapa pria itu?
***
Suasana ruang kuliah terasa tenang. Hanya suara langkah mahasiswa yang memasuki kelas, mengambil tempat duduk mereka, dan mengeluarkan buku catatan.
Di depan kelas, seorang pria berusia 35 tahun berdiri dengan tenang, tersenyum hangat kepada mahasiswa yang mulai duduk rapi. Dialah Damar Pratama, seorang dosen filsafat yang dikenal tidak hanya karena kecerdasannya, tetapi juga karena kebijaksanaannya dalam mengajarkan arti kehidupan.
“Hari ini,” kata Damar sembari melipat lengannya, “kita akan membahas satu pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana, tapi jawabannya bisa sangat kompleks.”
Ia berjalan ke papan tulis dan menuliskan satu kalimat besar dengan spidolnya.
"Apa tujuan hidup kita?"
Beberapa mahasiswa saling berpandangan, sementara yang lain mulai mencatat.
Damar tersenyum. “Pertanyaan ini mungkin sudah sering kalian dengar, tetapi apakah kalian pernah benar-benar memikirkannya?”
Seorang mahasiswa di barisan depan mengangkat tangan. “Untuk sukses, Pak.”
“Bagus,” kata Damar sambil mengangguk. “Tapi, apa arti sukses menurutmu?”
Mahasiswa itu terdiam, berpikir sejenak. “Mungkin... punya banyak uang dan jabatan tinggi?”
Damar tertawa kecil. “Menarik. Tapi, bagaimana jika suatu hari kau memiliki segalanya uang, jabatan, kekuasaan tapi tidak ada yang benar-benar peduli padamu? Apakah itu tetap bisa disebut sukses?”
Kelas hening. Semua mahasiswa mulai tenggelam dalam pemikiran masing-masing.
Damar melanjutkan, “Kita hidup di dunia yang penuh dengan ambisi, tapi apakah kita benar-benar hidup jika kita melupakan makna di baliknya?”
Ia menatap para mahasiswanya dengan penuh keyakinan. “Hidup bukan hanya tentang mencapai sesuatu, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalaninya.”
Setelah diskusi tentang makna hidup selesai, Damar melirik jam di dinding. Waktu perkuliahan hampir habis, tapi sebelum kelas benar-benar berakhir, ia berjalan ke meja dosennya dan mengambil beberapa lembar kertas.
“Baiklah,” katanya dengan nada tenang. “Sebelum kita mengakhiri kelas hari ini, saya punya satu tugas untuk kalian.”
Terdengar keluhan kecil dari beberapa mahasiswa. Seorang di antaranya yang duduk di barisan tengah, langsung mengangkat tangan. “Pak, baru juga minggu pertama, sudah ada tugas?”
Kelas langsung dipenuhi dengan gumaman setuju dari mahasiswa lain. Beberapa bahkan menghela napas keras seolah ingin menunjukkan ketidaksenangan mereka.
Damar hanya tersenyum, tidak terlihat kesal sedikit pun. “Saya tahu kalian sibuk. Jadi, saya beri waktu sampai minggu depan. Saya tidak butuh jawaban yang sempurna, yang saya butuhkan adalah pemikiran jujur kalian.”
Ia berjalan ke papan tulis dan menuliskan instruksi tugasnya : Tuliskan esai pendek tentang apa yang menurut kalian tujuan hidup yang sebenarnya.
“Tidak ada jawaban benar atau salah. Yang saya nilai adalah seberapa dalam kalian memahami pertanyaan ini. Kalian bebas menulis dengan gaya apa pun. Bisa serius, bisa santai, bisa dalam bentuk cerita pribadi atau bahkan dialog imajinasi. Saya ingin melihat cara kalian berpikir, bukan sekadar jawaban textbook.”
Beberapa siswa masih tampak malas, tetapi beberapa juga mulai tertarik. Seorang siswi mengangkat tangannya. "Tuan, apakah bisa dalam bentuk puisi?"
Damar mengangguk. “Tentu saja. Selama itu bisa mengungkapkan pemikiranmu.”
Kelas kembali tenang. Damar menatap mahasiswanya satu per satu. “Saya tidak ingin tugas ini menjadi beban. Anggap saja ini cara kalian mengenal diri sendiri lebih dalam.”
Dengan itu, dia mengambil bukunya dan tersenyum kecil. "Baiklah, cukup untuk hari ini. Kau boleh pergi."
Para mahasiswa mulai mengemasi barang-barang mereka. Beberapa masih mengeluh soal tugas, tetapi ada juga yang tampak penasaran dan mulai berdiskusi dengan teman-temannya.
***
Damar menatap pamflet di mejanya seminar yang ia hadiri minggu lalu. “Bagaimana hasilnya, ya?” gumamnya.
Mirna rekan kerjanya berdiri di sampingnya, “Kamu benar-benar jadi narasumber di sini? Bukankah topiknya cukup sensitif? Bagaimana bisa kamu diundang?”
“Mereka tertarik setelah membaca tulisanku.”
“Tapi ini kontroversial. Kamu nggak takut mendapat reaksi negatif?”
Damar menghela napas. “Pasti ada risiko. Tapi kalau terus menghindari topik sulit, kapan kita bisa menemukan solusi?”
Mirna menatapnya serius. “Damar, kamu sadar kalau yang kamu ungkap bisa menghancurkan perusahaan besar?” bisiknya.
Damar menatapnya lekat. “Aku tahu. Tapi lebih buruk kalau kebenaran tak diungkap.”
Mirna gelisah. “Kamu bilang banyak perusahaan sengaja menutupi kebocoran data pelanggan. Itu berbahaya, Damar!”
“Dan aku punya bukti. Mereka lebih memilih membayar denda diam-diam daripada jujur pada pelanggan.”
Mirna menatapnya khawatir. “Kamu menyebut inisial perusahaan. Semua orang tahu siapa yang kamu maksud. Hati-hatilah.”
Ia beranjak pergi, meninggalkan Damar yang menghela napas panjang. Namun, bukan seminar itu yang memenuhi pikirannya, melainkan sosok yang telah lama hilang dari hidupnya.
Ia membuka ponsel, menatap foto dirinya bersama seorang wanita. “Apa kamu benar-benar sudah melupakan aku, Rachel?” bisiknya penuh kecewa.
8 years later..."Ano pang ginagawa niyo rito? Magsi-uwi na kayo para masara ko na ang restaurant," ang masungit na pagtaboy ni Chef Orij sa mga kaibigan.Isa-isa siyang tinignan ng apat:Si Kim na isa ng successful engineer. Si Soju na nagtatrabaho sa kompanya ng ama. Si Vince na naging sikat na singer. At si Greypi na naging tagapagmana ng Caddel company.Ilang taon na ang nakalilipas mula ng gu-mraduate silang lahat sa kolehiyo at maghiwalay hiwalay ng landas. Pero kahit ilang taon pa ang lumipas, palagi parin silang nagkikita kita. Nabawasan na ang pag-aaway ni Greypi at Vince, at naging maayos narin ang ugnayan ni Soju sa ama. Kim also didn't experience multiple heartbreaks."Hinihi
May apat na lalaking nakatayo sa harapan ng malaking gate. Kung ang ibang estudyante ay nakakulong sa library o kwarto para mag-review, heto sila Kim, Soju, Vince at Greypi na nag-aabang sa tapat ng bahay ni Orij. "Mayaman pala talaga 'yung gunggong? 'Di halata dahil patay gutom siya sa boarding house," aniya ni Soju habang nakatitig sa malaking bahay. Looking at the huge house with nonchalant gaze, Greypi crossed his arms. "So paano tayo papasok?" "Ihahagis ka namin papasok ng gate," sagot ni Vince. "We can use the doorbell, you dumbass," Greypi retorted. "Alam mo naman pala ang sagot, bakit nagtatanong ka pa? Idiot," bulong ni Vince na sinadya niyang lakasan para marinig ng k
Ilang araw na ang lumilipas nang umuwi si Orij sa sariling bahay. Yhlei vividly remembered what state his son was when he came home. Kaya naman habang nakatingin sa labas ng bintana, napatanong siya sa driver."Naging masamang ama ba ako, Ran?"Nang tignan ni Ran ang reflection ng amo mula sa salamin, naalala rin niya ang nangyari nitong nakaraang gabi."O-Orij?" gulat na gulat na tawag ng ina nang makita ang lasing na anak umuwi ng bahay.Namumula ang mukha, hindi maituwid ang tingin at halos matumba sa paglalakad. Lango sa alak, ngumiti si Orij. "Hello, ma. Nasaan si papa?"Right at that time, his dad walked down from the stairway. Malayo palang, naamoy na niya ang masangsang na alak.
Matapos ang 'di pagkakaintindihan ni Orij at Mil, pumunta si Orij sa kabarkada para magpalipas ng gabi. Nang panahon din na iyon, nakatanggap siya ng chat mula sa girlfriend. Ipinaliwanag lahat ni Mil ang nangyari pati na ang chat na hindi na-send. Orij was embarrassed. Hindi niya akalaing nauna ang emosyon niya bago mag-isip ng maayos. So he didn't reply on Mil's chat. Ayaw niyang mag-sorry sa chat lang.'I will fix this tomorrow,' ang ipinangako niya sa sarili bago matulog.Kaya naman nang magkita sila ng kasintahan sa party, nahihiya niyang nilapitan si Mil. They can't still talk with many people around them so he thought of settling everything once the party is over. Kaya lang, hindi pa man sila nakakapag-usap ng maayos, may nangyari na naman na maaaring pagmulan ng 'di pagkakaunawaan.
reviewsMore