LOGINAku meninggal pada hari pernikahanku dengan Bradley. Karena aku tak kunjung tiba, dia marah besar dan menikahi Michelle, sahabat masa kecilnya. Di depan semua orang, dia menyatakan dengan lantang, "Beatrice berselingkuh sebelum menikah dan telah mengundurkan diri dari pertunangan!" Ibuku hancur oleh fitnah itu. Dia mengalami serangan jantung di tempat dan meninggal dunia. Namun dia lupa bahwa demi membela Michelle, dialah yang melukai lenganku dengan pisau dan mengurungku di ruang bawah tanah selama sepuluh hari sepuluh malam. Aku memohon dengan segala cara, tetapi yang kudapat darinya hanyalah kata-kata dingin. "Tetaplah di sini beberapa hari, rasakan sendiri penderitaan yang kamu timbulkan pada Michelle! Sekalian hancurkan niat jahatmu!" Namun, ketika dia akhirnya menemukan jasadku yang telah membusuk dan dimakan belatung, dia menjadi gila.
View Moreホテルの自動扉を抜けた瞬間、磨き上げられた床にシャンデリアの光が落ちた。
御影直哉(みかげ・なおや)が所属する法律事務所の創立記念レセプションは、このホテルの大宴会場で開かれる。受付開始までまだ四十分もあるのにロビーには濃紺や黒のスーツを着た人たちが集まり始めていた。
私はコートの襟を整え、ガラスに映った自分を確認する。
淡いベージュのワンピース。直哉が選んだ小さな真珠の耳飾り。左手には婚約指輪。
どれも今日のために用意したものだった。
来年の春には、この指輪が結婚指輪へ変わる。
私はそれを疑ったこともなかった。
◇◇◇◇
『会場へ入る前に話したいことがある。少し早く来てくれる?』
昼過ぎに届いた直哉からのメッセージは短かった。
結婚式か新居の話だろうか。それとも今夜、婚約者として紹介したい相手がいるのかもしれない。
直哉は仕事の内容を私に話さない。けれど事務所の会食や式典へ招かれる時は、出席者について事前に教えてくれることがあった。
直哉の隣に立つことには慣れていた。
相手の名前と肩書を覚え、話題を邪魔せず、会話が途切れた時だけ自然に言葉を添える。司法修習を終えたばかりの頃から彼を支えてきた私には、それがいつしか当たり前になっていた。
先月、七年勤めた会社も辞めた。
結婚後はさらに忙しくなる直哉を家庭で支えてほしいと頼まれたからだ。迷いはあった。それでも二人で決めたことなら、新しい生活を築いていけると思った。
「小春」
名前を呼ばれて振り向く。
柱のそばに立つ直哉はいつもと変わらず整っていた。濃紺のスーツも銀縁の眼鏡も隙がない。ただ、その顔には再会した時の笑みがなかった。
「早かったね」
「直哉が早めにって言ったから。もう会場へ入る?」
「いや。こっちで話そう」
彼は私の返事を待たず、宴会場とは逆の廊下へ歩き出した。
案内されたのは小さな応接室だった。窓もなく、中央に低いテーブルとソファが置かれている。
直哉は私のコートを預かろうとしなかった。
そんな些細なことが妙に引っかかった。
「座って」
「うん」
向かい合って腰を下ろす。
テーブルの上には水すら用意されていない。直哉は指を組み、しばらく私を見ていた。法廷へ出る前でも顧客へ難しい説明をする時でも、彼は言葉に迷わない人だった。
その直哉が何度も息を整えている。
「何かあったの?」
私が尋ねると、ようやく彼の唇が動いた。
「小春との婚約を解消したい」
一瞬、意味が分からなかった。
聞き慣れた声なのに、知らない言葉を話された気がした。
「……何を、解消するの?」
「僕たちの婚約だ」
左手の指輪が急に重くなった。
Aku juga tidak mengerti bagaimana hubungan kami bisa berakhir seperti ini. Saat aku masih kecil, aku dan ibuku pindah ke sebuah kamar bawah tanah untuk bertahan hidup.Itu adalah masa-masa yang paling sulit. Aku bahkan tidak bisa bersekolah dan hanya bisa diam-diam memanjat pohon di luar pagar sekolah untuk mengintip pelajaran di dalam kelas.Suatu hari, aku tidak sengaja terjatuh dari pohon. Aku duduk di bawah sambil menangis tersedu-sedu. Lalu, seorang anak laki-laki seusiaku datang menghampiri dan menyodorkan permen susu dalam bungkus plastik bening."Jangan menangis, ya? Aku kasih kau permen!"Aku terisak sambil menatapnya sekilas dan akhirnya tergoda oleh permen yang terlihat sangat enak itu. Tangisku perlahan mereda. Aku pun dengan senang hati memakan permen itu. Dia menemaniku duduk lama di sana, bercerita tentang hal-hal yang belum pernah kudengar sebelumnya.Kemudian, dia menggandeng tanganku dan mengantarku pulang.Saat itu, aku tidak tahu namanya. Satu-satunya hal yang kuing
Tatapan Marven langsung berubah tajam. Dia meraih kerah Bradley dengan kasar dan menuntut, "Apa yang kamu lakukan sama Beatrice? Di mana dia? Katakan!"Namun, Bradley tampak seperti orang yang baru saja terjebak dalam mimpi buruk. Dia tetap diam dan tidak bergerak sama sekali. Marven yang sudah tersulut emosi langsung melayangkan tinjunya ke wajah Bradley."Beatrice hampir mati dipukul demi menyelamatkanmu! Tapi kamu bahkan nggak menanyakannya sekali pun! Kamu benar-benar bukan manusia!"Setelah berkata demikian, satu pukulan lagi mendarat di wajah Bradley. Karena pukulan itu, Bradley terhuyung dan jatuh ke lantai sambil menatap Marven dengan tatapan tidak percaya."Orang yang menyelamatkanku adalah Beatrice? Bukankah seharusnya Michelle? Mana mungkin Beatrice? Nggak mungkin!""Dasar berengsek! Kesalahan terbesar Beatrice dalam hidupnya adalah bertemu bajingan sepertimu!"Marven naik ke atas tubuh Bradley dan menghantamkan tinjunya berkali-kali untuk melampiaskan semua kemarahannya.Na
Brak!Tongkat itu menghantam kepalaku dengan keras, membuat kesadaranku langsung menghilang dalam sekejap. Saat aku kembali sadar, yang pertama kulihat adalah langit-langit putih di atas kepalaku. Aku berusaha bangkit, tetapi Marven yang ada di samping segera menahanku."Jangan bergerak! Luka di kepalamu bisa terbuka lagi!"Aku menoleh ke sekeliling dan menyadari bahwa aku sudah berada di rumah sakit.Namun, saat mengingat Bradley, aku langsung mencengkeram lengan Marven dengan panik dan bertanya, "Bradley ... gimana keadaannya? Dia baik-baik saja, 'kan?"Marven menghela napas Panjang dan menepuk tanganku dengan penuh keprihatinan. "Dia baik-baik saja, bahkan sangat baik! Tapi kenapa kau masih saja mengkhawatirkannya sampai sekarang?"Namun, aku tetap tidak tenang. Aku harus memastikan sendiri keadaannya.Akhirnya, Marven membawaku ke depan sebuah ruang perawatan. Namun, begitu aku mengintip ke dalam, dadaku seolah-olah diremas hingga membuatku kesulitan bernapas.Dari celah pintu, aku
Bradley mencengkeram tanganku semakin erat, lalu tiba-tiba melepaskannya. Tubuhku langsung kehilangan tenaga, jatuh terduduk di lantai, dan terengah-engah menarik napas."Bradley, aku benar-benar nggak melakukan ini! Itu bukan aku!"Aku menarik sudut bajunya dengan hati-hati, tapi dia malah menepis tanganku dengan kasar. "Beatrice, aku akan menikah denganmu, tapi jangan harap lebih dari itu!"Setelah berkata demikian, dia membanting pintu dan pergi, meninggalkanku sendirian di lantai yang dingin sepanjang malam.Hari itu, kebetulan adalah hari ulang tahunku. Aku sudah menyiapkan makanan, menyalakan lilin, membeli kue. Dengan penuh harapan, aku menunggu Bradley pulang agar kami bisa merayakan ulang tahun yang hangat bersama.Namun, kata-katanya menghancurkan semua harapanku, menyisakan hanya kebodohan dan harapan sepihakku sendiri. Aku pikir cinta kami sudah cukup kuat. Hanya saja, aku tidak menyangka bahwa kepercayaan di antara kami begitu rapuh di hadapan Michelle.Namun, jika dipikir
Semua orang refleks menutup hidung dan mulut mereka, tapi tetap saja, ada yang tidak bisa menahan rasa mual."Kenapa bau ini menyengat sekali? Seperti ada sesuatu yang mati di sini!" Michelle mengeluh dengan nada jijik.Bradley hanya mengerutkan keningnya, tetapi tetap melangkah masuk.Ruang bawah t
Di bawah sorotan lampu yang berkilauan, Michelle menggandeng lengan Bradley, tampak seperti pasangan sempurna yang begitu serasi dan membuat iri. Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa pengantin wanita bukanlah aku. Tidak ada yang peduli ke mana perginya aku.Semua tamu tampaknya telah menerima
"Kak Bradley, sekarang gimana? Di luar sudah banyak tamu yang datang!" Michelle mengedipkan matanya yang besar dan polos, seolah-olah dia adalah malaikat yang polos."Ini semua salahku! Kak Beatrice pasti marah sama aku, makanya dia menolak datang! Maaf, Kak Bradley!" Begitu melihat air mata mulai m
"Mana Beatrice? Dia sudah mati di sana? Nggak bisa gerak lagi?"Saat kesadaranku perlahan kembali, hal pertama yang kudengar adalah suara Bradley yang marah dan putus asa.Asistennya yang tampak ragu-ragu, mencoba menjawab, "Pak Bradley, kami sudah cari ke mana-mana, tapi nggak lihat dia. Jangan-jan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews