ログインAlya masuk ke dalam mobil dan pintu pun tertutup.Mobil Maybach hitam itu melaju ke depan dan perlahan menghilang dari pandangan Emran.Emran menundukkan kepala menatap sertifikat cerai di tangannya, air matanya jatuh menetes dalam diam ke atas kata 'cerai'.Delapan belas tahun yang lalu, Alya berkata, "Emran, aku benar-benar menyukaimu. Lihatlah aku, oke?"Delapan belas tahun kemudian, Alya berkata, "Emran, aku menyesal mencintaimu. Kumohon lepaskan aku."Emran memegang dadanya dan perlahan berjongkok sambil menggenggam erat sertifikat cerainya. Tubuh tinggi Emran berjongkok di pinggir jalan. Dia mengabaikan tatapan orang lain dan menangis tersedu-sedu tanpa terkendali....Emran pun kembali ke Taman Edelweiss dari Kantor Catatan Sipil.Fiona mondar-mandir di ruang tamu sambil menggendong Esther yang menangis.Emran memasuki rumah tanpa mengganti sepatunya terlebih dahulu. Dia melepas mantelnya dan memberikannya kepada Bi Lina. Kemudian, Emran mengambil beberapa tisu disinfektan untuk
Alya menundukkan pandangannya dan tidak langsung masuk ke Kantor Catatan Sipil, melainkan berdiri diam dan menunggu.Tepat saat itu, sebuah mobil Mercedes putih datang dan berhenti di pinggir jalan.Pintu di samping sopir pun terbuka. Noel keluar dari mobil dengan membawa amplop dokumen, lalu berjalan ke sisi Alya."Bu Alya, perjanjiannya sudah siap. Pak Steven sendiri yang telah meninjaunya. Silakan periksa lagi."Alya berkata dengan tenang, "Aku percaya pada kemampuan Pak Noel dan Pak Steven. Kamu bisa menunjukkannya kepada Pak Emran.""Baiklah." Noel mengangguk kecil dan berbalik berjalan menuju Emran.Alya tidak segera mengikuti.Emran tahu bahwa wanita itu masih belum bisa menghadapinya.Alya bahkan tidak meliriknya sejak turun dari mobil.Hati Emran terasa begitu pedih dan sakit, tetapi dia hanya bisa menerimanya.Noel berjalan menghampiri Emran dan menyerahkan amplop dokumen itu kepada Emran. "Pak Emran, ini adalah perjanjian perceraian yang Bu Alya percayakan padaku untuk disus
"Kamu ….""Kesadarannya menunjukkan bahwa dia telah dewasa," sela Lukas. "Mari kita hormati keputusannya."Fiona pun menghela napas. "Sudahlah, aku memang nggak bisa membantah kalian berdua!"Fiona mengibaskan tangannya, memutuskan bahwa dia tidak ingin berurusan dengan hal ini lagi.Tepat pada saat itu, Ricky menelepon.Fiona langsung menjawab telepon dan menekan tombol pengeras suara. "Ricky, bagaimana? Apa ibumu sudah memilih nama untuk adikmu?""Sudah." Suara Ricky terdengar di dalam mobil. "Ibu bilang nama adikku Esther Witanda.""Esther?" Fiona melirik Emran di kursi belakang dan bertanya, "Apa artinya Esther? Penuh harapan?""Esther … yang berarti menghargai dan menyayangi wanita!" jawab Ricky."Esther ...." Fiona tersenyum. "Nama yang bagus! Itu berarti ibumu masih menyayangi adik perempuanmu!"Emran menundukkan kepalanya, sedikit rasa sakit terlihat di matanya.Esther.Dia menatap putrinya yang sedang tidur dalam pelukannya dan rasa sakit samar-samar terus menusuk hatinya.Art
Nama si bayi belum ditentukan. Emran ingin Alya yang memilihnya, tetapi dia tidak berani memberi tahu Alya tentang hal itu.Fiona sebelumnya telah bertanya secara langsung kepada Vano perihal kondisi Alya.Vano pun memberi tahu Fiona tentang diagnosis si psikolog.Fiona hanya bisa menyeka air matanya dan menghela napas, tetapi dia tidak tahu bagaimana membantu Alya.Mengingat kondisi Alya saat ini, tidak ada yang berani membahas soal nama si bayi di depan Alya.Pada akhirnya, semua orang menaruh harapan pada Ricky.Ricky yang kini menjadi bintang yang bersinar di mata ibunya kembali ke pusat perawatan dengan tanggung jawab yang berat.Vano telah menjalani rehabilitasi di rumah sakit selama beberapa waktu dan sekarang jadwalnya pergi ke departemen rehabilitasi untuk perawatan. Vano tidak akan kembali untuk sementara waktu.Alya baru saja bangun tidur dan berbaring di tempat tidur dalam keadaan linglung.Musik latar yang menenangkan selalu diputar di ruangan itu.Ricky berjalan mendekat
Si bayi masih berada di ruang NICU.Sejak siuman, Alya belum menanyakan satu pertanyaan pun tentang kondisi bayinya.Vano samar-samar menduga bahwa Alya tidak menginginkan anak itu.Karena Alya tidak menyebutkannya, Vano juga tidak berani mengatakannya.Alya bahkan tidak membaca pesan-pesan di obrolan grup.Ponselnya selalu dimatikan.Grup Valka dikelola oleh Lexa dan Steven, jadi tidak perlu khawatir.Vano selalu merasa bahwa emosi Alya berada dalam kondisi tenang yang semu.Alya tidak menyebut soal si bayi atau Emran, tetapi untungnya masih peduli pada Ricky yang setiap hari selalu datang menemani Alya sepulang sekolah.Ricky makan malam bersama Alya di pusat perawatan setiap hari dan setelah itu selalu mengerjakan PR.Alya berbaring di tempat tidur sambil memandang Ricky.Sorot lembut dalam tatapan Alya terlihat begitu tulus.Vano khawatir, jadi dia diam-diam menghubungi seorang psikolog. Namun, karena takut Alya akan menolak, Vano meminta psikolog itu berpura-pura menjadi staf pusa
Saat Ricky keluar dari kamar rawat, tatapan Lukas, Fiona dan Emran sontak tertuju padanya.Fiona bertanya pelan, "Ricky, apa yang pamanmu lakukan padamu?""Paman memujiku dan bilang aku sangat pengertian.""Ada lagi?" tanya Lukas."Paman bilang aku pintar dan pengertian seperti ibuku."Emran berjongkok dan menatap mata putranya. "Bagaimana dengan Ibu? Apa kamu sudah melihat Ibu?""Iya." Ricky mengangguk. "Ibu masih tidur. Paman bilang dia sangat lelah dan mungkin perlu tidur selama beberapa hari."Emran pun bertanya lagi, "Kapan pamanmu akan pulang?""Ayah, menyerahlah." Ricky menghela napas. "Paman bilang dia akan selalu menjaga Ibu dan nggak akan memberi Ayah kesempatan untuk menyelinap masuk dan mengintip."Emran mengatupkan bibirnya.Lukas dan Fiona saling bertukar pandang sebelum akhirnya ikut menghela napas dengan pasrah."Menyerahlah." Fiona menepuk bahu Emran. "Sudahlah, Ibu terima takdir. Keluarga Witanda memang nggak seberuntung itu."Dada Emran terasa sesak."Emran." Fiona t
Pertunangan?Vanesa menunduk, menatap undangan pertunangan yang disodorkan padanya.Namun, dia tidak menerima undangan itu."Nona Risa, mending kamu bawa pulang saja," kata Vanesa sambil menatap Risa. "Aku dan Steven bukanlah pasangan yang masih bisa berhubungan baik setelah bercerai. Kalau aku mene
Pengawal datang untuk menanyakan situasi."Penyelidikan polisi. Ini surat perintah penggeledahan."Pengawal melihat dokumen itu dan segera membukakan pintu.Namun, mereka tidak memiliki kata sandi untuk pintu masuk.Pengawal pun berkata, "Aku juga nggak tahu kata sandinya apa."Jake menekan bel pint
"Bella dan Regan nggak punya hubungan apa pun."Vanesa menyela perkataan Jessica.Jessica menoleh, tatapannya bertemu dengan Vanesa.Vanesa berjalan mendekat, menatap Jessica dengan dingin. "Bu Jessica, aku sudah bilang dengan jelas waktu itu. Kalau kamu masih terus mengganggu seperti ini, aku akan
Sesuai instruksi Hanna, Anna pergi ke apotek untuk membeli obat luka.Begitu pulang, Hanna sendiri yang mengajarinya cara mengoleskan salep dan membalut luka.Setelah semua selesai, Anna menatapnya lama, seolah ingin bicara tetapi ragu.Hanna tahu dia tidak bisa menyembunyikannya dari Anna. Dia meng







