LOGIN"Kamu nggak percaya sama aku Mas? Demi Tuhan Mas, aku nggak berniat dengan sengaja nglupain janji kita.""Aku ragu sama perasaanmu Frey, bukan nggak percaya kayak yang kamu bilang," elak Lucas tak paham dengan yang sekarang ia rasakan. Bisakah ia melupakan kesalahan Freya kali ini? Lantas jika ia tidak bisa lupa, bisakah ia melepas Freya untuk Arya?"Demi Tuhan aku cinta sama kamu Mas!" ujar Freya mantap, mengejutkan Lucas. "Setelah semua yang kulalui, semua yang kamu lakuin buat aku, nggak ada alasan buat nggak cinta sama lelaki se-istimewa kamu," ikrarnya tanpa ragu. Lucas menarik nafas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Ditatapnya Freya yang juga berganti menatapnya. Mereka hanyut dalam satu perasaan bernama cinta yang tak sesederhana pengucapannya. Ragu yang dulu pernah muncul di hati Lucas saat masih mengejar Freya kini muncul lagi, ia kacau. "Aku cinta sama kamu Mas, nggak ada yang lain," ulang Freya lirih. Masih tak ada tanggapan. Lucas tetap memeluk pinggang gadisnya, so
Freya makin kalut dan bingung. Ingin langsung memunguti mie yang berserak di karpet, mie itu masih panas, ingin membiarkannya, Freya tak tahan ditatap oleh Lucas sedemikian tajamnya. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri, kenapa bisa ceroboh sekali."Nggak usah diberesin!" larang Lucas saat Freya reflek siap berjongkok. "Nanti aku buatin yang baru lagi Mas," kata Freya tanpa menoleh Lucas, ia masih gugup. "Bukan itu maksudku! Biarin aja mie-nya begitu. Kenapa sih? Kamu takut aku nyakitin orang yang kamu bantu tadi?" tanya Lucas yang masih berdiri kaku di dekat jendela, menghabiskan rokoknya. "Enggak gitu," jawab Freya makin gugup. Ia berbalik membelakangi Lucas, menyembunyikan kekhawatirannya. "Nggak perlu takut, aku nggak sekejam dalam bayanganmu," kata Lucas lebih lirih. Ia kesal sebenarnya, tapi pada Freya ia sama sekali tak bisa meluapkan amarah. Freya diam saja. Ia tetap berjongkok meski Lucas sudah melarangnya. Diberesinya pecahan mangkok yang tersebar. "Tenang Frey, tena
Saat Freya kembali membawa mangkok mie kocoknya, semua orang sudah pergi. Ruangan staf CEO sangat sepi meski lampu masih dibiarkan menyala oleh David yang pulang paling terakhir tadi. Merasa horor sendiri, Freya langsung menuju ruangan Lucas, mengetuk pintunya dan menemukan lelakinya masih ada di dalam. "Permisi, Pak!" kata Freya berbasa-basi. Lucas tengah menikmati rokoknya membelakangi pintu. Jendela sengaja dibuka agar asap yang ia buat tidak berkutat di dalam ruangan. Jika siang hari, Lucas pasti akan turun ke taman. Namun, malam ini ia sengaja merokok di dalam ruangannya karena takut Freya akan mencarinya saat kembali dari kantin. Lukisan langit malam di luar jendela. Siluet tubuh seksi Lucas yang tengah mengisap rokoknya. Satu pemandangan luar biasa yang menyejukkan mata. Apalagi saat dengan tenang Lucas berbalik badan, menatap Freya dengan mata tajam indahnya. "Ruang staf udah sepi Pak, saya kira ada rapat lagi," ujar Freya membuka suara setelah berhasil mengendalikan dirin
"Ke depannya?" Lucas melirik tajam ke arah Freya. "Aku minta maaf, serius aku nyesel udah bikin kamu marah begini," sesal Freya. "Kamu tau aku nggak bakalan begini kalo emang nggak keterlaluan, iya kan Frey?" tanya Lucas akhirnya benar-benar menatap lekat wajah gadisnya, sedikit luluh, pandangan matanya berangsur teduh. "Iya Mas. Maafin aku," lirih Freya menunduk. "Kalo emang minta maaf berguna, b─""Bu Sukma nggak bakalan dipecat dari kampus dan preman yang udah jahatin aku nggak bakalan dipenjara," sambar Freya tahu diri. "Kalo emang minta maaf berguna, pasangan nggak akan ada yang putus sama cerai cuma karena salah paham," lanjut Lucas membuat Freya yang semula menunduk mendongak spontan. "Mas mau kita pisah? Kita udahan?" tanya Freya menahan nafas, takut mendengar jawaban Lucas yang seperti tengah siap dimuntahkan. "Aku nggak pernah bilang gitu. Yang bikin aku marah kan kamu, berarti kamu yang pengin kan?""Enggak!" sahut Freya cepat, "Bahkan nggak terpikirkan sedikitpun di
"Aku nunggu kamu," balas Freya lirih. "Aku nggak pulang, nggak perlu ditunggu!""Kenapa?""Perlu kujawab?" tanya Lucas melirik sebentar kemudian berlalu tanpa menunggu jawaban Freya. Sadar bahwa Lucas tengah bersikap tidak seperti biasanya, Freya bergegas ke dalam ruangan Nino. Beruntung, Nino belum pergi ke ruang rapat. Ia masih mempersiapkan materi presentasi dan memberesi berkas yang akan dibawa. "Kenapa Frey?" tanya Nino yang kaget Freya menerobos masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu lebih dulu. "Mas maaf saya nggak sopan. Tapi saya perlu tanya sesuatu sama Mas Nino," desis Freya dengan wajah sendunya. "Tanya apa? Penting nggak? Kalo nggak terlalu penting, kita ngobrol nanti abis rapat ya?" "Nggak bisa Mas. Menurut Mas Nino, Mas Lucas marah ya sama saya?" tanya Freya sangat polos. Nino langsung menoleh gadis Lucas itu tak percaya, "Jadi kamu nggak sadar sama sekali kalo sedari tadi dia menyiksa dan ngebantai kita itu karena dia marah sama kamu? Demi Tuhan Freya!" gemas
Zeta masih berkacak pinggang di depan Freya. Ekspresi wajahnya sok, merasa menjadi istri CEO yang berhak atas setiap sudut ruangan di sekitarnya. Anton sampai harus mencolek bahu David asistennya, merasa terganggu dengan sikap Zeta. David balas mengedikkan bahu, tak berani menegur karena Zeta selalu berlagak paling kaya dan itu menyebalkan bagi sebagian lelaki. "Lo lama-lama nyebelin ya!" sentak Zeta membuat perhatian semua orang beralih padanya.Freya tetap tersenyum tanpa membalas sikap kasar Zeta. Baginya, meladeni Zeta sama saja berkelahi dengan orang gila. Meski hatinya kesal dan panas bukan main, Freya harus bisa mempertahankan kualitasnya. "Awas lo berani ngelewatin batas! Berani mimpi aja lo nggak boleh!" larang Zeta menunjuk-nunjuk wajah Freya emosi. "Saya ini cuma debu Mbak, Mbak nggak perlu khawatir," balas Freya bernada mencibir. Gemas juga ia dengan sikap egois dan semena-mena perempuan tanpa tata krama ini. "Lo nantang gue?" suara Zeta melengking, makin membuat seisi







