로그인Suara lemari dibuka membuat Sisi terbangun tanpa diminta. Dia menyipitkan mata, memastikan hal buruk kemarin adalah mimpi. Sialnya, dia melihat lelaki yang kemarin dinikahi ada di depannya.
“Aku mau sholat subuh berjamaah di masjid. Kalau kamu mau sholat bisa ke sana bareng Andini.” “Aku sedang Menstruasi,” jawab Sisi. Daffi mengernyit, lalu mengancing koko dan mendekat pada Sisi. “Nggak lagi bohong kan?” Sisi mendengus,” gak lah. Buat apa bohong. Kayak aku nggak tahu dosa aja!” Daffi mengangguk dan beranjak dari sana. Dia membuka knop pintu, lalu menengok pada Sisi yang masih ogah ogahan tidur. “Kalau aku lama tak kembali, kamu bisa ke dapur. Emak dan Bibi ada di sana selepas sholat.” Sisi menanggapi dengan anggukan kecil, pintu tertutup dan Sisi menggerutu lagi. “Siapa juga yang mau cariin. Aduh, ini kenapa jadi asli gini sih nikahnya?” Sebagai seorang petarung, rasanya aneh menjadi kalem meski hanya dalam beberapa waktu. Dia pun menatap bayangan di cermin, wajahnya yang semu kuning itu terlihat kusam. Dia bermonolog dalam hati, merasa aneh dengan apa yang dia alami. Sisi bangkit, lalu mencuci mukanya. Bingung mau melakukan apa, dia pun keluar dan melihat semua orang sedang sholat di Masjid, termasuk para wanita. Dia pun berjalan jalan, mencari cari tempat yang mungkin enak untuk dia menghirup udara segar. “Sisi, nggak ikut jamaah di masjid?” tanya Ratmi. Sisi kaget dan merenges. “Lagi nggak, Bi. Bibi kok di sini?” “Bibi juga lagi udzur. Mau ikut masak?” “Liatin aja ya? Nggak tahu kenapa, semalam tidurnya bikin badan pegel.” “Atuh penganten baru, bangun tidur badan langsung pegel pegel.” Ratmi menyenggol Sisi, menggodanya hingga Sisi pun merasa geli sendiri. Sisi dikenalkan dengan para santri yang sedang memasak. MEreka rata rata yang sedang halangan sholat sehingga memasak menjadi rutinitas mereka daripada bolong kegiatan mengaji. Sisi menjadi pendiam, menyimak obrolan yang menurutnya tak menarik. “Mbak Sisi ini kenal Gus Daffi lama?” tanya satri perempuan berama Alifah. “Nikah mah, kenalan gak usah lama lama, Mbak. Kalau jodoh, nggak akan ke mana,” balas Sisi tanpa ekspresi. “Iya sih, saya juga maunya langsung taarif dan nikah saja. Yang ditunggu dan diidamkan, kadang malah nggak jadi dinikahi. Kan ngenes,” jawab Alifah tak mau kalah. “Ya itu sih tergantung manusianya. Siapa suruh mau nunggu. Ya kali buang buang waktu buat yang gak pasti. Yang terlihat pasti saja kadang suka PHP doang.” Alifah merengut dan teman teman nya mengira Sisi cemburu sehingga mereka cekikikan mendengar jawaban Sisi untuk pertanyaan Alifah. “Pantesan dipilih sama Gus Daffi,” bisik salah satu teman Alifah. Ratmi yang mendengar itu hanya menggeleng saja, tak menyangka Sisi akan menjawab pertanyaan pertanyaan konyol para santri di dapur. Dia memilih tidak menyahuti karena takut membuat keributan atau masalah di pondok pesantren ini. “Bi, aku ke depan ya? Siapa tahu Andini udah selesai sholat.” “Iya, Si. Bibi nggak bisa temani ya?” Sisi mengangguk, meninggalkan dapur setelah melirik judes pada wanita yang tadi mengajaknya bicara. Semua santri malah terkekeh lagi melihat Alifah dijutekin istri Daffi itu. Sisi melihat Kenzi sedang berjalan ke arah rumah Abah. Dia langsung menghampiri dan merengut pada Kenzi. “Pak, tolong bujuk atasan saya untuk mengubah jadwal kerja dan tugas saya. Saya rasa, di sini gak asik banget. Di sini terlalu lama bikin saya fokus gak bisa jagain bos saya lama lama ini,” ucap Sisi yang datang dari arah dapur. Kenzi pun melirik pada Andini, dia terlihat biasa saja saat Sisi mengatakan itu. Hanya tersenyum dan meraih tangan Sisi. “Gak papa, Sisi. Kenapa diubah jadwalnya? Acara rutin kan sudah dibuat, kamu katanya mau diajak ke makam Umi. Aku nggak akan pergi kok, Abang bilang boleh temani Aa juga. Kita akan bareng bareng.” ucap Andini yang berpikiran Sisi sedang membahasnya. “Iya Bu Bos. Tapi kedai kita itu siapa yang akan urus? Selain itu, saya juga masih banyak kerjaan nih.” Sisi berusaha mencari alasan agar Andini berubah pikiran dan kasihan padanya. “Kerjaan? Habis ini kamu gak akan kerja lagi psati, Si. Suami kamu Dokter, memang masih boleh?” “Harus boleh, enak aja,” ketus Sisi. Andai saja mereka tahu apa tugasnya selama ini dalam penyamaran, tak perlu dia berakting seperti ini. Sungguh sangat merepotkan. Andini tersenyum, meletakkan tangan Sisi di dadanya. “Sisi, Aa memang pendiam. Tapi jangan diambil hati ya? Maafkan dia kalau dia tidak perhatian. Dia memang otaknya selurus jembatan Suramadu. Tapi aku yakin, maksud dia baik ajak kita di sini dulu. Ya kan, Bang?” tanya ANdini. Kenzi hanya tersenyum menanggapi karena dia benar benar tak mengerti.Edi sungguh terhibur dengan adanya Sisi. Dia pun sudah sangat yakin, Amelia adalah anak Hanum yang tak mau diakui. Meski begitu, ikut campur untuk mempertemukan mereka bukanlah ide bagus sehingga dia memilih diam saja dan tak mau ikut campur.“Menurut ayah gimana?”“Apanya?”“Mrs Hanum dan anaknya itu.”“Selama saingan Hanum masih hidup, gak bisa dipertemukan. Kalau dia juga gak mau mengakuinya sampai sekarang, susah.”“Jadi?”“Biarkan saja. Gak usah dipaksa. Suatu saat nanti, mereka pasti bertemu. Seperti kita ini, Gak nyangka kan bakalan ketemu lagi?”“Iya juga sih. Semoga deh. Soalnya aku lilat Mrs Hanum gak bahagia banget hidup sama Mr Hirosy. Masa jauh jauhan gini gak terlihat menggebu rindu gitu. Cuma kadang melamun, katanya kangen anak anaknya. Hm, anak yang mana coba?”“Gak mau nebak hati orang. Hati Ayah saya gak tahu milik siapa sekarang ini.”“Idih
Hanum tertawa getir. “Kalau saya menghubunginya sekarang, yang akan saya dapat bukan pelukan hangat, tapi tatapan penuh kebencian. Tidak semua luka bisa sembuh, Tuan. Orang yang meminta saya berjanji juga sepertinya masih hidup dan itu akan membuat huru hara nanti pada kehidupan anak saya. Saya tak mau anak saya dalam masalah.”“Kalau boleh tahu, siapa anak Mrs?” tanya Sisi menggenggam tangan Hanum, berusaha menenangkan.“Biarlah ini jadi rahasia,” balas Hanum dan sebenarnya Edi bisa menebak siapa anak Hanum itu. “Tapi Mrs tidak sendiri sekarang. Ada saya, dan ada Edi. Tak apa katakan pada kami, siapa tahu kami bisa membantu.”“Terimakasih, tapi ini adalah janji. Sebelum orang yang memaksa saya berjanji mati, saya tak akan mengatakannya.”“Apa perlu saya matikan dia agar Anda bicara siapa anak Anda?” tanya Edi terlihat serius padahal hanya bercanda.“Ayah.” Sisi menengok kaget, pun dengan Hanum.
“Ayah yakin kamu begini karena ada Al di rumah. Nak, semua yang Ayah rawat itu adalah anak Ayah. Meski kamu bukan terlahir dari darah Ayah, tapi Ayah yakin 100 persen hati dan jiwa ini masih sama seperti dulu.”UCapan Edi membuat Sisi pun merasa terharu. Mata berkaca kaca tapi sungkan untuk memeluk seperti dulu. Dia memang merasa tak enak karena anak kandung Edi sudah kembali, dia harus sadar diri dan tak ingin terlalu merepotkan Edi lagi.“Jadi, Anda ayahnya Sisi?” tanya Hanum.“Ya, dia anakku. ANak yang aku besarkan dengan cinta dan kasih sayang.”Edi memeluk Sisi dan Sisi pun akhirnya sesegukan di pelukan Edi. Dia sudah lama merindukan lelaki itu tapi khawatir melukai Al Zavier yang merupakan anak kandung Edi.“Al akan senang kalau ada adik adiknya. Dia bahkan kadang bilang sepi rumah tanpa ada suara perempuan.”“Anda tak akan membuangku?” tanya Sisi.“DIbuang? Sudah berapa lama kamu
Sisi mengangguk pelan. Mungkin itu orang yang dilihatnya malam itu. Tapi, siapa mereka bekerja untuk siapa?Ia kemudian turun ke area parkiran, mengingat semalam ada mobil hitam yang mencurigakan. Sayangnya, mobil itu sudah tidak ada.Tapi kalau ada seseorang yang mengawasi, pasti mereka akan kembali lagi.Maka, Sisi memutuskan untuk menunggu.Benar saja, beberapa jam kemudian, sebuah mobil hitam yang sama kembali terparkir di area rumah susun. Dua pria turun dari dalamnya. Sisi segera bersembunyi di balik pilar, mengamati gerak-gerik mereka.“Sudah dicek kameranya? Kenapa layarnya gelap?” salah satu pria berbicara."Kayaknya ada yang menutup lensanya. Bisa jadi dia sadar," jawab pria satunya.Sisi menahan napas. Jadi benar, kamera itu memang dipasang untuk mengawasinya.Tapi siapa dalangnya?“Harus lapor ke Pak Edi?”Seketika, Sisi terdiam. Ben
“Andai itu Ayah, sudah dipastikan dia akan selalu melindungiku di mana pun berada,” batin Sisi dengan penuh rasa syukur karena ayah angkatnya itu bukan orang sembarangan yang bisa menyamar dan bersikap seolah dia adalah rakyat jelata. Hanya orang orang tertentu yang bisa melakukan penyamaran itu dan setengah yakin, SIsi mengira itu adalah Edi.Pulang ke rumah susun, Sisi melihat Hanum yang sudah pulas. Ada rasa tak tega juga melihat wanita itu tidur sendirian tanpa anak dan suaminya. Namun, tugas ini tak akan selamanya. Sisi yakin, Hirosy dan anak anaknya akan menjemput.Sisi mandi setelah badan terasa lengket. Jam 1 dini hari SIsi baru siap untuk mandi. Namun, dia sempatkan duduk di balkon rumah dan melihat ke arah parkiran rumah susun di bawah sana. Ada sebuah mobil yang terlihat sangat aneh. Sisi berdiri dan segera mengambil teropong kecil miliknya. Khawatir ada yang diam diam membuntutinya.“Itu_”Sisi bangkit dan segera tu
Perhitungan Sisi buka usaha di Bogor sepertinya salah. Omset yang didapatkan tidak sebesar saat di Jakarta. Dia pun hanya bisa menyimpan sisa modal untuk memutar dan membayar sewa, selebihnya dia seperti para kaum menengah ke bawah yang kekurangan biaya.Sisi harus memastikan kebutuhan Hanum tercukupi. Dia menolak Hanum ikut berjualan karena tak ingin terlalu lelah. Lokasi jualan dan juga rumah yang tidak begitu dekat membuat Sisi hanya memperbolehkan Hanum menemaninya saat menata dagangan saja. “Mrs pulang dulu gak papa.”“Kamu ini, malam ini aku ingin menmani kamu. Boleh ‘kan?”“Pulang aja, Mrs. Nggak baik terlalu memaksakan, sudah tua harus jaga kesehatan.”Hanum mencubit pelan tangan Sisi dengan gemas, lalu diantar pulang oleh ojek langganan. Udara bogor begitu dingin. Sisi mendapatkan beberapa pembeli meski jualan nya masih tersisa separuhnya. Sisi melihat jalanan sudah sepi, lalu berkemas unt
“Dengan atau tidaknya keridhoan itu, aku tetaplah aku yang tidak akan bisa diam kala melihat hal ahat ada di depan mata. Tak peduli dulunya pernah dekat atau menjalin hubungan, jadi jangan sampai berkeinginan lebih padaku.”“Sisi, jangan salah paham. Aku bukan melarangmu, tapi aku h
“Daffi, Abahmu mengajarkan kamu agama, tapi kamu tidak bisa mendidik istrimu dengan baik. Kamu biarkan dia berzina dengan orang-orang di luar sana, hah?”Kedatangan Nurhasan tentu mengagetkan Daffi. Bahkan kedatangannya langsung menunjukkan sikap emosional dan marah-marah kepadanya.
Digo senang. Dia pun senang melihat Sisi kembali tersenyum. Dia membantu Sisi mengerjakan pekerjaan yang ada di sana, keduanya tampak seperti teman lama.“Bagaimana tanggung jawab Daffi, istrinya dibiarkan bekerja dengan lelaki dan tidak melihat apa yang istrinya lakukan di sini.”
Keesokan harinya, Sisi bersiap pergi ketika Daffi tiba-tiba muncul di depan pintu. Dengan pakaian kaosnya, tentu membuat Sisi heran.“Kamu mau berangkat sekarang?” tanyanya, menatap Sisi dengan ekspresi yang sulit dibaca.“Iya.”“Aku ikut.”







