Share

bab 6

Author: Maey Angel
last update publish date: 2026-03-10 20:48:54

Suara lemari dibuka membuat Sisi terbangun tanpa diminta. Dia menyipitkan mata, memastikan hal buruk kemarin adalah mimpi. Sialnya, dia melihat lelaki yang kemarin dinikahi ada di depannya.

“Aku mau sholat subuh berjamaah di masjid. Kalau kamu mau sholat bisa ke sana bareng Andini.”

“Aku sedang Menstruasi,” jawab Sisi.

Daffi mengernyit, lalu mengancing koko dan mendekat pada Sisi. “Nggak lagi bohong kan?”

Sisi mendengus,” gak lah. Buat apa bohong. Kayak aku nggak tahu dosa aja!”

Daffi mengangguk dan beranjak dari sana. Dia membuka knop pintu, lalu menengok pada Sisi yang masih ogah ogahan tidur.

“Kalau aku lama tak kembali, kamu bisa ke dapur. Emak dan Bibi ada di sana selepas sholat.”

Sisi menanggapi dengan anggukan kecil, pintu tertutup dan Sisi menggerutu lagi.

“Siapa juga yang mau cariin. Aduh, ini kenapa jadi asli gini sih nikahnya?”

Sebagai seorang petarung, rasanya aneh menjadi kalem meski hanya dalam beberapa waktu. Dia pun menatap bayangan di cermin, wajahnya yang semu kuning itu terlihat kusam. Dia bermonolog dalam hati, merasa aneh dengan apa yang dia alami.

Sisi bangkit, lalu mencuci mukanya. Bingung mau melakukan apa, dia pun keluar dan melihat semua orang sedang sholat di Masjid, termasuk para wanita. Dia pun berjalan jalan, mencari cari tempat yang mungkin enak untuk dia menghirup udara segar.

“Sisi, nggak ikut jamaah di masjid?” tanya Ratmi.

Sisi kaget dan merenges. “Lagi nggak, Bi. Bibi kok di sini?”

“Bibi juga lagi udzur. Mau ikut masak?”

“Liatin aja ya? Nggak tahu kenapa, semalam tidurnya bikin badan pegel.”

“Atuh penganten baru, bangun tidur badan langsung pegel pegel.” Ratmi menyenggol Sisi, menggodanya hingga Sisi pun merasa geli sendiri.

Sisi dikenalkan dengan para santri yang sedang memasak. MEreka rata rata yang sedang halangan sholat sehingga memasak menjadi rutinitas mereka daripada bolong kegiatan mengaji. Sisi menjadi pendiam, menyimak obrolan yang menurutnya tak menarik.

“Mbak Sisi ini kenal Gus Daffi lama?” tanya satri perempuan berama Alifah.

“Nikah mah, kenalan gak usah lama lama, Mbak. Kalau jodoh, nggak akan ke mana,” balas Sisi tanpa ekspresi.

“Iya sih, saya juga maunya langsung taarif dan nikah saja. Yang ditunggu dan diidamkan, kadang malah nggak jadi dinikahi. Kan ngenes,” jawab Alifah tak mau kalah.

“Ya itu sih tergantung manusianya. Siapa suruh mau nunggu. Ya kali buang buang waktu buat yang gak pasti. Yang terlihat pasti saja kadang suka PHP doang.”

Alifah merengut dan teman teman nya mengira Sisi cemburu sehingga mereka cekikikan mendengar jawaban Sisi untuk pertanyaan Alifah.

“Pantesan dipilih sama Gus Daffi,” bisik salah satu teman Alifah.

Ratmi yang mendengar itu hanya menggeleng saja, tak menyangka Sisi akan menjawab pertanyaan pertanyaan konyol para santri di dapur. Dia memilih tidak menyahuti karena takut membuat keributan atau masalah di pondok pesantren ini.

“Bi, aku ke depan ya? Siapa tahu Andini udah selesai sholat.”

“Iya, Si. Bibi nggak bisa temani ya?”

Sisi mengangguk, meninggalkan dapur setelah melirik judes pada wanita yang tadi mengajaknya bicara. Semua santri malah terkekeh lagi melihat Alifah dijutekin istri Daffi itu.

Sisi melihat Kenzi sedang berjalan ke arah rumah Abah. Dia langsung menghampiri dan merengut pada Kenzi.

“Pak, tolong bujuk atasan saya untuk mengubah jadwal kerja dan tugas saya. Saya rasa, di sini gak asik banget. Di sini terlalu lama bikin saya fokus gak bisa jagain bos saya lama lama ini,” ucap Sisi yang datang dari arah dapur.

Kenzi pun melirik pada Andini, dia terlihat biasa saja saat Sisi mengatakan itu. Hanya tersenyum dan meraih tangan Sisi.

“Gak papa, Sisi. Kenapa diubah jadwalnya? Acara rutin kan sudah dibuat, kamu katanya mau diajak ke makam Umi. Aku nggak akan pergi kok, Abang bilang boleh temani Aa juga. Kita akan bareng bareng.” ucap Andini yang berpikiran Sisi sedang membahasnya.

“Iya Bu Bos. Tapi kedai kita itu siapa yang akan urus? Selain itu, saya juga masih banyak kerjaan nih.” Sisi berusaha mencari alasan agar Andini berubah pikiran dan kasihan padanya.

“Kerjaan? Habis ini kamu gak akan kerja lagi psati, Si. Suami kamu Dokter, memang masih boleh?”

“Harus boleh, enak aja,” ketus Sisi.

Andai saja mereka tahu apa tugasnya selama ini dalam penyamaran, tak perlu dia berakting seperti ini. Sungguh sangat merepotkan.

Andini tersenyum, meletakkan tangan Sisi di dadanya.

“Sisi, Aa memang pendiam. Tapi jangan diambil hati ya? Maafkan dia kalau dia tidak perhatian. Dia memang otaknya selurus jembatan Suramadu. Tapi aku yakin, maksud dia baik ajak kita di sini dulu. Ya kan, Bang?” tanya ANdini.

Kenzi hanya tersenyum menanggapi karena dia benar benar tak mengerti.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Panas Sang Penyamar    118

    Tery menggeleng, tapi ada tawa kecil di bibirnya. Untuk sekarang, cukup rasanya melihat Aisy pulang dengan selamat dan masih bisa bercanda. Mungkin besok, masalah baru akan datang. Tapi malam ini, mereka hanya dua sahabat yang saling menjaga di tengah dunia yang selalu tak terduga.“Katanya mau cerita?” tanya Tery setelah Aisy kenyang. “Gue curiga nih ada hal yang terjadi. Mana ada habis makan, kok sampai rumah lapar.”“Gue tadi nolongin anaknya Mbak Juwita, kakaknya bos ganteng gue. Gilang,” ucap Aisy santai.“Serius?”Aisy mengangguk. “Makanya, gak mungkin ada insiden bahaya gue diem aja. Gue juga cuma kejar tuh bule dan gue timpuk sama kamera gue. Gak ada salahnya?”“Tapi ada yang bilang lo berkelahi di sana kan?”“Gak, cuma sedikit peregangan otot saja. Gak sampai gimana gimana, ada polisi langsung datang. Cuma ya, kamera gue rusak, Te. Beliin lagi ya?” Aisy nyengir saja, menunjukan kameranya yang sudah rusak karena dia

  • Cinta Panas Sang Penyamar    117

    “Kebiasaan ya pergi jauh gak ngomong ngomong!” sungut Tery begitu melihat Aisy sudah kembali dengan wajah tanpa dosanya.“Gue gak ke mana mana, cuma makan di resto sono bentaran. Lebai amat!”“Emang gue gak tahu lo habis berkelahi tadi? Gila emang lo, gak bisa gitu ditinggal bentar. Udah bikin jantung mau copot aja.”“Jantungnya masih kan?” kekeh Aisy dan dia masuk nyelonong saja, lalu duduk di sofa empuknya.“Dari mana lo, dari mana?”Sudah bak ibu yang sedang mamarahi anaknya, tapi yang dimarahi hanya cengengesan saja dan itu membuat Tery kesal lali mencubit lengannya.“Sakit, Bu…”“Bu lagi? Wah … cari perkara.”“Hehehe, habisnya lo berisik kaya Ibu IBu. Suara lo, melewati batas harian, jadi ya … memang lebih baik lo jadi IBu ibu aja sih.”Tery menarik napas dalam dalam. Tak habis pikir dengan temannya yang dikhawatirkan itu, malah pulang tanpa dosa dengan segudang sikap yang membuatnya jengkel.

  • Cinta Panas Sang Penyamar    117

    Di kantor polisi, suasana sedikit lebih tenang meski Kasih masih gemetaran dan terus memeluk Juna. Sementara itu, Bima sudah tertidur di pangkuan Gilang setelah sempat menangis keras karena ketakutan. Gilang menatap Aisy dengan kagum, masih tidak menyangka wanita itu begitu cekatan menyelamatkan Bima.Penyidikan selesai dan penculik itu dianggap salah satu oknum yang suka mengambil anak anak yang hilang arah di pantai, lalu dijadikan sandera. Gilang dianggap lalai dalam menjaga karena Bima sudah merangkak jauh dari tempat Gilang duduk dan tidak dilihatnya.Polisi selesai mencatat laporan Gilang dan menahan penculik. Polisi memberi tahu bahwa mereka akan memproses pelaku sesuai hukum yang berlaku."Pak, sekali lagi terima kasih," ucap Gilang kepada polisi."Iya, ini memang sudah jadi tugas kami. Hati-hati ke depannya, Pak, Bu. Kalau di tempat wisata begini memang rawan penculikan anak, pencopetan, dan semacamnya," balas polisi dengan ramah.

  • Cinta Panas Sang Penyamar    116

    **“Gea, bagaimana penelusuranmu tentang orang yang kemarin saya perintahkan kamu cari tahu informasinya?” tanya Edi.“Laporan Brian, menyangkut keluarga besar … dalam informasi itu kurang baik.”“Terlibat skandal?”“Bukan, tapi seperti masa kecil Tuan Ali Zafir yang diasuh oleh orang tidak beradab dan tidak memiliki hati nurani.”“Tapi tidak ada keterlibatan dengan para mafia atau penjahat kelas kakap?”“Tidak! Mereka hanya keluarga sederhana yang pemalas. Mereka mengandalkan Sity sebagai tulang punggung lalu menyiksanya dan menjadikan dia seorang janda. Dulu pernah diasuh oleh seorang wanita yang mengaku LC di sebuah rumah Belanda. Tapi, kemudian… diadopsi oleh seorang pengusaha yang tidak lama kemudian bangkrut.”Edi mengangguk. Itu artinya benar dan dia tidak salah lagi. Siti adalah anak asuh dari pengusaha yang dia sangat kenal dan saling berhubungan dengan keluarganya . Tidak menutup kemungkinan jika DNA Sity yang

  • Cinta Panas Sang Penyamar    115

    “Jodoh memang gak jauh dari kata ‘KEBETULAN,” kekeh Aisy.“Lo gila, Sy! Sumpah, lo bener bener gila.”“Kok gila? Ini luar biasa. Kek nggak nyangka kan ketemu sama dia dan dia gak kenalian gue, tu pencapaian yang sangat luar biasa.” “Syaraf emang lo!”Aisy benar benar senang, bukan karena dia baru bertemu kekasih atau hati orang yang memikat hatinya. Namun, senang karena bertemu Gilang tapi lelaki itu tak mengenalinya. Itu adalah hal terhebat yang dia rasakan saat ini.“Kira kira, dia ke Bali ngapain ya? Apa jangan jangan dia udah punya gebetan baru? Atau tadi, anak janda pirang … eh, tapi bukan. Apa iya?” Aisy jadi bingung sendiri, dia lupa lupa ingat dengan Juna yang hanya beberapa kali ditemui, itupun tak paham jika Juna adalah anak Juwita.“Gak usah kayak orang gila deh, biasa aja. Lo seneng kan ketemu dia? Kan?”“Doorprize dan hiburan aja, Te. Lagian, gue bukan sedang ngerjain misi. Jadi, gue bebas cari tahu siapa

  • Cinta Panas Sang Penyamar    114

    “Kikiw… “Aisy bertepuk tangan heboh pada bule bule asal Rusia yang menang dalam perlombaan voli di atas pasir pantai Bali. Kehebohan Aisy menjadi daya tarik permainan itu sendiri, bahkan Tery sampai menutup wajahnya dengan topi pantai besar yang dia kenakan saking malunya.“Sy, jangan begitu ih!”“So what? Ini menyenangkan, Bestie…”Aisy kembali meneriaki yang lain, sekelompok bule yang juga masuk dalam permainan pantai yang begitu menarik. Setelah itu, dia tawarkan jasa foto dan memberikan cubitan manja di pipi mereka. Tery sampai geli sendiri dengan Aisy, kenapa jadi centil seperti itu.“Balik yuk!Q” ajak Tery.“Ck, you kenape? Ini tuh ladang duit, jangan disia-siakan. Mumpung weekend, gak liat bule bule kasih gue uang banyak? Nih?” Aisy mengibaskan uangnya saking senangnya.“Lo gak lagi kekurangan uang, Sy. Ayolah, malu jadi bahan tontonan orang.”“Udah, gak usah bawel!! Lo, diem di situ dan jaga tempat in

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 4

    Sisi mengusap wajahnya yang mulai dipenuhi keringat dingin. "Benarkah? Apa perlu aku pindah posisi? Aku sudah selesai bukan dalam misi ini?”“Kamu tengah dalam puncak misi, selesaikan sampai kamu benar benar yakin semua aman.”“Aku tahu, aku tahu... tapi sekarang semuanya sudah terjadi. Akhirya aku

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 8

    Sisi diam saja, memilih mengamati bagaimana Andini tampak begitu nyaman bercakap-cakap dengan Daffi. Mereka seperti pasangan yang sempurna, sementara dirinya hanyalah bayangan di belakang. Andai saja mereka bukan saudara, pasti mereka sudah menjadi pasangan yang sempurna. Satu dewasa dan satunya la

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 7

    "Bu Bos yang terhormat, di sini terlalu lama bikin otak saya mendadak ngeblank. Biasa menata gelas dan piring, sekarang harus menata hati. Mana orang di sini aneh aneh, ya kan?” bisik Sisi.Tiara terkekeh dan mengangguk. “Iya.”“ Kayak kamu kan?’ sambung Tiara kemudian.Sisi yang tadinya senang de

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 5

    Daffi menelan ludah lagi sebelum perlahan mengulurkan tangannya. Ia menarik resleting dengan hati-hati, hampir tidak menyentuh kulit Sisi. Namun, tetap saja ada kehangatan samar yang terasa di ujung jarinya. Kulit putih mulus bak su su itu membuatnya harus menahan napas cukup lama.Begitu resleting

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status