Home / Romansa / Cinta Pertama Pak Mayor / Perjalanan Panjang

Share

Perjalanan Panjang

Author: AgilRizkiani
last update publish date: 2026-10-21 17:09:36

Pertanyaan itu membuat udara hutan yang pagi itu terasa mendadak berhenti.

Gianina yang sedang berjalan di depan, langkahnya langsung terhenti. Tangannya yang menggenggam tangan Althafariz ikut mengeras.

"Ayah?" Althafariz mengulang pertanyaannya sambil menengadah. "Kata teman-teman di sekolah, kalau ayah sama ibu sudah menikah, nanti bisa punya adik. Fariz mau punya adik, Yah."

Gianina berjongkok, memeluk pipi putranya. "Sayang, punya adik itu amanah, harus siap dulu."

Altar ikut berjongkok. "
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cinta Pertama Pak Mayor    Sebuah Harapan

    Tiga bulan setelah kecelakaan itu, rumah yang dulu ramai oleh tawa Althafariz kini berubah menjadi ruang terapi yang sunyi.Setiap pagi, Gianina bangun lebih awal. Ia menyiapkan kursi roda Altar, menyiapkan air hangat, dan membantu Altar berpindah dari tempat tidur ke kursi roda. Dulu, tangan yang membantunya adalah tangan Altar yang kekar dan selalu melindungi. Sekarang, tangan itu justru yang harus ia pegang agar tidak terjatuh.Altar tidak lagi banyak bicara. Mayor yang dulu lantang memberi perintah di istana, kini lebih sering diam menatap jendela. Ia membenci dirinya sendiri. Ia membenci tubuhnya yang tidak bisa lagi berlari, tidak bisa lagi menggendong Fariz di punggungnya seperti di hutan."Al, sarapan," kata Gianina pelan, meletakkan bubur di depannya.Altar menatap bubur itu, lalu menatap kakinya yang diam tak bergerak. "Gia, kamu tidak perlu melakukan ini setiap hari. Kamu masih muda. Kamu bisa pergi, cari laki-laki yang bisa berjalan, yang bisa melindungi kamu dan Fariz. Ak

  • Cinta Pertama Pak Mayor    Perjalanan Panjang

    Pertanyaan itu membuat udara hutan yang pagi itu terasa mendadak berhenti.Gianina yang sedang berjalan di depan, langkahnya langsung terhenti. Tangannya yang menggenggam tangan Althafariz ikut mengeras."Ayah?" Althafariz mengulang pertanyaannya sambil menengadah. "Kata teman-teman di sekolah, kalau ayah sama ibu sudah menikah, nanti bisa punya adik. Fariz mau punya adik, Yah."Gianina berjongkok, memeluk pipi putranya. "Sayang, punya adik itu amanah, harus siap dulu."Altar ikut berjongkok. "Ayah siap, Fariz. Dari dulu Ayah selalu siap untuk kamu dan Ibu kamu."Belum sempat Gianina menjawab, Altar tiba-tiba berdiri. Naluri tentaranya menyala. Ia menoleh ke semak di sebelah kanan. Terlalu sunyi. Burung yang tadi berkicau, mendadak hilang. Suara motor yang tadi terdengar dari kejauhan, kini hilang."Gia, diam," bisik Altar cepat. Tangannya langsung menarik Gia dan Fariz ke balik batu besar."DOR! DOR! DOR!"Tiga letusan memecah hutan. Peluru menghantam pohon tepat di atas kepala merek

  • Cinta Pertama Pak Mayor    Pertanyaan Althafariz

    Lampu portable yang ada di dalam tas Althafariz pun sedikit membantu menerangi ruangan yang sempit. Putranya juga segera memakai jaket tebal yang ternyata ada di dalam tasnya — untung saja Gia selalu rapi menyusun barang-barang anaknya.Jam sudah larut, udara semakin dingin. Altar melihat Gia yang masih duduk tegak, memandang gelap di luar pondok sederhana itu. "Kamu tidak bisa tidur, ya Gia?" tanyanya lembut, mendekat dan duduk di sampingnya.Gia mengangguk perlahan, matanya penuh ketakutan. "Aku takut ... ada ular atau hewan lain yang masuk." Dia melihat Fariz yang sudah tertidur nyenyak di tengah mereka, ditutupi dengan jaketnya. "Aku khawatir sesuatu menyentuh dia."Altar memegang tangannya dengan lembut. "Jangan khawatir. Aku sudah memeriksa seluruh pondok, dan aku akan berjaga semalaman. Tidak akan ada yang menyentuh kalian berdua." "Kamu tau nggak, pas lagi jadi tentara, aku pernah bertemu ular besar di hutan. Tapi aku tahu cara menghindarinya — cukup jaga jarak dan jangan gan

  • Cinta Pertama Pak Mayor    Terjebak Di Hutan

    Ia tidak bisa gegabah, takut jika mereka adalah sindikat berbahaya.Dirinya mengikuti arah CCTV yang menunjukkan mobil CRV hitam itu. Jalan semakin sempit dan terjal, menuju kawasan hutan yang jarang dilalui. Udara menjadi sejuk dan penuh bau dedaunan basah. Saat ia hampir mencapai mobil itu yang berdiri di pinggir hutan, tiba-tiba BOOOM! — mobil itu meledak dengan ledakan besar yang menyemprotkan api dan puing ke segala arah.Kekerasan ledakan itu memukul badannya, membuatnya terpental ke belakang dan jatuh ke lorong tebing yang dalam. Tubuhnya bergeser di permukaan batu kasar, menabrak bebatuan satu per satu sampai akhirnya mendarat di tanah datar di bawah. Saat ia mencoba bangkit, tangannya kiri tertusuk oleh sebatang kayu yang tajam yang bersarang di antara batu. Darah memancar keluar, tapi ia tidak mempedulikan rasa sakit yang menyengat. Hanya satu hal yang ada di benaknya: anak dan istrinya.Dengan tangan yang berdarah ia menopang dirinya berdiri, melangkah dengan langkah yang g

  • Cinta Pertama Pak Mayor    Luka Itu

    Gianina tersenyum, ia mengantarkan Sang putra ke sekolah. Altar memang sudah jauh lebih dulu berangkat ke istana negara karena banyak sekali persoalan pemerintah yang perlu dirinya selesai.Hari ini dirinya akan menemui Tuan Wibowo. Jika ada pemilihan orang paling bijak, tentu saja Altarlah yang akan menjadi juaranya. Lelaki itu menasehatinya tentang kedua orang tua dan juga keluarganya.Bagaimanapun juga kesalahan seperti apa yang telah mereka perbuat, tetap saja darah Tuan Wibowo mengalir juga di dalam tubuhnya.Altar juga telah mengatur janji antara anak dan ayah itu.Gianina terlihat gelisah, dirinya bolak-balik mengetukkan jari di meja. Dulu dirinya sangat ingin disayangi dan juga dicintai oleh sang ayah, tapi karena rasa sayangnya dan rasa cintanya itu justru ia harus terpukul ke dalam jurang cemburu bahkan rasa sakit hati yang mendalam. "Gia."Suara serak, khas sang ayah. Membuat hati dari Gianina, terenyuh. Sebelum menoleh ia memejamkan mata sebentar lalu menghembuskan napas.

  • Cinta Pertama Pak Mayor    Pembayaran

    Setelah urusan di rumah selesai, Altar bersiap berangkat menuju Istana Kepresidenan. Seragamnya rapi, wajahnya serius, meski dalam hatinya masih teringat pada Gia dan Fariz.Namun sebelum mobil dinasnya melaju, ia mendapat laporan langsung dari pihak TNI Angkatan Darat. Informasi itu membuat langkahnya terhenti sejenak.“Komandan, izin melapor. Gunawan resmi diturunkan dari pangkat perwira ke tingkat paling rendah. Semua hak dan fasilitasnya dicabut. Keputusan ini mutlak setelah audit militer menemukan banyak pelanggaran serius,” ujar seorang prajurit dengan nada tegas.Altar mengangguk singkat. Akhirnya roda keadilan itu bergerak juga, pikirnya.Tak berhenti di situ, kabar lain pun datang.“Kemudian, Kamelia Yasmin Wibowo sedang diburu oleh media. Kasus prostitusi yang menyeret namanya kini ramai di kalangan pejabat. Bahkan beberapa tokoh yang pernah memiliki hubungan dengannya sedang diincar aparat dan wartawan.”Altar terdiam, matanya menajam. Ia tahu cepat atau lambat, kebenaran a

  • Cinta Pertama Pak Mayor    Altar dan Rasanya

    Dengan satuan khusus yang ia bentuk sendiri serta pengamanan ketat yang nyaris sempurna, Mayor Altar akhirnya berhasil keluar dari Rumah Sakit Abdi Negara tanpa sedikit pun terendus oleh media atau musuh-musuhnya.Konvoi kendaraan berjalan mulus menembus malam, hingga tiba di sebuah rumah mewah nan

  • Cinta Pertama Pak Mayor    Pertemuan

    Air mata menggenang di pelupuk mata Gianina. Bahunya bergetar, hatinya porak-poranda. Tapi ia berusaha menguatkan suaranya.“Lalu kenapa kau di sini? Mau apa, Altar? Mau menebus dosa? Semudah itu?”Altar menunduk sebentar, sebelum kembali menatap Gianina dengan mata yang kini memerah.“Aku di sini

  • Cinta Pertama Pak Mayor    Menemukan

    Mayor Altar Wijaya Rafendra kini tak lagi hanya berdiri di sisi panggung kekuasaan. Ia bertugas di Kementerian Sekretariat Negara, menjabat sebagai Sekretaris Kabinet dalam Kabinet Merdeka. Jabatan baru itu membuatnya tak lagi menjadi ajudan presiden—melainkan sosok penting yang mengatur dan memast

  • Cinta Pertama Pak Mayor    Luka Lama

    Langkah-langkah tegap Mayor Altar mendadak terhenti. Napasnya tercekat, seolah paru-parunya menolak bekerja. Di tengah kerumunan aula yang ramai—penuh suara sepatu berderit, obrolan terbata, dan dentingan gelas—pandangan Altar terpaku pada sosok yang tak pernah sanggup ia kubur dari ingatannya. G

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status