LOGIN
Lampu kristal di aula utama kediaman Valerius berpendar redup, memberikan kesan mencekam pada ruangan yang didominasi warna hitam dan emas itu. Di tengah ruangan, Aara Zenobia berdiri dengan bahu bergetar. Tangannya terikat kain sutra hitam di depan perutnya, sebuah penghinaan halus yang menunjukkan bahwa dia bukan lagi wanita merdeka.
Di hadapannya, duduk seorang pria yang namanya menjadi momok bagi seluruh otoritas di kota ini. Dante Valerius. Dante menyesap wiskinya pelan, matanya yang sebiru es menatap Aara dari balik gelas kristal. Ia tidak bicara. Keheningan itu sendiri adalah siksaan. Dante adalah definisi pria arogan, ia tidak perlu berteriak untuk membuat orang berlutut. Cukup dengan keberadaannya, udara di ruangan itu terasa habis tersedot. Dante meletakkan gelasnya dengan dentuman pelan yang membuat Aara terlonjak. Ia bangkit, melangkah perlahan mendekati Aara. Postur tubuhnya yang tinggi tegap membuat Aara merasa sangat kecil. "Tandatangani, Aara. Atau ayahmu akan pulang dalam bentuk potongan-potongan kecil pagi ini," desis Dante, suaranya sedingin es yang beradu di dalam gelas wiskinya. "Ayahmu baru saja menjualmu seharga 50 juta Euro, Aara," suara Dante berat, rendah, dan sangat dingin. "Harga yang cukup mahal untuk seorang gadis yang bahkan tidak bisa menatap mataku." Aara mengangkat wajahnya, mencoba mengumpulkan sisa keberanian. "Dia terpaksa. Kau menjebaknya dalam permainan judi itu, Dante!" "Aku tidak menjebak siapa pun. Aku hanya memberikan apa yang diinginkan orang serakah," Dante berhenti tepat di depan Aara, aroma kayu cendana dan tembakau mahal menyeruak masuk ke indra penciuman Aara. "Dan sekarang, aku menginginkanmu. Bukan karena aku menginginkan tubuhmu, tapi karena namamu adalah kunci untuk memancing pengkhianat yang membunuh adikku." Dante menarik sebuah map dari atas meja dan melemparkannya ke kaki Aara. "Nikah kontrak. Satu tahun," lanjut Dante tanpa emosi. "Kau akan menjadi perisai sekaligus umpan. Di depan publik, kau adalah istriku yang paling berharga. Di dalam rumah ini, kau bukan siapa-siapa." Aara menatap map hitam yang tergeletak di kakinya seolah benda itu adalah vonis mati. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, membasahi pipinya yang pucat. Dengan tangan yang masih terikat sutra, ia berlutut perlahan, mengambil dokumen itu dengan jemari gemetar. Aara memejamkan mata sesaat, lalu meraih pulpen perak yang disodorkan salah satu anak buah Dante. Dengan satu goresan tinta, ia resmi menyerahkan jiwanya pada sang iblis. "Bawa dia ke kamar sayap timur. Kunci pintunya. Jangan biarkan dia keluar tanpa izin dariku," perintah Dante tanpa menoleh lagi pada istrinya yang baru saja ia "beli". Aara diseret pelan oleh dua pengawal bertubuh kekar menuju sebuah kamar yang luas namun terasa seperti sel penjara yang megah. Pintu kayu jati yang tebal berdentum menutup, diikuti suara kunci yang diputar dua kali. Aara jatuh terduduk di lantai, memeluk lututnya dalam kegelapan. Namun, sesuatu menarik perhatiannya. Di atas tempat tidur king-size yang rapi, terdapat sebuah kotak kado kecil berwarna putih bersih. Aara mendekatinya dengan ragu. Di dalamnya bukan perhiasan mahal, melainkan sebotol salep antibiotik, kain kasa, dan sepucuk surat pendek dengan tulisan tangan yang kaku namun tegas. "Oleskan pada pergelangan tanganmu. Aku tidak butuh umpan yang terluka sebelum perang dimulai." Aara menyentuh pergelangan tangannya yang memerah dan lecet akibat ikatan sutra tadi. Ia menoleh ke arah kamera CCTV di sudut ruangan, merasa diperhatikan. Di balik layar monitor di ruang kerjanya, Dante memperhatikan Aara dengan rahang mengeras. Tangannya yang memegang cerutu tampak gemetar tipis sebuah emosi yang asing baginya. Pukul tiga dini hari, kesunyian mansion Valerius pecah oleh suara ledakan di gerbang depan. BOOM! Aara terjaga dengan sentakan hebat. Alarm keamanan berbunyi nyaring. Tak lama kemudian, pintu kamarnya didobrak terbuka. Dante berdiri di sana, namun kali ini ia tidak mengenakan setelan jas rapi. Ia memakai rompi antipeluru dengan pistol Glock di tangan kanannya dan senapan serbu menggantung di bahunya. Wajahnya yang arogan kini tertutup oleh masker taktis, menyisakan matanya yang berkilat penuh amarah. "Ikut aku! Sekarang!" Dante menyambar tangan Aara, menariknya dengan kasar namun entah bagaimana, genggamannya terasa melindungi. "Apa yang terjadi?!" teriak Aara di tengah suara rentetan tembakan yang mulai terdengar di koridor. "Musuh lama yang tidak sabar ingin bertemu janda baruku," jawab Dante sinis. Saat mereka berlari menuju jalur evakuasi bawah tanah, seorang penyerang muncul dari balik pilar dan mengarahkan moncong senjata ke arah Aara. Tanpa ragu, Dante memutar tubuhnya, memposisikan dirinya sebagai tameng manusia di depan Aara sembari membalas tembakan dengan akurasi mematikan. RATATATATA! Penyerang itu tumbang, namun sebuah peluru sempat menyerempet bahu Dante. Darah mulai merembes di kemeja hitamnya. "Dante! Kau terluka!" Aara menjerit ketakutan. Dante hanya mendengus, matanya tetap waspada memindai area. "Hanya goresan. Jangan berhenti lari jika kau masih ingin melihat matahari besok." Setelah berhasil mencapai bunker yang aman, suasana menjadi sunyi yang menyesakkan. Dante duduk di sebuah kursi besi, mencoba melepas rompi antipelurunya dengan satu tangan yang berfungsi, sementara wajahnya mengatup rapat menahan nyeri. Aara, meski gemetar, mendekat. Ia mengambil kotak P3K yang tersedia di dinding bunker. "Biarkan aku membantu," bisik Aara. "Pergi, Aara. Jangan menyentuhku," usir Dante dengan nada arogan yang sama. "Kau melindungiku tadi! Setidaknya biarkan aku membalasnya sedikit saja!" Aara membalas, keberaniannya muncul dari rasa bersalah. Dante terdiam. Ia menatap Aara dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara kebencian, keinginan, dan sesuatu yang lebih dalam. Akhirnya, ia membiarkan tangan lembut Aara menyentuh kulitnya yang panas. Saat jemari Aara membasuh lukanya, napas Dante tertahan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sang Mafia merasa... rapuh. "Jangan salah paham," gumam Dante saat wajah Aara berada hanya beberapa senti dari wajahnya. "Aku melindungimu karena kau milikku. Dan aku tidak suka barang milikku dirusak oleh orang lain." Aara mendongak, matanya bertemu dengan mata biru Dante. "Aku bukan barang, Dante. Dan kau... kau tidak sejahat yang kau bicarakan sendiri." Dante mencengkeram rahang Aara perlahan, membawanya mendekat hingga hidung mereka bersentuhan. "Kau baru melihat permukaan neraka ini, Kecil. Jangan pernah berpikir kau bisa menjinakkanku." Dante melepaskan cengkeramannya secara tiba-tiba, seolah-olah kulit Aara membakar jemarinya. Ia berdiri, mengabaikan rasa perih di bahunya, dan kembali mengenakan kemeja hitamnya yang kini ternoda darah kering. "Istirahatlah. Bunker ini kedap suara, tapi bukan berarti kau aman selamanya," ucap Dante dingin tanpa menoleh. Ia berjalan menuju pintu baja bunker, meninggalkan Aara dalam kesunyian yang mencekam. Pagi harinya, Aara terbangun di atas tempat tidur lipat bunker yang keras. Ia terkejut saat menemukan sebuah nampan berisi sarapan hangat bubur gandum, buah segar, dan segelas susu sudah tersedia di meja kecil samping tempat tidur. Tidak ada pelayan, tidak ada Dante. Hanya ada kehangatan yang kontras dengan dinding beton di sekelilingnya.Dante terdiam sesaat, menatap bingkai foto yang permukaannya sudah sedikit retak dan kusam itu. Ia mengambil napas dalam, berusaha menenangkan gemuruh di dadanya. "Foto itu rusak karena air laut setahun yang lalu," jawab Dante, suaranya terdengar serak. "Sama seperti pemiliknya, foto ini nyaris hancur terbawa badai." Lumina memicingkan mata, mengusap permukaan kaca bingkai yang buram itu dengan ujung kemejanya yang terkena tepung. "Kasihan ya. Sudah wajahnya tidak kelihatan, auranya pun suram sekali. Dia ini siapa, Tuan Bos? Mantan pacar? Atau... saingan bisnis yang Tuan culik terus stres?" Dante hampir saja tersedak harga dirinya sendiri mendengar analisis asal-asalan Lumina. "Dia... seseorang yang sangat berharga. Tapi aku terlalu bodoh untuk menyadarinya sampai dia menghilang." Lumina menatap Dante dengan tatapan yang sulit diartikan. Tiba-tiba, ia menepuk bahu Dante dengan sangat keras , begitu keras hingga Dante sediki
Kabar mengenai kembalinya Aara menyebar seperti api di antara orang-orang kepercayaan Dante. Sasha, yang selama setahun ini mengasingkan diri ke sebuah biara di pinggiran kota untuk menebus rasa bersalahnya karena gagal melindungi Aara di malam badai itu, langsung memacu mobilnya menuju mansion begitu menerima telepon singkat dari Marco. Sasha melangkah masuk ke lobi dengan wajah yang sembap dan napas memburu. Ia sudah menyiapkan ribuan kata maaf dan air mata untuk bersimpuh di kaki sang nyonya. Namun, pemandangan yang ia temukan justru membuatnya mematung di ambang pintu besar. Lumina Aara yang "baru" sedang duduk bersila di atas meja marmer lobi yang harganya setara dengan sebuah apartemen mewah. Ia sedang asyik membuka bungkusan kerupuk ikan dari tas kainnya, membuat remah-remahnya berjatuhan di lantai yang baru saja dipoles. "Wih, Marco! Ini kerupuk hasil jemuran Kakek langsung, garingnya minta ampun! Cobain satu, jangan kaku-kaku ama
Keesokan paginya, pemandangan di Desa Teluk Karang mendadak gempar. Sebuah Rolls-Royce Phantom hitam mengkilap terparkir sembarangan di antara tumpukan keranjang ikan yang bau amis. Dante Valerius turun dari mobil tanpa jas, hanya mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, menampakkan jam tangan seharga satu unit rumah mewah di desa itu. "Tuan, Anda yakin?" Marco bertanya dengan ragu sembari memegangi topi jerami yang baru saja ia beli di pasar. "Diam dan ambil jaring itu, Marco," titah Dante datar. Di pinggir pantai, Aara yang kini lebih suka dipanggil Lumina sedang asyik tertawa bersama para nelayan sambil menarik jaring besar. Rambutnya diikat asal-asalan, wajahnya terkena cipratan air laut, tapi ia terlihat jauh lebih hidup daripada saat ia mendekam di mansion Valerius. "Lumina! Si tampan kemarin datang lagi!" teriak seorang nelayan. Lumina menoleh dan hampi
Setahun telah berlalu sejak malam yang menghancurkan itu. Kerajaan bisnis Valerius masih berdiri kokoh, namun atmosfer di dalamnya kini lebih menyerupai peti mati yang dingin. Dante Valerius tidak lagi menjadi "Iblis dari Barat" yang berapi-api , ia telah berubah menjadi hantu yang hidup. Setiap malam, Dante duduk di paviliun bunga yang kini terbengkalai. Bunga-bunga matahari yang dulu dirangkai Aara telah lama kering dan mati, sama seperti binar di matanya. Ia masih mengenakan kalung pengunci magnetik milik Aara di pergelangan tangannya, satu-satunya benda yang tersisa selain potongan kain gaun yang mulai memudar. "Tuan, Anda harus makan," Marco berbisik, berdiri di kejauhan. Wajah Marco kini penuh dengan bekas luka, namun kesedihannya untuk tuannya jauh lebih dalam. "Apakah laut sudah memberikan jawabannya hari ini, Marco?" tanya Dante tanpa menoleh. Suaranya datar, nyaris tak terdengar. "Masih nihil, Tuan. Kami sudah men
Keheningan di tepi pantai itu kini hanya menyisakan deru mesin speedboat yang semakin menjauh dan kepulan asap yang mulai menipis. Dante berdiri mematung, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Di telapak tangannya, sisa foto polaroid yang hancur itu menusuk kulitnya hingga berdarah, namun ia tak merasakannya. Sensasi satu-satunya yang tersisa adalah kehampaan yang mencekik tempat di mana jantungnya seharusnya berada, kini telah hilang dibawa pergi ke tengah laut yang hitam. "Tuan! Kapal itu menuju ke arah perairan internasional! Mereka menggunakan pengacau sinyal, pelacak pada pergelangan kaki Nyonya hilang dari radar!" Marco berlari mendekat dengan bahu yang bersimbah darah, wajahnya penuh penyesalan. Dante perlahan menoleh. Sorot matanya bukan lagi kemarahan seorang manusia, melainkan kekosongan seorang predator yang telah kehilangan alasan untuk tetap waras. "Siapkan helikopter. Sekarang." Aara terbangun denga
"Hanya lalat yang tersesat, Nyonya," jawab Sasha cepat, namun matanya melirik Dante.Wajah Dante berubah seketika. Sorot matanya yang tadi lembut saat menatap bunga, kini kembali menjadi sedingin es kutub. "Marco, bawa Nyonya ke kamar utama. Aktifkan protokol level dua. Jangan biarkan dia melihat ke arah gerbang.""Dante! Apa yang terjadi?" Aara mencoba menahan lengan suaminya.Dante mencium telapak tangan Aara dengan penuh pengabdian yang menyesakkan. "Seseorang dari masa lalumu sebelum kita menikah... dia mencoba mengirimkan surat cinta, Aara. Dia pikir dia bisa mengetuk pintuku dan meminta waktu untuk berbicara dengan 'tunangan' lamanya."Rahang Dante mengeras hingga urat lehernya menonjol. "Aku akan pergi keluar untuk menjelaskan padanya bahwa di tanah Valerius, masa lalu tidak memiliki hak untuk bernapas."Aara ditarik dengan lembut namun tegas oleh Marco kembali ke dalam mansion. Dari jendela lantai atas yang antipeluru, ia melihat







