Share

Bab 8

Author: Maya sabir
last update publish date: 2026-03-28 16:14:55

Dante menatap punggung Aara yang menjauh hingga pintu lift tertutup. Begitu sosok istrinya hilang dari pandangan, ekspresi tenang yang ia paksakan tadi runtuh, digantikan oleh aura otoritas yang begitu pekat hingga membuat udara di ruang pemantau terasa berat.

Dante mengambil handuk putih, mengusap bercak darah Robert dari tangannya dengan gerakan yang sangat mekanis. "Marco," suaranya rendah, namun bergema dengan ancaman perang. "Aktifkan Protokol Black Eclipse."

Marco tertegun sejenak. "S
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 14

    Hari-hari berlalu, dan dinamika di dalam mansion Valerius mulai bergeser secara drastis. Ruang latihan yang dulunya menyeramkan kini sering terdengar suara tawa kecil atau perdebatan seru tentang jenis musik yang diputar. Sasha dan Aara tidak lagi terlihat seperti instruktur dan murid, melainkan dua sahabat yang berbagi rahasia di sela-sela latihan fisik. Sasha bahkan mulai menemani Aara minum teh di sore hari atau sekadar duduk di taman belakang , area yang sebelumnya sangat dibenci Aara. Kedekatan mereka begitu nyata ,Aara mulai bercerita tentang bunga favoritnya, sementara Sasha sesekali menceritakan misi-misi konyol (yang sudah disaring ketat agar tidak terdengar terlalu berdarah) untuk menghibur Aara. Namun, di balik layar monitor ruang kerjanya, ada satu pria yang hatinya mulai terasa terbakar bukan oleh amarah musuh, melainkan oleh rasa cemburu. Dante berdiri di balkon ruang kerjanya, memperhatikan dari jauh bagaimana Aara tertawa lebar saat Sasha melakukan gerakan kickbo

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 13

    Keheningan malam di lantai atas mansion itu mendadak pecah. Suara pecahan kaca terdengar nyaring saat Aara menyapu vas bunga di atas nakas ke lantai, tepat di depan kaki Dante yang masih berdiri mematung. "Hentikan semua kegilaan ini, Dante!" teriak Aara, dadanya naik turun menahan amarah yang sudah di ujung kepala. Di luar pintu, Sasha dan Marco saling berpandangan dengan wajah tegang. Para pelayan dan pengawal di lorong menahan napas, mereka seolah lupa cara bernapas. Di mata mereka, Dante Valerius adalah dewa kematian yang titahnya tak boleh dibantah. Siapa pun yang berani meninggikan suara di depan pria itu biasanya berakhir di dasar sungai dengan beton di kaki mereka. Tapi Aara? Dia justru melangkah maju, menantang maut. "Kau bilang kau melindungiku? Ini bukan perlindungan, Dante! Ini pemenjaraan!" Aara menunjuk ke arah pintu kamar yang selalu dijaga ketat. "Aku ingin hidupku yang dulu! Aku ingin bangun pagi dan pergi ke toko bunga tanpa harus dikawal lima mobil lapis baj

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 12

    Di mansion Valerius, keheningan pasca penculikan itu meledak menjadi badai murka. Dante terbangun beberapa saat kemudian setelah dr. Adrian menyuntikkan stimulan ke pembuluh darahnya. Namun, yang bangkit dari lantai itu bukan lagi Dante yang tenang; ia adalah iblis yang kehilangan benderanya. "SHASHA!!!" Raungan Dante menggetarkan kaca-kaca jendela yang tersisa. Shasha masuk ke ruangan dengan wajah pias, bahunya gemetar , sebuah pemandangan langka bagi sang pembunuh berdarah dingin. "Di mana kau saat mereka menyentuhnya?!" Dante menerjang, mencengkeram kerah jaket taktis Shasha dan menghantamkannya ke dinding hingga retak. Mata Dante berkilat merah, murni kegilaan. "Aku membayar kesetiaanmu untuk menjadi bayangannya! Dan kau membiarkan tikus porselen itu membawanya pergi?!" "Gas itu... mereka masuk lewat jalur udara darurat yang seharusnya sudah ditutup, Dante..." Shasha berbisik, suaranya tercekat. "Bunuh aku sekarang jika itu bisa membawanya kembali. Tapi jika tidak, biarkan

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 11

    Keheningan di kamar itu terasa begitu pekat, hingga suara detak jam dinding terdengar seperti hantaman palu. Dante mematung. Tangan yang tadi terulur untuk membelai Aara menggantung di udara, perlahan mengepal hingga buku-bukunya memutih. Aura di sekitar Dante berubah seketika. Jika tadi ia adalah singa yang baru saja pulang dari perburuan untuk melindungi kawanannya, kini ia tampak seperti patung kuno yang retak dingin dan penuh rahasia gelap. "Siapa yang memberitahumu semua itu?" tanya Dante. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman harimau yang terluka. Matanya yang tajam menyisir setiap sudut ruangan, hingga tertuju pada amplop hitam yang tergeletak di atas selimut. Aara tidak menjawab. Ia hanya meremas kertas itu hingga lecek, matanya mulai berkaca-kaca. "Jawab aku, Dante! Apakah benar... dia mati karena orang lain atau......atau dia mati di tanganmu?" Dante menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terdengar menyakitkan. Ia melangkah mendekat, mengabaikan jarak yan

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 10

    Di atas halaman mansion, pertarungan antara Dante dan El Carnicero telah berubah menjadi tarian kematian yang brutal. Dante memuntahkan peluru dari senapan mesin beratnya, namun Algojo itu bergerak dengan kelincahan yang tidak masuk akal bagi pria seukurannya, berlindung di balik pilar beton sambil terus merangsek maju. Tiba-tiba, suara tembakan teredam DOR! DOR!bergema melalui frekuensi radio yang terhubung langsung ke sensor suara di dalam bunker. Dante membeku. Itu bukan suara senapan serbu timnya. Itu suara pistol kaliber sembilan milimeter cadangan miliknya yang ia berikan pada Aara. . "AARA!" Dante meraung, suaranya mengalahkan deru helikopter. Kemarahan yang murni dan tak terkendali meledak di dada Dante. Ia melempar senapan mesinnya yang mulai panas ke lantai beranda. Tanpa memedulikan hujan peluru dari pasukan Meksiko, Dante melompat turun dari balkon lantai dua sebuah aksi gila yang bisa mematahkan kakinya. Ia mendarat dengan gulingan taktis di atas aspal, langsung

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 9

    Suara ledakan pertama menghantam sisi timur mansion, getarannya cukup kuat untuk meruntuhkan lampu kristal di langit-langit kamar Aara. Langit subuh yang tadinya kelabu mendadak memerah oleh kobaran api. "KONTAK! POSISI TIMUR JEBOL!" suara Marco berteriak melalui pengeras suara internal mansion. Dante, yang baru saja melangkah beberapa meter dari kamar Aara, berbalik dengan gerakan predator. Ia tidak lagi memiliki waktu untuk berdebat. Dengan satu tendangan kuat, pintu yang baru saja ia kunci itu terbuka kembali. Ia melihat Aara yang masih meringkuk di lantai, wajahnya pucat pasi tertutup debu reruntuhan. "Dante! Apa itu?!" jerit Aara saat rentetan peluru mulai menghantam dinding luar, menciptakan suara berisik seperti hujan logam. Tanpa menjawab, Dante menyambar tubuh Aara, mengangkatnya dalam satu sentakan kuat. "Sasha! Amankan jalur ke bunker! Sekarang!" perintahnya melalui earpiece. Sasha muncul dari balik kepulan asap di lorong, memegang senapan serbu assault rifle deng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status