Share

Bab 5

Penulis: Xaviera
Cahaya bulan menyinari lantai di ruang tamu.

Melalui celah pintu yang setengah terbuka, Jesica yang berdiri di balik pintu melihat Feri menundukkan kepala dan mencium Dahlia. Napas Feri kacau dan jemari Feri yang panjang mencengkeram pinggang Jesica, seolah-olah ingin meluapkan seluruh perasaan yang dikekangnya selama enam tahun ini.

"Lili ...."

"Lili ...."

Feri memanggil nama Dahlia dengan suara serak dan penuh kelembutan yang belum pernah didengar Jesica sebelumnya.

Entah sudah berapa lama, Feri baru tersadar kembali dan ujung jarinya menghapus sisa kelembapan di sudut bibir Dahlia dengan lembut. Dia kembali mengenakan tasbihnya dan kembali menunjukkan sikapnya yang dingin.

Ujung jari Jesica menancap dalam-dalam ke telapak tangannya dan rasa sakit itu memaksanya untuk tetap sadar. Dia tiba-tiba berbalik dan menutup pintu tanpa suara, lalu membenamkan dirinya ke dalam selimut.

Saat suara langkah kaki di luar perlahan-lahan menjauh, Jesica tahu Feri kembali pergi ke ruang meditasi. Dia memejamkan mata, tetapi tiba-tiba teringat semua usahanya selama ini untuk menggoda Feri.

Jesica pernah mengenakan pakaian tidur yang seksi dan tidak sengaja terjatuh saat Feri sedang berdoa, tetapi malah ditolong Feri dengan tenang. Dia sengaja mengantarkan handuk saat Feri sedang mandi, tetapi Feri baru membuka pintu setelah menutup tubuhnya dengan rapi. Dia berpura-pura mabuk dan menjatuhkan diri ke pelukan Feri, tetapi hanya didorong menjauh dengan satu jari di dahinya.

Feri selalu tidak tergerak sedikit pun, seolah-olah semua usaha Jesica sia-sia. Namun, ternyata orang yang benar-benar disukainya itu bisa membuatnya kehilangan kendali sepenuhnya hanya dengan satu kata.

Air mata Jesica pun mengalir, tetapi dia segera menyekanya. 'Nggak apa-apa, toh aku juga bukan orang yang nggak diinginkan. Mulai sekarang, Feri mencintai adik angkatnya dan aku akan mencari kebahagiaanku sendiri.'

Saat Jesica bangun di keesokan paginya, Feri dan Dahlia sudah sedang sarapan.

Dahlia menyentuh bibirnya, lalu bergumam, "Kak, di rumah kalian ada nyamuk ya? Kenapa bibirku jadi bengkak waktu bangun tadi?"

Gerakan Feri terhenti sejenak, lalu berkata dengan suara rendah, "Nanti suruh pelayan ambilkan obat untukmu."

Jesica menerima sebuah kotak hadiah. Begitu dibuka, ternyata adalah sebuah barang antik bernilai ratusan miliar. Sudut bibirnya berkedut, lalu berkata dengan nada sinis, "Ternyata kamu rela banget keluar banyak uang."

Dahlia mendekat dan melihat hadiahnya sekilas, lalu berkata dengan nada agak kesal, "Kak, ternyata kamu biasanya memperlakukan Kak Jesica sebaik ini ya? Kukira kamu ini kaku, setiap hari tahunya cuma beribadah. Nggak tahu cara menyayangi istri."

Jesica mengangkat kepala dan menatap Feri. Namun, dia menyadari tatapan Feri agak muram, seolah-olah tidak berniat menjelaskan hadiah itu sebenarnya adalah kompensasi karena Dahlia telah memecahkan kepalanya. Padahal sebenarnya Feri sama sekali tidak peduli apa yang disukainya, apalagi memikirkan akan memberinya hadiah apa.

Feri hanya menganggukkan kepala dengan tenang, lalu berdiri dan berkata, "Ada urusan di perusahaan, aku pergi dulu."

Sebelum pergi, Feri sempat melirik Dahlia dan berkata dengan suara murung, "Baik-baik di rumah. Kamu boleh pergi ke mana saja di vila ini, kecuali ruang meditasi."

Dahlia bingung, "Kenapa?"

Feri hanya memberikan alasan dengan asal-asalan untuk mengalihkan topik itu, tetapi Jesica tahu bahwa keinginan Feri yang paling gelap disembunyikan di ruang meditasi itu.

Setelah sarapan, Jesica langsung kembali ke kamar karena tidak ingin berada di ruangan yang sama dengan Dahlia. Namun saat bangun dari tidur siang, dia menyadari rambut panjangnya telah dipotong tidak rata seperti digunting sembarangan. Dia segera berlari keluar dan melihat Dahlia sedang duduk di sofa dengan memegang rambutnya dan merangkai sesuatu sambil tersenyum.

Dalam sekejap, Jesica langsung mengerti. Dia bertanya dengan suara bergetar, "Kamu yang potong rambutku?"

Dahlia mengangkat kepala, lalu tersenyum santai. "Iya. Sekolah bilang harus membuat kerajinan tangan, aku mau buat wig."

Dia menggoyang beberapa helai rambut di tangannya. "Warna rambut Kak Jesica paling bagus, hitam dan berkilau."

Sekujru tubuh Jesica terasa dingin. Karena tidak bisa menahan diri lagi, dia berlari maju dan menampar Dahlia dengan kuat.

Plak!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 24

    Suasana di taman itu tiba-tiba menjadi hening.Feri berdiri di batas persilangan antara cahaya dan bayangan dengan jas kusut yang ternoda kopi dari pesawat dan rambut yang biasanya rapi pun kini jatuh berantakan di keningnya."Pak Feri mau merebut pengantin?" kata Michael sambil menyipitkan mata.Feri tidak memedulikan Michael, melainkan langsung berjalan ke depan Jesica dan berlutut. Dia berkata dengan suara yang serak, "Aku tahu aku pantas mati, tapi tolong lihat aku sekali lagi ...."Para tamu langsung gempar. Pemimpin Keluarga Sardi di Jardonia yang merupakan pria dingin dan anggun itu kini malah berlutut di hadapan semua orang.Jesica mundur setengah langkah. "Feri, jangan begitu.""Aku sudah menulis 300 surat cinta. Mulai dari saat kita baru bertemu, menikah, sampai ...."Tenggorokan Feri bergerak, lalu melanjutkan, "Sampai hari-hari saat aku mencintaimu, tapi nggak berani mengakuinya."Tangan Feri gemetar saat membuka kotak itu, sehingga lembaran surat yang putih itu beterbangan

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 23

    Dahlia terpaku di tempat. "Apa?""Karena kamu sudah menikah dengannya, jalani saja dengan baik."Nada bicara Feri terdengar tenang saat mengatakan itu, lalu menatap pria tua di depannya. "Nggak boleh sakiti dia. Kalau nggak, kamu tahu akibatnya."Pria tua itu terus menganggukkan kepala, lalu melangkah maju dan meraih pergelangan tangan Dahlia. "Sayang, ayo pulang. Aku akan perlakukan kamu dengan baik."Dia berpikir meskipun tidak memukul Jesica, dia juga masih memiliki banyak cara untuk menyiksa Jesica. Apalagi penampilannya jelek dan tua, sedangkan Jesica cantik seperti bunga.Jesica berusaha memberontak seperti orang gila. "Feri, kenapa kamu memperlakukanku seperti ini? Kamu pernah bilang akan selalu melindungiku! Kamu bilang aku orang terpenting bagimu! Kak ... aku salah .... Kak ...."Tangisan histeris Jesica terdengar makin menjauh, tetapi Feri tidak menoleh dan masuk ke ruang kerja.Di ruang meditasi, Feri yang turun tangan sendiri membakar semua barang yang berhubungan dengan Da

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 22

    Di kafe, Michael mengaduk kopinya dengan tenang. Namun, kalimat pertama Feri membuat gerakannya terhenti."Kembalikan dia padaku, aku bisa menukar dengan apa pun," kata Feri.Michael mengernyitkan alis. "Apa pun?"Feri berkata dengan suara serak, "Ya. Saham Grup Sardi, tanah di Jardonia, asetku di luar negeri. Bahkan ...."Dia menutup mata sejenak, lalu melanjutkan, "Aku bisa membawa kembali Lili, biar dia sendiri yang meminta maaf pada Jes."Michael tiba-tiba tersenyum, lalu meletakkan cangkir kopi dan mata birunya menyiratkan sindiran. "Feri, sampai sekarang pun kamu masih belum paham ya? Jesica bukan barang dagangan. Dia itu seorang manusia yang punya darah, jiwa, dan bisa merasakan sakit serta menangis. Kamu pernah memiliki seluruh hatinya, tapi kamu yang hancurkan semuanya dengan tanganmu sendiri."Setelah mengatakan itu, Michael berdiri dan menatap Feri dari atas. "Sekarang giliranku yang mencintainya. Sedangkan kamu ...."Michael tersenyum dengan pelan. "Hanya bisa menjalani sis

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 21

    Tangisan di ujung telepon tiba-tiba berhenti, lalu Dahlia berkata dengan suara bergetar dan sangat tajam, "Kak ... apa maksudmu?"Feri memejamkan mata, lalu berkata dengan suara rendah dan lelah, "Dulu aku yang terlalu memanjakanmu. Karena sudah menikah, kamu jalani saja hidupmu dengan baik. Kalau benar-benar nggak tahan lagi ...."Dia terhenti sejenak, "Bilang sama Ayah Ibu. Sekarang aku nggak punya waktu untuk mengurus hal ini. Selain itu ...."Feri tersenyum pahit, lalu melanjutkan, "Kalau aku ikut campur, takutnya Jes lebih nggak akan memaafkanku."Napas Dahlia menjadi terengah-engah, lalu teriakan histeris pun pecah, "Kamu benar-benar sudah jatuh cinta pada Jesica?"Feri terdiam sejenak, lalu akhirnya berkata dengan pelan, "Ya."Kata itu seperti pisau yang memutuskan sisa akal sehat Dahlia. Dia berteriak dengan suara yang hampir menembus gendang telinga, "Nggak mungkin! Jelas-jelas yang kamu cintai itu aku, mana mungkin bisa menyukai dia! Kamu bohong! Kamu pasti menipuku!"Dengan

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 20

    Saat bau cairan disinfektan menusuk hidungnya hingga terasa sakit, Feri membuka mata dan melihat langit-langit berwarna putih. Dia mencoba menggerakkan jarinya, tetapi seluruh tulangnya terasa sakit."Sudah bangun?"Lukman yang duduk di tepi ranjang sedang mengupas apel dengan tenang dan cahaya dingin dari pisau memantul di matanya. "Beruntung sekali. Sudah sampai segininya saja masih belum mati."Tenggorokan Feri terasa kering. "Mana Jes?"Lukman tersenyum sinis. "Di ruang sebelah, merawat Michael. Aku sengaja bakar rumah dan memberi kalian obat, membuat kalian lemas dan nggak bisa lari. Tapi, orang pertama yang diselamatkan Jes adalah Michael."Setelah berkata demikian, kulit apel yang sedang dikupas Lukman langsung lepas dan jatuh ke tempat sampah. "Kamu nggak lihat ekspresinya yang cemas itu. Dia sudah menjaga semalaman, mata pun sudah bengkak karena menangis."Setiap kata Lukman seperti pisau tumpul yang perlahan-lahan menyayat hati Feri. Dia teringat dengan tatapan dingin Jesica

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 19

    Saat terdengar ketukan pintu, Feri sedang berdiri di depan jendela dan rokok di antara jarinya sudah hampir habis. Saat dia membuka pintu, Lukman bersandar di kusen dan memegang segelas wiski berwarna amber."Kamu mukul Michael?" tanya Lukman sambil mengernyitkan alis dan menyerahkan gelas itu.Feri tidak suka minum alkohol dan biasanya hanya minum teh, tetapi kini dia butuh sesuatu untuk membius perasaan yang bergolak di dadanya. Dia menerima gelas itu dan menenggak habis. Sensasi panas dari minuman keras langsung membakar tenggorokannya, sama seperti sensasi sesak napas saat melihat Jesica dan Michael berpelukan dengan mesra."Dia dan Jes sedang di ranjang, aku nggak tahan melihat itu," kata Feri dengan suara yang sangat serak."Jes?"Lukman tiba-tiba tertawa, tetapi tatapannya sangat dingin. "Sungguh luar biasa. Sudah enam tahun, aku baru kali ini dengar kamu panggil adikku seperti itu."Karena efek alkohol sudah mulai terasa, Feri bersandar pada kusen dan semua emosi yang tertahan

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 16

    Feri langsung tampak tegang. "Kamu tahu nggak kalau Jesica itu istriku?"Michael berpura-pura terkejut sambil menatap Jesica. "Benarkah? Tapi, kenapa aku dengar kamu dan Jes sudah cerai?"Dia menunduk dan mencium puncak kepala Jesica, lalu berkata dengan nada penuh kasih, "Jes, mantan suamimu datang

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 9

    Jesica dirawat di rumah sakit selama tiga hari. Saat keluar rumah sakit, dia menerima telepon dari kedutaan yang mengabarkan izin tinggal permanen di Negara Jumania sudah disetujui. Itu satu-satunya kabar baik yang didengarnya belakangan ini.Saat Jesica berdiri di depan kedutaan, sinar matahari beg

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 8

    Setelan jas Feri yang biasanya rapi kini penuh debu, bahkan ada darah di pelipisnya. Napasnya terengah-engah dan menyipitkan matanya saat melihat Jesica serta Dahlia.Ini pertama kalinya Jesica melihat kondisi Feri seberantakan ini. Terlihat jelas, Feri langsung mengerahkan orang untuk mencari merek

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 7

    Beberapa hari berikutnya, untuk pertama kalinya Feri tetap tinggal di rumah. Sepertinya dia juga menyadari suasana hati Jesica sedang buruk. Kejadian langkanya, dia bahkan menyuruh Dahlia untuk meminta maaf pada Jesica.Dahlia berdiri di depan Jesica, lalu berkata dengan nada sembarangan, "Kak Jesic

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status