Share

Bab 4

Author: Xaviera
Beberapa hari berikutnya, Feri benar-benar tinggal di rumah sakit untuk menjaga Jesica. Setiap hari, Feri datang tepat waktu dengan membawakan bubur, mengganti perbannya, dan diam-diam menggenggam tangannya saat dia terbangun di tengah malam karena sakit.

Jika saat ini Jesica masih seperti dirinya yang dulu, dia pasti akan merasa sangat bahagia. Namun sekarang, yang tersisa hanya kehampaan di hatinya. Ternyata setelah mencintai seseorang selama enam tahun, hanya butuh sekejap untuk merelakannya.

Saat keluar dari rumah sakit dan baru saja sampai di tempat parkir, Jesica sudah melihat Dahlia duduk di dalam mobil Feri.

Begitu melihat Jesica, Dahlia melirik dengan tatapan kesal dan ekspresi sebal.

Feri mengernyitkan alis. "Lili, kamu sudah lupa apa yang aku katakan sebelumnya?"

Dahlia baru menggigit bibirnya dan matanya memerah, lalu berkata dengan enggan, "Kak Jesica, maaf ... waktu itu aku terlalu impulsif. Sejak kakakku menikah denganmu, dia sudah bertahun-tahun ini nggak mau menemuiku. Semua perhatiannya tertuju padamu, makanya aku kesal sama kamu .... Lain kali aku nggak akan begini lagi."

Feri menoleh ke arah Jesica dan berkata dengan tenang, "Lili ingin tinggal di rumah kita beberapa hari ini, nanti kalian harus rukun ya."

Di perjalanan pulang, Feri dan Dahlia duduk di kursi depan.

Sementara itu, Jesica bersandar di jendela dan menatap pemandangan yang melaju cepat di luar dengan diam. Namun dari sudut matanya, dia masih bisa melihat profil wajah Feri. Sikap Feri selalu dingin, tetapi kini pandangannya sesekali tertuju pada Dahlia.

Dahlia menundukkan kepala dan memainkan ponselnya, lalu tiba-tiba tertawa pelan, "Kak, lihat ini, cowok ini ganteng nggak? Tadi dia baru saja tambahin kontakku di WhatsApp."

Jemari Feri yang sedang memegang setir, tiba-tiba menjadi tegang. Kemudian, dia berkata dengan suara yang dingin, "Hapus."

Dahlia cemberut, "Kenapa? Usiaku sudah 20-an, masa nggak boleh pacaran?"

"Aku bilang, hapus," kata Feri dengan nada yang tidak bisa dibantah.

Dahlia cemberut, tetapi tetap menurut dan menghapusnya sambil bergumam dengan pelan, "Kak, kamu lebih galak daripada pacar ...."

Feri tidak mengatakan apa pun, tetapi Jesica bisa melihat garis rahang Feri menjadi tegang. Yang berarti, Feri sedang cemburu.

Sesampainya di rumah, Jesica bahkan tidak makan malam dan langsung kembali ke kamar. Dia bisa mendengar suara peralatan makan beradu dari luar, tawa nyaring Dahlia, dan musik latar yang lembut dari film. Itu adalah kehidupan hangat yang tidak pernah dirasakannya selama dua tahun menikah dengan Feri.

Jesica membenamkan dirinya ke dalam selimut dengan hati yang terasa perih.

Entah berapa lama kemudian, suara di luar perlahan-lahan mereda. Karena merasa haus, Jesica bangkit dan ingin mengambil segelas air. Namun begitu membuka pintu kamar, dia langsung mematung di tempat.

Dengan cahaya bulan yang masuk melalui jendela, Feri terlihat sedang setengah berjongkok di samping sofa dan menatap Dahlia yang tertidur lelap dengan diam. Selama ini, Feri selalu terlihat bagaikan sosok dewa yang tampak dingin. Namun kini, dia terlihat berbeda dengan biasanya.

Dahlia tiba-tiba bergerak, lalu merangkul leher Feri dalam keadaan setengah sadar dan berkata dengan suara yang lembut serta manja, "Kak, jangan tinggalkan Lili .... Lili cuma punya Kakak yang menyayangiku ...."

Tanpa sadar, Dahlia menarik leher Feri turun sampai bibir mereka tidak sengaja bersentuhan.

Pupil mata Feri bergetar dan napasnya langsung kacau. Pada detik berikutnya, pertahanan dalam dirinya akhirnya runtuh. Karena tidak mampu menahan diri lagi, dia menunduk dan mencium Dahlia dengan kuat.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 24

    Suasana di taman itu tiba-tiba menjadi hening.Feri berdiri di batas persilangan antara cahaya dan bayangan dengan jas kusut yang ternoda kopi dari pesawat dan rambut yang biasanya rapi pun kini jatuh berantakan di keningnya."Pak Feri mau merebut pengantin?" kata Michael sambil menyipitkan mata.Feri tidak memedulikan Michael, melainkan langsung berjalan ke depan Jesica dan berlutut. Dia berkata dengan suara yang serak, "Aku tahu aku pantas mati, tapi tolong lihat aku sekali lagi ...."Para tamu langsung gempar. Pemimpin Keluarga Sardi di Jardonia yang merupakan pria dingin dan anggun itu kini malah berlutut di hadapan semua orang.Jesica mundur setengah langkah. "Feri, jangan begitu.""Aku sudah menulis 300 surat cinta. Mulai dari saat kita baru bertemu, menikah, sampai ...."Tenggorokan Feri bergerak, lalu melanjutkan, "Sampai hari-hari saat aku mencintaimu, tapi nggak berani mengakuinya."Tangan Feri gemetar saat membuka kotak itu, sehingga lembaran surat yang putih itu beterbangan

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 23

    Dahlia terpaku di tempat. "Apa?""Karena kamu sudah menikah dengannya, jalani saja dengan baik."Nada bicara Feri terdengar tenang saat mengatakan itu, lalu menatap pria tua di depannya. "Nggak boleh sakiti dia. Kalau nggak, kamu tahu akibatnya."Pria tua itu terus menganggukkan kepala, lalu melangkah maju dan meraih pergelangan tangan Dahlia. "Sayang, ayo pulang. Aku akan perlakukan kamu dengan baik."Dia berpikir meskipun tidak memukul Jesica, dia juga masih memiliki banyak cara untuk menyiksa Jesica. Apalagi penampilannya jelek dan tua, sedangkan Jesica cantik seperti bunga.Jesica berusaha memberontak seperti orang gila. "Feri, kenapa kamu memperlakukanku seperti ini? Kamu pernah bilang akan selalu melindungiku! Kamu bilang aku orang terpenting bagimu! Kak ... aku salah .... Kak ...."Tangisan histeris Jesica terdengar makin menjauh, tetapi Feri tidak menoleh dan masuk ke ruang kerja.Di ruang meditasi, Feri yang turun tangan sendiri membakar semua barang yang berhubungan dengan Da

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 22

    Di kafe, Michael mengaduk kopinya dengan tenang. Namun, kalimat pertama Feri membuat gerakannya terhenti."Kembalikan dia padaku, aku bisa menukar dengan apa pun," kata Feri.Michael mengernyitkan alis. "Apa pun?"Feri berkata dengan suara serak, "Ya. Saham Grup Sardi, tanah di Jardonia, asetku di luar negeri. Bahkan ...."Dia menutup mata sejenak, lalu melanjutkan, "Aku bisa membawa kembali Lili, biar dia sendiri yang meminta maaf pada Jes."Michael tiba-tiba tersenyum, lalu meletakkan cangkir kopi dan mata birunya menyiratkan sindiran. "Feri, sampai sekarang pun kamu masih belum paham ya? Jesica bukan barang dagangan. Dia itu seorang manusia yang punya darah, jiwa, dan bisa merasakan sakit serta menangis. Kamu pernah memiliki seluruh hatinya, tapi kamu yang hancurkan semuanya dengan tanganmu sendiri."Setelah mengatakan itu, Michael berdiri dan menatap Feri dari atas. "Sekarang giliranku yang mencintainya. Sedangkan kamu ...."Michael tersenyum dengan pelan. "Hanya bisa menjalani sis

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 21

    Tangisan di ujung telepon tiba-tiba berhenti, lalu Dahlia berkata dengan suara bergetar dan sangat tajam, "Kak ... apa maksudmu?"Feri memejamkan mata, lalu berkata dengan suara rendah dan lelah, "Dulu aku yang terlalu memanjakanmu. Karena sudah menikah, kamu jalani saja hidupmu dengan baik. Kalau benar-benar nggak tahan lagi ...."Dia terhenti sejenak, "Bilang sama Ayah Ibu. Sekarang aku nggak punya waktu untuk mengurus hal ini. Selain itu ...."Feri tersenyum pahit, lalu melanjutkan, "Kalau aku ikut campur, takutnya Jes lebih nggak akan memaafkanku."Napas Dahlia menjadi terengah-engah, lalu teriakan histeris pun pecah, "Kamu benar-benar sudah jatuh cinta pada Jesica?"Feri terdiam sejenak, lalu akhirnya berkata dengan pelan, "Ya."Kata itu seperti pisau yang memutuskan sisa akal sehat Dahlia. Dia berteriak dengan suara yang hampir menembus gendang telinga, "Nggak mungkin! Jelas-jelas yang kamu cintai itu aku, mana mungkin bisa menyukai dia! Kamu bohong! Kamu pasti menipuku!"Dengan

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 20

    Saat bau cairan disinfektan menusuk hidungnya hingga terasa sakit, Feri membuka mata dan melihat langit-langit berwarna putih. Dia mencoba menggerakkan jarinya, tetapi seluruh tulangnya terasa sakit."Sudah bangun?"Lukman yang duduk di tepi ranjang sedang mengupas apel dengan tenang dan cahaya dingin dari pisau memantul di matanya. "Beruntung sekali. Sudah sampai segininya saja masih belum mati."Tenggorokan Feri terasa kering. "Mana Jes?"Lukman tersenyum sinis. "Di ruang sebelah, merawat Michael. Aku sengaja bakar rumah dan memberi kalian obat, membuat kalian lemas dan nggak bisa lari. Tapi, orang pertama yang diselamatkan Jes adalah Michael."Setelah berkata demikian, kulit apel yang sedang dikupas Lukman langsung lepas dan jatuh ke tempat sampah. "Kamu nggak lihat ekspresinya yang cemas itu. Dia sudah menjaga semalaman, mata pun sudah bengkak karena menangis."Setiap kata Lukman seperti pisau tumpul yang perlahan-lahan menyayat hati Feri. Dia teringat dengan tatapan dingin Jesica

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 19

    Saat terdengar ketukan pintu, Feri sedang berdiri di depan jendela dan rokok di antara jarinya sudah hampir habis. Saat dia membuka pintu, Lukman bersandar di kusen dan memegang segelas wiski berwarna amber."Kamu mukul Michael?" tanya Lukman sambil mengernyitkan alis dan menyerahkan gelas itu.Feri tidak suka minum alkohol dan biasanya hanya minum teh, tetapi kini dia butuh sesuatu untuk membius perasaan yang bergolak di dadanya. Dia menerima gelas itu dan menenggak habis. Sensasi panas dari minuman keras langsung membakar tenggorokannya, sama seperti sensasi sesak napas saat melihat Jesica dan Michael berpelukan dengan mesra."Dia dan Jes sedang di ranjang, aku nggak tahan melihat itu," kata Feri dengan suara yang sangat serak."Jes?"Lukman tiba-tiba tertawa, tetapi tatapannya sangat dingin. "Sungguh luar biasa. Sudah enam tahun, aku baru kali ini dengar kamu panggil adikku seperti itu."Karena efek alkohol sudah mulai terasa, Feri bersandar pada kusen dan semua emosi yang tertahan

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 16

    Feri langsung tampak tegang. "Kamu tahu nggak kalau Jesica itu istriku?"Michael berpura-pura terkejut sambil menatap Jesica. "Benarkah? Tapi, kenapa aku dengar kamu dan Jes sudah cerai?"Dia menunduk dan mencium puncak kepala Jesica, lalu berkata dengan nada penuh kasih, "Jes, mantan suamimu datang

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 9

    Jesica dirawat di rumah sakit selama tiga hari. Saat keluar rumah sakit, dia menerima telepon dari kedutaan yang mengabarkan izin tinggal permanen di Negara Jumania sudah disetujui. Itu satu-satunya kabar baik yang didengarnya belakangan ini.Saat Jesica berdiri di depan kedutaan, sinar matahari beg

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 8

    Setelan jas Feri yang biasanya rapi kini penuh debu, bahkan ada darah di pelipisnya. Napasnya terengah-engah dan menyipitkan matanya saat melihat Jesica serta Dahlia.Ini pertama kalinya Jesica melihat kondisi Feri seberantakan ini. Terlihat jelas, Feri langsung mengerahkan orang untuk mencari merek

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 7

    Beberapa hari berikutnya, untuk pertama kalinya Feri tetap tinggal di rumah. Sepertinya dia juga menyadari suasana hati Jesica sedang buruk. Kejadian langkanya, dia bahkan menyuruh Dahlia untuk meminta maaf pada Jesica.Dahlia berdiri di depan Jesica, lalu berkata dengan nada sembarangan, "Kak Jesic

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status