Masuk
"Kamu gimana sih jadi istri? Nyiapin baju suami aja gak bisa! Apa gunanya kamu di sini, Nadia!” kata Mas Azka—suamiku.
“Maaf, Mas.” Hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Aku mencoba sabar dengan sifat Mas Azka yang temperamental. Brakk! Azka membanting pintu lemari, lalu duduk di ranjang menatap nyalang diriku. “Kenapa hal seperti ini saja kamu gak bisa?!” Aku hanya bisa menundukkan kepalanya, tak berani menjawab pertanyaan Mas Azka. Padahal aku sudah berusaha menyiapkan kebutuhan suamiku. Tapi ternyata, semua usaha yang dilakukan olehku selama ini, selalu jadi sebuah kesalahan yang fatal! “Selain menjadi istri yang gak berguna, apa yang bisa kamu perbuat, Nadia? Menghabiskan uangku? Kamu hanya perempuan matre yang gak bisa ngasih kemauan aku! Padahal kemauanku cuma satu, Nadia! Tidak lebih. Kenapa kamu gak bisa ngasih?” Aku menangis sesegukan, tak menyangka suamiku akan bertanya seperti itu. Padahal, bulan lalu dia tidak seperti ini. “Dasar perempuan mandul! Sudah gak bisa ngasih keturunan, sekarang malah makin menyusahkan aku saja,” Azka kembali berbicara, membuat hatiku semakin sakit. “Sudah tiga tahun, Nadia! Tiga tahun kamu menikah denganku, dan apa hasilnya? Rahim-mu masih kosong. Lihat teman-temanku, ada yang menikah tiga bulan dan istrinya langsung hamil! Bahkan yang usia pernikahannya denganku sudah memiliki dua anak! Mau sampai kapan aku menunggu? Aku juga ingin punya keturunan dari darah dagingku sendiri, Nadia,” ucap Mas Azka sambil menatap mataku. Sakit rasanya. Kata “anak” adalah hal sensitif bagiku. Bukan karena aku tak bisa memberikan keturunan, tapi memang pada dasarnya belum dikasih. Plakk! Aku memegang pipinya yang baru saja ditampar Azka. Akumenatap suamiku dengan air mata yang sudah mengalir—perih, itulah yang aku rasakan. “Dasar perempuan tidak berguna! Sia-sia aku menikahimu tiga tahun yang lalu. Andai aku tahu kamu tak bisa mengandung anakku, tak akan pernah aku menikahimu, sekalipun kamu yang memohon padaku!” Tamparan barusan adalah tamparan pertama kali di kehidupan pernikahanku dengan Mas Azka, setidaknya setelah tiga tahun kita menikah.. “Kenapa, Mas? Apa aku ngelakuin kesalahan? Kasih tahu aku, Mas, biar aku belajar lagi. Jangan kayak gini,” jawabku, meski hatiku sudah seperti disayat-sayat oleh perkataan Mas Azka hari ini. Bagaimana mungkin Mas Azka melakukan ini tanpa sebab? Apa kesalahanku kali ini? tanyaku dalam hati. “Kamu memang selalu berbuat salah, Nadia. Apa pun yang kamu lakukan itu salah! Kamu belum menjadi istri yang sempurna! Di saat orang lain sudah memiliki anak di usia pernikahan yang masih dibilang dini, sedangkan kamu? Tiga tahun, Nadia! Aku sudah muak menunggu terus!” kata Azka, membuat hatiku semakin sesak. Aku terisak. Apa karena belum memiliki anak menjadi aib untuk suamiku? Apa karena belum memiliki anak aku pantas diperlakukan seperti ini? Kenapa harus aku? Tanpa basa-basi, Azka menarik tanganku, mengganti pakaianku dengan terburu-buru. Entahlah, sifatnya yang seperti ini tak bisa kuterima selama pernikahan kami. Tapi selama ini aku selalu sabar, meskipun kadang aku pun ingin marah. “Kita bakalan ke mana, Mas?” tanyaku, mencoba mencairkan suasana yang sudah canggung. “Kita akan pergi ke dokter spesialis kandungan! Dia adalah rekomendasi dari temanku yang sudah berhasil. Jangan mencoba untuk menolak, Nadia!” katanya tanpa ingin dibantah olehku. “Tapi, Mas—” belum selesai aku berbicara, Mas Azka menatap nyalang mataku. “Bukankah setiap dokter yang kita datangi selalu sama semua jawabannya? Aku sehat, Mas. Kamupun sehat. Kita memang belum dikasih aja. Apa lagi yang mau kamu cek dari aku, Mas?” Azka tak menjawab pertanyaanku. Tanpa pikir panjang, Mas Azka lalu menarik tanganku, membawaku masuk ke mobil. Perjalanan ini sangat hening, hanya ada tangisku yang semakin menjadi-jadi. “Mas, pelan-pelan bawa mobilnya,” ujarku, karena saat ini kami sedang dalam kondisi kebut-kebutan. Azka tak menggubris. Ia tetap menjalankan mobilnya dengan ugal-ugalan, seperti ingin cepat-cepat sampai di tujuan tanpa memperdulikan nyawa kita berdua. Aku terus melafalkan sumpah serapah pada Mas Azka. Dan akupun merasa, emosi yang menguasai Mas Azka sekarang bagaikan sebuah ujian antara hidup dan matiku. Sesampainya di klinik yang cukup mewah, Mas Azka dengan sadisnya menyeret tanganku. Ia seperti sudah tak sabar, padahal antrean hari ini cukup panjang. Kucoba melepaskan tangannya, tapi tidak bisa, cengkeramannya terlalu kuat. Yang bisa kulakukan hanya menunduk malu pada orang-orang yang sedang menatap kami berdua dengan tatapan seolah aku mengharap belas kasihan mereka. “Menurutlah, Nadia,” desis Azka. Ia diam sejenak, mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Aku menarik napas panjang. Aroma rumah sakit yang khas, ditambah dengan keputusasaanku ini, membuatku tak bisa berpikiran jernih. Aku ingin kabur dari sini dan pulang ke rumah. Aku sudah lelah setiap hari harus pergi ke setiap rumah sakit hanya untuk berkonsultasi dengan dokter di sana. Azka menarik tanganku dengan kasar, mendekati sebuah ruangan yang bertuliskan “Ruang Praktik Kehamilan”. Entahlah, firasatku mengatakan ada hal yang tak wajar. Sesampainya di depan pintu ruangan tersebut, Mas Azka lalu masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu. Sepertinya Mas Azka sudah kenal dengan dokter yang ada di dalam. Aku menghela napas, semakin menundukkan kepalaku. Sungguh, aku tak ingin ada di posisi ini—menjadi “perempuan gagal” yang harus bolak-balik ke rumah sakit hanya untuk mencari sebuah pernyataan yang seharusnya bisa semua perempuan dapatkan. “Selamat pagi, Pak Azka. Ada yang bisa saya bantu?” tanya dokter yang sedang ada di depan Mas Azka. Aku menoleh—deg. Jantungku hampir copot setelah melihat siapa yang ada di depannya. “Dia…”Kukira aku sudah melupakan Sagara. Empat tahun sudah aku meninggalkannya. Namun ternyata, namanya masih tersimpan di lubuk hatiku yang paling dalam.Cintaku padanya tak pernah benar-benar hilang, meski kini statusku sudah berbeda. Sejenak aku menyesali keputusan yang dulu kuambil. Kenapa aku harus menikah dengan Mas Azka? Kenapa dulu aku begitu mudah meninggalkan Sagara?“Saga,” ujarku lirih, mencoba memberanikan diri.“Boleh aku minta satu hal? Mungkin ini bisa menjadi permintaan maafku karena dulu meninggalkanmu,” lanjutku pelan.Sagara menatapku. Tatapannya dipenuhi rasa ingin tahu, seolah mencoba menebak apa yang sedang kupikirkan.“Apa pun itu, akan kuberikan untukmu,” jawabnya tanpa ragu.Aku sedikit gamang. Apa Sagara memang masih mencintaiku?“Cium aku. Setidaknya… aku ingin tahu perasaanmu padaku setelah semua luka yang pernah aku berikan.”Aku menguatkan hatiku, bersiap jika Sagara menolak permintaan bodohku ini. Apa yang sebenarnya kuharapkan? Meskipun cintaku padanya masi
"Ini nggak salah, Nad. Kita hanya berbeda status, bukan perasaan. Aku tahu di hatimu masih ada aku, kan?" tanyanya, lalu mengarahkan tanganku untuk memegang dadanya. Sejenak aku terdiam saat merasakan detak jantungnya. Telapak tanganku yang masih berada di dadanya terasa hangat. Detaknya cepat, jauh lebih cepat dari yang seharusnya. Entah karena gugup, atau… karena aku. Ruangan itu terasa terlalu sunyi. Hanya terdengar detik jam dinding yang berdetak pelan. Bau obat-obatan khas rumah sakit membuat dadaku semakin sesak. "Saga," ujarku pelan sambil menatap matanya. Ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan, tapi semuanya terasa tersangkut di tenggorokanku. Tatapan lelaki itu masih sama seperti dulu—dalam dan sulit kutebak. "Kalau dulu kita tak berpisah, kita bakalan bahagia, kan?" tanyaku sambil menundukkan kembali wajahku. Aku hanya berandai. Sekarang tak mungkin kami bersatu, bukan? Hatiku bagai diremas oleh tangan tak kasat mata ketika aku mulai mengulik masa lalu kami. S
Aku menatap Mas Azka dengan tatapan terluka. "Apa aku tak seberharga itu, Mas?" tanyaku pelan. Aku ingin memastikan di mana aku di hati Mas Azka. Kalau memang aku tak seberharga itu, untuk apa dulu dia menikahiku? "Cih, ingat, Nadia! Harga dirimu sudah hilang ketika kamu nggak bisa ngasih aku anak! Kamu hanya perempuan mandul yang aku kasihani," ujar Mas Azka, seperti tak ada beban ketika dia mengataiku mandul. Aku menatap Mas Azka dengan tatapan terluka. Apa harus seperti ini? "Akan kubuktikan aku bisa hamil, Mas," ujarku lirih. Mas Azka tak menoleh kepadaku. Ia berjalan meninggalkan dapur sambil menggandeng Viona. Hatiku sungguh sakit. Pengkhianatan ini terlalu nyata untukku yang hanya berharap ini hanya mimpi. Aku melangkah gontai ke mobilku. Akan kubuktikan pada Mas Azka bahwa aku pun bisa hamil. Aku kembali ke klinik tempat di mana Sagara praktik. Aku sudah bertekad untuk hamil dalam waktu dekat ini, bagaimanapun caranya. Di perjalanan menuju klinik, pikiranku kosong, sep
Di perjalanan pulang, hatiku sudah lega. Ternyata bertemu Sagara tak seburuk apa yang kupikirkan. Tak ada sesal yang menghantuiku selama pernikahan ini, semuanya seolah lenyap ketika kami mengobrol tadi. Sekarang hanya satu tujuanku, mendapatkan maaf dari Mas Azka. Meskipun aku tak tahu kesalahanku di mana, sebagai istri aku tetaplah ingin rumah tanggaku langgeng. Ah, mengingat Mas Azka, perilakunya tadi pagi sungguh membuatku sakit hati. Apa dia tak punya hati nurani mengatakan istrinya sendiri jalang? Apa karena aku tak hamil dia bisa memperlakukanku seperti tadi? Semua pikiran buruk berkecamuk di dalam pikiranku. Aku menatap datar jalanan di depanku—ya, macet. Padahal jam pulang kerja sudah berlalu, tapi kenapa masih saja macet? Aku membunyikan klakson mobilku karena sudah setengah jam aku menunggu dan tak kunjung berjalan sedikit pun. Aku sudah kesal! “Mas, kenapa gak maju?” tanyaku sedikit berteriak pada pria yang mengendarai mobil di depanku. Pria itu menoleh. “Ada
Akhirnya ibu mertuaku mengalah, tak melanjutkan perdebatan kecil kami. "Kamu sekarang konsultasi lagi, tanpa suamimu juga nggak apa-apa," kata ibu mertuaku mengakhiri perdebatan kami. "Tapi, Bu—" ucapku. Belum sempat aku melanjutkan pembicaraanku, ibu mertuaku langsung memotongnya. "Gak ada tapi-tapian, sekarang juga pergi konsultasi atau Ibu gak akan pulang," ucap ibu mertuaku final. Karena terus didesak mertuaku yang bersikeras tidak akan pulang sebelum aku berangkat, akhirnya akupun menyerah. Tidak ada tenaga yang tersisa untuk membantah mertuaku. Kepalaku masih berdenyut, dadaku masih sesak, dan mataku perih karena dari tadi terus menangis. Dengan langkah berat, aku mengambil tasku dan meninggalkan rumah. Meninggalkan ibu mertuaku yang sedang tersenyum puas seakan memenangkan pertarungan kecil. Perjalanan menuju klinik terasa lebih panjang daripada tadi pagi. Sore ini jalanan agak macet, kesunyian yang terjadi di dalam mobil membuatku semakin gelisah. Pikiranku pen
Hatiku sungguh tak tenang, bagaimana mungkin dokter yang ada di depanku adalah Sagara—mantan kekasihku di masa SMA. Dia yang pernah kutinggalkan karena perbedaan status kami, sekarang dia ada di depanku, menjadi dokter yang akan menanganiku. Bukan karena tak cinta. Dulu ibu Sagara sendiri yang menyuruhku untuk meninggalkan anaknya. Dia menawariku uang tiga ratus juta agar aku memutuskan hubungan dengan Sagara, karena perbedaan ekonomiku dan Sagara sangat jauh berbeda. Aku dengan terpaksa mengambil uang itu, karena kondisi ayahku yang sedang sakit. Meninggalkan semua cintaku di sana. Setelah itu aku menghilang dari pandangan Sagara, membawa keluargaku memulai hidup baru, dan disitulah aku bertemu Mas Azka. Pernah sekali aku mendengar bahwa Sagara sampai kehilangan kewarasannya karena aku menghilang darinya. Dia mengerahkan semua kemampuan yang dia punya, tapi tak pernah menemukanku. Dan sekarang di hadapanku Sagara, sebagai dokter yang sudah sukses. Aku bangga sejenak, ternya







