LOGINSagara lalu berdiri dan meninggalkanku sendiri di kamar ini. "Sagara!" panggilku sedikit keras. Namun yang kudengar hanya suara pintu apartemen yang tertutup. Hening lagi. Aku memandangi pintu kamar yang kini tertutup rapat. Tak ada suara langkah kaki. Tak ada suara televisi. Tak ada suara apa pun. Hanya aku dan pikiranku sendiri. Aku menarik kedua lutut ke dada, lalu menyandarkan kepala pada sandaran ranjang. Dadaku terasa sesak oleh berbagai pertanyaan yang terus berputar tanpa henti. Kenapa Sagara pergi? Kenapa dia selalu seperti ini? Datang begitu dekat, membuatku merasa aman, lalu tiba-tiba menghilang tanpa menjelaskan apapun padaku. Aku menggigit bibir bawahku pelan. Mungkinkah dia bosan? Mungkinkah dia menyesal sudah membawaku ke sini? Ataukah selama ini aku hanya menjadi beban bagi Sagara? Pikiran-pikiran buruk itu datang satu per satu, memenuhi kepalaku seperti hujan yang tak akan kunjung berhenti. Aku berusaha mengusir semua pikiran i
Aku merasa bahwa kehadiran Sagara masih memengaruhiku lebih dari yang ingin kuakui. Aku segera mengalihkan pandangan. Berusaha mengabaikan pikiran itu sebelum akhirnya nanti berkembang lebih jauh. Malam sudah semakin larut. Udara malam terasa lebih dingin dibanding sebelumnya. Namun anehnya, aku tidak terlalu merasakan dinginnya udara malam ini. Mungkin karena sejak tadi aku berada dalam gendongan Sagara. Atau mungkin karena pikiranku yang terlalu sibuk memikirkan banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Perjalanan menuju apartemen dilalui dalam keheningan. Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada candaan. Hanya suara langkah kaki Sagara yang terdengar teratur di sepanjang koridor menuju gedung apartemen. Sesekali aku mencuri pandang ke arah wajah Sagara. Pria itu terlihat tenang. Bahkan terlalu tenang. Seolah kejadian yang baru saja terjadi hanyalah gangguan kecil yang tidak perlu dipikirkan. Namun aku tahu itu tidak benar. Aku masih mengingat bagaimana rahangnya me
Sagara.Aku hampir tidak mengenalinya.Biasanya pria itu selalu terlihat santai.Kadang menyebalkan.Kadang seperti anak kecil yang tidak pernah serius menghadapi apa pun.Namun saat ini berbeda.Sorot matanya dingin.Sangat dingin.Pria yang tadi menggodaku masih mengumpat sambil memegangi dahinya yang berdarah."Ayo keluar! Jangan sembunyi kayak pengecut!"Sagara melangkah maju dari balik kerumunan.Setiap langkahnya terasa berat.Tatapannya tidak pernah lepas dari pria itu."Aku yang lempar."Suasana mendadak hening.Pria itu menatap Sagara dari atas ke bawah lalu tertawa mengejek."Oh, pahlawan datang ternyata."Sagara tidak menjawab.Ia hanya berhenti beberapa langkah di depanku.Posisinya seolah sengaja menutupi tubuhku.Melindungiku."Pergi."Suaranya datar.Namun justru itu yang membuat bulu kudukku meremang.Pria tersebut mendengus."Kalau nggak mau gimana?"Sagara menatap darah yang mengalir di kening pria itu."Lain kali yang kena bukan batu."Kerumunan mulai berbisik-bisik
Disebut pacar oleh Sagara membuatku tersenyum kecil. Meski begitu, hingga saat ini aku masih belum benar-benar tahu mana Sagara yang sebenarnya. Apakah dia yang dewasa dan selalu bersikap tenang? Atau Sagara yang terkadang berpikiran mesum dan suka menggodaku? Atau justru Sagara yang seperti anak kecil, yang selalu membuatku tertawa dengan tingkah konyolnya?Aku menikmati suasana di sini. Selain karena tempat ini menyimpan banyak kenangan masa sekolahku, di sinilah aku merasa bisa menjadi diriku sendiri tanpa perlu berpura-pura menjadi siapa pun.Sagara yang tidak pernah membandingkanku dengan siapa pun membuatku merasa nyaman berada di dekatnya. Bersamanya, aku tidak perlu menjadi sempurna.Sayangnya, realita kehidupan kembali menyeretku pada kenyataan yang tidak bisa kuhindari.Aku sudah memiliki suami."Kenapa harus seperti ini, Tuhan?" batinku lirih. "Kenapa perasaan yang seharusnya tidak pernah ada justru membuatku berjalan semakin jauh?"Aku memandang punggung Sagara yang berdir
Sagara tertawa melihatku seperti ini. Cairannya keluar tepat di depan wajahku, membuatku langsung memejam refleks sambil menggerutu kesal. Aku buru-buru mencari tisu di sekitar ranjang. Tanganku meraba meja kecil di samping tempat tidur hingga akhirnya menemukan sekotak tisu yang entah sejak kapan berada di sana. Dengan cepat aku membersihkan wajahku yang terasa lengket. Sialnya, sedikit cairan Sagara malah menempel ke bibirku. Tanpa sadar aku menjilatnya pelan. Asin. “Dasar…” gerutuku lirih sambil meringis jijik. Sagara malah tertawa semakin keras melihat ekspresiku yang kacau seperti itu. Aku lalu bangkit dari ranjang lalu berjalan cepat menuju toilet. Wajahku kubasuh berkali-kali dengan air dingin sampai rasa lengket itu perlahan menghilang. Namun entah kenapa, wajahku justru terasa semakin panas saat mengingat kejadian barusan. Memalukan sekali. Setelah merasa sedikit lebih tenang, aku keluar dari toilet sambil mengusap wajah menggunakan handuk kecil. Sagara masih berada
“Kamu gila, Saga,” ucapku sambil menghempaskan tubuh Sagara pelan. Sagara langsung manyun mendengar ucapanku. Entah kenapa ekspresi itu malah terlihat lucu di mataku. Sangat berbeda dengan sikap dingin dan dominannya selama ini. Kalau sudah seperti ini, dia benar-benar terlihat seperti anak kecil yang tidak dituruti keinginannya. Tanpa banyak bicara, Sagara kembali menggendongku dan membawaku naik ke atas ranjang. Gerakannya cepat, seolah takut aku kembali kabur darinya. Aku memekik pelan ketika tubuhku kembali jatuh di atas kasur empuk itu. Sagara langsung mendekat, mencium bibirku tanpa memberi kesempatan untuk protes. Ciumannya dalam dan menuntut, membuat hasrat yang sedari tadi kutahan perlahan mulai runtuh. Aku menggigit bibir bawahnya pelan. “Sakit, Nad,” keluhnya sambil melepaskan ciuman kami beberapa detik. Aku hanya terkekeh kecil melihat wajah protesnya. Jujur saja, aku tidak ingin mengulangi kesalahanku lagi. Cukup hubungan terlarang yang selama ini kami lakukan dia
"Ini nggak salah, Nad. Kita hanya berbeda status, bukan perasaan. Aku tahu di hatimu masih ada aku, kan?" tanyanya, lalu mengarahkan tanganku untuk memegang dadanya. Sejenak aku terdiam saat merasakan detak jantungnya. Telapak tanganku yang masih berada di dadanya terasa hangat. Detaknya cepat, ja
Aku menatap Mas Azka dengan tatapan terluka. "Apa aku tak seberharga itu, Mas?" tanyaku pelan. Aku ingin memastikan di mana aku di hati Mas Azka. Kalau memang aku tak seberharga itu, untuk apa dulu dia menikahiku? "Cih, ingat, Nadia! Harga dirimu sudah hilang ketika kamu nggak bisa ngasih aku ana
Di perjalanan pulang, hatiku sudah lega. Ternyata bertemu Sagara tak seburuk apa yang kupikirkan. Tak ada sesal yang menghantuiku selama pernikahan ini, semuanya seolah lenyap ketika kami mengobrol tadi. Sekarang hanya satu tujuanku, mendapatkan maaf dari Mas Azka. Meskipun aku tak tahu kesalah
Akhirnya ibu mertuaku mengalah, tak melanjutkan perdebatan kecil kami. "Kamu sekarang konsultasi lagi, tanpa suamimu juga nggak apa-apa," kata ibu mertuaku mengakhiri perdebatan kami. "Tapi, Bu—" ucapku. Belum sempat aku melanjutkan pembicaraanku, ibu mertuaku langsung memotongnya. "Gak ada t







