ログインLampu ruang rapat utama di lantai paling atas gedung pencakar langit itu dinyalakan dengan tingkat pencahayaan yang agak redup, menciptakan suasana mencekam yang langsung menusuk kulit setiap orang yang melangkah masuk. Meja kaca panjang berbentuk oval di tengah ruangan sudah dikelilingi oleh para petinggi perusahaan, jajaran direktur operasional, serta tim pengawas keuangan yang duduk dengan wajah tegang berbalut keringat dingin. Di sudut ruangan, Bagas berdiri tegak di dekat layar proyektor yang masih menampilkan logo besar perusahaan, sesekali merapikan tumpukan kertas putih di tangannya dengan gerakan gelisah. Arham duduk di kursi kebesaran paling ujung, tatapan matanya sedingin es malam, sementara Zara duduk tenang di samping kanannya dengan melipat tangan di atas meja kayu mahal tersebut.Pintu kaca tebal ruangan itu bergeser terbuka secara otomatis, memecah kesunyian yang sejak tadi mencekik seluruh isi ruangan rapat darurat tersebut. Anji melangkah masuk dengan gaya santai y
Arham memutuskan sambungan teleponnya, berdiri lalu melangkah mendekati meja Zara untuk melihat lembar kertas yang sedang ditunjuk oleh ujung pulpen hitam milik wanita muda tersebut. Sepasang matanya membaca barisan angka pencairan dana senilai dua belas miliar rupiah yang tercantum di atas kertas tersebut dengan dahi yang kian mengerut dalam."Ada apa dengan lembar ini? Tanda tangan di bawahnya adalah tanda tangan digital milik Direktur Operasional, semuanya terlihat sah secara hukum administrasi perusahaan," ucap Arham sembari meneliti bentuk guratan tanda tangan di sudut kanan bawah kertas tersebut."Bentuk tanda tangannya memang terlihat mirip, tetapi coba kamu perhatikan nomor seri token validasi bank yang tercantum di bagian pojok kiri atas halaman ini," jelas Zara sembari menyodorkan sebuah dokumen pembanding dari bulan sebelumnya yang ia ambil dari kotak kedua."Nomor serinya berbeda dari pola standar penerbitan token otomatis milik divisi keuangan pusat, Gina. Ini seperti
"Besok pagi aku ingin ikut pergi bersama kamu ke kantor pusat, Arham," pinta Zara mendadak, menghentikan usapan tangannya di kepala Arham untuk menatap langsung ke dalam sepasang mata elang pria itu."Untuk apa? Suasana di kantor sedang sangat kacau dan panas, para wartawan bisnis juga pasti akan berkumpul di depan pintu gerbang utama sejak pagi hari," tolak Arham dengan kernyitan dalam di dahinya yang tegap."Aku tidak akan membiarkan calon suamiku hancur sendirian di tengah ruang kerja itu sementara aku hanya duduk manis menonton televisi di dalam rumah ini," tegas Zara sembari menangkup kedua pipi Arham, menatap pria itu dengan pandangan mata penuh keyakinan yang tidak bisa dibantah oleh ego mana pun."Aku bisa membantu kamu menyortir tumpukan dokumen fisik itu dari sudut pandang orang luar yang tidak terlibat dalam urusan internal manajemen, siapa tahu mataku bisa melihat apa yang dilewatkan oleh tim audit Bagas," tambah Zara kian gencar meyakinkan Arham agar memberikannya izi
Jam dinding besar di sudut kamar utama paviliun barat sudah menunjuk ke angka tiga pagi lewat lima belas menit. Udara malam terasa sangat dingin menyengat kulit, tetapi suasana di dalam ruangan besar itu justru terasa sangat panas dan menyesakkan dada. Zara terbangun dari tidurnya karena tidak merasakan kehangatan pelukan Arham di samping badannya seperti biasa. Wanita muda itu membalikkan badan, menatap sisi kasur yang sudah kosong dan menyisakan seprai sutra yang agak berantakan. Ia mendesah pelan, menatap ke arah celah bawah pintu penghubung ruang kerja pribadi Arham yang masih memancarkan cahaya lampu putih benderang sejak semalam.Zara menyibak selimut tebalnya, turun dari tempat tidur dengan langkah kaki yang teramat pelan tanpa menimbulkan suara sedikit pun di atas lantai. Ia berjalan mendekati meja rias, mengambil sebuah kardigan rajut berwarna cokelat susu untuk menutupi baju tidur tipisnya sebelum melangkah keluar kamar. Wanita muda itu memutar knop pintu ruang kerja Arham
Langkah kaki Zara terhenti tepat di ambang pintu kamar tidur utama paviliun barat saat sepasang matanya menangkap sesosok pria bertubuh tegap yang tengah berdiri memunggungi ranjang king size mereka. Arham telah melepaskan kemeja kasualnya, menyisakan selembar kaus dalam berwarna hitam ketat yang mencetak dengan sempurna lekukan otot punggungnya yang kokoh dan bidang. Di atas permukaan kasur sutra putih yang beberapa jam lalu menjadi saksi bisu pergulatan berahi mereka, kini tergelar sebuah kotak penyimpanan besar berbahan beludru hitam dengan logo desainer haute couture ternama asal Paris yang dicetak menggunakan tinta emas timbul."Kamu sudah selesai menemani Mama melakukan terapi berjalan di taman belakang, Gina?" tanya Arham tanpa membalikkan tubuhnya, seolah ia memiliki indra keenam yang sanggup mendeteksi kehadiran aroma wangi melati milik Zara dari jarak beberapa meter."Sudah, Arham. Mama bahkan bisa melangkah sebanyak dua puluh kali tanpa perlu bertumpu terlalu berat pada
Lampu gantung kristal di atas meja makan panjang berbahan kayu mahoni itu memancarkan pendaran cahaya kekuningan yang lembut, menciptakan atmosfer yang teramat teduh di dalam ruang makan utama mansion Tawfeeq. Harum aroma sup buntut sapi berempah yang kaya akan kapulaga dan cengkih berpadu sempurna dengan wangi gurih ayam goreng serundeng yang baru saja diangkat dari wajan dapur. Zara berdiri di sisi meja, merapikan letak mangkuk porselen putih berlis emas berisi tumis daun dewa bawang putih yang masih ngebul mengepulkan uap panas. Sepasang matanya sesekali melirik ke arah pintu penghubung lorong, memastikan tidak ada lagi sisa ketegangan siang tadi yang terbawa ke dalam ruang makan yang sakral ini."Baunya enak sekali, Ma. Perut Sean langsung berbunyi dari waktu berjalan masuk ke ruangan ini tadi," celetuk Sean sembari mendudukkan pantat kecilnya di atas kursi kayu berukir, matanya berbinar menatap deretan lauk pauk di atas meja."Tentu saja enak, pahlawan kecil. Semua ini dimasak
Aroma gurih sisa kaldu ayam masih tertinggal samar di udara, bercampur dengan kehangatan uap mentol dari minyak telon yang biasa digunakan untuk meredakan kembung pada perut anak-anak. Arham mendekati meja nakas, jemarinya menyentuh pinggiran mangkuk porselen yang masih menyisakan beberapa sendok
Sean menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di depan dada dengan dagu yang diangkat tinggi-tinggi, menatap lurus ke arah Zara dengan sepasang mata yang berkilat menantang, menanti ledakan amarah yang ia harapkan akan keluar dari mulut wanita yang paling ia benci di dalam mansion ini. Bocah i
Sentuhan bibir Arham bergerak makin menuntut, membelenggu seluruh kesadaran Zara di dalam ruang kabin yang sempit dan remang. Pria matang itu tahu benar bagaimana cara mendominasi setiap jengkal pertahanan wanita melalui ritme ciuman yang sarat pengalaman hidup selama empat dekade. Zara merasakan
"Jangan sebut namaku dengan mulut kotormu itu! Pergi dari kamarku! Aku benci kamu! Aku benci Tante Gina!" teriak Sean lagi, suaranya mulai serak akibat tekanan emosi yang terlalu besar. Ia menyambar sebuah buku cerita tebal dari atas meja kecil dan kembali melemparkannya, meskipun kali ini arahnya







