LOGINSepuluh menit berlalu, suara gemericik air dari kamar mandi mulai berhenti. Zara buru-buru menyapu air matanya, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degupan dadanya yang masih kacau. Ia tidak boleh terlihat menangis di depan Arham.Pintu kamar mandi terbuka. Arham keluar hanya dengan lilitan handuk putih di pinggangnya. Rambut hitamnya yang basah menyisakan tetesan air yang jatuh menyusuri otot dadanya yang tegap. Pria matang itu terlihat sangat segar dan tampan.Arham berjalan menuju lemari pakaian yang berukuran luas di sudut kamar. Ia mengambil kemeja santai berwarna biru gelap dan celana bahan hitam, lalu mengenakannya dengan santai di depan cermin besar."Gina, kamu mandi sekarang. Biar aku yang turun duluan untuk melihat Sean dan Ibu," ujar Arham seraya mengancingkan kemejanya satu per satu.Zara mengangguk pelan dari atas ranjang. "Iya, Arham. Aku mandi sekarang."Arham menyisir rambut basahnya ke belakang menggunakan jemari tangannya, lalu melangkah mendekati temp
"Kamu nyenyak tidurnya?" tanya Arham lembut sembari mengelus pipi halus Zara dengan ibu jarinya."Iya ... lumayan," jawab Zara singkat. Ia mencoba membalas tatapan Arham, meski dadanya terus bergejolak hebat.Arham tertawa rendah, suara tawanya yang hangat bergetar tepat di depan dada Zara. Tangan Arham yang lain merayap turun di balik selimut, mengusap pinggul ramping Zara yang masih polos tanpa sehelai benang pun."Masih pegal?" goda Arham dengan lirikan mata yang nakal. "Semalam kamu luar biasa, Gina. Aku bahkan tidak tahu kalau kamu bisa seberani itu di atas ranjang."Kata-kata itu kembali menusuk jantung Zara tepat di sasaran. Pengakuan Arham tentang keberaniannya semalam sebenarnya lahir dari keputusasaan Zara yang ingin dicintai sebagai dirinya sendiri, namun Arham justru menganggap itu sebagai bentuk kejutan dari sosok Gina.Zara menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa sakit yang kian menggebu di balik rambut panjangnya yang terurai acak-acakan. "Arham... jangan bahas
Sinar matahari pagi menyusup pelan melalui celah tirai sutra yang sedikit terbuka, membiarkan garis-garis cahaya keemasan jatuh menyapu permukaan lantai kamar utama. Hawa dingin dari pendingin udara terasa menusuk kulit, namun kehangatan yang melingkupi tubuh Zara membuat hawa dingin itu perlahan tersingkir.Zara membuka matanya perlahan. Kelopak matanya terasa berat, seperti baru saja melewati malam paling panjang dalam hidupnya. Sensasi pegal dan perih di sekujur tubuhnya langsung menyengat kesadarannya, mengingatkan dirinya pada apa yang terjadi beberapa jam lalu di atas ranjang ini.Lengan kekar Arham melingkar erat di pinggangnya, menarik tubuh polos Zara tanpa jarak ke dada bidang pria itu. Napas teratur dan hangat dari Arham berhembus teratur menimpa puncak kepala Zara, menandakan pria dewasa di sampingnya itu masih tertidur lelap.Zara memiringkan kepalanya sedikit, menatap raut wajah Arham yang tampak sangat tenang. Garis-garis tegas di wajah tampan pria berusia empat pul
Satu jam berlalu, malam kian larut membawa keheningan yang semakin pekat di dalam kamar utama lantai dua. Hanya ada pendar cahaya keemasan dari lampu tidur yang setia menerangi dua tubuh yang saling terpaut rapat di atas ranjang. Suara napas Arham yang berat dan teratur terdengar bersahut-sahutan dengan hembusan napas Zara yang masih sedikit tersengal-sengal.Arham berbaring miring, menopang kepalanya dengan satu tangan sementara tangan lainnya melingkar erat di pinggang ramping Zara. Pria matang itu menaikkan seprai sutra tebal hingga menutupi tubuh mereka berdua dari terpaan hawa dingin pendingin udara. Ia mengecup kening Zara yang sedikit basah oleh keringat tipis dengan kelembutan yang teramat sangat.Zara menyandarkan kepalanya di dada bidang Arham yang telanjang, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup kencang namun menenangkan. Tangannya menggambar pola-pola acak tanpa sadar di atas kulit dada Arham, menikmati kehangatan alami yang dialirkan oleh tubuh perkasa di s
Setiap kali Arham menarik diri lalu mendorongnya kembali sampai ke dasar, Zara merintih pelan dengan suara yang teramat seksi."Ahhh ... Arham ... hmmm ...," desah Zara serak."Enak, Gina? Rasanya seperti apa?" tanya Arham sembari menaikkan tempo gerakannya menjadi sedikit lebih cepat."Eughhh ... dalam ... terlalu dalam, Arham ... ahhh!" sahut Zara dengan tubuh bergetar mengikut irama dorongan Arham.Pengalaman Arham sebagai pria dewasa benar-benar terlihat dari bagaimana ia mengatur sudut dan dalam dorongannya. Pria itu secara sengaja menekan titik-titik paling sensitif di dalam kewanitaan Zara, membuat wanita muda itu kehilangan seluruh daya pikirnya. Zara tak lagi memikirkan penyamarannya, tak lagi ingat akan ketakutannya; ia hanya fokus pada sentuhan senggama panas yang diberikan oleh pria yang dicintainya."Ohhh ... Arhammm! Ahhh ... ahhh ... ssshhh!" erang Zara makin nyaring.Arham mempercepat gerakannya. Gerakan pinggulnya menjadi makin bertenaga dan penuh gairah. Otot-
"Ahhh ... ahhh ... Arham ... hmmm ... aku mau ...," rintih Zara pasrah dengan napas naik turun yang sangat kencang."Lepaskan saja, Gina. Keluar untukku," perintah Arham penuh penekanan."Ahnnn! Eughhh ... ARHAMMM!"Zara menjerit pelan saat puncak kepuasan pertamanya pecah dengan dahsyat. Tubuhnya bergetar kencang di atas kasur, otot-otot kewanitaannya menjepit jari Arham dengan sangat erat saat cairan hangat meluap keluar. Zara terkulai lemas dengan napas terengah-engah.Arham tersenyum bangga menyaksikan bagaimana ia berhasil membawa wanita itu ke puncak nikmat hanya dengan permainan jarinya. Namun, saat Arham hendak bergerak mengungkung tubuhnya kembali, Zara menahan dada bidang Arham dengan kedua telapak tangannya."Tunggu, Arham ...," bisik Zara lirih. Matanya yang sayu kini berkilat oleh keberanian baru yang gila.Arham menghentikan gerakannya, menatap Zara dengan alis terangkat satu. "Kenapa, Sayang?""Sekarang giliranku ...," sahut Zara lembut.Dengan napas yang masih
Sean menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di depan dada dengan dagu yang diangkat tinggi-tinggi, menatap lurus ke arah Zara dengan sepasang mata yang berkilat menantang, menanti ledakan amarah yang ia harapkan akan keluar dari mulut wanita yang paling ia benci di dalam mansion ini. Bocah i
Sentuhan bibir Arham bergerak makin menuntut, membelenggu seluruh kesadaran Zara di dalam ruang kabin yang sempit dan remang. Pria matang itu tahu benar bagaimana cara mendominasi setiap jengkal pertahanan wanita melalui ritme ciuman yang sarat pengalaman hidup selama empat dekade. Zara merasakan
Jojo menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan debaran jantungnya akibat keterkejutan yang teramat sangat. Sebagai seorang penata rambut profesional yang sudah bertahun-tahun melayani lingkaran sosialita kelas atas, ia tahu betul bahwa pertanyaan lebih lanjut hanya akan merusak bisnisnya. Uang
"Aku tidak ketakutan, Anton! Aku hanya sedang berpikir logis!" bentak Gina sembari menegakkan tubuhnya, menepis tangan Anton dari bahunya dengan kasar. Ia berdiri dari sofa, berjalan mondar-mandir di atas karpet bulu impor dengan langkah kaki yang menghentak-hentak gelisah. "Aku mencintaimu, kamu t







