Share

Bab 92

Author: Blue Moon
last update publish date: 2026-04-26 00:05:09
Di hari Sabtu pagi, ketika Randy terbangun dari tidur, samar-samar dia mendengar suara orang yang berbicara di ruang tamu. Awalnya dia kira itu adalah Bik Ratih yang sedang mengobrol dengan Sarah. Namun setelah dia mendengarkan dengan lebih seksama… Ternyata itu adalah suara seorang pria!

Pria mana yang pagi-pagi sudah datang ke rumahnya dan tertawa-tawa berdua dengan istrinya?! Sungguh menyebalkan.

Dengan gerakan yang tergesa-gesa, dia segera bangun dan keluar dari kamar.

Lalu dilihatnya ada Vi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 101

    Satu minggu kemudian.Sarah datang berkunjung ke rumah orang tuanya. Beberapa hari yang lalu Steven menelepon, menanyakan kabarnya, lalu berkata bahwa mereka sudah lama tak bertemu. Sarah menangkap nada kerinduan di dalam suaranya. Maka dia pun memutuskan untuk segera mengunjungi ayahnya.Memang sudah cukup lama sejak terakhir kali mereka bertemu. Sesungguhnya Sarah juga merasa sedikit bersalah karena tidak berinisiatif untuk datang lebih awal. Kenapa dia harus menunggu hingga Ayah menghubunginya? Dia terlalu terfokus dengan rutinitas sehari-hari, sampai melupakan bahwa ada seseorang yang menunggunya untuk memberi kabar.Dia pun berniat dalam hati... ke depannya, dia akan bersikap lebih proaktif terhadap orang tuanya.Steven yang membukakan pintu, serta merta memeluk erat putri kesayangannya itu. “Akhirnya kau datang juga, Sarah.”“Hai, Ayah! Maaf ya, aku baru datang sekarang.”“Tidak apa-apa. Ayo, masuklah,” ucap Steven. “Kau datang sendirian?”“Iya. Randy sedang ada urusan pekerjaan

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 100

    Sarah terbangun di kamar yang beratap kayu dan jerami, dengan tirai putih bersih yang bergoyang pelan karena tertiup angin sepoi-sepoi.Sejenak dia sempat linglung dan berpikir, ‘Aku di mana?’Dia bergerak untuk duduk, mengusap matanya beberapa kali agar dapat melihat dengan lebih jelas. Dia memandang ke sekitarnya dan melihat berbagai ukiran estetik, pintu gebyok bergambar wayang dengan warna coklat keemasan, serta dekorasi payung khas Bali yang berada di salah satu sudut ruangan.‘Ah, iya! Aku sedang berada di villa di Bali,’ pikirnya. ‘Lalu di mana suamiku?’Ruangan itu tampak kosong. Dia hanya seorang diri di sana.Sambil bergerak perlahan, Sarah turun dari tempat tidur dan berjalan mendekat ke jendela yang sedikit terbuka. Dia mendorong daun jendela itu agar dapat melihat pemandangan yang lebih luas. Dalam sekejap udara segar dan aroma harum pepohonan menembus masuk ke dalam kamar. Sangat menenangkan dan terasa nyaman.Awalnya pandangan Sarah tertuju ke taman asri yang berada di

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 99

    Ronde ketiga dimulai.Tim mereka beranjak maju perlahan sambil menembak secara teratur, hanya untuk menahan dan menghalangi pergerakan lawan. Tidak ada yang berlari cepat ke arah bendera seperti yang Mario lakukan di dua babak awal.Satu orang dari tim lawan telah berlari maju terlebih dahulu. Dan mereka mengira bahwa di babak ini mereka lebih unggul. Well, terlalu cepat untuk menyimpulkan.Karena sesungguhnya, Randy juga telah merangkak maju di tanah di sisi terluar arena, tanpa ada lawan yang menyadarinya. Dia bergerak cepat hingga ke bagian tengah arena. Setelah dia berada cukup dekat, barulah kemudian dia bangkit berdiri dan serta merta berlari menghampiri bendera.Begitu melihat Randy yang sedang berlari, hampir seluruh anggota tim melaju dan melepaskan tembakan dengan brutal, mengakibatkan pelari lawan harus menunduk bersembunyi dan tidak bisa bergerak sama sekali.Demikianlah mereka berhasil merebut bendera terakhir, dan memenangkan pertandingan itu.Susan melompat bahagia dan

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 98

    Siang itu mereka semua berkumpul di sebuah lokasi untuk kegiatan team building. Ternyata aktivitas yang telah disiapkan oleh panitia ialah paint ball.Sarah sedikit terkejut saat mendengar tentang gambaran kegiatan yang akan mereka lakukan itu.First of all, tentu saja, karena dia tidak memiliki pengalaman sama sekali. Dia bahkan tidak pernah bermain game menembak, atau game apa pun. Jadi bagaimana mungkin dia bisa menembak lawan tepat sasaran? Sepertinya itu merupakan hal yang mustahil.Lalu yang kedua, dia yakin dia pasti akan merasa ketakutan ketika harus berhadapan face to face dengan lawan yang memegang senjata semacam itu. Jangankan menembak dengan tepat... jika dia mampu mengalahkan ketakutannya sendiri dan menarik pelatuk saja itu sudah sangat bagus.Sedikit khawatir, dia berujar pelan pada Susan. “Sepertinya aku akan jadi pemain yang paling payah,” ucapnya jujur.Susan pun tertawa. “Sama saja denganku. Aku jug

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 97

    Hari keberangkatan ke Bali pun tiba. Mereka semua telah berkumpul di airport dan menunggu boarding time di gate yang ditentukan.“Sarah!!”Susan melambaikan kedua tangan dengan semangat, bergegas mendekati sahabatnya yang sedang duduk di salah satu kursi.Sarah tersenyum lebar. “Hai, Susan. Hari ini kau kelihatan manis sekali.”Susan mengenakan white dress simpel sepanjang lutut, yang dipadukan dengan cardigan berwarna pastel.“Kau juga manis dan cantik,” balas Susan riang. “Kau dapat seat nomor berapa, Sarah? Apa kita duduk berdekatan nanti?”

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 96

    Sepulangnya mereka dari acara makan siang bersama Regina, Sarah lebih banyak berdiam diri. Di perjalanan pulang, Randy sama sekali tidak mengusik istrinya itu. Dia ingin memberikan waktu bagi Sarah untuk menenangkan pikirannya. Mereka berdua berkendara dalam diam. Begitu pun beberapa jam kemudian di rumah. Sarah masih tidak banyak bicara. Dia hanya sibuk dengan ponselnya dan juga buku jurnal hariannya. Menjelang sore hari barulah Randy mendekatinya dan memulai pembicaraan. “Apa kau baik-baik saja, Sayang?” “Iya,” jawab Sarah sambil tersenyum menatap suaminya. Namun Randy dapat merasakan bahwa itu adalah sebuah senyuman yang dipaksakan. Senyum yang diberikan istrinya untuk sekadar menenangkannya. “Kau tidak perlu memendamnya sendirian, Sayang. Kalau memang merasa kesal, katakan saja,” ucap Randy lagi. “Aku sendiri juga kesal mendengar perkataan Ibu tadi siang. Seharusnya Ibu tidak ikut campur urusan kita berdua.” Ucapan Randy membuat Sarah berpikir dari sudut pandang yan

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 47

    Saat melangkahkan kaki masuk ke dalam mall, Miranda bersenandung dengan gembira. Belakangan ini suasana hatinya sangat bagus. Dia merasa bahagia dan akhirnya bisa menikmati hidupnya. Keinginannya sudah terwujud, yaitu melihat Sarah masuk ke dalam keluarga yang berada.Apalagi dia sudah tahu persis

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 46

    Randy mengajak Sarah untuk pergi menemui Regina. Dia ingin mulai menjembatani hubungan antara istri dan ibunya itu. Sesungguhnya dia pun tahu, bahwa tak mudah untuk melunakkan hati Ibu agar bersedia menerima istrinya. Waktu itu Regina sudah dengan jelas menyatakan ketidaksetujuannya. Namun tak ada s

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 44

    Sarah memutuskan untuk menelepon Susan. Sahabatnya itu langsung heboh ketika menerima panggilan teleponnya.“Astaga, kenapa kau menghilang begitu saja, Sarah? Kau di mana sekarang? Kau tidak apa-apa kan? Ada orang yang mengganggumu, tidak? Aku juga dengar bahwa kau sakit?” cerocosnya.Sarah tertawa

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 43

    Ketika Sarah memeriksa ponselnya, dia melihat begitu banyak missed calls dan pesan-pesan yang masuk. Semua orang terdekatnya menghubungi dia. Tentu saja suaminya menempati jumlah terbanyak. Lalu ayahnya di posisi kedua. Sarah memutuskan untuk membuka pesan dari Ayah terlebih dahulu. ‘Kamu pergi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status