ホーム / Romansa / Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam! / Bab 22: Lebih dari Nikmat

共有

Bab 22: Lebih dari Nikmat

last update 公開日: 2025-11-22 13:47:58

“Aku sudah terlalu lama menahannya,” bisik Brian hampir tidak terdengar. “Setiap kali kau datang ke gym, setiap kali kau tersenyum, setiap kali kau memandangku dengan caramu itu, aku—”

Ia menghela napas karena frustasi menahan kata-kata yang sulit diucapkan.

“—aku tidak tahu bagaimana harus tetap profesional.”

Jane menahan senyum dan wajahnya memanas. “Mungkin karena kau terlalu disiplin.”

“Tidak.” Brian menggeleng pelan dan mata masih menatapnya. “Karena aku takut. Jika aku melangkah terlalu c
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (7)
goodnovel comment avatar
MAIMAI.
ganas banget brian. hahaha
goodnovel comment avatar
medi hermit
hot bikin halu aja, kebayang seh ranjangnya bisa roboh saking goncangannya kayak gempa.........
goodnovel comment avatar
SumberÃrta
ketagihan dahhh
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 153: Keajaiban yang Nyata

    Pagi itu, penthouse keluarga Hills riuh dengan perdebatan yang tidak biasa.Di ruang makan yang luas, Brian sedang duduk di hadapan Dave yang kini sudah berusia lima tahun.Bocah itu tampak menggemaskan namun keras kepala, mengenakan kaos bergambar pahlawan super favoritnya.“Dave, sekolah ini punya lapangan bola yang besar. Kau bisa jadi kapten di sana,” bujuk Brian sembari menunjukkan brosur sekolah TK internasional ternama di tabletnya.“Tapi Dave mau yang ada kolam renangnya, Papa! Yang airnya hangat!” bantah Dave sembari melipat tangan di dada, meniru gaya bicara Brian saat sedang negosiasi bisnis.Brian menghela napas, menatap Jane yang sedang duduk di kursi seberang sembari menyesap teh jahe hangat.“Jane, lihat anakmu ini. Belum juga masuk TK sudah pintar menawar seperti pialang saham.”Jane hanya tersenyum tipis, namun wajahnya tampak sedikit pucat. Dia merasakan sensasi aneh di perutnya sejak bangun tidur, sesuatu yang sudah ia rasakan selama dua minggu terakhir.Pikirannya

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 152: Telah Mutlak menjadi Anak Mereka

    Hari itu, ruang tengah penthouse Hills Group tidak dipenuhi oleh aroma parfum mahal atau suara tegang para kolega bisnis.Sebaliknya, ruangan itu berbau kue cokelat yang baru dipanggang dan dipenuhi balon-balon berwarna biru kehijauan. Di atas meja kerja Brian yang biasanya sakral, kini tergeletak sebuah map kulit berlogo negara.Dave Leandra Hills.Nama itu tertulis tegas di atas sertifikat adopsi yang baru saja disahkan oleh pengadilan pagi tadi. Brian menatap dokumen itu dengan binar mata yang lebih terang daripada saat ia memenangkan tender triliunan rupiah.“Sudah resmi, Sayang,” ujar Brian sembari memeluk pinggang Jane dari belakang.Jane mengusap air mata harunya. “Dave Leandra Hills. Kedengarannya sangat indah, Brian.”“Ayo, tamu-tamu sudah datang!” seru Sita yang muncul dari arah dapur membawa piring-piring kecil, diikuti oleh James yang tampak sibuk meniup balon terakhir.Pesta itu sangat privat. Tidak ada wartawan, tidak ada bibi-bibi Hills yang nyinyir, hanya ada orang-ora

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 151: Kita akan Baik-baik saja

    Layar ponsel di atas nakas itu tampak seperti hakim yang menjatuhkan vonis mati.Pesan singkat dari Dokter Sarah baru saja masuk, menyampaikan hasil tes darah pasca-transfer embrio yang dilakukan dua minggu lalu.NEGATIF.Jane terduduk lemas di tepi ranjang, ponselnya terlepas dari genggaman dan jatuh ke atas karpet tebal tanpa suara.Bahunya gemetar, napasnya mulai terasa sesak oleh gelombang kekecewaan yang sudah sangat ia kenal, namun kali ini terasa lebih menghujam.“Hanya angka, Jane, itu hanya angka,” bisiknya pada diri sendiri dengan suara parau. Namun, air mata tetap saja lolos membasahi pipinya.Pintu kamar terbuka pelan. Brian masuk dengan wajah cemas, namun langkahnya terhenti saat melihat bahu istrinya yang berguncang. Dia segera menghampiri, berlutut di depan Jane, dan menggenggam kedua tangannya.“Jane? Hasilnya sudah keluar?” tanya Brian lembut.Jane hanya bisa mengangguk pelan sembari terisak. “Gagal, Brian. Semuanya ... semua suntikan itu, rasa sakit itu, hasilnya nol

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 150: Kedekatan Brian dan Dave

    Perubahan di dalam penthouse Hills Group terjadi bukan melalui ledakan besar, melainkan melalui langkah-langkah kecil yang sunyi namun berarti.Brian, pria yang biasanya memimpin ribuan karyawan dengan instruksi tegas, kini harus belajar menjadi “raksasa ramah” di hadapan Dave Leandra.Menyadari bahwa postur tubuhnya yang besar menjadi pemicu trauma bagi Dave, Brian mulai menerapkan strategi “pendekatan rendah”.Setiap kali dia pulang dari kantor, Brian segera menanggalkan jas dan kemeja kaku miliknya, menggantinya dengan kaos katun lembut berwarna cerah.Dia tidak lagi berjalan tegak dengan langkah kaki yang menggema; sebaliknya, Brian akan segera duduk bersila di lantai karpet, mensejajarkan tinggi badannya dengan bocah tiga tahun itu.“Lihat, Dave. Papa punya kereta baru. Dia bisa berbunyi jika kita menekan tombol ini,” bisik Brian suatu sore.Dia lalu meletakkan sebuah kereta kayu sederhana di tengah karpet, membiarkan Dave yang mendekat atas kemauannya sendiri.Brian belajar untu

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 149: Kedatangan Dave ke Rumah Mereka

    Setelah melalui proses administrasi yang ketat dan jaminan mutlak dari pengaruh Hills Group, masa percobaan adopsi akhirnya disetujui.Pagi itu, Brian dan Jane menjemput Dave dari panti asuhan.Seluruh staf panti melepasnya dengan haru, namun Dave tetap diam, menggenggam erat boneka beruang lusuh miliknya sembari menatap ke arah gerbang yang akan membawanya ke kehidupan baru.Begitu pintu penthouse terbuka, suasana apartemen yang biasanya steril, sunyi, dan penuh dengan aroma kemewahan yang dingin, mendadak berubah.Jane telah menyiapkan sebuah kamar khusus di dekat kamar utama. Ia memberikan nama tengah yang indah untuk bocah itu: Dave Leandra.Leandra yang berarti “pelindung”, sebuah doa agar Dave tumbuh dengan keberanian untuk menghadapi trauma masa lalunya.Namun, transisi itu tidak berjalan semulus yang Jane bayangkan.Masalah utama muncul bukan dari fasilitas, melainkan dari sosok Brian. Bagi Brian, kehadirannya adalah bentuk perlindungan, namun bagi Dave, Brian adalah perwujuda

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 148: Sebuah Ikatan Batin yang Kuat

    Di sela-sela jadwal suntikan hormon yang melelahkan dan kunjungan rutin ke rumah sakit, Brian memutuskan untuk mengajak Jane kembali ke panti asuhan “Kasih Bunda”.Dia berharap udara segar dan tawa anak-anak bisa sedikit mengalihkan rasa mual dan kelelahan yang dialami Jane akibat prosedur IVF. Namun, sore itu, suasana di panti terasa lebih tenang dari biasanya.Saat mereka melangkah menyusuri lorong yang bersih namun bersahaja itu, mata Jane langsung tertuju pada sebuah sudut di ruang bermain.Di sana, jauh dari kerumunan anak-anak lain yang sedang berebut balok kayu, duduk seorang anak laki-laki kecil. Dia mengenakan kaus biru pudar yang tampak sedikit kebesaran di tubuhnya yang mungil. Namanya Dave.Dave tidak bermain. Ia hanya duduk bersila, menatap lurus ke arah jendela besar yang memperlihatkan dedaunan yang berguguran.Tatapan matanya tidak seperti anak berusia tiga tahun pada umumnya; tidak ada binar rasa ingin tahu yang meledak-ledak. Sebaliknya, ada kedalaman yang sunyi, seb

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 123: Meminta Jatah Setelah Pertemuan Panjang

    Setelah beberapa jam pertemuan dengan Andrew, Brian sudah kembali ke apartemen.Di sana, di meja makan yang tertata rapi, Jane sudah menunggunya dengan senyum lembut yang seketika menghapus separuh dari rasa penat di bahu Brian.Brian mendekat, meletakkan jas hitamnya di sandaran kursi, lalu mendar

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 122: Kesepakatan Terpaksa

    Pertemuan yang menentukan itu terjadi di sebuah restoran privat di puncak gedung pencakar langit, tempat di mana hanya para elit yang bisa memesan meja.Suasananya begitu dingin dan kaku, sangat kontras dengan pemandangan lampu kota Jakarta yang gemerlap di bawah sana.Brian duduk dengan tenang sam

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 114: Hanya Denganmu Merasakan Semuanya

    Pagi terakhir di pulau pribadi itu disambut dengan langit yang begitu biru, hampir tanpa awan, seolah alam semesta ingin memberikan salam perpisahan yang paling cerah bagi pasangan baru tersebut.Di dermaga kayu yang menjorok ke air yang bening, sebuah mesin jet ski berwarna hitam metalik sudah ber

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 111: Aku Selalu Mencintaimu

    Siang itu, Jane sedang bersantai di kursi panjang di bawah naungan payung pantai yang besar.Dia tengah menyesap es kelapa muda yang segar, berusaha mengembalikan cairan tubuhnya yang terkuras habis setelah sesi panas di kolam renang tadi.Di sampingnya, piring berisi camilan tropis menggoda selera

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status