로그인Hindi kailanman inakala ni Sydney Mendez na mapipilitan siyang tumakas mula mismo sa pamilya niya habang buntis—walang pera, walang koneksyon, at may tatlong buhay na lumalago sa sinapupunan niya. Deceived and robbed of the inheritance that was rightfully hers, she must gather all her strength to survive and reclaim everything that was taken from her. Isang maysakit na anak, isang dating pag-ibig na muling nagbabalik, isang misteryosong estranghero, at isang pamilyang galit na galit sa kanya ang huhubog sa laban ni Sydney para sa hustisya at para sa kanyang sariling buhay. From pain and betrayal, her fight for strength and a new beginning will begin.
더 보기Pukul 02.00 dini hari. Penthouse Suite, Kamar Utama Menara Barat Istana Al-Fariz.
Sultan Rayyan Al-Fariz sudah selesai menyantap habis menu makan malamnya. Suasana di dalam ruang makan privat itu mendadak hening, menyisakan ketegangan yang begitu mencekik, di udara. "Kau terlalu jauh, Amira," suara rendah Rayyan tiba-tiba mengalun, memecah kesunyian malam dengan getaran berat dan serak, yang seketika membuat isi perut Amira bergejolak hebat. Pria berkuasa itu menyandarkan punggung tegapnya di sandaran kursi makan, menatap Amira dengan sepasang mata elang yang menggelap. "Lain kali saat aku makan, berdiri tepat satu meter di sisiku. Mengerti?" Amira Nabila menahan napas, dadanya bergemuruh hebat sebelum akhirnya ia mengangguk patuh dengan kepala yang tertunduk dalam. Detik berikutnya, sepasang mata elang sang Sultan seolah memberikan isyarat agar Amira segera membersihkan sisa kekacauan di atas meja. Dengan jemari yang gemetar, Amira mulai menaruh semua piring dan gelas kaca mahal di atas nampan perak besar dengan hati-hati, lalu berbalik, melangkah buru-buru menuju area dapur. Ia hanya ingin segera meloloskan diri dari tatapan intimidasi yang mengulitinya sejak satu jam lalu, itu. Tak. Tak. Tak… Namun, suara langkah sepatu pantofel kulit buatan Italia yang tegas, terdengar mendekat dari arah belakang. Seperti biasa, ritmenya yang lambat, teratur, dan terdengar bagai derap langkah kaki seorang predator yang tahu bahwa mangsanya tidak akan pernah bisa meloloskan diri dari jebakan yang telah dipasang. Jantung Amira berdegup gila, menghantam dinding rusuknya dengan begitu menyakitkan seiring dengan semakin dekatnya derap langkah tersebut. Setiap ketukan sepatu Rayyan terdengar seperti dentum genderang perang yang siap menghancurkan seluruh hidupnya. Selalu, begitu. Amira menahan napas saat aroma maskulin yang teramat pekat—perpaduan expensive wood dan peppermint tajam—mulai menginvasi seluruh indra penciumannya. Sebelum ia sempat melangkah lebih jauh untuk kabur secepatnya, tubuh besar dan kokoh Sultan Rayyan merangsek maju dari belakang. Membuatnya tersentak hebat saat punggung mungilnya tiba-tiba menabrak dada bidang yang sekeras batu karang. Saking kagetnya karena hantaman fisik yang tiba-tiba itu, genggaman tangan Amira goyah. Isi dari nampan perak yang ia bawa, berjatuhan ke atas lantai granit. PRANG!!! Suara pecahan yang memekakkan telinga menggema, saat piring dan gelas kaca mahal itu pecah berantakan, berserakan tak berharga di sekitar kaki mereka. Amira panik, refleks hendak bergerak turun untuk memungut pecahan tersebut, namun sepasang lengan kekar Rayyan justru bergerak lebih cepat, mengunci pinggangnya dari belakang dengan cengkeraman yang kokoh, nyaris menyakitkan. "Jangan bergerak," geram Rayyan rendah tepat di samping telinganya. Amira menghentikan gerakannya seketika. Tubuhnya kaku, namun ia menolak untuk berbalik dan menghadap sang tiran. Jemarinya meremas pinggiran nampan perak di tangannya yang kini sudah kosong melongpong, dengan cengkeraman yang kian mengeras, mencoba mengumpulkan kembali serpihan keberaniannya yang tersisa di dalam dada. "S-saya harus merapikan cangkir yang pecah ini, Yang Mulia Sultan," bisik Amira dengan suara parau yang bergetar. "Setelah itu... tugas saya malam ini sudah selesai." "Siapa yang bilang sudah selesai? Kau tahu sendiri bagaimana peraturan perjanjian kita, Amira Nabila..." Rayyan berbisik, suaranya terdengar bagai geraman pelan dari seekor binatang liar yang sedang mengklaim wilayah kekuasaannya dengan mutlak. Napas pria itu berembus panas, menerpa kulit leher Amira yang sensitif dan membuat seluruh tubuh gadis itu menggigil seketika. Rayyan menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah tegas berahang kerasnya, di ceruk leher Amira. Pria itu memejamkan mata, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Amira yang murni—aroma manis vanila alami yang selama beberapa waktu terakhir ini menjadi satu-satunya antidot bagi siksaan fobia anorexia dan kelaparannya. "Aku tidak hanya memintamu memuaskan lambungku, Amira," desis Rayyan dengan kilat kegilaan yang menggelap di matanya. "Malam ini... aku ingin menuntut seluruh hakku atas dirimu." Sultan Rayyan memutar tubuh Amira dengan satu sentakan dominan yang sangat bertenaga, sampai nampan di tangannya ikut terhempas jatuh. Kini Amira dipaksa berbalik, menghadap langsung ke arah sang tiran yang sedang menatapnya dengan rahang mengeras. Tatapan mata mereka terkunci rapat, beradu di antara kemarahan Amira yang mendidih di balik pelupuk matanya dan hasrat gelap Rayyan yang membakar habis sisa kewarasannya. Tanpa memberikan waktu sedetik pun bagi Amira untuk memprotes, Rayyan menunduk dan menyerbu bibir ranum Amira dengan sebuah ciuman yang ganas, menuntut, dan penuh rasa lapar primal yang tak mengenal kata belas kasihan. Itu bukan sekadar ciuman biasa; itu adalah klaim dari seorang penguasa monarki, yang bersifat mutlak. Rayyan melumat bibir Amira dengan intensitas gila yang seolah ingin merobek seluruh kesadaran dari jiwanya. Amira meronta lemah, tangan kecilnya memukul-mukul dada bidang Rayyan, mencoba mendorong dada tegap pria itu. Namun, perlawanan Amira justru membuat Rayyan semakin beringas. Pria itu menangkap kedua pergelangan tangan Amira dengan satu tangan kirinya yang besar, mengangkatnya ke atas kepala, dan menguncinya dengan kuat. Dalam satu gerakan sentakan yang mudah, Rayyan mengangkat tubuh mungil Amira ke dalam gendongannya yang kokoh. Amira terpekik kaget, refleks melingkarkan kedua kakinya di pinggang kokoh sang Sultan demi menjaga keseimbangannya agar tidak jatuh, sementara Rayyan melangkah lebar membawa tubuhnya keluar dari ruang makan pribadi, melintasi lorong menara yang temaram, dan menendang pintu ganda kamar tidur utamanya hingga terbuka lebar sebelum menguncinya dari dalam. Atmosfer di dalam kamar utama, seketika terasa jauh lebih panas, sesak, dan berbahaya. Rayyan menurunkan tubuh Amira perlahan di atas ranjang king size yang dilapisi sprei sutra hitam, sebelum akhirnya ia ikut merangsek maju, merangkak di atas tubuh Amira dan mengurung tubuh gadis itu di bawah beban tubuh besarnya yang dominan. Di bagian bawah tubuhnya, Amira dapat merasakan sesuatu yang teramat keras dan menonjol di balik celana kain milik Sultan, menekan telak pahanya dengan intensitas gila yang menakutkan, membuat seluruh persendian Amira melemas seketika, hingga ia hampir kehilangan seluruh kewarasannya. Tanpa memberikan celah untuk Amira meloloskan diri, tangan besar Sultan yang bebas mulai bergerak nakal. Telapak tangan kasarnya merayap masuk ke dalam baju pelayan tipis yang dikenakan Amira. Sentuhannya terasa sepanas api, merayap perlahan melewati paha polos Amira dan langsung menekan bagian intim Amira yang masih terhalang selembar kain tipis. "A-ah..." sebuah desahan kecil yang teramat pasrah dan tertahan lolos begitu saja dari bibir Amira yang gemetar saat ia merasakan jemari panjang Rayyan melucuti celana dalamnya dengan cepat, dan mulai bermain dengan teramat binal di area intimnya. Jemari pria itu memutar, menekan, dan menggesek titik sensitif Amira dengan ritme yang memabukkan, menuntut penundukan total atas raga gadis itu. "Yang Mulia... to... tolong... hentikan..." cicit Amira dengan suara parau bercampur isak tangis yang tertahan, dadanya naik turun dengan cepat menahan emosi yang berkecamuk di dalam benaknya. Namun, Rayyan sama sekali tidak mendengarkan permohonan itu. Ia justru menjawabnya dengan sebuah ciuman panas yang kembali membakar bibir Amira tanpa ampun. Di bawah kungkungan binal sang tiran, tubuh Amira perlahan-lahan mulai mengkhianati akal sehatnya sendiri. Dadanya membusung pasrah, dan setiap sentuhan kasar serta gesekan jemari Rayyan di bagian bawah sana, justru menyalakan api hasrat terlarang yang membuat Amira tenggelam dalam kenikmatan yang menyiksa. Rayyan melepaskan tautan bibir mereka sejenak, namun wajah tampannya tetap bertahan hanya berjarak satu inci dari wajah Amira yang sudah memerah, berantakan, dan basah oleh sisa ciuman mereka. Jari-jari panjang Rayyan yang dingin bergerak perlahan menyingkirkan helaian pakaian pelayan Amira yang menghalangi, membiarkan kulit polos mereka bertemu langsung tanpa pembatas di atas sprei sutra. "Lihat aku, Amira," bisik Rayyan dengan suara yang terengah parau, namun penuh dengan otoritas yang tak terbantahkan. "Katakan padaku, siapa pemilikmu sekarang?" Amira memalingkan wajahnya ke samping, enggan menjawab, menolak dengan keras untuk tunduk pada intimidasi yang merendahkan harganya dirinya itu. Namun, Rayyan dengan cepat menangkup rahang mungilnya dengan cengkeraman kasar, memaksanya untuk kembali mendongak menatap sepasang mata elang miliknya yang berkobar oleh kabut gairah kelam. "Ucapkan nama penguasamu dengan jelas, Amira Nabila!" desis Rayyan, memberikan penekanan berat di setiap kata yang keluar dari bibirnya. Air mata amarah akhirnya menggenang penuh di pelupuk mata Amira, bergulir jatuh melewati pipinya yang ternoda tepung terigu tipis dari dapur tadi. "A-anda... Anda pemilikku, Sultan Rayyan," bisik Amira dengan suara parau yang pecah oleh kombinasi rasa benci, takut, dan desahan yang tak mampu lagi ia bendung di tenggorokannya. Sudut bibir Rayyan terangkat, membentuk seulas senyum miring yang berbahaya, gelap, sekaligus luar biasa tampan. Kilat kepuasan yang teramat pekat memancar dari matanya saat melihat penundukan dan kepasrahan total gadis itu di atas ranjangnya. "Bagus," gumam Rayyan rendah sebelum kembali menjatuhkan bibirnya di leher jenjang Amira, menggigitnya kecil untuk meninggalkan tanda kemerahan yang mencolok—sebuah cap kepemilikan mutlak. Ciumannya terus turun, menuju belahan dada Amira yang naik turun. "Karena setiap kali aku menginginkannya, kau harus terus membuka lebar-lebar kedua kakimu untukku, Amira. Persis seperti apa yang telah kau setujui dalam perjanjian terlarang kita." Jemari tangan Rayyan kembali bergerak beringas di bagian intim Amira lagi, dengan ritme yang kian cepat dan intensitas yang gila. Memaksa Amira mendongak dengan dada yang membusung tinggi saat gelombang kenikmatan dahsyat menghantam pusat dirinya. "BERHENTIII.. Berhentiii.. Aah!!!!" Hening. Amira mencapai orgasme pertamanya malam itu. Saat liang yang berkedut hebat itu mengeluarkan cairan kental tanda penundukan fisiknya, Rayyan mengangkat jemarinya yang basah, lalu menunjukkannya tepat di depan mata Amira yang sayu oleh kabut gairah. "Lihat dirimu, Amira. Mulutmu memohon agar aku berhenti, tapi tubuhmu justru menyambutku seperti pelacur yang haus belaian..." Rayyan menatap pupil bergetar Amira yang menampilkan wajahnya dengan senyum penuh kepuasan. "Jadi, jangan pernah bermimpi bisa lepas dariku, Amira... Kau akan tetap berada di bawah belengguku... sampai aku memutuskan, kapan kau boleh pergi," geram Rayyan rendah, sebelum melumat bibir Amira lagi. Di bawah sorot lampu menara barat yang teramat temaram, Amira menyadari bahwa seluruh pertahanan dirinya telah runtuh total tak bersisa. Malam ini… Ia bukan lagi sekadar koki penawar racun di siang hari. Ia telah bertransformasi menjadi menu perjamuan utama yang sesungguhnya di atas ranjang sang Sultan, dan Rayyan tidak akan menyisakan satu bagian pun dari tubuh dan jiwanya, hingga fajar memecah kegelapan istana. Amira memejamkan mata dalam isak tangis yang tertahan, menaikkan kedua tangannya yang lemas untuk meremas kuat kemeja sutra di bahu Rayyan, mencari pegangan di tengah berderak runtuhnya sisa kesadarannya yang kini mulai tenggelam sepenuhnya ke dalam pusaran gairah memabukkan milik sang tiran. ……………………………Hindi sigurado si Sydney kung nahimatay o talagang wala nang lakas ang lalaking duguan at nakahandusay sa lupa. Sa alinmang sitwasyon, alam niyang hindi siya puwedeng tumunganga lang at panoorin itong mawalan ng dugo. Nasa panganib ang buhay nito.Nag-ipon siya ng lakas ng loob at lumuhod sa tabi nito, sinubukang makita kung nasaan ang sugat. Pero bago niya pa man ito mahawakan, biglang bumangon ang kamay nito at mahigpit na humawak sa pulsuhan niya."Teka!" gulat na bulalas ni Sydney sa biglang paggalaw nito.Nakapikit ang mga mata nito, pero halata namang hindi ito walang malay."Huwag mo 'kong hawakan," bulong nito sa mahina at masakit na tinig.Lumambot ang mga mata ni Sydney. Sa kabila ng pagiging mainitin ng ulo nito, kitang-kita niya kung gaano ito kaputla. "Masyado ka nang maraming nawawalang dugo. Kung hindi ito gagamutin agad, puwede kang mamatay. Please, let me help you."“No! Stay away from me, or I’ll kill you where you stand!” bulyaw nito, halata ang galit at sakit sa bo
“Talaga, Mommy? Papayag ka na makipag-date?”Nagulat ang mga anak ni Sydney. Sa ilang taon niya sa London, hindi siya kailanman pumayag makipag-date sa kahit na sinong lalaki, kahit pa marami ang nagtangka ipakilala siya sa ilan sa pinakamayayamang tao sa bansa.Plano rin sana niyang tanggihan ang alok ni Natasha, pero sa kaibuturan ng puso niya, nakapagdesisyon na siya. Hindi na puwedeng ipagpaliban ang sakit ni Yuki. Kailangan malaman ni Sydney kung handa ba ang lalaking ito, ang ama ni Yuki, na iligtas ang buhay ng kanyang anak.Matapos mag-lunch, dinala ni Natasha sina Sydney at ang triplets sa apartment na nahanap niya para sa kanila. Bago umalis, binigyan niya si Sydney ng isang maliit na card na may nakasulat na address.“Sydney, bukas ng hapon, pumunta ka sa restaurant na ito,” bilin ni Natasha. “Sabihin mo lang sa manager na ang reservation ay nasa pangalang Randall.”“Randall?” tanong ni Sydney.“Oo. Randall Rustin. Siya ang Chief Financial Officer ng Maharima Group, isang m
Sydney had been away from the Philippines for six years, ever since that night at the villa. Ang kanyang ama na si Sicario Mendez ay hindi man lang nagpakita ng pag-aalala o nag-abalang hanapin siya matapos niyang sabihin ang narinig na pag-uusap ng kanyang madrasta at ng kanyang kapatid. Hindi siya pinaniwalaan ng sarili niyang ama kahit anong pagmamakaawa niya.Sicario had always despised Sydney because she strongly resembled his ex-wife, Sydney's late mother. Dagdag pa rito, napakalaki ng impluwensya ng bago nitong asawang si Olga at ng anak nilang si Bea.Mas magiging malaking gulo kung malalaman nila na may anak si Sydney sa isang lalaki na hindi niya man lang matandaan, isang taong hindi niya alam kung sino. Sigurado si Sydney na gagawin nilang mas miserable ang buhay nilang mag-iina. Hindi niya hahayaang mangyari iyon.Pero ang tawag sa telepono na natanggap niya noong umagang iyon ay binago ang lahat.Pinatay niya ang TV at kinuha ang telepono. Nakita niya sa screen ang caller
Sydney Mendez lay sprawled on the bed, her head pounding as waves of nausea swept through her. Tila nagbabaga sa init ang kanyang katawan. Hirap na hirap siyang tumayo. Nagtungo sa banyo at binuksan ang gripo ng malamig na tubig. Naghubad siya at dahan-dahang lumusong sa bathtub.Half-conscious, she vaguely registered the sound of the bathroom door opening and then closing again. Mayroong tao. Bigla na lang ay may isang bagay na matigas at malamig na dumikit sa kanyang noo."Sino ka?" isang malalim na boses ang bulong sa kanya.Hindi pa rin nagana ang utak niya, pero naramdaman niya ang malamig na bagay sa balat niya at, nang hindi nag-iisip, hinawakan niya ito.The man holding the gun roared in anger."Huwag kang gagalaw, o puputukan ko ang ulo mo," sigaw nito, halatang nalilito sa ginagawa ni Sydney.But Sydney, driven by fever and desperation, seized his hand with surprising strength and yanked him toward her. Napasubsob ang lalaki at bumagsak sa bathtub kasama siya.Walang pag-aal












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.