LOGINWilliam yang dilahirkan tanpa energi roh dan mana, membuatnya di kucilkan banyak orang. Tetapi, dia bukanlah orang yang akan menyerah dengan kondisinya itu. William hanya tidak menyadari bahwa dirinya adalah orang yang di lahirkan dengan kondisi khusus yang membuatnya tidak bisa menggunakan energi roh dan mana. Sebuah insiden penculikan yang melibatkan adiknya, membuatnya bertemu dengan seseorang yang mengetahui sejarah para leluhurnya. Dari pertemuan itu William di ajarkan bagaimana menggunakan kekuatan langka yang penggunanya hanya muncul dalam ribuan tahun sekali. Dan kekuatan itu sekarang hanya ada didalam tubuh William. Saat William sudah menguasai kekuatan dalam dirinya, William juga mengetahui sejarah para leluhurnya. Membuatnya tahu serta memahami bahwa ada tugas dan tanggung jawab yang diwariskan para leluhurnya. Dan hanya dia yang bisa melakukannya. Bagaimana kisah petualangan William? Apa saja yang akan dia temui dan lawan? Akankah William sanggup menyelesailan tugas beratnya?
View More"Aku sudah jatuh cinta kepada wanita lain, jadi, mari kita bercerai, dan setelahnya, jangan ada pertemuan lagi!" hanya beberapa kata yang dikatakan Azril, tapi membuat Devina tak bisa berkutik. Tubuhnya mendadak tidak bisa digerakkan dan pendengaran serta penglihatan seperti tidak berfungsi lagi.
Devina terhuyung ke arah sofa, tapi Azril sama sekali tidak melihatnya karena ia sedang berdiri di depan tangga membelakangi Devina. Selama tujuh tahun pernikahan, Devina belum diberikan kepercayaan untuk mempunyai anak, dan ini dijadikan alasan oleh Azril untuk berpisah. Ia sama sekali tidak tahu kalau wanita yang menjadi istrinya itu mencintainya. Bagi Devina, tentu saja cinta itu muncul tiba-tiba dengan seiring berjalannya waktu. Meksipun ia tahu Azril sama sekali tidak pernah mempunyai perasaan sedikit pun padanya, ia selalu percaya kalau pernikahannya akan langgeng sampai maut memisahkan. "Devi! Aku tidak mau mengulangi perkataanku lagi, semuanya sudah cukup sampai di sini." tegas Azril tanpa menoleh sedikit pun ke arah Devina yang sedang memukul-mukul dadanya dan terjatuh. "Ibu!" Bu Naya--asisiten rumah tangga yang selama ini membantu Devi mengerjakan semua pekerjaan rumah itu berlari ke arah majikannya. "Ya Allah, Bu. Ini kenapa?" Bu Naya membantu Devina untuk duduk di sofa dan memberikannya segelas air minum. Setelah menguasai diri, Devina menangis. Air mata dan rasa sakit selama ini selalu ditutupinya dengan senyuman sudah meluap, tidak bisa lagi ditahan, ataupun ditutupi lagi. "Sabar, ya, Bu. Saya sudah mendengar apa yang dikatakan Bapak barusan." Bu Naya mengusap lembut pundak Devina yang saat ini sedang terguncang. "Bukan kata sabar yang ingin saya dengar, Bu. Karena buktinya, saya tak bisa sabar lagi ketika Mas Azril mengibarkan bendera perpisahan." ucap Devina di sela tangis. "Saya hanya butuh orang yang mau mendengarkan segala keluh kesah dan membuat sedikit ketenangan tercipta, Bu. Bukan hanya mengatakan sabar, karena saya yang mengalami hal ini." lanjutnya membuat Bu Naya merasa bersalah. Devina adalah perempuan yang terang-terangan, dia akan mengatakan apapun yang mengganjal di hatinya. Tapi tidak ketika berhadapan dengan Azril, dia selalu memendam apa yang ingin dikatakannya, takut akan membuat suaminya itu tidak nyaman. Pernikahan ini memang dijodohkan, tapi Devina memang mencintai Azril dari dulu sampai tidak peduli kalau laki-laki yang akan menjadi suaminya itu punya pacar atau tidak. Karena baginya, menjadi istri Azril saja sudah cukup. Nyatanya, ia hanya disentuh tanpa cinta selama tujuh tahun ini. Namun semua itu tetap tidak membuatnya mundur, Devina selalu meyakinkan dirinya sendiri, kalau Azril bukan tidak mencintainya, tapi rasa cinta itu belum hadir pada hatinya. Bagi Devina, Azril tidak mengatakan berpisah pun sudah sangat bagus untuk posisinya. Kini semuanya hancur begitu saja. "Saya harus apa, Bu? Apa saya harus mengikutinya begitu saja? Tapi hatiku mungkin akan semakin sakit?" Devina terus saja memukul datanya sambil menangis di dalam pelukan Bu Naya. "Ya ampun, Bu. Ibu itu orang kaya yang sukses, tapi kenapa bisa mencintai laki-laki dingin seperti Pak Azril?" Bu Naya hanya bisa mengusap punggung Devina. "Entahlah, Bu. Dari dulu, aku tak bisa menghilangkan rasa cinta ini. Aku akan semakin terluka kalau jauh darinya, Bu." Devina masih menangis. Ia memang punya penyakit lambung, meksipun tidak terlalu parah, tapi akan menjadi kalau ia jauh dari orang yang dicintainya dari dulu itu, Azril. Hanya dia yang Devina inginkan. "Apa Ibu sanggup kalau Mas Azril menikah lagi?" tanya Bu Naya membuat Devina menatapnya. "Apa maksud Ibu?" "Maksud saya, izinkan Pak Azril menikah lagi, tapi Ibu tetap menjadi istrinya. Katakan pada Bapak, kalau Ibu rela dan ikhlas dimadu," jelas Bu Naya membuat Devina terbelalak.Perlahan Lisbet membuka matanya. Pandangannya terlihat kabur dan perlahan mulai tampak jelas. 'Di mana aku?' gumam Lisbet. Lisbet tidak mengenali tempat ini. Itu adalah sebuah ruangan berlantaikan kayu tanpa perabotan apapun. Di ruangan ini benar-benar kosong. 'Apa yang terjadi padaku?! di mana aku?!' Tanya Lisbet didalam hatinya. Lisbet benar-benar bingung, apa yang terjadi padanya, dan di mana sebenarnya dia sekarang. Perlahan Lisbet menyadari bahwa mulutnya tersumpal. Saat dia melihat kakinya, itu terikat dan merasakan tangannya pun juga terikat di belakang. Lisbet mencoba mengingat apa yang bisa dia ingat, bagaimana dia bisa berada di sini.
Dua hari telah berlalu sejak kejadian itu.William sekarang sedang duduk di taman sambil membaca buku, sambil ditemani Lilia dan Reny yang berdiri di dekatnya.William tidak pergi latihan, karena kondisi tubuhnya yang masih belum benar-benar pulih. Sekalipun dia tetap memaksa untuk pergi latihan, sudah dipastikan Lilia dan Reny pasti akan melarangnya dengan keras."Pangeran, teh ini sudah dingin, apa perlu aku ganti yang baru?" tanya Lilia.Lilia yang sebelumnya membuatkan teh untuk William, memandang William yang sangat terpaku dengan buku yang dia baca. Sampai-sampai teh yang dibuatnya belum disentuh sekalipun oleh William, karena terlalu fokus dengan yang dia baca.William sambil masih tetap fokus dengan
Di salah satu kamar, dengan lantai batu dan satu buah tempat tidur kecil, yang memang didesain hanya untuk satu orang.Tidak ada banyak perabotan di dalam kamar itu. Disana hanya ada satu buah meja kecil dan satu kursi sebagai pasangannya. Di sudut ruangan terlihat ada satu buah lemari dengan satu pintu.Tidak ada kesan mewah dan bagus saat kamu melihat semua yang ada di dalamnya. Semua tampak usang, bahkan di beberapa bagian langit-langit kamar, yang terbuat dari kayu pun juga terlihat sudah mulai rapuh.Seorang pangeran yang meninggali kamar ini adalah William. Letaknya bahkan ada di belakang istana. Tidak di dalam istana, yang semuanya terdapat kemewahan di setiap sudutnya.William mengalami kehidupannya seperti ini, sudah sejak ibunya meninggal beberapa tahun yang la
William mendengar sorakan riuh dari para penonton yang melihat pertarungannya dengan Lucas.Walaupun begitu, tidak ada raut wajah senang sama sekali di wajahnya.William sambil berbalik. "Reny, kita kembali," ajak William."Pangeran?" Reny berkedip bingung, melihat William berjalan pergi meninggalkannya.Reny hanya bingung melihat William yang terlihat seperti terburu-buru."Ba-baik, pangeran," ucap Reny sambil berlari menyusul William, lalu berjalan di belakangnya.Semua orang yang sebelumnya bersorak karena melihat kemenangan William, sekarang terdiam. Melihat William pergi begitu saja meninggalkan mereka.Bukan maksud William ingin bersikap angkuh kepada semua yang












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews