Se connecterPagi itu, suasana sekolah terasa sedikit berbeda dari biasanya. Sejak bel masuk berbunyi, beberapa siswa berprestasi dari berbagai kelas tampak berkumpul di depan ruang guru. Mereka adalah siswa-siswi yang mendapatkan kesempatan mengikuti seleksi internal untuk menentukan siapa yang akan mewakili sekolah dalam Olimpiade Matematika tingkat berikutnya. Di antara mereka, ada Alina. Gadis itu datang dengan seragam yang rapi, rambut tertata sederhana, dan sebuah tas berisi alat tulis serta beberapa buku catatan. Wajahnya terlihat tenang. Tidak ada lagi sorot mata murung seperti beberapa waktu lalu, ketika pikirannya masih dipenuhi penyesalan tentang kepergian Kevin ke Amerika Serikat. Kini, Alina kembali menemukan semangatnya. Ia memiliki tujuan yang ingin dicapai. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu meraih sesuatu dengan usaha sendiri, sekaligus membangun masa depan yang bisa dibanggakannya. Dan jauh di sudut hatinya, ia masih menyimpan sebuah impian yang belum pernah ia ceritaka
Hari-hari berikutnya membawa perubahan besar dalam diri Alina. Jika beberapa minggu sebelumnya ia lebih sering menundukkan kepala, menghindari percakapan, dan menghabiskan waktu dengan tatapan kosong, kini semuanya perlahan berubah.Alina kembali tersenyum. Bukan senyum yang dipaksakan, bukan pula senyum untuk menyembunyikan kesedihan. Melainkan senyum tulus yang dahulu begitu dikenal oleh orang-orang di sekitarnya.Pagi-pagi ia kembali datang ke sekolah dengan langkah ringan. Ia kembali menyapa guru yang berpapasan dengannya, bercanda dengan teman-teman, dan sesekali tertawa bersama Seruni di sepanjang lorong.Bahkan beberapa siswa yang sebelumnya hanya mengenalnya sebagai siswi pindahan mulai menyadari satu hal. Alina ternyata bukan hanya cantik dan ramah. Ia juga memiliki semangat belajar yang luar biasa."Alina!" Seruni berlari kecil mengejarnya di lorong.Alina menoleh."Kenapa?""Kamu cepat banget jalannya!"Alina tertawa."Kalau telat, nanti kita kena tegur guru.""Padahal baru
Sudah hampir dua minggu sejak Helena datang menemui Alina di depan gerbang sekolah. Dua minggu sejak Alina mengetahui seluruh kebenaran. Dua minggu pula sejak ia mengetahui bahwa Kevin berada ribuan kilometer jauhnya di Amerika Serikat.Namun luka di hatinya belum juga sembuh. Justru semakin hari terasa semakin dalam.Pagi itu Alina kembali duduk di bangku kelasnya. Tatapannya kosong mengarah ke papan tulis. Guru matematika sedang menjelaskan rumus fungsi kuadrat dengan penuh semangat. Biasanya, Alina adalah siswi yang selalu paling cepat memahami pelajaran. Ia sering menjadi orang pertama yang menjawab pertanyaan guru. Namun hari itu suara guru hanya terdengar seperti angin yang berlalu. Pikirannya sama sekali tidak berada di dalam kelas."Alina." Suara guru membuat seluruh kelas menoleh.Alina baru tersadar."Iya... Bu?""Coba kerjakan soal nomor tiga."Alina berdiri perlahan. Ia menatap soal di papan tulis. Biasanya soal seperti itu dapat ia selesaikan dalam hitungan menit.Namun
Sore itu langit Jakarta diselimuti awan kelabu. Alina pulang dari sekolah dengan langkah yang jauh lebih lambat daripada biasanya. Sejak bertemu Helena di depan gerbang sekolah tadi siang, pikirannya seolah berhenti bekerja. Kata-kata gadis itu terus berputar di kepalanya."Om Kevin sudah berangkat ke Amerika...""Om Kevin sebenarnya ingin berpamitan..."Kalimat-kalimat itu menusuk hatinya berkali-kali.Seruni yang berjalan di sampingnya beberapa kali mencoba menghibur, tetapi Alina hanya membalas dengan senyum tipis yang dipaksakan."Lin... kamu yakin nggak apa-apa pulang sendiri?"Alina mengangguk pelan."Aku cuma pengen sendiri dulu, Run."Seruni menghela napas."Kalau butuh teman, telepon aku kapan aja.""Makasih..."Mobil ayah Alina sudah menunggu di seberang jalan. Seperti biasa, ayahnya turun membuka pintu untuk putrinya."Capek, Lin?"Alina hanya mengangguk sambil masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan pulang, tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Ayahnya sesekal
Hari-hari setelah pertengkaran itu berjalan begitu lambat bagi Alina. Sudah lebih dari seminggu sejak ia mengabaikan semua telepon dan pesan dari Kevin. Sejak hari itu pula, Kevin seolah benar-benar menghilang dari kehidupannya. Tak ada lagi sosok tinggi yang berdiri di depan kelas juga di gerbang sekolah sambil menunggunya datang. Tak ada lagi langkah kaki yang sengaja menghampirinya saat jam istirahat. Tak ada lagi pesan singkat berisi ucapan selamat pagi ataupun pertanyaan sederhana seperti, "Sudah sarapan?" Bahkan akun media sosial Kevin pun mendadak sepi tak ada unggahan baru, tak ada story, dan tak ada aktivitas sama sekali. Semuanya terasa membeku. Awalnya Alina berpikir Kevin hanya sedang menghormati permintaannya agar tidak mengganggunya untuk sementara waktu. Namun hari demi hari berlalu, Kevin benar-benar lenyap. Di sekolah, suasana pun terasa berbeda. Lapangan basket masih ramai seperti biasa. Suara bola memantul masih terdengar setiap sore. Tetapi tak ada lagi suara la
Hari berlibur keluarga Alina nampaknya telah usai. Senja di Puncak perlahan memudar, menyisakan cahaya jingga di balik perkebunan teh yang terhampar luas. Mobil keluarga Alina meluncur pelan melewati jalan menurun yang berliku, sesekali terjebak macet panjang. Klakson bersahut-sahutan, lampu-lampu kendaraan menyalakan jalur gelap yang makin sesak.Di kursi belakang, Alina duduk bersandar di jendela dengan earphone terpasang, tapi lagu yang ia putar sama sekali tak menenangkan hatinya. Pikirannya masih penuh dengan satu wajah yaitu Kevin. Sosok itu muncul berkali-kali, silih berganti dengan bayangan Kevin yang tersenyum sambil merangkul seorang perempuan di pinggir lapangan basket, sebagaimana ia lihat di story WhatsApp senior OSIS kemarin.“Lin, kamu lapar? Mau kita cari makan dulu sebelum sampai Jakarta?” suara ayahnya terdengar dari kursi depan, memecah lamunan.Alina melepas salah satu earphone-nya. “Nggak, Yah. Alina nggak lapar,” jawabnya singkat.Ibu nya yang duduk di samping ay
Hari itu, langit Jakarta tampak biasa saja. Tapi bagi Alina, hari itu terasa seperti lembar baru. Setelah percakapan singkat di kantin bersama Kevin, pikirannya tidak berhenti memutar ulang tiap detik momen itu. Senyum Kevin sang kapten basket. Tatapan dan cara dia bilang: "Kalau ada yang ganggu kam
Hari ketiga sekolah. Alina bangun lebih pagi dari biasanya. Ada rasa semangat yang sulit dijelaskan. Entah karena matahari pagi Jakarta yang cerah atau karena harapan sederhana: "Semoga hari ini aku bertemu Kevin." Setelah sarapan dan diantar seperti biasa oleh ayahnya, Alina turun di tempat biasa
Pagi itu Jakarta masih berselimut kabut tipis. Langit berwarna abu muda menyambut langkah kaki Alina yang mantap menuruni tangga rumah. Seragam putih abu-abunya tampak rapi, rambut panjangnya diikat separuh ke belakang, menampakkan wajah manis yang berseri-seri. Tas punggung hitam sederhana menempel
Langit Jakarta siang itu sedikit mendung, namun tetap terasa panas dan gerah bagi Alina. Ia menghela napas pelan saat berjalan menyusuri koridor sekolah barunya. Gedung yang besar dan megah ini jelas berbeda dari sekolah lamanya di Bandung. Semua terasa asing, aroma cat tembok baru, lantai yang meng







