MasukPerjalanan menuju pinggiran kota terasa jauh lebih lancar dibandingkan dengan jalur padat di pusat bisnis Jakarta pagi itu. Di dalam kabin mobil yang sejuk, keheningan sempat bertahan lama sebelum akhirnya mobil melambat dan berbelok memasuki sebuah pekarangan yang luas.Di atas gerbang besi yang bercat putih terkelupas, tertulis papan nama sederhana, Panti Asuhan Kasih Mulia. Bangunan panti itu berbentuk rumah besar bergaya lama dengan halaman rumput yang hijau dan beberapa pohon mangga yang rindang. Suasana di sana terasa begitu tenang, berbanding terbalik dengan ketegangan yang merayap di dada Ana sejak kemarin.Begitu mobil berhenti dengan sempurna di bawah rindangnya pohon mangga, sang sopir dengan sigap turun dan membukakan pintu belakang. Ana melangkah keluar terlebih dahulu, merapikan blazer biru dongker yang dikenakannya. Sesaat kemudian, Gery menyusul turun. Pria itu langsung melepas jas formalnya, menyampirkannya di lengan kiri, dan membiarkan kemeja putihnya terbuka
Mobil sedan perak milik Ana membelah jalanan protokol ibukota yang mulai disergap kemacetan pagi. Sinar matahari pukul setengah delapan terasa mulai menyengat, memantul di antara kaca-kaca gedung pencakar langit. Fokus Ana terbagi antara memperhatikan marka jalan dan mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi rapat pleno penting bersama jajaran direksi perusahaan Gery. Di kursi penumpang, map dokumen biru tua yang sudah ditandatanganinya semalam tergeletak rapi, siap menjadi senjata utamanya hari ini.Tepat pukul 07.45, Ana melangkah melewati pintu kaca otomatis lobi kantor pusat milik Gery. Anaa berjalan dengan langkah taktis, tumit sepatunya mengetuk lantai marmer dengan irama yang tegas.Tapi, ketika dia keluar dari lift di lantai tempat ruang rapat utama berada, Ana mendadak menghentikan langkahnya. Dahinya berkerut dalam. Suasana di sekitar ruangan itu teramat sepi. Tidak ada kesibukan staf yang membawa berkas, tidak ada aroma kopi yang biasanya disiapkan untuk menjamu para
Sinar matahari pagi yang hangat mulai menerobos masuk melalui celah-celah gorden kamar tidur, memantulkan berkas cahaya di atas lantai kayu. Ana terbangun dengan rasa lelah yang masih menggelayuti sekujur tubuhnya, tapi alarm di ponselnya menjadi pengingat yang kejam bahwa jam sudah menunjukkan pukul enam pagi.Sesuai janjinya pada diri sendiri dan juga demi memenuhi ultimatum Ibu Dewi, Ana harus bersiap. Ana mengenakan setelan kerja yang tidak kalah rapi dari kemarin, sebuah blazer berwarna biru dongker yang memberikan kesan tegas dan profesional. Setelah mengecup kening Nia yang masih terlelap setelah tangis semalam, dan berpamitan pada Ibu Sari yang telah menyiapkan sarapan praktis, Ana memacu mobilnya membelah jalanan kota yang mulai merayap padat.Sebelum kakinya melangkah masuk ke gedung perkantoran Gery yang megah, Ana memutuskan untuk mampir sejenak ke Rumah Sakit Pusat Medika. Dia membutuhkan suntikan kekuatan moral dengan melihat wajah suaminya, meski pria itu masih te
Suasana malam di kediaman orang tua Ana terasa begitu sunyi ketika mobil yang dikendarai Pak Anton perlahan memasuki halaman rumah. Ana turun dari mobil dengan langkah yang teramat berat. Tas kerja dan map dokumen dari Gery didekapnya erat di dada, seolah benda-benda itu adalah satu-satunya pelindung yang tersisa dari kerapuhan jiwanya.Begitu pintu depan diketuk, daun pintu kayu jati itu perlahan terbuka, menampilkan sosok Ibu Sari. Wajah wanita paruh baya itu menyiratkan kelelahan yang mendalam, tapi matanya langsung memancarkan rasa iba yang teramat sangat ketika menatap putri tunggalnya. Rambut Ana sedikit berantakan, dan riasan tebal yang dipolesnya siang tadi kini tampak kusam, menyembunyikan wajah pucat di baliknya."Ana..." bisik Ibu Sari lirih.Sebelum Ana sempat membalas sapaan ibunya, dari arah dalam rumah terdengar suara langkah kaki kecil yang berlari tergesa-gesa. Sosok Nia muncul dari balik sekat ruang tamu. Matanya sembab, hidungnya memerah, dan kedua tangan kec
Malam semakin larut, dan keheningan di koridor rumah sakit terasa kian mencekam. Ana masih berdiri di depan kaca ruang trauma, menatap kosong ke arah tubuh Raka yang belum juga menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Matanya terasa panas karena air mata yang mengering, dan punggungnya terasa kaku akibat ketegangan yang mendera sejak siang tadi.Ibu Dewi, yang sejak tadi duduk termenung di kursi tunggu, perlahan bangkit berdiri. Langkah kakinya yang lambat terdengar menggema di sepanjang koridor yang sepi. Ibu Dewi berjalan mendekati Ana, lalu berdiri di samping menantunya itu, ikut menatap ke dalam ruang perawatan melalui kaca transparan."Ana... Lebih baik sekarang kamu pulang saja." panggil Ibu Dewi, suaranya terdengar jauh lebih rendah dan lelah dibandingkan beberapa jam lalu.Ana tidak langsung menoleh. Dia hanya mengerjapkan matanya yang sembap. "Aku mau di sini, Bu. Aku mau menunggu Mas Raka sampai dia sadar." Jawab Ana.Ibu Dewi menghela napas panjang, lalu memutar tubuhnya
Langkah kaki Ana terdengar samar, beradu dengan sunyinya selasar Rumah Sakit Pusat Medika yang kian larut. Aroma antiseptik yang tajam kembali menyergap indra penciumannya, membawa atmosfer kecemasan yang sempat teralihkan selama beberapa jam di restoran tadi. Setiap langkah yang diambil terasa berat, seolah-olah seluruh sisa energi di tubuhnya telah terkuras habis setelah menghadapi pesona sekaligus tekanan dari Gery. Tapi, pikiran tentang Raka yang terbaring tak berdaya memaksa kedua kakinya untuk terus melangkah maju menuju ruang trauma.Ketika berbelok di koridor utama, dari kejauhan Ana sudah bisa melihat sosok Ibu Dewi yang duduk gelisah di kursi tunggu. Wanita tua itu masih mengenakan pakaian yang sama dengan pakaian tadi siang, gurat wajahnya tampak kusut, tapi matanya yang tajam langsung menangkap kehadiran Ana yang berjalan mendekat.Ibu Dewi seketika bangkit dari duduknya. Alih-alih menyambut menantunya dengan pertanyaan tentang kondisinya atau kelelahan yang tergamba







