MasukMalam kian larut saat mobil Ana perlahan memasuki pelataran rumah. Dia duduk diam di balik kemudi selama beberapa menit, membiarkan mesin mobil tetap menyala.
Dia menatap map hitam di kursi penumpang, selembar kertas bertanda tangan yang telah menukar ketenangan jiwanya. Dia menyentuh wajahnya di cermin. Riasan dari salon tadi masih sempurna, tapi di matanya, dia hanya melihat orang asing yang baru saja menggadaikan harga diri demi kenyamanan orang lain. Lalu Ana mematikan mesin, mengambil map itu, dan melangkah masuk ke dalam rumah yang terasa seperti penjara mewah. Begitu pintu jati itu terbuka, Raka dan Ibu Dewi ternyata sudah menunggu di ruang tengah. Mereka duduk dengan gelisah, namun seketika bangkit berdiri saat melihat sosok Ana muncul. Suasana yang tadinya sunyi berubah menjadi riuh dengan harapan yang egois. "Ana! Kamu sudah pulang? Bagaimana? Dia tanda tangan? Katakan padaku dia setuju!" Ucap Raka sambil menghampiri Ana dengan langkah lebar. Wajahnya berseri-seri, matanya langsung tertuju pada map hitam yang didekap Ana. Ana tidak langsung menjawab. Dia menatap suaminya, mencari sisa-sisa rasa bersalah atau kekhawatiran di wajah pria itu, tapi yang dia temukan hanyalah binar ketamakan. "Ini.." bisik Ana lirih. Dia menyerahkan map itu dengan tangan yang terasa dingin. Raka menyambar map itu dengan cepat, membukanya dengan terburu-buru hingga kertasnya sedikit terlipat. "Dia melakukannya! Dia benar-benar menandatanganinya! Luar biasa, Ana! Aku tahu kamu tidak akan mengecewakanku!" Ucap Raka saat melihat goresan tinta hitam milik Gery. Ibu Dewi ikut mendekat, memakai kacamata bacanya untuk memastikan keaslian tanda tangan itu. "Lihat itu, Raka... ini adalah penyelamat keluarga kita. Ibu sudah bilang, kan? Pak Gery tidak akan bisa menolak permintaan dari menantu Ibu yang cantik ini." Ujar ibu Dewi dengan senyum tawanya. Ibu Dewi beralih menatap Ana, senyumnya melebar penuh kemenangan. Dia memegang bahu Ana, meremasnya sedikit seolah memberikan penghargaan pada alat yang telah bekerja dengan baik. "Kamu hebat, Ana. Ibu bangga padamu. Sekarang kita bisa tidur nyenyak. Besok Ibu akan telepon pihak bank dan vendor, kita akan bereskan semua tunggakan itu," ujar Ibu Dewi tanpa sedikit pun bertanya apakah Ana baik-baik saja, atau bagaimana perasaan Ana harus duduk berjam-jam menahan godaan pria asing. "Apakah kalian tidak ingin tahu apa yang terjadi di sana?" tanya Ana tiba-tiba dengan Suara datar, memecah tawa kecil Raka dan ibunya. "Maksudmu? Ya, dia pasti sangat terkesan padamu, kan? dia orangnya memang suka bicara, tapi yang penting hasilnya, Na. Hasilnya ada di tangan kita sekarang." Jawab Raka sambil tertawa kecil. "Dia menyentuhku, Raka, dia menahan tanganku di meja. Dia bicara tentang hal-hal yang tidak pantas. Dia memberiku syarat yang tersirat bahwa ini bukan pertemuan terakhir." ucap Ana lagi, kali ini lebih jelas. Matanya mulai berkaca-kaca. Raka terdiam sejenak, namun ekspresinya tidak berubah menjadi marah. Dia justru melambaikan tangannya seolah itu hal sepele. "Ah, Gery memang begitu. Dia suka menggoda. Tapi dia orang terpandang, Na. Dia tidak akan berani macam-macam lebih dari itu. Itu hanya bagian dari permainannya saja. Yang penting, kamu bisa mengatasinya, kan? Buktinya kamu pulang membawa kontrak ini." Jawab Raka dengan santai. Ana merasakan hatinya hancur berkeping-keping. Bukan karena perlakuan Gery, tapi karena reaksi suaminya sendiri yang menganggap pelecehan itu sebagai resiko kerja yang wajar. "Hanya itu? Hanya itu komentarmu? Kau bahkan tidak bertanya apakah aku merasa takut? Apakah aku merasa terhina saat dia menatapku seolah aku adalah barang yang bisa dia beli?" tanya Ana dengan suara bergetar. "Sudahlah, Ana! Jangan terlalu sensitif. Kamu sudah melakukan tugasmu sebagai istri yang berbakti. Jangan merusak suasana kemenangan ini dengan drama. Pikirkan Nia. Pikirkan rumah ini. Semua pengorbanan kecil pasti ada rasanya yang tidak enak, tapi lihat hasilnya, Kita selamat!" Ibu Dewi menyela dengan nada yang mulai meninggi. "Pengorbanan kecil… Bagi Ibu ini kecil, karena bukan Ibu yang duduk di sana. Bukan Ibu yang harus tersenyum saat martabatnya diinjak-injak." ulang Ana dengan getir. Raka mendekat, mencoba merangkul Ana, namun Ana menghindar dengan cepat. Raka menghela napas, tampak tidak sabar. "Ana, tolonglah. Aku lelah. Kita semua lelah. Malam ini adalah kemenangan besar. Kenapa kita harus meributkan detail-detail yang tidak perlu? Kamu sudah pulang, kamu aman, dan kita punya kontraknya. Itu sudah lebih dari cukup." Ucap Raka. Ana menatap kedua orang di depannya. Mereka adalah keluarganya, orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung terakhirnya. Tapi malam ini, dia menyadari bahwa di mata mereka, dia tak lebih dari sekadar aset perusahaan. Sebuah alat negosiasi yang kebetulan memiliki nama dan status sebagai istri. Tanpa sepatah kata pun lagi, Ana berbalik. Dia menaiki tangga menuju kamarnya dengan langkah yang berat. Di belakangnya, dia masih bisa mendengar suara Raka dan Ibu Dewi yang kembali berdiskusi dengan antusias tentang rencana bisnis mereka besok pagi, seolah-olah Ana tidak pernah ada di sana, seolah-olah luka di hatinya hanyalah catatan yang tidak penting. Begitu sampai di kamar, Ana tidak melepas gaun hitamnya. Dia duduk di lantai di samping tempat tidur Nia yang sudah terlelap, memeluk lututnya sendiri. Di kegelapan kamar itu, Ana menyadari satu hal yang menyakitkan. keluarganya memang selamat dari kemiskinan harta, tapi mereka baru saja kehilangan kekayaan yang paling berharga, nurani dan rasa hormat terhadap orang yang mereka cintai.Suasana di dalam restoran Sunda bergaya paviliun terbuka itu terasa begitu menyejukkan.Suara gemercik air dari kolam-kolam ikan yang mengelilingi tempat makan saung, berpadu dengan aroma harum nasi liwet dan ikan bakar yang baru saja disajikan di atas meja. Pelayan baru saja selesai menata piring-piring makanan, meninggalkan Ana dan Gery dalam privasi saung mereka. Ana, yang sejak kemarin selalu memasang benteng pertahanan yang tinggi dan kaku, kini tampak sedikit lebih santai. Sisi humanis Gery yang diaa saksikan di panti asuhan tadi pagi benar-benar telah mengikis sebagian besar rasa curiga dan ketakutannya.Gery mengambilkan secentong nasi liwet hangat, lalu mengulurkannya ke arah piring Ana dengan gerakan yang sangat natural. "Silakan, Ana. Makan yang banyak. Setelah ini kita akan menghadapi rapat pleno yang panjang, dan saya butuh ketajaman berpikirmu seperti kemarin." Ucap Gery."Terima kasih, Pak," sahut Ana, menerima suapan nasi itu dengan senyuman yang jauh lebih tulu
Suasana di dalam aula panti asuhan terasa begitu sejuk.Setelah membagikan paket makanan dan bingkisan buku cerita kepada anak-anak, Gery dan Ana diajak oleh Ibu Utami untuk duduk di area selasar dalam yang lebih tenang, berbincang di atas kursi rotan sederhana.Pelayan panti menyajikan secangkir teh melati hangat dan beberapa potong camilan pasar. Gery tampak begitu menikmati suasananya, menyesap tehnya dengan tenang, sementara jas formalnya kini diletakkan begitu saja di sandaran kursi."Saya benar-benar tidak tahu harus mengucapkan terima kasih seperti apa lagi kepada Pak Gery," buka Ibu Utami, matanya berkaca-kaca menatap pria di hadapannya. Ibu pengurus panti itu kemudian menoleh ke arah Ana, seolah ingin membagikan rasa kagumnya. "Ibu Ana, perlu Ibu ketahui, panti ini hampir saja digusur dua tahun lalu karena masalah sengketa tanah dengan pihak pengembang lain. Pak Gery lah yang turun tangan sendiri. Beliau membeli tanah ini atas nama yayasan, merenovasi bangunan yang bocor
Perjalanan menuju pinggiran kota terasa jauh lebih lancar dibandingkan dengan jalur padat di pusat bisnis Jakarta pagi itu. Di dalam kabin mobil yang sejuk, keheningan sempat bertahan lama sebelum akhirnya mobil melambat dan berbelok memasuki sebuah pekarangan yang luas.Di atas gerbang besi yang bercat putih terkelupas, tertulis papan nama sederhana, Panti Asuhan Kasih Mulia. Bangunan panti itu berbentuk rumah besar bergaya lama dengan halaman rumput yang hijau dan beberapa pohon mangga yang rindang. Suasana di sana terasa begitu tenang, berbanding terbalik dengan ketegangan yang merayap di dada Ana sejak kemarin.Begitu mobil berhenti dengan sempurna di bawah rindangnya pohon mangga, sang sopir dengan sigap turun dan membukakan pintu belakang. Ana melangkah keluar terlebih dahulu, merapikan blazer biru dongker yang dikenakannya. Sesaat kemudian, Gery menyusul turun. Pria itu langsung melepas jas formalnya, menyampirkannya di lengan kiri, dan membiarkan kemeja putihnya terbuka
Mobil sedan perak milik Ana membelah jalanan protokol ibukota yang mulai disergap kemacetan pagi. Sinar matahari pukul setengah delapan terasa mulai menyengat, memantul di antara kaca-kaca gedung pencakar langit. Fokus Ana terbagi antara memperhatikan marka jalan dan mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi rapat pleno penting bersama jajaran direksi perusahaan Gery. Di kursi penumpang, map dokumen biru tua yang sudah ditandatanganinya semalam tergeletak rapi, siap menjadi senjata utamanya hari ini.Tepat pukul 07.45, Ana melangkah melewati pintu kaca otomatis lobi kantor pusat milik Gery. Anaa berjalan dengan langkah taktis, tumit sepatunya mengetuk lantai marmer dengan irama yang tegas.Tapi, ketika dia keluar dari lift di lantai tempat ruang rapat utama berada, Ana mendadak menghentikan langkahnya. Dahinya berkerut dalam. Suasana di sekitar ruangan itu teramat sepi. Tidak ada kesibukan staf yang membawa berkas, tidak ada aroma kopi yang biasanya disiapkan untuk menjamu para
Sinar matahari pagi yang hangat mulai menerobos masuk melalui celah-celah gorden kamar tidur, memantulkan berkas cahaya di atas lantai kayu. Ana terbangun dengan rasa lelah yang masih menggelayuti sekujur tubuhnya, tapi alarm di ponselnya menjadi pengingat yang kejam bahwa jam sudah menunjukkan pukul enam pagi.Sesuai janjinya pada diri sendiri dan juga demi memenuhi ultimatum Ibu Dewi, Ana harus bersiap. Ana mengenakan setelan kerja yang tidak kalah rapi dari kemarin, sebuah blazer berwarna biru dongker yang memberikan kesan tegas dan profesional. Setelah mengecup kening Nia yang masih terlelap setelah tangis semalam, dan berpamitan pada Ibu Sari yang telah menyiapkan sarapan praktis, Ana memacu mobilnya membelah jalanan kota yang mulai merayap padat.Sebelum kakinya melangkah masuk ke gedung perkantoran Gery yang megah, Ana memutuskan untuk mampir sejenak ke Rumah Sakit Pusat Medika. Dia membutuhkan suntikan kekuatan moral dengan melihat wajah suaminya, meski pria itu masih te
Suasana malam di kediaman orang tua Ana terasa begitu sunyi ketika mobil yang dikendarai Pak Anton perlahan memasuki halaman rumah. Ana turun dari mobil dengan langkah yang teramat berat. Tas kerja dan map dokumen dari Gery didekapnya erat di dada, seolah benda-benda itu adalah satu-satunya pelindung yang tersisa dari kerapuhan jiwanya.Begitu pintu depan diketuk, daun pintu kayu jati itu perlahan terbuka, menampilkan sosok Ibu Sari. Wajah wanita paruh baya itu menyiratkan kelelahan yang mendalam, tapi matanya langsung memancarkan rasa iba yang teramat sangat ketika menatap putri tunggalnya. Rambut Ana sedikit berantakan, dan riasan tebal yang dipolesnya siang tadi kini tampak kusam, menyembunyikan wajah pucat di baliknya."Ana..." bisik Ibu Sari lirih.Sebelum Ana sempat membalas sapaan ibunya, dari arah dalam rumah terdengar suara langkah kaki kecil yang berlari tergesa-gesa. Sosok Nia muncul dari balik sekat ruang tamu. Matanya sembab, hidungnya memerah, dan kedua tangan kec







