LOGIN"Pak Gery, saya melakukan ini karena saya percaya bahwa Mas Raka adalah pria yang berdedikasi, dan saya percaya bahwa kerja sama ini bukan hanya soal keuntungan materi, tapi soal kepercayaan dua belah pihak." Jawab Ana dengan suaranya lembut namun memiliki ketegasan yang tertahan.
Gery terdiam, jemarinya yang semula masih mencoba menyentuh tangan Ana di atas meja kini berhenti. "Sama seperti Bapak yang menghargai kesetiaan dan pengabdian, saya pun berada di sini sebagai wujud komitmen saya pada visi yang Bapak dan suami saya bangun. Bukankah kerja sama terbaik adalah yang didasari oleh rasa hormat terhadap nilai-nilai keluarga?" Lanjut Ana dengan tegas. Gery tampak tertegun sejenak mendengar jawaban Ana yang begitu tertata, sebuah jawaban yang mengingatkannya bahwa wanita di depannya bukanlah sekedar pajangan, melainkan sosok yang memiliki kedalaman berpikir. "Jawaban yang sangat cerdas, Ana, kau benar-benar tahu bagaimana cara menempatkan diri," gumam Gery dengan senyum yang tampak lebih tulus tapi tetap mengandung misteri. Melihat celah itu, Ana perlahan menggeser kembali map hitam yang sempat terabaikan. Kali ini, Ana membukanya tepat di halaman terakhir, di mana kolom tanda tangan masih kosong melompong, menanti goresan tinta yang akan menentukan nasib hidupnya. "Jika Bapak benar-benar melihat pengabdian itu dalam diri saya malam ini, maka Bapak tentu tahu bahwa saya tidak akan tenang sebelum memastikan masa depan kerja sama ini terjamin. Tanda tangan Bapak malam ini bukan hanya soal bisnis bagi kami, Pak... tapi soal kepercayaan yang Bapak berikan kepada saya pribadi." lanjut Ana dengan nada merayu yang tipis, sesuai dengan instruksi suaminya namun tetap dua balut dengan kelas. Ana menatap Gery dengan pandangan memohon yang dipaksakan. Dia bisa merasakan keringat dingin membasahi punggungnya di balik gaun hitam itu. Gery menatap berkas itu, lalu menatap Ana bergantian. Keheningan yang tercipta terasa begitu panjang dan menyiksa. Hanya suara denting piano sayup-sayup dari sudut restoran yang mengisi ruang di antara mereka. "Kau sangat gigih, Ana, Raka benar, kau adalah negosiator yang jauh lebih berbahaya darinya. Kau menggunakan kelembutanmu sebagai senjata yang lebih tajam daripada data statistik mana pun." Ucap Gery sambil merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan sebuah pulpen mewah berlapis emas. Dengan gerakan yang lambat dan seolah sengaja ingin memperlama momen kekuasaannya atas Ana, Gery menarik map itu ke hadapannya dan tanda tangan di atas materai dengan goresan yang mantap. Sret.. Sret… Suara gesekan pena di atas kertas itu terdengar seperti musik kemenangan sekaligus lonceng kematian bagi hati nurani Ana. Selesai menandatangani, Gery tidak langsung memberikan map itu. Dia meletakkan tangannya di atas berkas tersebut, menatap Ana sekali lagi. "Ini dia, Ana. Kontrak yang sangat diinginkan suamimu. Aku memberikannya... karena kau," bisik Gery dengan lembut. Dia menggeser map itu perlahan ke arah Ana. Saat Ana hendak meraihnya, Gery menahan map itu sejenak, memaksa Ana untuk menatapnya. "Aku harap, ini bukan pertemuan terakhir kita secara... pribadi. Raka pasti akan sangat berterima kasih padamu malam ini, dan aku akan memastikan dia tahu betapa berjasanya kau dalam kesepakatan ini." Ucap Pak Gery kepada Ana. Ana menarik map itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia memeluk map kulit hitam tersebut di dadanya, seolah itu adalah perisai yang melindunginya dari tatapan Gery yang masih enggan beranjak. "Terima kasih, Pak Gery. Atas kepercayaan dan waktunya," ujar Ana sambil berdiri, berusaha sesegera mungkin mengakhiri pertemuan ini. "Sama-sama, Ana. Sampaikan salamku pada Raka. Katakan padanya, dia punya aset yang sangat... tak ternilai harganya," sahut Gery sambil mengangkat gelas anggurnya sebagai tanda penghormatan terakhir. Ana membalikkan badan, melangkah menjauh dari meja itu dengan perasaan yang campur aduk. Kontrak itu ada di tangannya, misi telah selesai, keluarganya terselamatkan dari kebangkrutan. Tapi, saat dia melangkah menuju lift, dia merasa tubuhnya begitu kotor. Kemenangan ini terasa hambar, menyisakan luka yang menganga di hatinya, sebuah luka yang dia tahu tidak akan bisa disembuhkan bahkan oleh tumpukan uang yang akan segera mengalir ke rekening suaminya.Suasana di dalam restoran Sunda bergaya paviliun terbuka itu terasa begitu menyejukkan.Suara gemercik air dari kolam-kolam ikan yang mengelilingi tempat makan saung, berpadu dengan aroma harum nasi liwet dan ikan bakar yang baru saja disajikan di atas meja. Pelayan baru saja selesai menata piring-piring makanan, meninggalkan Ana dan Gery dalam privasi saung mereka. Ana, yang sejak kemarin selalu memasang benteng pertahanan yang tinggi dan kaku, kini tampak sedikit lebih santai. Sisi humanis Gery yang diaa saksikan di panti asuhan tadi pagi benar-benar telah mengikis sebagian besar rasa curiga dan ketakutannya.Gery mengambilkan secentong nasi liwet hangat, lalu mengulurkannya ke arah piring Ana dengan gerakan yang sangat natural. "Silakan, Ana. Makan yang banyak. Setelah ini kita akan menghadapi rapat pleno yang panjang, dan saya butuh ketajaman berpikirmu seperti kemarin." Ucap Gery."Terima kasih, Pak," sahut Ana, menerima suapan nasi itu dengan senyuman yang jauh lebih tulu
Suasana di dalam aula panti asuhan terasa begitu sejuk.Setelah membagikan paket makanan dan bingkisan buku cerita kepada anak-anak, Gery dan Ana diajak oleh Ibu Utami untuk duduk di area selasar dalam yang lebih tenang, berbincang di atas kursi rotan sederhana.Pelayan panti menyajikan secangkir teh melati hangat dan beberapa potong camilan pasar. Gery tampak begitu menikmati suasananya, menyesap tehnya dengan tenang, sementara jas formalnya kini diletakkan begitu saja di sandaran kursi."Saya benar-benar tidak tahu harus mengucapkan terima kasih seperti apa lagi kepada Pak Gery," buka Ibu Utami, matanya berkaca-kaca menatap pria di hadapannya. Ibu pengurus panti itu kemudian menoleh ke arah Ana, seolah ingin membagikan rasa kagumnya. "Ibu Ana, perlu Ibu ketahui, panti ini hampir saja digusur dua tahun lalu karena masalah sengketa tanah dengan pihak pengembang lain. Pak Gery lah yang turun tangan sendiri. Beliau membeli tanah ini atas nama yayasan, merenovasi bangunan yang bocor
Perjalanan menuju pinggiran kota terasa jauh lebih lancar dibandingkan dengan jalur padat di pusat bisnis Jakarta pagi itu. Di dalam kabin mobil yang sejuk, keheningan sempat bertahan lama sebelum akhirnya mobil melambat dan berbelok memasuki sebuah pekarangan yang luas.Di atas gerbang besi yang bercat putih terkelupas, tertulis papan nama sederhana, Panti Asuhan Kasih Mulia. Bangunan panti itu berbentuk rumah besar bergaya lama dengan halaman rumput yang hijau dan beberapa pohon mangga yang rindang. Suasana di sana terasa begitu tenang, berbanding terbalik dengan ketegangan yang merayap di dada Ana sejak kemarin.Begitu mobil berhenti dengan sempurna di bawah rindangnya pohon mangga, sang sopir dengan sigap turun dan membukakan pintu belakang. Ana melangkah keluar terlebih dahulu, merapikan blazer biru dongker yang dikenakannya. Sesaat kemudian, Gery menyusul turun. Pria itu langsung melepas jas formalnya, menyampirkannya di lengan kiri, dan membiarkan kemeja putihnya terbuka
Mobil sedan perak milik Ana membelah jalanan protokol ibukota yang mulai disergap kemacetan pagi. Sinar matahari pukul setengah delapan terasa mulai menyengat, memantul di antara kaca-kaca gedung pencakar langit. Fokus Ana terbagi antara memperhatikan marka jalan dan mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi rapat pleno penting bersama jajaran direksi perusahaan Gery. Di kursi penumpang, map dokumen biru tua yang sudah ditandatanganinya semalam tergeletak rapi, siap menjadi senjata utamanya hari ini.Tepat pukul 07.45, Ana melangkah melewati pintu kaca otomatis lobi kantor pusat milik Gery. Anaa berjalan dengan langkah taktis, tumit sepatunya mengetuk lantai marmer dengan irama yang tegas.Tapi, ketika dia keluar dari lift di lantai tempat ruang rapat utama berada, Ana mendadak menghentikan langkahnya. Dahinya berkerut dalam. Suasana di sekitar ruangan itu teramat sepi. Tidak ada kesibukan staf yang membawa berkas, tidak ada aroma kopi yang biasanya disiapkan untuk menjamu para
Sinar matahari pagi yang hangat mulai menerobos masuk melalui celah-celah gorden kamar tidur, memantulkan berkas cahaya di atas lantai kayu. Ana terbangun dengan rasa lelah yang masih menggelayuti sekujur tubuhnya, tapi alarm di ponselnya menjadi pengingat yang kejam bahwa jam sudah menunjukkan pukul enam pagi.Sesuai janjinya pada diri sendiri dan juga demi memenuhi ultimatum Ibu Dewi, Ana harus bersiap. Ana mengenakan setelan kerja yang tidak kalah rapi dari kemarin, sebuah blazer berwarna biru dongker yang memberikan kesan tegas dan profesional. Setelah mengecup kening Nia yang masih terlelap setelah tangis semalam, dan berpamitan pada Ibu Sari yang telah menyiapkan sarapan praktis, Ana memacu mobilnya membelah jalanan kota yang mulai merayap padat.Sebelum kakinya melangkah masuk ke gedung perkantoran Gery yang megah, Ana memutuskan untuk mampir sejenak ke Rumah Sakit Pusat Medika. Dia membutuhkan suntikan kekuatan moral dengan melihat wajah suaminya, meski pria itu masih te
Suasana malam di kediaman orang tua Ana terasa begitu sunyi ketika mobil yang dikendarai Pak Anton perlahan memasuki halaman rumah. Ana turun dari mobil dengan langkah yang teramat berat. Tas kerja dan map dokumen dari Gery didekapnya erat di dada, seolah benda-benda itu adalah satu-satunya pelindung yang tersisa dari kerapuhan jiwanya.Begitu pintu depan diketuk, daun pintu kayu jati itu perlahan terbuka, menampilkan sosok Ibu Sari. Wajah wanita paruh baya itu menyiratkan kelelahan yang mendalam, tapi matanya langsung memancarkan rasa iba yang teramat sangat ketika menatap putri tunggalnya. Rambut Ana sedikit berantakan, dan riasan tebal yang dipolesnya siang tadi kini tampak kusam, menyembunyikan wajah pucat di baliknya."Ana..." bisik Ibu Sari lirih.Sebelum Ana sempat membalas sapaan ibunya, dari arah dalam rumah terdengar suara langkah kaki kecil yang berlari tergesa-gesa. Sosok Nia muncul dari balik sekat ruang tamu. Matanya sembab, hidungnya memerah, dan kedua tangan kec







