Share

Bab 9

Author: Kak Wina
last update publish date: 2026-05-29 19:22:49

Di lantai bawah, denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur kesabaran Ibu Dewi.

Meja makan sudah tertata rapi dengan nasi goreng hangat dan aroma kopi yang kuat, tapi kursi di samping Raka masih kosong.

​Ibu Dewi melirik ke arah tangga, lalu beralih pada Nia yang sedang mengunyah rotinya dengan pelan.

"Nia sayang, Bisa bantu Nenek? Coba ke atas, panggil Mama. Katakan pada Mama, kita semua sudah menunggu untuk sarapan. Kalau Mama sakit, b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 22

    Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang membelah pinggiran kota, sedan mewah hitam itu akhirnya melambat dan berbelok memasuki area proyek. Hamparan tanah merah yang luas, deretan tiang pancang yang kokoh, serta suara bising dari alat berat yang sedang beroperasi langsung menyambut mereka. Debu-debu jalanan berterbangan saat ban mobil melindas permukaan tanah yang belum rata.​Mobil berhenti tepat di depan sebuah bangunan semi permanen yang berfungsi sebagai kantor direksi keet lapangan. Gery turun terlebih dahulu, disusul oleh Ana yang langsung merapikan blazer hitamnya, mencoba menghalau rasa cemas yang sejak tadi menggerogoti dadanya.​Sopir mobil segera membuka bagasi, dibantu oleh beberapa staf lapangan yang berada di dekat sana. Kardus-kardus besar berisi makanan mewah dari restoran kolonial tadi dikeluarkan satu per satu.​Gery melambaikan tangannya kepada mandor utama, menginstruksikan sesuatu dengan suara yang cukup lantang di antara deru mesin penanam paku bumi.

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 21

    Langkah kaki Ana terasa berat saat dia berjalan beriringan dengan Gery menuruni lift menuju basement gedung. Setiap ketukan tumit sepatunya di atas lantai beton yang dingin seolah bergema, mengingatkannya bahwa dia sedang melangkah semakin jauh ke dalam rencana pria di sampingnya. Di area parkir khusus eksekutif, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam legam sudah menunggu dengan mesin yang menyala halus.​Sebelum Ana sempat meraih gagang pintu belakang, Gery sudah melangkah lebih cepat. Dengan gerakan yang terkesan sangat sopan tapi terasa dominan bagi Ana, pria itu membukakan pintu mobil untuknya.​"Silakan masuk, Ana. Perjalanan ke lokasi proyek agak sedikit jauh, jadi pastikan kamu duduk dengan nyaman," ucap Gery, lengkap dengan senyuman tipis yang tak pernah lepas dari wajahnya.​"Terima kasih, Pak," jawab Ana pendek.Ana segera masuk dan menggeser duduknya sedekat mungkin ke arah jendela kiri, sengaja menyisakan jarak yang lebar di kursi belakang.​Gery menyusul masuk dan men

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 20

    Di dalam kamar rumah orang tuanya, Ana menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Wajah yang beberapa jam lalu pucat dan sembab, kini telah tertutup oleh lapisan kosmetik yang tebal. Ana sengaja memilih setelan blazer formal berwarna hitam dengan kemeja putih di dalamnya, sebuah zirah yang dia harapkan bisa melindunginya dari pandangan-pandangan yang merendahkan martabatnya.​Setiap gerakan tangannya saat merapikan rambut atau memoles lipstik terasa begitu mekanis dan hambar. Pikirannya masih tertinggal di ruang trauma rumah sakit, di samping tubuh Raka yang tak berdaya. Tapi, jam di pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul dua belas lewat empat puluh menit. Waktu tidak menunggunya, dan kesepakatan pahit ini harus segera dia tunaikan.​Tepat pukul satu siang, mobil Ana memasuki pelataran gedung perkantoran milik Gery yang menjulang tinggi di pusat kota. Begitu melangkah masuk melewati pintu kaca besar di lobi, atmosfer kemewahan korporat langsung menyergapnya. Lantai mar

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 19

    Ibu Dewi menepuk-nepuk bahu Ana dengan kelembutan yang terasa asing.“Sekarang, kamu pulang dulu, Ana. Ganti pakaianmu, rapikan riasanmu yang luntur itu. Kamu harus terlihat segar dan profesional saat menemui Pak Gery nanti. Ibu yang akan menjaga Raka di sini bersama ayahmu." Ucap Ibu Dewi dengan lembut.​Ana hanya mengangguk patuh bagai kerbau dicocok hidung. Tapi, baru saja dia berbalik hendak melangkah meninggalkan selasar ruang trauma, ponsel milik Raka yang berada di dalam tas milik Ana kembali bergetar hebat. Nama Pak Gery berkedip di layarnya.​Ana menarik napas panjang, menatap layar itu dengan perasaan campur aduk sebelum akhirnya menggeser tombol hijau.​"Halo, Raka? Di mana posisi kamu? Dokumen amandemen kontrak yang semalam sudah saya siapkan di meja. Jam satu tepat kita bahas di ruangan saya, jangan terlambat," suara berat Pak Gery langsung terdengar mendominasi di seberang telepon, tanpa basa-basi.​Ana menjauhkan ponsel itu sejenak dari telinganya yang berdengung, lal

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 18

    Di koridor rumah sakit yang sunyi, keheningan terasa begitu menindas. Suara langkah perawat yang tergesa-gesa di kejauhan dan dengung mesin dari ruang trauma menjadi satu-satunya latar belakang dari drama yang tengah mengoyak batin Ana. Ibu Dewi sudah duduk membelakangi mereka di ujung lorong, menunjukkan sikap acuh tak acuh yang sengaja dipasang untuk menekan mental menantunya.​Pak Anton mendatangi Ana yang masih berdiri mematung di depan kaca ruang trauma. Wajah pria tua itu tampak letih, gurat-gurat kecemasan bercampur kepasrahan menghiasi wajahnya. Pak Anton menyentuh pundak Ana dengan lembut, mencoba menarik perhatian putrinya yang tatapannya mulai kosong.​"Ana... Dengar Ayah, Nak." panggil Pak Anton, suaranya pelan dan berat.​Ana tidak menoleh. Matanya tetap terpaku pada tubuh Raka yang dipenuhi selang di balik kaca. "Ayah juga mau menyuruhku pergi?" bisik Ana dengan lirih, hampir tak terdengar.​Pak Anton menghela napas panjang, meremas pundak Ana sedikit lebih erat. "A

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 17

    Ana terjebak dalam pusaran rasa bersalah yang diciptakan oleh orang-orang di sekitarnya, tepat di saat suaminya sedang bertaruh nyawa di balik dinding pembatas.Kata-kata Ibu Dewi barusan benar-benar meremukkan sisa-sisa kekuatan jiwa Ana.​Pak Anton berusaha menarik lengan putrinya agar kembali berdiri, Tapi Ana seolah kehilangan tulang-tulangnya. Dia merasa terlalu lumpuh untuk menghadapi kenyataan di depannya.​Ibu Dewi tidak membiarkan tangisan Ana menyurutkan amarahnya. Alih-alih luluh melihat menantunya yang hancur, mata wanita tua itu justru menyipit, memancarkan kalkulasi bisnis yang dingin bahkan di depan ruang gawat darurat.Ibu Dewi menghapus air matanya sendiri dengan tisu, lalu melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Ana yang masih menunduk.​"Bangun, Ana. Jangan cuma bisa menangis!" Ucap Ibu Dewi.Suara Ibu Dewi mendadak berubah, tidak lagi menjerit histeris, pelan tapi penuh penekanan yang kejam. "Menangis tidak akan membayar biaya pengobatan Raka, dan tidak akan men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status