๋ก๊ทธ์ธChapter 44 Suamiku Pagi datang perlahan di mansion itu, tidak dengan suara burung atau tawa, melainkan dengan ketenangan yang rapi. Tirai tipis yang bergerak pelan, cahaya matahari yang menyusup tanpa izin ke lantai marmer, dan aroma kopi yang samar tercium dari dapur. Luna duduk di ujung meja makan panjang, punggungnya tegak namun santai. Tangannya menopang cangkir teh hangat, sementara matanya mengawasi Liam yang duduk di kursi kecil khusus anak, kaki mungilnya bergoyang gelisah. "Tidak mau," gumam Liam untuk ketiga kalinya dan bibirnya mengerucut. Tangannya mendorong piring kecil berisi potongan buah menjauh. "Aku tidak mau sekolah!" Aami berdiri di sisi Liam, wajahnya tenang seperti biasa, tapi matanya penuh kesabaran yang terlatih. Ia mengusap rambut Liam perlahan, gerakannya lembut dan berulang. "Sayang," katanya dengan suara rendah. "Bukankah biasanya kau senang bertemu teman-temanmu di sekolah?" Liam menggeleng keras. "Tidak!" Luna meletakkan cangkirnya dan mendekati L
Chapter 43 Belajar Lebih Cepat Villa kecil itu tenggelam dalam senja ketika Diego tiba. Pintunya tidak dikunci dan Audrey memang tidak pernah menguncinya seolah ingin memberitahu dunia bahwa siapa pun boleh masuk. Di dalam cahaya lampu temaram memantul pada lantai marmer pucat, suara piano mengalir pelan, tidak megah, tidak penuh emosi justru terdengar dingin dan berhati-hati, seperti hanya jari-jari yang menekan tuts tanpa membiarkan hati ikut bermain. Audrey duduk tegak di bangku piano menggunakan gaun rumah sederhana membingkai punggungnya yang lurus, rambutnya tergerai rapi, wajahnya tenang dan damai. Diego berhenti beberapa langkah di belakangnya, membiarkan lagu itu selesai karena ia tahu memotong musik Audrey sama saja dengan menantang ular saat sedang melingkar. Nada terakhir jatuh dan menghilang, ruangan menjadi sangat sunyi. "Kau datang tepat waktu," kata Audrey tanpa menoleh. Diego tersenyum tipis. "Aku tahu kapan harus datang." Audrey berdiri dan menutup pian
Chapter 42 Murka yang Terlambat Pagi di depan sekolah taman kanak-kanak terlihat normal, seperti sekolahan elite pada umumnya. Bangunan bergaya klasik dengan pagar besi rendah berdiri anggun di antara pepohonan pinus. Anak-anak kecil datang dengan tas mungil di punggung mereka, sebagian tertawa, sebagian menguap, sebagian menangis pelan sebelum ditenangkan pengasuh. Mobil-mobil mahal keluar masuk dengan tertib, tempat itu seperti dunia lain di Palermo. Audrey berdiri di seberang jalan, bersembunyi di balik kacamata hitam dan topi sederhana. Ia tidak mendekat tetapi setiap pagi selalu datang di jam yang sama, duduk di bangku halte bus yang jarang dipakai, atau berdiri berpura-pura menunggu taksi. Ia mencatat semuanya di kepalanya, jumlah anak, wajah para pengantar, mobil yang paling sering berhenti terlalu lama dan tentu saja wajah Liam. Ia tidak akan pernah mengakuinya, bahkan pada dirinya sendiri, tapi pertama kali melihat anak itu dari kejauhan, dadanya terasa seperti diteka
Chapter 41 Merasa Aman Langkah Luna melambat begitu pintu utama mansion tertutup di belakangnya. Aroma laut yang lembap bercampur dengan wangi kayu tua menyambutnyaโtenang, nyaris menipu. Ia melepas mantel tipis, menyerahkannya pada salah satu pelayan, lalu berjalan ke arah ruang keluarga tanpa suara. Di sana, dunia seolah mengecil. Liam duduk di atas karpet tebal, kakinya terlipat canggung, lidahnya sedikit menjulur karena terlalu fokus. Mobil-mobilan kecil tersusun rapi membentuk jalur panjang, seperti konvoi yang diatur dengan keseriusan berlebihan untuk anak seusianya. Sesekali ia mendorong satu mobil ke depan, lalu berhenti, memastikan posisinya sejajar dengan yang lain. Di sofa, Luke duduk santaiโjika kata itu masih pantas untuk pria sepertinya. Satu lengannya bertumpu di sandaran sofa, rahangnya tegas, pandangannya tertuju pada Liam. Di sana ia tidak ikut bermain, hanya mengawasi. Luna berhenti sejenak, menyimpan pemandangan itu di dadanya dan merasakan kehangatannya. Bibi
Chapter 40Tanda TanganDua hari setelah kabar kehamilan Luna, mereka duduk berhadapan di ruang kerja Luke di sayap kanan lantai atas. Di atas meja kayu gelap setumpuk dokumen negara menjadi pemandangan biasa dan di sana dan seorang notaris resmi berdiri di sisi ruangan, ditemani dua orang yang terlalu tenang untuk menjadi orang biasa.Luke mendorong satu map tipis ke arah Luna. "Ini lebih aman," katanya singkat.Luna membuka map itu tanpa ragu. Isinya akta pernikahan sipil, klausul perlindungan identitas, penggabungan nama dalam sistem negara, dan satu baris kecil yang mengubah statusnya di mata hukum dan dunia bawah. Ia membaca semuanya dengan tenang, kata demi kata, baris demi baris, dan tidak ada keberatan. Pernikahan itu datang seperti keputusan yang dingin.Luke tidak menyatakan cinta, tidak melamar, tetapi cincin diselipkan ke jari Luna tanpa kata-kata manis dan tidak berlutut. Juga tidak ada lilin atau bunga di atas meja, tidak ada pastor yang memimpin upacara pernikahan, hany
Chapter 39Sesuatu yang BerubahPesawat yang membawa Luke mendarat saat matahari belum sepenuhnya tenggelam. Meksiko ditinggalkannya dalam keadaan bersih, orang-orang yang perlu menghilang sudah tidak ada, jalur distribusi sudah berpindah tangan, dan satu-satunya laporan yang masih berputar di kepalanya kini bukan tentang darah atau senjata. Tetapi, lima bulan adalah waktu yang tepat untuk sebuah wilayah jatuh tanpa suara.Teluk milik San Lorenzo itu hampir siap diambil, infrastruktur sudah dilemahkan dari dalam, jalur suplai dipotong perlahan, dan orang-orang kunci mereka mulai berpindah kesetiaan. Tinggal satu langkah terakhir, tetapi ukan pembantaian karena Luke tidak butuh kebisingan. Ia hanya perlu waktu yang tepat untuk melakukan eksekusi.Mobil hitam membawanya pulang tanpa iring-iringan, Sisilia menyambutnya dengan keheningan yang ia kenal dengan baik, sunyi yang lahir dari rasa takut. Begitu turun, seorang pelayan sudah berdiri menyambutnya dengan senyum dan dari matanya past







