LOGINUdara pagi yang kaku di lapangan beton Markas Besar EXO mendadak mendingin saat teriakan melengking Bella membelah barisan. Semua mata—ratusan pasang mata murid baru dan para instruktur—tertuju pada satu titik: seorang pemuda yang terus menunduk di barisan tengah. Di sampingnya, Luca merasakan keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tahu, jika identitas George terbongkar sekarang, mereka tidak akan pernah keluar dari kompleks beton ini dalam keadaan bernapas.Bella melangkah maju, sepatunya berdentum di atas aspal dengan irama yang mengintimidasi. Ia tampak kesal karena murid yang ia tunjuk seolah tuli dan mengabaikan otoritasnya. Namun, tepat saat Bella hendak mencapai barisan George, sebuah tangan kokoh menahan bahunya."Biar aku yang mengurus bocah keras kepala ini, Bella," ucap Alando, instruktur senior bertubuh tegap dengan wajah penuh bekas luka.Alando melangkah angkuh mendekati George. Ia menggunakan ujung tongkat militer hitamnya untuk mengangkat sedikit lidah topi George,
Aroma wiski tua dan cerutu yang terbakar memenuhi udara yang berat di dalam ruang kerja Don Lazaro. George melangkah masuk dengan aura yang mampu membekukan ruangan. Ia mengabaikan Luca yang memanggilnya dan Ernesto yang membungkuk hormat di depan pintu. Pikirannya masih dipenuhi bayangan Bella—dan amarah pada Jane yang berani menyentuhnya di pelataran bar tadi.George menerobos masuk ke kamar pribadi kakeknya, namun langkahnya terhenti saat melihat pemandangan di depannya. Don Lazaro, yang kabarnya sedang sekarat karena serangan jantung, kini duduk santai di sofa kulit sembari menyesap sampanye bersama Carlo. Tidak ada tabung oksigen, tidak ada wajah pucat pasi. Hanya ada dua pria tua yang tampak sangat menikmati kemenangan kecil mereka.George mendesah kesal, menjatuhkan tubuhnya di sofa di depan mereka dengan tatapan kebencian murni. "Sial. Aku kira aku harus segera memesan peti mati dan menyiapkan pemakaman malam ini," desis George, suaranya mengandung racun yang mampu membunuh.
Aroma cendana yang menenangkan berpadu dengan bau apek dari ribuan naskah kuno yang memenuhi rak-rak kayu ek tinggi hingga ke langit-langit. Di sana, di bawah cahaya lampu temaram, Don Lazaro berdiri mematung di depan koleksi buku-buku tuanya. Suara derap langkah pantofel mewah yang menggema di lantai marmer memberitahunya bahwa sang cucu telah tiba, namun sang singa tua itu tetap tak menoleh, jemarinya masih asyik menelusuri punggung buku yang usang.George Riciteli berhenti beberapa meter di belakang kakeknya. Ia berdiri tegak, memasukkan kedua tangannya ke saku celana bahan mahalnya, dan menatap punggung Don Lazaro dengan ekspresi malas. "Ada apa memanggilku, Kek?" tanyanya tanpa basa-basi.Don Lazaro menutup buku tebal di tangannya, suara deb buk buku itu memecah kesunyian. Ia memutar tubuhnya, menatap George dengan binar kebahagiaan yang jarang terlihat. Ia berjalan mendekat, menepuk kedua bahu George dengan bangga. "Kau akan segera menikah, George. Mulailah belajar bersikap de
Markas Besar Organisasi EXO, Milan – Pukul 07.00 Pagi.Fajar di Milan menyingsing dengan warna abu-abu baja, sedingin beton-beton yang membangun Markas Besar EXO. Di pelataran luas yang dikelilingi pagar kawat berduri dan menara pengawas, ratusan tentara bayaran berdiri dalam barisan yang sangat rapi. Di antara mereka, Bella Austin Castaro berdiri tegak. Wajahnya yang rupawan kini tertutup oleh topeng ketenangan yang kaku, matanya menatap lurus ke depan seolah jiwanya telah tertinggal di sebuah villa terpencil di perbukitan Como.Elena, yang berdiri beberapa baris di sampingnya, melirik dengan cemas. Ia menyenggol lengan Miller, berbisik pelan, "Apa yang terjadi pada Elang Betina kita di Como? Dia pulang semalam seperti hantu." Miller hanya menggeleng acuh, fokusnya terkunci pada Henry Cirilo yang sedang memberikan pidato taktis di atas podium.Setelah upacara pembubaran, Bella melangkah cepat menuju asrama. Ia mengganti seragam upacaranya dengan stelan taktis militer lengkap, bersi
Kesunyian yang menyakitkan menyelimuti villa tua itu setelah badai emosi mereda. Bella Austin Castaro melangkah menuruni undakan anak tangga batu dengan gerakan mekanis. Seragam taktis hitam EXO yang melekat di tubuhnya terasa seperti kulit kedua yang dingin dan kaku—sebuah pengingat akan jati dirinya yang tak bisa ia lepaskan. Rambut panjangnya diikat kencang ke belakang, menonjolkan rahangnya yang mengeras untuk menahan isak tangis. Di bahunya, ia menyampirkan tas hitam berisi senapan runduk, beratnya seakan mewakili beban dosa yang ia pikul.Di ujung tangga, ia berhenti sejenak. Matanya tertuju pada punggung lebar George Riciteli. Pria itu berdiri mematung di depan jendela besar yang menghadap ke danau, membelakanginya dengan keangkuhan yang melukai. George mendongak, menatap gelapnya langit seolah kehadiran Bella di ruangan itu hanyalah debu yang lewat. Sikap abai itu adalah racun yang paling mematikan bagi Bella.Tanpa sepatah kata pamit, Bella memalingkan wajah, mengusap titi
Matahari sore yang garang menyapu fasad batu kastil tua milik keluarga Jonas, memberikan rona oranye yang tampak seperti karat. Sebuah SUV hitam berhenti dengan decitan ban yang kasar. Fabrizio Jonas melangkah keluar dengan rahang mengeras. Hidungnya dibalut perban putih bersih, kontras dengan wajahnya yang masih lebam keunguan akibat hantaman George malam sebelumnya.Seorang pengawal berlari tergopoh-gopoh menghampirinya. "Tuan Fabrizio! Ada kiriman paket... dari orang tak dikenal. Baru saja tiba di teras utama."Fabrizio menghentikan langkahnya. Matanya menyipit penuh kecurigaan. Di dunia bawah tanah Italia, paket tanpa nama biasanya berarti satu dari dua hal: pesan perdamaian yang palsu atau bom yang akan meratakan gedung. "Siapkan tim penjinak! Malik, periksa!" perintahnya kasar.Malik, asisten setianya, segera maju ke depan. Para bodyguard mengepung sebuah kotak kayu besar yang diletakkan begitu saja di teras marmer. Dengan gerakan hati-hati, mereka mencongkel tutup kotak terse
Malam itu di markas besar Klan Riciteli, udara tidak lagi berbau mesiu dan ketakutan, melainkan aroma kemenangan yang mahal. Di tengah aula besar yang diterangi lampu kristal, Carlo berdiri mematung di hadapan Michele."Michele, maafkan kebodohanku..." suara Carlo bergetar, matanya menatap lantai,
Fajar hampir menyingsing di cakrawala Pantai Tirania, namun kegelapan masih enggan beranjak dari gedung Tahanan Khusus yang kini dikepung api dan debu. Di luar gerbang, kekacauan pecah layaknya medan perang. Suara dentuman meriam dari kapal Georgino bersahut-sahutan dengan rentetan senapan mesin p
Malam di Pantai Tirania bukan sekadar dingin; ia membeku, seolah-olah alam sendiri tahu bahwa di balik dinding beton tahan khusus Tartarus, sebuah pengkhianatan besar sedang dimasak. Salju tipis menempel pada kaca jendela mobil CRV hitam yang menepi di bayang-bayang pepohonan.Di dalam mobil, Paol
Lonceng tengah malam berdentang dari kejauhan, suaranya teredam oleh deru ombak yang menghantam tebing di bawah Tahanan Khusus Pantai Tirania. Udara sedingin es menusuk hingga ke tulang, membuat napas para penjaga berubah menjadi uap putih di bawah sorot lampu halogen yang temaram.Jose Alexander