LOGINBeratus-ratus mil dari kota Roma, atmosfer kota Palermo terasa jauh lebih tenang dan hangat. Sinar matahari senja berwarna keemasan menerpa deretan toko-toko tua di sepanjang jalanan batu. Di dalam sebuah toko bunga cantik beraroma wangi bernama "Lusiana’s Flower", Elena Botticelli tampak sedang menyusuri deretan ember-ember kayu berisi aneka bunga segar yang baru saja tiba. "Oh, Tuhan... kalian indah sekali." Wajah cantiknya berbinar lembut saat matanya menyapu kelopak-kelopak bunga berwarna-warni tersebut. Lusiana, sang pemilik toko yang merupakan seorang wanita paruh baya berwajah ramah, melangkah mendekati Elena dengan senyuman hangat. "Selamat sore, Dokter Elena! Kau datang di waktu yang sangat tepat. Bunga-bunga krisan dan lili ini baru saja dipetik pagi tadi dari perkebunan atas," sapanya ramah. Elena membalas senyuman itu dengan tulus. "Selamat sore, Bibi Lusi. Semuanya terlihat sangat indah... Tapi seperti biasa, aku sedang mencari bunga mawar putih." Dari seluruh jenis
Ruangan megah di dalam kastil keluarga Riciteli di Roma diselimuti keheningan yang mencekat. Cahaya dari lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit menguraikan pendar keemasan, memantul pada dinding marmer mahal dan furnitur mewah bergaya klasik. Namun, keindahan visual kastil itu sama sekali tidak sanggup mengikis atmosfer intimidatif dan penuh bahaya yang berembus di dalam ruangan tersebut. Di atas sebuah sofa beludru merah tua, duduk seorang wanita dengan kecantikan yang teramat sempurna namun mematikan. Bella Agustin Castaro—istri dari sang raja mafia George Lazaro Riciteli—bersandar anggun dengan sepasang mata tajam yang memancarkan aura predator murni. Jemari lentiknya yang terawat sibuk memainkan sebilah pisau analisis berbahan baja dingin, memutar-mutar mata pisau itu di antara jarinya dengan ketangkasan yang mengerikan. Di bawah kakinya, seorang pelayan wanita muda berseragam hitam-putih duduk bersimpuh, gemetar hebat dengan wajah yang pucat pasi tanpa darah.
Keesokan paginya, sinar matahari cerah menembus sisa-sisa awan mendung di atas kota Palermo, memantulkan kilatan cahaya yang indah di atas kaca-kaca jendela Rumah Sakit Anak Sant’Agata. Di dalam bangsal perawatan kelas melati, Elena Botticelli tampak berjalan dari satu ranjang anak ke ranjang lainnya dengan langkah kaki yang begitu ringan dan penuh semangat. Wajah cantiknya memancarkan aura kebahagiaan yang sangat cerah hari ini. Sembari memeriksa denyut nadi anak-anak, Elena dengan riang membagikan sekotak penuh biskuit manis dan cokelat berbentuk beruang kepada anak-anak kecil yang sedang dirawat di sana, memicu gelak tawa ceria di seluruh sudut ruangan. Mia, seorang suster muda berambut pirang yang juga merupakan salah satu teman baik Elena di rumah sakit, berdiri di dekat meja administrasi sambil memperhatikan tingkah laku sahabatnya dengan senyuman geli yang tertahan. Begitu Elena selesai membagikan makanan manis dan melangkah keluar dari bangsal, Mia segera mengekor di bel
Tiga puluh menit berlalu, mobil Rolls-Royce hitam itu perlahan mengurangi kecepatannya dan akhirnya menepi dengan mulus di area parkiran sebuah gedung apartemen kelas menengah di pinggiran kota Palermo. Hujan yang mengguyur kota sejak sore kini mulai mereda, menyisakan rintik-rintik gerimis kecil yang tipis.George melangkah keluar dari mobil, menolak payung yang disodorkan oleh pengawalnya, lalu berjalan berdampingan bersama Elena untuk mengantarkan gadis itu hingga sampai ke depan pintu unit apartemennya yang berada di lantai tiga.KLIK...Elena memutar kunci pintu kayu apartemennya, lalu berbalik menghadap George dengan senyuman tulus. "Kita sudah sampai, Tuan Alando. Terima kasih banyak karena sudah bersedia meluangkan waktu Anda yang berharga untuk mengantarkanku pulang dengan selamat."George hanya memberikan anggukan kepala yang dingin namun tetap berwibawa. "Sama-sama, Dokter Elena."Merasa tidak sopan jika langsung membiarkan penyelamatnya pergi begitu saja dalam kondisi jas
Rumah Sakit Anak Sant’Agata perlahan mulai diselimuti oleh warna gelap menjelang malam. Koridor-koridor yang biasanya bising oleh suara tangisan atau tawa anak-anak kini berangsur senyap.Di dalam ruang kerjanya, Elena Botticelli sedang merapikan beberapa dokumen terakhir ke dalam tas kulitnya. Gerakannya terhenti saat sebuah nada getar pendek terdengar dari ponsel pintarnya yang tergeletak di atas meja.Elena meraih benda tersebut, mendapati sebuah pesan singkat dari kakak laki-lakinya, Jacobs.“Elena, maafkan aku. Malam ini aku tidak bisa menjemputmu ke rumah sakit karena ada tugas penyelidikan mendadak di kantor pusat. Pulanglah lebih awal dan berhati-hatilah di jalan.”Elena mengembuskan napas pendek, namun seulas senyum maklum terukir di bibirnya. Sebagai adik seorang perwira polisi, ia sudah sangat terbiasa dengan jadwal mendadak seperti ini. Jemari lentiknya dengan cepat mengetik balasan.“Iya, Kak, tidak apa-apa. Aku mengerti. Aku bisa pulang menggunakan taksi malam ini. Kau j
Elena berjalan perlahan menyusuri lorong rumah sakit yang mulai sepi untuk menuju ke arah lobi kepulangan. Namun, saat langkah kakinya melewati depan pintu ruang ICU tempat Alando dirawat, ia refleks menghentikan langkahnya dan menoleh. Di depan pintu kayu itu, tampak Luca masih berdiri tegak bersama dua orang bodyguard. Elena terdiam sejenak di posisinya, jemarinya meremas tali tasnya. Ada dorongan kuat di dalam hatinya yang bertanya, apakah sebaiknya aku menemui Alando sebentar hanya untuk sekadar memastikan kondisi medis dan mentalnya setelah keributan tadi? Namun ia segera mengurungkan niatnya mengingat bahwa jam ini adalah waktu istirahat ketat bagi pasien pasca-trauma. Luca yang memiliki ketajaman mata seorang mafia segera menyadari keberadaan Elena. Ia tersenyum tipis, memanggil nama Elena dengan sopan, lalu melangkah lebar menghampiri gadis itu. "Dokter Elena," sapa Luca ramah. Elena tersenyum tipis, mencoba bersikap senatural mungkin. "Ah, Tuan Luca. Apakah Tuan Bes







