LOGINIni bukan makan siang pegawai kantor biasa yang harus menggunakan fasilitas cicilan hanya untuk beli ponsel pintar keluaran terbaru. Ini makan siang ala konglomerat di sebuah restoran eksklusif yang bahkan sendal plastik andalanku pun kemungkinan dilarang untuk dibawa masuk.
Arthur menyebutkan namanya pada pria yang menyambut kami di pintu masuk. Tidak ada pengecekan ulang daftar reservasi, kami langsung dituntun menuju meja terbaik yang telah dipersiapkan.
Belum sempat membuka buku menu, seorang pelayan pria dengan kemeja putih dan rompi hitam sudah berdiri di samping meja, membawa sebotol wine yang diselimuti napkin putih di lengannya.
Dia menuangkan sedikit cairan merah itu ke dalam gelas milik Arthur dengan presisi, lalu membiarkan chairman di depanku ini mencicipinya. Anggukan kecil dari Arthur menjadi kode untuk pelayan itu bisa menuangkan lebih banyak ke gelasnya.
“Tuangkan juga untuk tamuku,” perintah Arthur, bahkan tanpa repot-repot memandang ke arahku.
Si pelayan bergerak ke sampingku, lalu mengisi gelasku tanpa menunggu persetujuan pemiliknya.
“Alkohol di jam kerja, huh?” Aku berdecak dengan seulas senyum sinis. “Mau bikin saya mabuk, terus memanfaatkan keadaan?”
Arthur hanya melirikku sekilas lalu menyesap pelan isi gelas di tangannya. “Kurangi nonton film drama. Imajinasimu terlalu berlebihan.”
“Ulang tahun saya masih lama. Kita enggak lagi merayakan sesuatu, kan?” Nada ketus masih sangat terasa dalam kalimatku. Mode waspada pada otaku memang selalu menyala jika sedang berada di dekatnya.
“Bergabungnya dirimu di museumku, memang patut untuk dirayakan. Tapi, ini hanya makan siang biasa. jangan terlalu dipikirkan.” Jawabnya, datar dan terukur. Sebagaimana Arthur biasa bicara.
“Baiklah, Pak Arthur. Cut the crap.” Dengusan pelan kembali lolos dari hidungku. “Saya bersedia nemenin anda makan siang karena memang ada hal yang perlu kita bahas.”
“Saya menyimak. Kamu mau mulai dari mana, Cassidy?” tanyanya.
Gerakan pelan Arthur saat menaruh gelas wine di atas meja sejenak membuatku kehilangan fokus. Dengan cara bersikap yang penuh kendali seperti itu apa dia pikir, dirinya adalah pangeran William?
“Bagaimana kamu bisa kenal Papa?” Aku membasahi bibir yang mendadak kering sebelum melanjutkan pertanyaan. “Siapa orang yang menggeledah rumah Papa dua hari yang lalu. Dan sebenarnya apa yang mereka cari?”
Kali ini, aku tidak akan melepaskan mata itu. Aku ingin kejujuran dari pemilik sepasang mata paling tajam yang pernah kulihat ini.
“Mari kita mulai dengan Gilded Serpent,” ucap Arthur tanpa keraguan. “Saya dan ayahmu berkerja untuk organisasi itu.”
Ada jeda yang tercipta ketika Arthur kembali meneguk wine di gelasnya kemudian menempelkan punggungnya pada sandaran kursi yang empuk. “Seorang ahli restorasi sepertimu pasti pernah dengar nama itu. Organisasi yang biasa menyenangkan para pecinta seni. Saya yang mendapatkan klien, dan ayahmu yang menyiapkan pesanannya.”
Tubuhku menegang. Aku memang pernah dengar desas-desus tentang organisasi itu. sebuah sindikat bawah tanah untuk bisnis jual beli karya seni ilegal yang jaringannya menggurita sampai ke luar negeri. Namun, terlibat ke dalamnya sungguh tidak pernah masuk ke dalam daftar keinginanku.
“Biar saya perjelas,” ucapku dengan tangan yang mengepal di bawah meja. “Jadi kamu dan Papa kerja untuk mafia?”
“Itu kedengarannya agak kasar. Tapi, sayangnya, kamu tidak salah.” Jawaban arthur membuat tenggorokanku tercekat.
“Dan orang yang menggeledah rumahmu adalah orang yang sama dengan kelompok orang yang membuat Henry menghilang. Prabu Digdaya,” tambahnya dengan penuh ketenangan yang membuatku resah.
Dahiku mengerut mendengar nama itu. “Maksud kamu, Prabu Digdaya yang itu?"
Di negara ini, tidak ada lagi nama Prabu Digdaya yang aku tahu selain seorang senator yang sedang gencar kampanye tentang lingkungan.
“Ya, satu-satunya.” Ada senyum tipis yang muncul dari bibirnya.
Ironi ini memang patut di tertawakan. Bahkan yang mati-matian membangun citra sederhana dan merakyat di televisi saja masih harus memenuhi rumahnya dengan koleksi karya seni dari pasar gelap. Mereka memang bajingan.
“Orang-orang yang waktu itu mengintaimu di Amsterdam juga orang suruhan Prabu. Kami sudah bertemu dan dia mengakuinya.”
Mendadak aku terbatuk kencang. Kalimat yang diucapkan Arthur dengan begitu santai itu benar-benar mengagetkanku.
“Kamu kerjasama dengan mereka?” intonasi suaraku melonjak naik. Membuat beberapa pungunjung di meja seberang refleks menoleh ke arahku.
“Dari awal, kami memang bermitra. Dia melakukan pesanan, Henry menyiapkan. Tapi hari dimana transaksi seharusnya berlangsung, Henry justru membawa kabur pesanan itu,” papar Arthur tanpa terpengaruh sedikitpun dengan reaksi kagetku.
“Saya menemui Prabu hanya untuk memastikan, dia dan orangnya belum membunuh Henry. Mereka hanya ingin barangnya kembali,” imbuhnya.
“Barang apa?” tanyaku lagi, berusaha menekan volume suara meski dadaku kian bergemuruh. “Dari tadi kita membahas Papaku mencuri barang. Tapi kamu enggak pernah bilang barang sialan apa yang lagi kita bicarakan ini?”
Kehadiran pelayan yang datang membawakan makanan utama membuatku tersentak kecil. Dengan raut wajah yang kaku dan gerakan yang canggung, mereka tampaknya sadar telah menyela perdebatan kami.
“Habiskan dulu makananmu. Setelah ini, saya akan tunjukan studio ayahmu yang mungkin bisa menjadi petunjuk,” titah Arthur yang sudah memegang garpu di tangannya. Siap menikmati makanan seolah rentetan informasi yang baru saja dia paparkan, yang membuat kewarasanku nyaris hilang adalah hal sepele.
Aku menarik napas dalam-dalam, menatap nanar pada potongan daging sapi premium di hadapanku. Dengan emosi yang sedang berkecemuk di dada, bagaimana bisa aku menikmati makanan sialan ini. Musik klasik, Aroma daging, dan Arthur di hadapanku. Percampuran dari ketiganya membuat denyut di kepalaku semakin kuat.
Yang bisa aku lakukan hanyalah meraih gelas dan meneguk habis sisa wine di dalamnya sampai ternggorokanku terasa terbakar.
“Saya ke toilet sebentar,” pamitku tanpa menunggu persetujuannya.
Aku beranjak, melangkah dengan lutut yang terasa seperti jeli. Begitu pintu toilet tertutup dibelakangku, pertahananku runtuh. Aku mencengkeram pinggir wastafel yang dingin, menatap pantulan diriku di cermin.
Sialan. Aku benci melihat diriku yang tampak menyedihkan dan tidak tahu apa-apa.
Kuputar keran, lalu mulai membasuh wajahku berkali-kali. Berharap kesegaran air bisa melunturkan sesak yang menyiksa dadaku.
Selama belasan tahun, aku terlalu sibuk menyalahkan Papa atas nasib malangku yang harus tumbuh tanpa sosok ibu. Aku begitu sibuk memelihara jarak di antara kami sampai aku lebih memilih untuk terbang ke Belanda, menjauh darinya.
Dan sekarang ketika aku begitu ingin menemuinya, merangkak mencari jalan kembali pulang, aku malah tersesat. Aku kesulitan mencari petunjuk karena fakta pahit menenggelamkanku dalam penyesalaan. Ternyata aku terlalu sedikit mengenal tentangnya.
Aku terisak. Air mata rindu yang aku tahan selama belasan tahun akhirnya luruh di pipiku.
Pa, aku kangen. Papa di mana?
Arthur menatap dingin pada Diah dan Duan yang mengekor di belakangku. Kedua pengawal itu masuk ke dalam penthouse dengan tangan yang dipenuhi tumpukan kantong belanja berlogo merek-merek mewah, berjuang menjaga keseimbangan saat melangkah masuk ke dalam penthouse.“Kamu berniat membuka gerai fesyen di rumah saya?” tanya Arthur dengan satu alis terangkat.Dia melepaskan jas hitamnya, dan mengendurkan dua kancing teratasnya sebelum mendaratkan tubuh dengan santai di sofa panjang ruang tengah.Aku meliriknya sekilas lalu berjalan melewatinya dengan raut acuh tak acuh. Namun, ingatan tentang kartu hitam miliknya yang harus segera aku kembalikan membuat aku menghentikan langkah. Aku berbalik, lalu menaruh kartu hitam itu di atas meja rendah di depan Arthur.“Terimakasih atas kemurahan hati anda, Tuan Chairman,” ucapku sarkastik.Arthur tidak terpengaruh oleh sindiranku. Satu sudut bibirnya terangkat, menampilkan senyum miring yang menjengkelkan. Matanya menyapu tumpukan kantong belanjaan d
Hanya butuh dua kali dering sebelum sambungan teleponku diangkat oleh Arthur. Sambil berjalan mondar-mandir di depan jendela kamar, aku segera mengutarakan keresahanku begitu Diah berlalu dari kamar.“Aku enggak mau belanja bareng Diah,” cetusku, tidak memberi Arthur sapaan basa-basi.“Ada apa, Cassidy?” Suara berat Arthur terdengar tenang dari seberang saluran, diiringi samar-samar gemeresik lembaran dokumen. “Bibirmu masih menginginkanku, sampai-sampai kamu harus menelepon pagi-pagi begini?”Pipi mendadak terasa hangat, tetapi aku menahan napas, menolak terpancing oleh ucapan provokatifnya “Kamu suruh Diah nemenin aku beli gaun buat acara lelang nanti malam?”“Ya, bukankah bagus jika acara belanja ditemani oleh sesama wanita? Duan tidak akan mengerti warna gaun atau perhiasan yang cocok untukmu.”“Tapi enggak sama Diah!” tegasku.“Jangan memicu drama kekanak-kanakan, atau saya batalkan rencana kita ke rumah lelang,” ancam Arthur. Intonasinya berubah rendah, sarat akan otoritas yang
Kalimatku membuat Arthur membeku. Kuncian jemarinya pada tengkukku sedikit mengendur, bersama wajahnya yang satu sentimeter menjauh. Tidak lebih dari itu, sorot matanya tidak menujukan kemarahan, dan tak ada makian kasar yang keluar dari bibirnya. Padahal aku sudah mengetatkan rahangku mempersiapkan diri untuk reaksi murka Arthur atas penawaran nekat yang baru saja aku tawarkan.Hanya butuh jeda singkat sebelum raut datarnya berubah. Kekehan pelan yang bernada mengejek meluncur dari bibirnya. Manik mata yang masih diselimuti kabut alkohol itu kini menatapku tajam. Keheranan yang sempat membuatnya membeku kini berubah menjadi ketertarikan liar pada tantangan yang disodorkan. Pria siap membeli permainanku.“Menjual daya tarikmu untuk bertransaksi dengan saya?” bisik Arthur rendah, sempat menggetarkan nyali yang susah payah aku pertahankan. “Sebutkan harganya, Cassidy.”“Bawa aku ke Rumah Lelang Larasati,” pintaku tegas tanpa mengedipkan mata, menjaga intonasinya agar tetap dingin dan ta
Sudah lewat tengah malam dan pikiran tentang Kompas Hyade di dalam daftar barang lelang terus menjagaku dari rasa kantuk. Rasa ragu sempat menyelinap saat memikirkan cara supaya bisa ikut Arthur ke acara lelang itu. Acara itu pasti dihadiri oleh orang-orang penting negara ini, termasuk Prabu Digdaya. Arthur jelas tidak akan membiarkanku berada di tempat terbuka yang membahayakan nyawaku.Namun, semakin aku berpikir, semakin aku yakin bahwa kompas itu bisa menuntunku pada astrolab. Bahkan mungkin, ada petunjuk mengenai hilangnya Papa. Apapun resikonya, aku harus ikut.Kaki telanjangku menapakkan langkah di marmer dingin ruang tengah. Aku sudah tahu harus ke mana mencari Arthur selarut ini. Arthur dan minibar di tengah malam memang tidak bisa dipisahkan. Pria itu biasa duduk berlama-lama di bawah remangnya lampu minibar yang menggantung rendah.Punggung tegap Arthur menyambutku ketika aku menginjakkan kaki di area bar. Di tangannya botol wiski yang hampir habis digenggam erat. Tanpa ge
Sensasi dingin menjalar dari ujung jemari hingga ke dasar tengkuk. Diah, gadis muda yang begitu telaten merawatku dengan senyum lembutnya ternyata adalah eksekutor lapangan berdarah dingin. Jika aku membandingkan garis waktu kabar kematian Rajh di berita dengan hari di mana aku bertemu Diah, sungguh mengerikan membayangkan bahwa dia baru saja merenggut nyawa seseorang.Malam itu, setelah seharian aku dikurung Arthur di ruang arsip museum, Diah menyambutku dengan secangkir teh hangat dan memastikan aku nyaman di kamar tamu. Senyum ramahnya, benar-benar menipuku. Rasa mual mendadak mengocok perutku.Derap langkah salah satu pengawal Arthur yang melintas di koridor area servis membuyarkan lamunanku. Suara pintu yang tertutup menandakan ia masuk ke salah satu ruangan. Aku tidak boleh ketahuan.Dengan napas tersengal yang kutahan sekuat tenaga, kumatikan layar ponsel itu. Kubersihkan sidik jariku pada kain kemeja, mengembalikan ponsel dan vial obat ke dalam kotak karton, lalu menyelipkanny
Berjam-jam aku habiskan di depan laptop untuk melakukan riset. Puluhan jurnal yang terebar di internet aku baca perlahan. Sebagian besar teori sudah kukuasai, tetapi beberapa jurnal baru terbitan luar negeri tetap memberiku petunjuk serta pemahaman baru.Aku hampir melupakan makan siang kalau bukan Diah yang mengingatkan. Gadis itu berdiri mematung di ambang pintu tanpa berani melangkah sejengkal pun melewati batas ruang kerja Arthur.“Bisa bawakan ke sini makan siang saya?” pintaku tanpa menoleh ke arahnya. Jurnal yang sedang ku baca di layar monitor terlalu menarik untuk aku tinggalkan.Walau pun tidak langsung menjawab, sudut mataku menangkap anggukan kecil dari Diah yang masih berdiri canggung di ambang pintu. Lalu beberapa menit kemudian makan siang pun di antar Diah, lengkap dengan potongan buah dan air putih dingin.Waktu bergulir cepat. Duan akhirnya muncul menemuiku di ruang kerja Arthur sambil membawa dua cangkir teh dan satu kotak bronis panggang yang dia sodorkan di depanku







