Beranda / Rumah Tangga / DIA BUKAN BAPAKKU / Tak ada yang inginkan dia

Share

Tak ada yang inginkan dia

Penulis: KARTIKA DEKA
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-06 00:41:39

“Terserah! Asal jangan tinggal sama kami!” tegas Nisma dengan suara yang meninggi.

Hadi tetap tak beranjak. Hanya Yusuf yang mau menerima kehadirannya. Dia tak ada uang, mau kemana dia pergi? 

Kemarin ada petugas lapas yang kasihan dan memberi ongkos padanya. Dia bertanya kesana kemari, mencari alamat anak-anaknya yang ternyata cukup jauh dari tempat tinggalnya. Hadi terpaksa meminta-minta agar ada uang untuk ongkos ke rumah Farah. Tak mungkin dia pergi begitu saja setelah menemukannya. 

Nisma mulai tak sabar, dengan kasar, dia mendorong Hadi, hingga Hadi mundur ke belakang. Wanita cantik itu juga dengan tanpa belas kasihan pada orang tua itu, menarik tangan Hadi hingga ke pintu rumah dan mendorongnya keluar, hingga Hadi jatuh ke tanah dengan posisi terduduk. 

Ternyata apa yang dilakukan oleh Nisma mengundang perhatian para tetangga yang tadi kebetulan melihat Farah dibawa ke klinik. Mereka semua tercengang melihat kejadian itu. Keluarga Yusuf selama ini terkenal adem ayem saja. Tak pernah datang masalah. Bahkan tak pernah terdengar pertengkaran suami istri. Tak heran, kalau kejadian ini sangat mengagetkan. 

Seorang Ibu paruh baya yang kasihan melihat Hadi, langsung mendekat. Ibu itu tetangga sebelah rumah Farah dan kenal dengan Nisma, Rundiah namanya. 

“Nisma, ada apa? Siapa Bapak ini?” tanya wanita bertubuh gemuk itu. 

Nisma tak langsung menjawab. Dia tak ingin mengakui Hadi adalah bapaknya. Matanya nyalang menatap Hadi, berharap Hadi tidak membuat drama yang membuat keadaan menjadi tak nyaman baginya. Apalagi sampai membuatnya tersudut. 

“Bukan siapa-siapa, Buk. Makanya saya mau usir dia dari sini. Dia mau coba ganggu keluarga Kak Farah,” kata Nisma. 

“Nisma, maafkan Bapak, Nak. Bapak sudah bertobat,” kata Hadi membuat mata Nisma melotot. Sepertinya Hadi memang sengaja mengungkap identitasnya. 

Dia sangat yakin, kalau Hadi sengaja melakukan itu, agar terkesan dirinya telah berbuat jahat pada Hadi. 

“Ini bapakmu, Nis?” tanya Rundiah. Tetangga yang lain juga tampak terkejut dan mulai berkasak-kusuk. Meski tak ramai, tetapi cukup membuat Nisma merasa tersudut dengan tatapan mereka. 

“Nggak, Buk. Bapak saya dan Kak Farah sudah meninggal!” tegas Nisma. Ya, sejak peristiwa itu, Nisma sudah menganggap bapaknya meninggal.

Hadi menatap Nisma dengan tatapan nanar. Sedemikian parah sakit hati anaknya, hingga menganggapnya sudah mati. 

“Nis … apa kamu tak bisa maafkan Bapak?” tanya Hadi dengan suara tercekat-cekat menahan tangis membuat semua orang merasa iba.  

Rundiah mulai menyadari, kalau Hadi benar-benar orang tua kandung Nisma. Dia mencoba menasehati Nisma agar tak durhaka pada bapaknya. 

“Nisma, setiap orang pernah melakukan kesalahan. Kalau orang lain saja bisa kita maafkan, apalagi Bapak sendiri,” nasehat Rundiah. 

Nisma ingin membantah, tetapi tak tahu bagaimana. Di tempat tinggal Farah tak ada yang tahu tentang mereka. Begitu juga dengan tempat tinggal Nisma. Mereka sengaja pergi jauh, ke tempat yang tak ada mengenali mereka. Apalagi dulu, saat akhirnya peristiwa itu terungkap, banyak orang sekitar rumah lama mereka yang tahu. Beruntung dulu bukan era seperti saat ini yang semua serba viral. Hingga wajah mereka tak dikenali masyarakat se Indonesia. 

“Nak … Ibu tak tahu, apa kasalahan yang pernah dibuat oleh bapakmu. Tapi dia tetap bapakmu. Kamu akan jadi anak durhaka kalau menyia-nyiakan dia. Apalagi dia sudah bertaubat.”

Nisma mengepal kuat buku-buku tangannya. Ingin rasanya dia berteriak, kalau bapaknya seorang pedo fil yang tega memangsa anaknya. Tak peduli, apakah bapaknya sekarang sudah tobat atau tidak, Nisma tetap tak bisa menerima kehadiran bapaknya di tengah-tengah mereka. 

Tatapan Hadi tampak memohon, menimbulkan rasa belas kasihan di hati siapapun yang melihatnya. Kecuali Nisma yang sudah tahu seperti apa bapaknya. 

“Bu, dia ini manusia yang tak perlu dikasihani!” kata Nisma dengan tegas. 

“Astaghfirullah hal adzim. Jangan bilang begitu, Nak. Setiap manusia pasti pernah khilaf, apalagi ini bapakmu sendiri,” ucap Rundiah untuk menyadarkan Nisma. 

“Maaf, Bu. Kesalahan yang dia lakukan, bukan kesalahan kecil. Tapi–” Nisma urung melanjutkan kata-katanya. Dia takut, kelepasan bicara dan akhirnya mengungkap semuanya. 

Susah payah dirinya dan Farah bangkit dari keterpurukan di masa lalu di lingkungan yang baru. Kehadiran Hadi kembali, jelas membuat mereka merasa terancam. Nisma tak mau lagi menghadapi rasa malu seperti yang dulu mereka rasakan. Bukan hanya malu, dulu mereka gamang menghadapi masa depan. 

“Walau sebesar apapun kesalahannya,” kata Rundiah. “Apa kamu nggak kasihan, lihat Bapak kamu udah tua begini harus luntang lantung di jalanan?” 

Sebenarnya ingin Nisma membantah. Ingin dia mengatakan biar saja lelaki itu jadi gelandangan, tetapi lidahnya terasa kelu. 

Mobil Tegar kembali, dan parkir di halaman rumah Yusuf. Tegar keluar dari mobil dan mendekati Nisma. 

“Kita pulang,” ajaknya. Rundiah agak bengong melihat sikap Tegar yang juga tampak dingin pada Hadi. 

“Kakak gimana, Mas?” tanya Nisma. 

“Sudah sadar, tapi masih lemah. Tekanan darahnya drop,” jelas Tegar sambil melirik Hadi yang hanya bisa menunduk. 

“Sebentar, aku kunci rumah Kakak dulu,” kata Nisma yang tak mau Hadi masuk ke dalam rumah. 

“Kata Bang Yusuf, biar dia di rumah ini.”

Nisma terperanjat sejenak mendengar perkataan suaminya. 

“Nggak. Aneh sekali Bang Yusuf, malah mau membiarkan ular masuk ke dalam rumah!” ketus Nisma. 

“Astaghfirullah hal adzim.” Rundiah yang mendengar perkataan Nisma sampai beristighfar. 

‘Perbuatan apa yang dilakukan oleh Bapak ini, sampai anaknya menolaknya sedemikian rupa?’ benak Rundiah.

~~~~~~

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • DIA BUKAN BAPAKKU   Isi surat

    “Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un,” kata Yusuf.Farah yang sedang menidurkan Genta, reflek melihatnya. Tadi Yusuf memang menerima telepon dari seseorang. Yusuf bicara dengan orang yang menghubunginya tanpa keluar dari kamar. Makanya Farah bisa mendengarnya. “Baik, Pak. Saya akan segera kesana,” kata Yusuf lagi, lalu hening. Yusuf mendengarkan orang di sebrangnya bicara, lalu melihat Farah. “Insha Allah, Pak.” Tak lama, Yusuf mengucap salam, lantas meletakkan hapenya di atas meja rias. Dia tampak menghela nafas dalam. Seperti ada hal yang berat yang harus dia sampaikan pada Farah. “Siapa yang meninggal, Bang?” tanya Farah. Yusuf melihatnya, lalu melihat Genta yang sudah tertidur. Bukannya menjawab, Yusuf malah membuka lemari dan mengambil sebuah amplop dari dompetnya.Perlahan dia jalan mendekati Farah, lalu duduk di sebelahnya. “Abang ada amanah dari seseorang untuk kamu,” kata Yusuf lalu memberikan amplop itu pada Farah. Alis Farah menaut, tetapi tetap menerima amplop itu kar

  • DIA BUKAN BAPAKKU   Tak bisa lupa

    “Udahlah, kamu nggak usah cerita soal keburukan istri kamu itu. Aku sudah tenang tanpa kamu sekarang. Jadi jangan ganggu aku lagi,” sela Nisma yang tak mau mendengar penjelasan suaminya, tepatnya, mantan suami. “Sayang–” Tegar berhenti karena Nisma melototinya. “Um, Nis. Aku mohon. Bagaimana cara aku menebus kesalahan sama kamu? Aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Walau aku menikahi Ajeng, tetap aja yang kuingat itu, kamu,” kata Tegar memohon. “Gi la kamu ya. Bisa-bisanya kamu mikirin perempuan lain di saat sudah beristri. Pantas aja, cerai lagi dalam waktu singkat,” ejek Nisma. “Bukan itu yang menyebabkan kami pisah,” kata Tegar, lalu cepat menyambung ucapannya sebelum Nisma memotongnya lagi. “Ajeng tak selembut kelihatannya. Dia bukan istri dan menantu yang menurut. Bahkan, sejak keuangan dipegang sama dia, warung nyaris aja pailit. Dia menyelewengkan uang penjualan setiap hari. Warung cabang, bahkan sudah mengurangi banyak karyawan, karena tak sanggup menggaji. Ibu jadi jatuh saki

  • DIA BUKAN BAPAKKU   Ingin rujuk

    Sudah enam bulan berlalu. Semuanya sudah berjalan seperti biasa, kecuali Yusuf yang rutin mengunjungi Hadi. Yusuf memahami, kesalahan masa lalu Hadi sulit untuk dimaafkan oleh istrinya, tetapi Yusuf mencoba menempatkan diri sebagai orang yang memberi kesempatan ada Hadi untuk memperbaiki diri. Farah yang tengah bersiap untuk menjemput Lila dari sekolah, dikejutkan dengan kehadiran Tegar. “Kak, tolong kasih tau dimana Nisma sekarang,” kata Tegar dengan wajah memohon. Farah menatap wajah Tegar dengan sorot mata yang tajam. “Buat apa?” tanyanya.Tegar menelan ludah. Sudah lama, sejak dia berpisah dari Nisma dia tak lagi datang, apalagi mencari Nisma.“Saya … ingin merujuk Nisma, Kak,” kata Tegar agak ragu, khawatir memancing amarah Farah. Mata Farah menyipit mendengarnya. “Kenapa? Bukannya kamu udah nikah lagi sama wanita yang dipilihkan ibu kamu?” Tegar hanya bisa menunduk lesu. “Saya menyesal sudah menuruti keinginan Ibu, Kak. Saya nggak bisa melupakan Nisma.”“Nggak mungkin, kamu

  • DIA BUKAN BAPAKKU   Surat titipan

    Lelaki tua itu merogoh saku bajunya, lalu mengeluarkan sebuah amplop. Dilihatnya amplop itu untuk sesaat, lalu diberikan pada Yusuf. Yusuf melihat dengan heran.“Mungkin, Bapak tak akan punya kesempatan untuk minta maaf lagi secara langsung sama Farah juga Nisma. Kamu simpan surat itu, berikan pada mereka kalau Bapak nanti meninggal dunia,” kata Hadi dengan mata berkaca-kaca dan suara yang bergetar.Yusuf terpaku memandangi amplop lusuh di tangan Hadi. Sepertinya, surat itu sudah sangat lama Hadi simpan. Tangannya sempat ragu untuk menerima. Seakan berat amanah yang dititipkan padanya. Namun akhirnya ia menunduk pelan, meraih amplop itu dengan kedua tangan.“Baik, Pak. Saya simpan. Insha Allah, nanti saya sampaikan,” ucap Yusuf, suaranya serak.Hadi hanya mengangguk, lalu menunduk menahan isak yang hendak pecah. Sesaat, suasana di halaman lembaga perawatan lansia itu hening, hanya terdengar desir angin sore yang menerbangkan debu dan daun kering.Yusuf menatap lelaki renta di depannya

  • DIA BUKAN BAPAKKU   Diantar ke tempat penampungan

    “Kok Pak Hadi dibawa lagi?” tanya Imah dengan bingung. Entah pada siapa, yang jelas ada Rundiah dan Sarah di dekatnya. Saat ini, ketiganya sedang duduk di depan rumah Sarah yang berada di depan rumah Imran.“Ya berarti memang benar dia pelakunya,” kata Rundiah.“Tapi kok, kayaknya polisinya baik banget,” kata Sarah. “Biasanya, kalau sama pelaku apalagi pelaku yang cabul sama anak-anak, polisi itu paling nggak suka, bisa kasar sikapnya. Jangankan polisi, kita aja gitu. Emang suka, lihat orang jahat kayak gitu.” Begitulah pembicaraan orang yang awam. “Iya juga. Pak Hadi juga nggak diborgol kan?” kata Rundiah. “Ya mungkin, karena Bang Yusuf nggak nerima Pak Hadi. Ingatkan, kejadian kemarin itu. Apa jangan-jangan, Farah yang nggak mau dan udah ngomong sama Bang Yusuf,” kata Imah pula. “Bisa jadi. Tapi kok ya Farah itu kejam kali sama bapaknya sendiri. Kesalahan masa lalu, ya aturan jangan diungkit lagi. Pak Hadi sekarang juga udah baik. Buktinya, nggak ada masalah selama dia tinggal d

  • DIA BUKAN BAPAKKU   Masa lalu yang sulit dimaafkan

    Yusuf akhirnya sampai ke rumah Imran. Terpaksa dia izin dari perusahaan tempatnya bekerja. Imran mengajak polisi dan Hadi ke rumahnya. Rumah sederhana itu, seketika terasa penuh, karena memang ruangan tamu rumah Imran kecil. Sengaja Imran tak mengajak duduk di mushola, agar tak menjadi pusat perhatian dan akan ada yang datang untuk mencuri dengar.“Assalamualaikum,” sapa Yusuf saat masih di teras dan terus melangkah masuk ke dalam rumah Imran. “Waalaikumsalam.” Semuanya menyambut salam Yusuf.Saat mata Yusuf bertemu dengan mata Hadi, Hadi langsung menunduk dalam. Yusuf segera menyalami para polisi, Imran dan tentunya Hadi. Tangan pria tua itu terasa dingin, terlihat jelas kalau dia menyimpan ketakutan di hatinya. Yusuf menarik napas dalam-dalam. Matanya tajam menatap sosok Hadi yang bahkan tak berani mengangkat wajah. Ada perasaan aneh mengalir di dadanya, antara amarah, iba, dan bingung harus bersikap seperti apa.“Silakan duduk, Yusuf,” kata Imran lembut.Yusuf duduk di dekat Imr

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status