Share

Pria Bodoh

Auteur: DAUN MUDA
last update Date de publication: 2026-03-15 15:38:28

Beruntungnya, di kota baru ini, aku tidak benar-benar memulai dari awal. Pengalaman pernah ikut meninjau laporan keuangan dan memimpin tim kecil untuk proyek cabang baru perusahaan milik keluarga, memiliki nilai tambah.

Didukung oleh rekan bisnis papa yang mempermudah aku diterima di Monexia Dynamics.

Aku menatap pantulan diriku dari kaca lift. Memakai setelan kerja hitam dengan rambut ditata rapi dan wajah penuh tekad.

Lalu lift sampai di lantai tujuanku. Di depanku terbentang lorong kantor Monexia yang luas dan lantai mengkilap. 

Ini adalah perusahaan teknologi besar yang sedang berkembang pesat. Dan mulai hari ini, di sinilah tempatku bekerja.

Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum menuju meja sekretaris. Lalu wanita di sana tersenyum ramah.

“Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?”

“Aku Dilara. Aku memiliki jadwal bertemu direktur hari ini.”

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat karena gugup ketika sekretaris itu mengetuk pintu sang direktur. Padahal aku pernah berada di posisi lebih buruk dari ini.

“Masuk.”

Ketika kakiku melangkah, ruangan itu cukup luas, dengan sofa melingkar yang mungkin biasa digunakan untuk rapat internal mendadak, dan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian.

Meja kerjanya berwarna hitam besar dan si direktur sedang duduk sambil membaca dokumen. Matanya tidak langsung menatapku. Setelah menyelesaikan apa yang dibaca, ia mengangkat kepalanya.

Hal pertama yang kutangkap adalah pria ini cukup tenang. Wajahnya tampan dengan mata tajam. Seperti bisa membaca kegugupanku tanpa bertanya.

“Dilara Pasha?”

“Iya, Pak.”

Ia menutup dokumen itu perlahan.

“Duduk.”

Aku menarik kursi di depan mejanya dan duduk. Adnan menatapku dengan sorot menilai.

“Aku udah baca berkasmu. Pengalaman kerjamu cukup baik. Tapi ada yang menarik."

Aku sedikit mengerutkan alis dan menunggu Adnan bersuara. Ia menyandarkan punggung di kursi dan matanya menatapku.

“Enam bulan lalu, namamu muncul di berita. Wanita yang ditinggal di hari pernikahan.”

Kata-kata itu seperti luka baru yang baru saja Adnan ukir kembali. Tapi aku berusaha santai karena enggan menunjukkan luka di depan orang lain.

“Kalau hal itu masalah bagi perusahaan, Anda bisa membatalkan perekrutan saya, Pak.”

“Aku nggak peduli sama drama pribadi pegawaiku. Aku cuma peduli satu hal. Hasil.”

Belum sempat aku menyanggah, Adnan membuka sebuah map dan mendorongnya ke arahku.

“Ini proyek pertamamu dan tim.”

Sebuah proyek perusahaan yang rumit, ambisius, dan bukan pekerjaan mudah untuk pegawai baru sepertiku.

“Kamu direkrut sebagai Strategic Project Lead. Menangani proyek eksperimen perusahaan. Dan kamu yang mimpin.”

Aku mengangkat alis sedikit.

“Langsung memimpin proyek?”

“Kalau kamu mau pekerjaan yang mudah, kamu datang ke perusahaan yang salah, Dila.”

Di halaman pertama tertulis besar : PROJECT SOLVIO. Sebuah platform teknologi keuangan baru milik Monexia Dynamics.

“Apa ini fintech?” tanyaku.

“Yap. Itu adalah proyek platform pembayaran, investasi mikro, dan pinjaman bisnis. Kalau proyek ini berhasil, Monexia bakal masuk ke tiga pasar sekaligus.”

Aku membuka halaman berikutnya dan membaca dengan seksama.

“Tentukan siapa target pengguna, gimana produk ini diluncurkan, dan gimana competitor bisa kalah."

"Karena proyek ini penting, kalau kamu dan tim gagal …” Adnan menatapku dengan ekspresi teramat serius. “Aku akan pecat siapa pun yang jadi beban.”

Pria ini tidak ramah sama sekali bahkan pada karyawan baru. Tidak pura-pura dan kejujurannya teramat dingin. 

Aku tidak tahu apakah akan berhasil atau tidak. Yang pasti, aku ingin menenggelamkan diri dalam pekerjaan demi melupakan masa lalu dan menjadi pribadi lebih baik.

“Baik. Saya terima pekerjaan ini. Kalau saya gagal, Anda bisa pecat saya.”

Senyum tipis muncul di bibirnya.

“Percaya diri banget putri keluarga Aditya Pasha satu ini.”

“Bukan percaya diri. Saya hanya bekerja sesuai kemampuan, Pak.”

“Oke, kita lihat hasil kerjamu dan tim.”

Aku mengangguk, mengambil dokumen itu lalu berbalik menuju pintu. Namun sebelum keluar, aku mendengar suaranya lagi.

“Dilara!”

Aku menoleh. “Iya, Pak?”

“Pria yang ninggalin kamu itu, Rifat Aydan, aku pikir dia cukup bodoh karena melepas seseorang kayak kamu.”

Aku terdiam karena terkejut bahwa Adnan ternyata cukup menyelami seluk belukku sebagai karyawan barunya.

“Terima kasih untuk penilaian Anda, Pak.”

****

Pagi ini di ruang rapat Monexia Dynamics yang dikelilingi dinding kaca, meja panjang, dan layar proyektor besar, aku memimpin rapat. Beranggotakan empat pria dan dua wanita yang lebih tua dariku.

Ada yang menatapku dengan rasa penasaran, menilai, dan jelas-jelas meragukan. Seolah anak baru sepertiku tidak bsa menjawab tantangan karir ini.

“Kami lumayan kaget. Kok bisa ada pegawai baru tapi langsung jadi project lead.”

Mereka tertawa pelan, seperti meremehkan. Padahal tidak semua yang dianggap ‘junior’ tidak bisa bekerja melebihi ‘senior’.

“Usia tidak bisa dijadikan patokan menilai kemampuan seseorang.”

Tanpa memberi mereka kesempatan untuk membalas, aku membuka laptop dan menyalakan layar presentasi.

“Lebih baik kita tidak perlu buang waktu dengan basa-basi.”

Ruangan langsung berubah hening dan slide pertama muncul di layar.

“Mayoritas perusahaan fintech fokus pada dua target. Generasi muda yang akan membuka usaha dan investor. Dan kita tidak akan masuk ke sana.”

“Kalau bukan mereka, lalu siapa?”

Aku mengganti slide lagi. Foto pasar kecil, kios makanan, dan bengkel muncul di layar.

“UMKM kecil.”

“Itu beresiko. Banyak kredit macet di sana.”

“Itu karena perusahaan fintech besar tidak benar-benar menguasai solusinya. Padahal, sektor UMKM punya cakupan keuntungan yang besar,” jawabku.

Aku menampilkan data lain di layar. Mereka mulai memperhatikan dengan serius penjelasanku selanjutnya. Lalu mulai berbisik dan ekspresi Andre, sebagai kepala pengawas dan audit keuangan Monexia, menjadi sedikit terkesan.

“Idemu nggak buruk, tapi harus diperhitungkan manajemen resikonya,” katanya.

“Tentu. Ini hanya gambaran besarnya. Harus dirinci kembali agar berhasil.”

Kepala mereka mengangguk lalu pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka.

Adnan berdiri di sana.

Ia masuk dengan langkah tenang. Aku tidak tahu sejak kapan ia menguping rapat internal ini. Kalaupun dia ingin bergabung sejak awal, aku tidak keberatan.

Kemudian mengambil tempat duduk di sebelah Andre dan menatapku.

“Gimana kalau kompetitor terbesar kita ternyata udah masuk ke pasar yang sama tiga bulan sebelum peluncuran proyek ini, Dil?”

Andre tersenyum kecil, seolah berkata 'matilah kau, Dila'. Tapi otakku berpikir cepat lalu menjawab.

“Kita ganti meluncurkan layanan yang tidak mereka miliki.”

Adnan sedikit menyipitkan mata dan tertarik dengan penjelasanku.

“Jelaskan.”

“Kalau kita datang sebagai layanan keuangan untuk UMKM, kita bukan pesaing. Kita solusi.”

Aku menjelaskan detailnya lebih dalam hingga mereka bisa memahami cara berpikirku. Karena sudah mendekati jam makan siang, akhirnya rapat selesai dan akan dibicarakan lebih lanjut dengan mengumpulkan tim.

“Kayaknya proyek ini bakal lebih menarik dari yang kukira,” ucap Andre.

Satu per satu dari mereka keluar dari ruangan. Tinggal aku dan Adnan masih berada di ruangan ini.

“Ada kemungkinan besar perusahaan lain juga lagi mengembangkan proyek fintech. Termasuk perusahaan milik … sepupuku. Kalau itu sampai terjadi, kamu harus siap melawannya, Dila.”

Kemudian Adnan keluar dan pintu tertutup. Meninggalkan aku sendirian di ruang rapat.

“Sepupu? Siapa sepupunya?”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Wanita Yang Sulit Diabaikan

    Suara langkah sepatu yang tegas dan berirama itu memecah percakapan kami.Adnan Aydan berdiri di sana, dengan setelan jas navy yang dipotong sempurna, tangannya memegang sebuah map hitam. Begitu aku menoleh, langkah kakinya terhenti.Kedua mata kami beradu selama beberapa detik. Kemudian aku berdiri lebih tegap dan tersenyum padanya.“Pagi, Pak Adnan.”Pagi ini, aku bukan lagi wanita yang terlihat ‘berusaha tegar’ karena badai masa lalu. Tapi setelan kerja warna merah menyala ini memberi penegasan tentang keberanian dan peringatan dariku. Bahwa kini aku siap membalas siapapun yang menyerang bahkan menyakitiku tanpa alasan jelas.Adnan memperhatikan sekilas riasan wajahku yang tegas, bibir merah menantang, dan binar mata penuh keyakinan tanpa sisa air mata. Sebuah citra wanita sempurna yang mandiri, berbahaya, dan sulit diabaikan.Mata Adnan kemudian sedikit menyipit saat menatapku. Karena Dilara yang ia lihat kemarin siang, berbeda jauh dengan Dilara yang ia lihat pagi ini. Dan aku tah

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Permainan Dimulai

    Patah hati mengajarkan bahwa rasa sakit ini bisa mengubahku menjadi seseorang yang … berbahaya.Tangaku bersedekap dekat jendela apartemen, memandangi lampu kota dari bawah, dan rambut tertiup angin malam. Pemandangan seperti ini menenangkan. Tapi pikiranku sibuk menyusun rencana.“Adnan, Kenan.”Dua orang berbeda namun memiliki pintu yang mengarah ke Rifat. Dan aku ada di antara mereka berdua.Kali ini, aku mau Rifat melihat ketegaranku hingga dia menyesal. Bahwa tanpanya, aku bisa jauh lebih baik, menarik, dan diinginkan. Bukan memohon agar kembali dinikahi.Cuih !!!Kini, aku akan membuat diriku dikejar, dicintai, bahkan diperebutkan dua orang yang memiliki kedudukan sekaligus. “Rencana sempurna, Dilara.” Sudut bibirku terangkat tinggi.Tekad ini tidak akan padam sampai Rifat menyesal, mencium kakiku sambil meminta maaf."Adnan, Kenan, mari bersenang-senang."Dengan senyum percaya diri, aku membuka koper alu mengambil kaca dan duduk di sofa.Ikat rambut kulepas dan menatap wajahku

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Dua Umpan Sekaligus

    Bila aku memilih pergi, berarti telah menutup dan melupakan perbuatan Rifat. Tapi bila aku memilih tetap bekerja di sini dan membantu Adnan, berarti aku akan melihat wajah Rifat lagi. Tidak sekali, tapi mungkin berkali-kali. Oh Tuhan!Peluang luka di hati yang pernah ia torehkan, bukan berarti tidak akan kembali terbuka. Atau justru makin terbuka lebar.Aku bimbang harus bagaimana. Tapi, ada satu hal yang kupelajari setelah hidupku dihancurkan Rifat lalu menjadi bahan gunjingan orang. Bahwa jika aku terus lari dari takdir yang seakan mendekatkanku padanya, itu artinya aku masih mencintainya.Tidak! Aku harus bangkit dan menebalkan telinga atas apa yang pernah terjadi! Dan aku bersumpah tidak akan memaafkannya sebelum ia mencium kakiku.Akhirnya, hari ini aku memutuskan untuk pindah ke sebuah apartemen di pusat kota setelah memutuskan untuk tetap bekerja di perusahaan Adnan. Jika dia pernah menyinggung masa laluku, berarti dia juga mengetahui hubunganku dengan Rifat. Aku hanya perlu

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Sepupu Saling Menghancurkan

    Aku percaya satu hal. Jika ingin bertahan di tempat baru, jangan memberi orang lain kesempatan meremehkanmu terlalu lama.Kadang takdir bekerja dengan cara yang aneh. Ia tidak datang momen besar yang menegangkan atau peristiwa yang berdarah-darah. Tapi justru muncul dalam hal yang tak terduga sama sekali.Setelah menunjukkan kemampuan terbaik yang kumiliki dalam rapat barusan, aku masih duduk sendiri. Laptop masih terbuka, slide terakhir terpampang di layar proyektor.Tapi pikiranku melayang ke momen satu hari yang lalu dan kata-kata Adnan barusan.“Rifat Aydan. Adnan Aydan. Perusahaan milik sepupunya. Clue apa ini?”Nama belakang mereka sama. Aku pikir itu hal yang wajar karena jaman sekarang nama belakang tidak berarti marga. Dua hari ini aku mengabaikannya dan entah mengapa sekarang hatiku merasa ada yang janggal.Selama dua tahun berkencan, aku mengenal pria itu hanya sebagai Rifat saja. Kesibukanku sebagai wanita karir, tidak sempat mencari tahu tentang keluarganya. Dan sekarang

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Pria Bodoh

    Beruntungnya, di kota baru ini, aku tidak benar-benar memulai dari awal. Pengalaman pernah ikut meninjau laporan keuangan dan memimpin tim kecil untuk proyek cabang baru perusahaan milik keluarga, memiliki nilai tambah.Didukung oleh rekan bisnis papa yang mempermudah aku diterima di Monexia Dynamics.Aku menatap pantulan diriku dari kaca lift. Memakai setelan kerja hitam dengan rambut ditata rapi dan wajah penuh tekad.Lalu lift sampai di lantai tujuanku. Di depanku terbentang lorong kantor Monexia yang luas dan lantai mengkilap. Ini adalah perusahaan teknologi besar yang sedang berkembang pesat. Dan mulai hari ini, di sinilah tempatku bekerja.Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum menuju meja sekretaris. Lalu wanita di sana tersenyum ramah.“Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?”“Aku Dilara. Aku memiliki jadwal bertemu direktur hari ini.”Jantungku berdetak sedikit lebih cepat karena gugup ketika sekretaris itu mengetuk pintu sang direktur. Padahal aku pernah berada di posisi le

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Tanpa Mempelai Pria

    “Mbak, apa mempelai prianya ... masih di perjalanan?”Aku mengerutkan kening sedikit.“Rifat belum datang?”“Belum.”Aku menghela nafas karena kebiasaan Rifat akhir-akhir ini yang sering terlambat. Terlalu sibuk dengan jabatan barunya.Namun hari ini adalah hari pernikahan kami. Seharusnya dia mengutamakannya.“Tunggu bentar ya? Dia pasti segera sampai.” Aku kembali seorang diri di dalam kamar lalu mataku menatap jam dinding.10.05 pagi.Upacara pernikahan seharusnya dimulai pukul sepuluh tepat. Aku pikir lima menit keterlambatan bukan masalah besar.Aku mengambil ponsel dan mengirim pesan ke nomer Rifat, tapi hanya tercentang satu. Kembali aku mengirimkan pesan dan hasilnya sama. Lalu aku menekan tombol panggil tapi tidak terhubung.Firasatku mulai tidak enak hingga sepuluh menit berlalu, lima belas menit, lalu dua puluh menit.Suara bisikan tamu jga mulai membuatku resah. Awalnya pelan tapi makin jelas.“Pengantin prianya belum datang?”“Kok lama banget ya?”“Apa terjadi sesuatu?”

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status