LOGINBeruntungnya, di kota baru ini, aku tidak benar-benar memulai dari awal. Pengalaman pernah ikut meninjau laporan keuangan dan memimpin tim kecil untuk proyek cabang baru perusahaan milik keluarga, memiliki nilai tambah.
Didukung oleh rekan bisnis papa yang mempermudah aku diterima di Monexia Dynamics.
Aku menatap pantulan diriku dari kaca lift. Memakai setelan kerja hitam dengan rambut ditata rapi dan wajah penuh tekad.
Lalu lift sampai di lantai tujuanku. Di depanku terbentang lorong kantor Monexia yang luas dan lantai mengkilap.
Ini adalah perusahaan teknologi besar yang sedang berkembang pesat. Dan mulai hari ini, di sinilah tempatku bekerja.
Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum menuju meja sekretaris. Lalu wanita di sana tersenyum ramah.
“Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?”
“Aku Dilara. Aku memiliki jadwal bertemu direktur hari ini.”
Jantungku berdetak sedikit lebih cepat karena gugup ketika sekretaris itu mengetuk pintu sang direktur. Padahal aku pernah berada di posisi lebih buruk dari ini.
“Masuk.”
Ketika kakiku melangkah, ruangan itu cukup luas, dengan sofa melingkar yang mungkin biasa digunakan untuk rapat internal mendadak, dan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian.
Meja kerjanya berwarna hitam besar dan si direktur sedang duduk sambil membaca dokumen. Matanya tidak langsung menatapku. Setelah menyelesaikan apa yang dibaca, ia mengangkat kepalanya.
Hal pertama yang kutangkap adalah pria ini cukup tenang. Wajahnya tampan dengan mata tajam. Seperti bisa membaca kegugupanku tanpa bertanya.
“Dilara Pasha?”
“Iya, Pak.”
Ia menutup dokumen itu perlahan.
“Duduk.”
Aku menarik kursi di depan mejanya dan duduk. Adnan menatapku dengan sorot menilai.
“Aku udah baca berkasmu. Pengalaman kerjamu cukup baik. Tapi ada yang menarik."
Aku sedikit mengerutkan alis dan menunggu Adnan bersuara. Ia menyandarkan punggung di kursi dan matanya menatapku.
“Enam bulan lalu, namamu muncul di berita. Wanita yang ditinggal di hari pernikahan.”
Kata-kata itu seperti luka baru yang baru saja Adnan ukir kembali. Tapi aku berusaha santai karena enggan menunjukkan luka di depan orang lain.
“Kalau hal itu masalah bagi perusahaan, Anda bisa membatalkan perekrutan saya, Pak.”
“Aku nggak peduli sama drama pribadi pegawaiku. Aku cuma peduli satu hal. Hasil.”
Belum sempat aku menyanggah, Adnan membuka sebuah map dan mendorongnya ke arahku.
“Ini proyek pertamamu dan tim.”
Sebuah proyek perusahaan yang rumit, ambisius, dan bukan pekerjaan mudah untuk pegawai baru sepertiku.
“Kamu direkrut sebagai Strategic Project Lead. Menangani proyek eksperimen perusahaan. Dan kamu yang mimpin.”
Aku mengangkat alis sedikit.
“Langsung memimpin proyek?”
“Kalau kamu mau pekerjaan yang mudah, kamu datang ke perusahaan yang salah, Dila.”
Di halaman pertama tertulis besar : PROJECT SOLVIO. Sebuah platform teknologi keuangan baru milik Monexia Dynamics.
“Apa ini fintech?” tanyaku.
“Yap. Itu adalah proyek platform pembayaran, investasi mikro, dan pinjaman bisnis. Kalau proyek ini berhasil, Monexia bakal masuk ke tiga pasar sekaligus.”
Aku membuka halaman berikutnya dan membaca dengan seksama.
“Tentukan siapa target pengguna, gimana produk ini diluncurkan, dan gimana competitor bisa kalah."
"Karena proyek ini penting, kalau kamu dan tim gagal …” Adnan menatapku dengan ekspresi teramat serius. “Aku akan pecat siapa pun yang jadi beban.”
Pria ini tidak ramah sama sekali bahkan pada karyawan baru. Tidak pura-pura dan kejujurannya teramat dingin.
Aku tidak tahu apakah akan berhasil atau tidak. Yang pasti, aku ingin menenggelamkan diri dalam pekerjaan demi melupakan masa lalu dan menjadi pribadi lebih baik.
“Baik. Saya terima pekerjaan ini. Kalau saya gagal, Anda bisa pecat saya.”
Senyum tipis muncul di bibirnya.
“Percaya diri banget putri keluarga Aditya Pasha satu ini.”
“Bukan percaya diri. Saya hanya bekerja sesuai kemampuan, Pak.”
“Oke, kita lihat hasil kerjamu dan tim.”
Aku mengangguk, mengambil dokumen itu lalu berbalik menuju pintu. Namun sebelum keluar, aku mendengar suaranya lagi.
“Dilara!”
Aku menoleh. “Iya, Pak?”
“Pria yang ninggalin kamu itu, Rifat Aydan, aku pikir dia cukup bodoh karena melepas seseorang kayak kamu.”
Aku terdiam karena terkejut bahwa Adnan ternyata cukup menyelami seluk belukku sebagai karyawan barunya.
“Terima kasih untuk penilaian Anda, Pak.”
****
Pagi ini di ruang rapat Monexia Dynamics yang dikelilingi dinding kaca, meja panjang, dan layar proyektor besar, aku memimpin rapat. Beranggotakan empat pria dan dua wanita yang lebih tua dariku.
Ada yang menatapku dengan rasa penasaran, menilai, dan jelas-jelas meragukan. Seolah anak baru sepertiku tidak bsa menjawab tantangan karir ini.
“Kami lumayan kaget. Kok bisa ada pegawai baru tapi langsung jadi project lead.”
Mereka tertawa pelan, seperti meremehkan. Padahal tidak semua yang dianggap ‘junior’ tidak bisa bekerja melebihi ‘senior’.
“Usia tidak bisa dijadikan patokan menilai kemampuan seseorang.”
Tanpa memberi mereka kesempatan untuk membalas, aku membuka laptop dan menyalakan layar presentasi.
“Lebih baik kita tidak perlu buang waktu dengan basa-basi.”
Ruangan langsung berubah hening dan slide pertama muncul di layar.
“Mayoritas perusahaan fintech fokus pada dua target. Generasi muda yang akan membuka usaha dan investor. Dan kita tidak akan masuk ke sana.”
“Kalau bukan mereka, lalu siapa?”
Aku mengganti slide lagi. Foto pasar kecil, kios makanan, dan bengkel muncul di layar.
“UMKM kecil.”
“Itu beresiko. Banyak kredit macet di sana.”
“Itu karena perusahaan fintech besar tidak benar-benar menguasai solusinya. Padahal, sektor UMKM punya cakupan keuntungan yang besar,” jawabku.
Aku menampilkan data lain di layar. Mereka mulai memperhatikan dengan serius penjelasanku selanjutnya. Lalu mulai berbisik dan ekspresi Andre, sebagai kepala pengawas dan audit keuangan Monexia, menjadi sedikit terkesan.
“Idemu nggak buruk, tapi harus diperhitungkan manajemen resikonya,” katanya.
“Tentu. Ini hanya gambaran besarnya. Harus dirinci kembali agar berhasil.”
Kepala mereka mengangguk lalu pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka.
Adnan berdiri di sana.
Ia masuk dengan langkah tenang. Aku tidak tahu sejak kapan ia menguping rapat internal ini. Kalaupun dia ingin bergabung sejak awal, aku tidak keberatan.
Kemudian mengambil tempat duduk di sebelah Andre dan menatapku.
“Gimana kalau kompetitor terbesar kita ternyata udah masuk ke pasar yang sama tiga bulan sebelum peluncuran proyek ini, Dil?”
Andre tersenyum kecil, seolah berkata 'matilah kau, Dila'. Tapi otakku berpikir cepat lalu menjawab.
“Kita ganti meluncurkan layanan yang tidak mereka miliki.”
Adnan sedikit menyipitkan mata dan tertarik dengan penjelasanku.
“Jelaskan.”
“Kalau kita datang sebagai layanan keuangan untuk UMKM, kita bukan pesaing. Kita solusi.”
Aku menjelaskan detailnya lebih dalam hingga mereka bisa memahami cara berpikirku. Karena sudah mendekati jam makan siang, akhirnya rapat selesai dan akan dibicarakan lebih lanjut dengan mengumpulkan tim.
“Kayaknya proyek ini bakal lebih menarik dari yang kukira,” ucap Andre.
Satu per satu dari mereka keluar dari ruangan. Tinggal aku dan Adnan masih berada di ruangan ini.
“Ada kemungkinan besar perusahaan lain juga lagi mengembangkan proyek fintech. Termasuk perusahaan milik … sepupuku. Kalau itu sampai terjadi, kamu harus siap melawannya, Dila.”
Kemudian Adnan keluar dan pintu tertutup. Meninggalkan aku sendirian di ruang rapat.
“Sepupu? Siapa sepupunya?”
Sambil menyambar jas kerjanya di atas meja dengan gerakan kasar, Adnan menatapku tajam."Tapi kita bawa mobil masing-masing. Aku akan ikuti mobilmu dari belakang. Aku nggak mau repot-repot harus nganter kamu pulang setelah makan malam sialan ini selesai."Aku tertawa meremehkan untuk memprovokasi harga dirinya. Lalu melangkah maju, hingga ujung sepatu hak tinggiku nyaris menyentuh sepatunya."Bawa mobil masing-masing? Oh, ayolah, Pak Adnan. Mana ada sepasang kekasih pergi kencan tapi konvoi di jalanan kayak lagi pawai?" sindirku dengan nada manja."Saya mau kita satu mobil. Saya mau duduk manis di sebelah Anda. Layaknya sepasang kekasih yang sesungguhnya."Adnan kemudian mundur agar menjauh dariku."Jangan keterlaluan, Dilara! Aku udah turuti maumu, jangan mendikte gimana cara --- ""Apa harus saya ingatkan lagi tentang alamat rumah orang tua Anda, Pak?" potongku dengan unsur ancaman yang langsung membuat Adnan diam seribu bahasa.Tangannya mengepal kesal dengan mata menatapku geram.
Hatiku bergemuruh mendengar sindiran Adnan yang jelas-jelas keterlaluan dan sengaja dilakukan untuk meruntuhkan harga diriku.Namun, aku menolak untuk terpancing emosi dan terlihat lemah.Perlahan aku menarik nafas dalam-dalam lalu menunjukkan senyum tenang sambil menatap matanya."Benar kata Anda, Pak Adnan. Memang ada masalah di tempat tidur, seperti tuduhan Anda," jawabku santai.Membuat mereka yang hadir di ruang rapat saling lirik."Semalam saya tidur larut karena harus memeriksa ulang seluruh kesiapan sistem Solvio agar tidak ada error sekecil apa pun. Ditambah lagi kemacetan pagi ini sama sekali tidak bersahabat. Tapi saya jamin, keterlambatan setengah jam ini tidak akan mengurangi kualitas hasil kerja keras saya."Mendengar jawabanku yang berkelas dan berani, Adnan menghentikan ketukan pulpennya. Wajahnya sedikit kesal tapi dia segera menguasai diri agar tetap terlihat berwibawa."Bagus kalau begitu. Duduk di tempatmu, Dilara. Kita tidak punya banyak waktu untuk membahas urusa
Begitu melangkah keluar dari ruangan Adnan, aku menuju basemen dengan langkah santai sambil menikmati kemenangan kecil hari ini.Adnan mungkin mengira dia bisa mengendalikan bidak caturnya, tapi dia tidak sadar bahwa papan caturnya sendiri sudah berada di bawah kuasaku.“Jangan harap bisa mengaturku, Adnan. Karena aku datang, untuk menggunakanmu melawan Rifat. Jadi … bersiaplah.” Gumamku pada diri sendiri.Tepat saat aku memarkirkan mobil di basemen apartemen, ponselku bergetar.Sebuah notifikasi pesan masuk dari …“Kenan.”Aku membukanya dan seketika seulas senyum santai dan lepas terbit di bibirku.Kenan mengirimkan sebuah foto. Di atas meja makannya yang sederhana, sudah tertata rapi dua piring nasi goreng dengan kepulan asap tipis, lengkap dengan lauk cumi pedas manis k yang menggoda selera.Di tengah meja, sebuah lilin kecil dinyalakan sebagai pemanis.[Dari Kenan : Sudah siap, Tuan Putri. Cepat datang sebelum cumi pedas manisnya nggak manis lagi.]Kebetulan perutku keroncongan k
Tepat saat jam pulang kerja, layar ponselku menyala, menampilkan nama yang membuat senyum dingin terbit di bibirku.Adnan.Aku menggeser tombol hijau, menempelkan benda pipih itu ke telinga."Ke ruanganku sekarang. Jangan sampai ada yang lihat," perintahnya singkat.Dan langsung memutuskan sambungan sebelum aku sempat mengiyakan. Suaranya yang kaku memicu alarm kewaspadaan di kepalaku.Aku merapikan sisa berkas di meja lalu melangkah menuju lantai atas. Langkahku tenang, namun otakku bekerja dua kali lebih cepat.Di depan pintu eksekutif itu, aku memasang kembali topeng pegawai yang patuh. Aku mengetuk pintu dua kali lalu melangkah masuk.Adnan perlahan memutar kursi kebesarannya, lalu berdiri. Ia berjalan dan bersandar di tepi meja kerja. Kedua tangannya bersedekap di dada, matanya menatapku dengan sorot dingin."Udah dapat mangsa baru, Dila?" tanya Adnan tiba-tiba.Suaranya terdengar meremehkan sekaligus merendahkanku."Maksud Bapak apa?"Adnan mendengus sinis, senyum tipis yang mere
"Jalan ke klinik kandungan yang sudah kukirim ke ponsel," perintah Adnan pada sopirnya.Sopir itu buru-buru mengangguk dan menginjak pedal gas mengikuti arahan maps.Aku melirik jam di pergelangan tangan. Dengan drama ini, sudah bisa dipastikan kami berdua akan masuk kerja agak siangan. Tapi masa bodoh, toh Solvio tidak akan runtuh hanya karena pimpinannya terlambat beberapa jam demi memastikan reputasinya tetap aman.Sepanjang jalan, pikiranku menyusun langkah-langkah selanjutnya.Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah klinik bersalin swasta elite."Masuklah. Aku tunggu di sini. Ingat, bawa obat dan resepnya ke mobil dan minum di hadapanku,” ucapnya tanpa menatapku.Aku mengangguk dengan raut wajah sendu yang kupaksakan, lalu melangkah keluar dari mobilnya. Begitu kakiku menginjak lantai klinik dan bayangan mobil Adnan terhalang dinding kaca, aku langsung merubah ekspresi wajahku.Dingin, fokus, dan licik.Setelah mendaftar menggunakan nama samara, karena aku tidak sebodoh itu untuk
Aku melangkah mendekati pintu kamar, menyandang tas kerjaku."Saya sudah siap, Pak," ucapku dengan nada dingin yang terluka.Adnan tersentak dari lamunannya, lalu buru-buru memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Ia berdehem dan sesekali melirik ke arahku. Lalu berjalan mendahuluiku membuka pintu kamar.“Ayo.”Tidak ada percakapan selama perjalanan menuju apotek. Sopir Adnan, yang sempat kutakut-takuti, terus mencuri pandang lewat spion tengah.Sementara itu, Adnan duduk di sebelahku dan menatap ke luar jendela dengan sorot kosong. Aku tahu pikirannya sedang berkecamuk, terjebak di antara rasa bersalah padaku dan merasa mengkhianati jantung pemberian Vivian.Begitu mobil berhenti di depan sebuah apotek, Adnan langsung merogoh dompetnya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan menyerahkannya padaku."Beli obatnya sekarang. Aku tunggu di sini," ucapnya tanpa menoleh.Aku mengambil uang itu dengan tangan yang sengaja kubuat sedikit gemetar, lalu keluar dari mobil.Lima menit







