Share

Bab 68

Penulis: Flower Lidia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-01 20:49:34

“BODOH! SEMUA KALIAN INI BENAR-BENAR TIDAK BERGUNA!”

Suara Alisya meledak di gudang yang remang. Pipi dan lehernya memerah menahan amarah, mantel hitamnya berkibar setiap kali ia melangkah maju.

“Tidak berguna!” teriak Alisya, menghantam tongkat besi ke lantai hingga suara dentumannya memekakkan telinga. “Empat orang melarikan diri! Empat! Dan kalian semua hanya berdiri seperti patung bodoh!”

Seorang penjaga mencoba angkat bicara, “Nona, kami sudah berusaha—”

“Berusaha?!” Alisya memotong dengan nada menusuk. “Kalau berusaha hasilnya seperti ini, lebih baik kalian semua mati di tempat!”

“Lihatlah kalian,” suaranya dingin, penuh cemooh.

“Belasan orang bersenjata lengkap, dan kalian membiarkan empat orang menyusup lalu kabur dengan santai. Memalukan!”

Tidak ada suara.

Semua menunduk ketakutan.

“Katakan padaku,” ucapnya pelan tapi menggertak, “berapa nyawa yang harus aku ambil sebelum kalian belajar arti kata ‘disiplin’?”

Seorang penjaga memberanikan diri bicara, suaranya bergetar. “No—N
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • DIJODOHKAN MAMA   Bab 158

    Lampu ruang bersalin menyilaukan,suara suster terdengar tergesa:“Napas, Bu Ziva! Pelan-pelan ya, jangan panik!”Ziva menggenggam tangan Reza sekuat tenaga, keringatnya bercucuran.Sementara Reza terus membisikkan,“Sedikit lagi, Sayang… kamu pasti bisa. Aku di sini.”.Namun di sisi lain rumah sakit,suasana di ruang ICU berubah drastis.Monitor jantung yang semula stabil kini memunculkan garis naik-turun tak beraturan.Perawat berlarian, suara alat berbunyi beep cepat dan tak beraturan. Mama Indri dan Mama Lia berdiri terpaku di depan kaca, wajah mereka memucat.“Tekanan darah turun drastis!”“Siapkan oksigen tambahan!”“Ya Tuhan…” isak Mama Indri sambil memegangi dadanya. Air matanya jatuh tanpa henti.Tiba-tiba dari arah koridor, langkah tergesa terdengarAdrian datang, masih memakai jaket kantor, napasnya memburu. “Ayah gimana?!” serunya, menatap ke arah ruang ICU yang kini dipenuhi dokter.“Masuk jangan dulu, Dokter masih menangani!” kata perawat menahan.Tapi Adrian sudah tak p

  • DIJODOHKAN MAMA   Bab 157

    Ziva baru hendak melangkah ke arah pintu, saat suara langkah Reza di luar terdengar makin dekat.Namun tiba-tiba, dari arah kamar kakek Yudistira terdengar bunyi benda jatuh keras, disusul suara napas tersengal.“Ka—Kakek?” panggil Ziva cepat, tubuhnya refleks berbalik.Suara itu makin jelas—suara seperti seseorang yang sedang berjuang menarik udara.Ziva berlari secepat mungkin, karna terhambat kondisi perutnya, ia menahan perutnya sambil membuka pintu kamar.Pemandangan di dalam kamar membuat darahnya membeku.Kakek Yudistira tergeletak di lantai, tubuhnya kaku bergetar hebat, wajahnya pucat pasi, dan mulutnya mengeluarkan busa tipis.“Kakek!” jerit Ziva panik. Ia segera berlutut di samping tubuh tua itu, menepuk pipinya pelan.“Kakek, dengar aku? Kakek, tolong buka mata!”Tangannya gemetar, ia buru-buru meraih ponsel di saku.“Reza! Kakek kejang!” suaranya nyaris histeris saat Reza mengangkat.“Cepat ke kamar, sekarang!”Suara langkah cepat terdengar dari luar—pintu apartemen terb

  • DIJODOHKAN MAMA   Bab 156

    Ziva baru saja menyalakan diffuser aroma lavender di ruang tamu ketika bel pintu berbunyi.Suara “ting-tong” itu terdengar dua kali, cepat dan agak mendesak.Ia menatap jam dinding pukul 09.42.“Kurir?” gumamnya pelan.Padahal, ia tak merasa sedang menunggu kiriman apa pun.Dengan langkah hati-hati, Ziva menuju pintu.Begitu dibuka, seorang kurir dengan seragam abu-abu sudah berdiri di depan. Wajahnya tertutup masker, topinya agak miring.“Paket untuk Ibu Ziva Mangrove.” Ziva menatap tangan kurir itu. Kardusnya kecil, tapi tampak basah di sisi bawahnya — meninggalkan noda hitam di ujung box.“Dari siapa, ya?” tanya Ziva ragu.Kurir itu hanya menggeleng cepat.“Saya cuma diminta antar, Bu. Gak ada nama pengirim.”Tanpa menunggu, ia menyerahkan paket itu dan pergi. Begitu cepat, seolah tak ingin terlibat lebih jauh.Ziva menutup pintu perlahan.Matanya kembali ke arah paket. Ada sesuatu yang… tidak biasa.Lak hitam di sisi atasnya tampak seperti baru dipasang terburu-buru, dan bau ane

  • DIJODOHKAN MAMA   Bab 155

    “Selamat malam, Pak. Atas nama pasien siapa, ya?”“Yudistira Prasetyo,” jawab Reza cepat.Petugas itu membuka berkas, memeriksa beberapa lembar dokumen, lalu berkata,“Untuk sementara biaya perawatan awal sudah ditanggung dari asuransi keluarga. Tapi nanti akan ada tambahan observasi di ruang rawat intensif, jadi mohon tanda tangan di sini, Pak.”Reza menandatangani tanpa banyak bicara.Matanya hanya fokus pada tulisan-tulisan di kertas itu, tapi pikirannya melayang pada sosok Kakek yang kini sedang beristirahat di kamar rawat.Selesai urusan administrasi, seorang dokter berpakaian putih datang menghampiri.“Maaf, Anda keluarga Pak Yudistira?” tanyanya sopan.“Iya, saya cucunya. Reza Fernander.”Dokter itu tersenyum kecil. “Baik, saya dokter Satria, yang menangani beliau.”Reza berdiri tegak, ekspresinya berubah serius.“Bagaimana kondisi Kakek saya, Dok? Tadi dokter bilang sudah sadar, tapi saya ingin tahu lebih detail.”Dokter menghela napas pelan.“Beliau memang sudah sadar, dan se

  • DIJODOHKAN MAMA   Bab 154

    Ziva langsung bangkit, menahan lengannya sendiri agar tidak panik.“Za, ayo kita ke sana sekarang.”Reza masih diam beberapa detik sebelum akhirnya sadar.“Iya…”Suaranya serak.“Iya, ayo.”Ziva mengambil tas kecil dan bergegas, sementara Reza dengan cepat meraih kunci mobil dan ponsel yang hampir jatuh dari tangannya.Begitu mereka keluar dari apartemen, suara lift yang biasanya terdengar biasa saja kini terasa berat.Di dalam lift, keduanya terdiam.Ziva memegang tangan Reza pelan, mencoba menenangkan. 🌸🌸🌸🌸🌸Bunyi langkah kaki Reza dan Ziva terdengar cepat di koridor rumah sakit yang dingin dan tenang.Suara roda brankar, aroma disinfektan yang menusuk, dan cahaya putih lampu-lampu di langit-langit membuat suasana semakin mencekam.Ziva yang sedang hamil berusaha mengimbangi langkah Reza yang terburu-buru, tangannya menggenggam lengan suaminya kuat-kuat.“Za... pelan sedikit, aku takut jatuh,” ucapnya dengan napas tersengal.Reza langsung memp

  • DIJODOHKAN MAMA   Bab 153

    DING DONG! DING DONG! DING DONG!!!Reza yang baru meneguk setengah cangkir kopinya sontak hampir tersedak.Ia melirik jam dinding. Jam tujuh pagi.“Siapa sih pagi-pagi begini udah bertamu?” gumamnya dengan alis berkerut.Begitu membuka pintu, Reza langsung membeku.Bukan satu. Bukan dua. Tapi tiga kurir ekspedisi berdiri rapi di depan pintu apartemen sambil membawa tumpukan kardus setinggi dada.Di belakang mereka—masih ada satu lagi yang mendorong troli penuh paket tambahan.“Pak Reza, pengiriman untuk Ibu Ziva, ya”Suara itu terdengar hampir bersamaan dari tiga arah berbeda.Reza melongo. “...Ibu Ziva?”Salah satu kurir tersenyum sopan, “Iya, Pak. Total ada dua puluh tiga paket. Mohon tanda tangannya, ini sisanya masih di bawah.”Reza mengedip dua kali.“Dua puluh... tiga?”Kurir lain menimpali dengan santai, “Iya, Pak. Dan paketnya sudah di bayar lunas.”“Lunas?” gumam Reza, menatap deretan logo butik mewah dan parfum internasional di tiap kardus.Ia menarik napas panjang. Baiklah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status