Share

Bab 40

Penulis: Paradista
last update Tanggal publikasi: 2024-05-31 23:03:01

“Tidak bisakah Kau melayani dengan baik, siapapun tamu di hotel ini? tidak bisakah Kau diam tak menggangguku?!” tiba-tiba saja Julian berteriak di depan wajah Roberto yang sedari awal seakan mengajaknya adu jotos.

Beberapa tamu yang kebetulan berada di Lobby Hotel itu terlihat penasaran dengan apa yang terjadi, tak hanya itu saja, beberapa petugas penjaga pintu masuk pun segera berlarian ke arah keributan tersebut.

“Ada apa? sudah malam, bisa mengganggu tamu lain.” Tanya salah seorang petugas.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 136

    Darah seketika berdesir di tubuh Jemima. Ia mundur selangkah, napasnya tertahan. Dante? Pria yang pernah berkata namanya Julian… yang menyembunyikan identitasnya… yang ternyata… "Julian…" bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Julian itu… Dante, sayangku." Ucap nyonya Valencia dengan mata berbinar. Nyonya Valencia mengangguk pelan, air mata kembali menetes. "Dia menyembunyikan nama aslinya dari semua orang, bahkan darimu. Demi keamanan, katanya. Demi melindungimu dari dunianya yang rumit. Dan aku… aku juga tidak pernah bilang siapa aku sebenarnya. Aku takut jika kamu tahu tentang siapa aku, kamu akan merasa terbebani, atau takut…" Wanita itu menggenggam tangan Jemima erat. "Aku tidak menyangka… takdir membawa kamu ke sini, ke tempatku, tanpa kita sadari siapa kita sebenarnya satu sama lain." Jemima terdiam, pikirannya berputar cepat. Semua potongan teka-teki itu akhirnya menyatu. "Selama ini…" Jemima menelan ludah, dadanya sesak oleh campuran rasa haru dan keterkejutan.

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 135

    "Sekarang apa yang harus aku lakukan, bibi?" tanyaJemima, tersirat keraguan di wajahnya. "Kamu tidak harus memutuskan sekarang," jawab Bibi Alma lembut namun tegas. "Kamu sedang sakit, tubuhmu butuh waktu untuk pulih. Dan hatimu juga sama. Biarkan waktu yang menjawab. Yang penting sekarang adalah—kamu tahu kebenarannya. Dan kamu tahu jika suami yang kamu pilih ternyata sangat mencintaimu." Jemima menunduk, menyentuh perutnya yang terasa sedikit lebih tenang setelah mandi tadi. Pikirannya kembali ke rasa mual dan kelelahan yang terus menghantui dirinya. Bibi Alma benar—ada sesuatu yang lain di sini, sesuatu yang bukan sekadar patah hati. Dan ia harus tahu apa itu. "Bibi…" Jemima mendongak, menatap wanita itu dengan mata yang masih basah namun kini mulai memancarkan keteguhan. "Besok… bisakah kita pergi ke dokter?" Wajah Bibi Alma langsung bersinar. Senyum tulus merekah di wajahnya yang keriput itu. "Tentu saja, Nak. Besok pagi, kita pergi bersama-sama. Tidak peduli apa hasilnya, ki

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 134

    Mata Jemima membelalak. Apa? "Tapi bukan dengan alasan yang kalian pikirkan," cepat-cepat Dante menambahkan. Matanya menatap tajam ke arah para wartawan, seolah memperingatkan mereka untuk tidak menyimpulkan sembarangan. "Saya menyembunyikannya bukan karena ada pihak ketiga, bukan karena hubungan itu terlarang, dan bukan karena saya malu padanya. Saya menyembunyikannya karena… saya sedang dalam proses menyelesaikan masalah keluarga yang sangat rumit—masalah yang jika diketahui publik pada saat itu, justru akan membahayakan Jemima. Saya berusaha melindunginya, tapi ternyata… cara saya salah. Dan justru karena menyembunyikannya, ia menjadi sasaran kemarahan orang-orang yang tidak tahu kebenarannya." Ia berhenti sejenak, menelan ludah. "Saya tidak akan menjelaskan detail masalah pribadi keluarga saya di sini. Itu bukan urusan publik. Tapi satu hal yang harus kalian ketahui: sejak awal, niat saya tulus. Perasaan saya pada Jemima tulus. Dan kesalahan terbesar saya adalah tidak memberita

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 133

    "Dulu, saat kamu masih kecil, setiap kali kamu menangis karena dihina teman-temanmu, atau karena kalah lomba, Bibi selalu menyisir rambutmu seperti ini," ucap Bibi Alma pelan, suaranya terdengar lembut di tengah keheningan kamar. "Kamu selalu bilang, kalau Bibi menyisir rambutmu pelan-pelan, rasanya seperti semua kesedihanmu ikut tersisir pergi." Jemima menelan ludah. Air mata itu kembali ingin muncul, kali ini bukan karena kesedihan, tapi karena rasa syukur yang mendalam. "Aku ingat…" "Nah, sekarang pun begitu. Biarkan semuanya ikut pergi. Jangan dipendam terus di dalam hati. Nanti hatimu bisa pecah, Jemi." Sisir itu berhenti bergerak. Bibi Alma merapikan rambut Jemima ke belakang bahunya, lalu menepuk bahu gadis itu pelan. "Sudah selesai. Sekarang… apakah kamu sudah siap untuk melihatnya?" Jemima menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Jantungnya berdegup kencang kembali, seolah tahu apa yang akan datang. Ia mengangguk—kali ini lebih tegas. "Iya, Bibi. Aku siap.

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 132

    "Kenapa… kenapa dia melakukan itu?" suaranya hampir tak terdengar. "Itulah sebabnya aku memintamu melihatnya," jawab Bibi Alma lembut. "Tapi tidak sekarang. Kamu tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ayo, biarkan Bibi membantumu mandi dulu. Kamu butuh air hangat, agar tubuhmu terasa lebih ringan. Setelah itu kita makan, lalu kita tonton bersama. Bagaimana?" Jemima menunduk, menatap lantai yang terasa bergoyang pelan. Rasa ingin tahu bertarung dengan rasa takut di dadanya. Ia takut melihat wajahnya lagi. Takut mendengar apa yang akan dikatakannya. Tapi pada saat yang sama, ada bagian dari dirinya yang membutuhkan jawaban. Jawaban atas semua pertanyaan yang menghantui tidurnya selama ini. Ia mengangguk pelan. "Baik…" *** Di Bawah Air Hangat Bibi Alma segera bergerak masuk, menopang tubuh Jemima dengan lembut namun kokoh. "Ayo, duduk dulu sebentar di tepi tempat tidur. Biarkan Bibi menyiapkan airnya." Ia menuntun Jemima duduk, lalu bergegas masuk ke kamar mandi dalam kamar it

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 131

    Di Kota yang Sama, Tapi Tempat yang Berbeda Di Balik Pintu Kamar yang Tertutup Suara ketukan itu kembali terdengar, kali ini lebih tegas namun tetap menyimpan nada kelembutan yang tak pernah berubah. Duk. Duk. Duk. "Jemi, jika kamu masih belum mau makan, setidaknya lihat berita. Ada sesuatu yang harus kamu lihat," ucap Bibi Alma dari balik pintu. Suaranya terdengar sedikit bergetar—seolah-olah apa yang baru saja ia saksikan di layar televisi ruang tengah itu, membuatnya berat untuk mengucapkannya. Di dalam kamar, Jemima masih meringkuk di bawah selimut tebal hingga batas leher. Tubuhnya terasa berat, seolah setiap inci kulitnya tertarik ke bawah oleh gaya gravitasi yang tiba-tiba menjadi berkali-kali lipat lebih kuat. Sudah hampir tiga hari sejak ia tiba di rumah Bibi Alma—tempat yang dulu sering ia kunjungi saat masih kecil, tempat yang seharusnya menjadi pelarian paling aman—namun bukannya merasa lebih baik, tubuhnya justru memberontak dengan cara yang tak ia mengerti. Setiap k

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 22

    Mendengar perkataan dari Julian yang tampak lebih berani dari Victor, Diego yang dari tadi menjadi orang yang menyimak pertemuan akrab dua pria tersebut semakin penasaran.“Iya Tuan, pecatlah aku. Asal Kau kembali ke tempatmu,” terdengar Victor membalas dengan santai.“Haha… sialan Kau! masih tetap ta

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 17

    Jemima masih berusaha mencari celah untuk kabur karena tak mau berurusan dengan Ian lagi, namun tampaknya pria itu sangat teguh serta bersungguh-sungguh.“Tolonglah.”“Hanya kita berdua.” Lanjut Ian memastikan.Terdengar suara klakson mobil lain hingga beberapa kali dan membuat keributan, kelihatannya

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 6

    Jemima hanya berdiri mematung, air matanya terlihat mulai mengalir, gadis itu sudah berusaha tak menjatuhkan air mata dengan menggigit kuat bibir bawahnya. Tapi sepertinya itu tak berhasil, adegan itu terlihat sangat miris hingga rasa sakitnya terasa sampai ke ulu hati Julian.“Hey! Kamu siapanya? P

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 5

    “Kamu mau yang mana? Yang pedas atau yang gak pedas?” tanya Jemima lagi, dia masih menunggu keputusan pria asing itu.“Terserah kamu saja.” Jawab pria itu lirih, sebaiknya kalimat itu saja yang dia katakan dan memendam rasa penasaran terhadap bungkusan itu belakangan saja.Jemima tampak memilih-mili

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status