Início / Romansa / DIPTA / BAB 179 Rumah

Compartilhar

BAB 179 Rumah

Autor: Adw_Canss781
last update Data de publicação: 2026-10-25 21:27:35

Menjelang magrib, mobil yang dikendarai Dipta akhirnya memasuki halaman rumah. Cahaya matahari sore mulai meredup, menyisakan semburat jingga di antara pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan masuk. Setelah mematikan mesin, Dipta sempat duduk beberapa detik di balik kemudi. Hari itu cukup melelahkan, bukan semata-mata karena urusan perusahaan yang harus diselesaikannya, melainkan juga karena ia harus memastikan bahwa persoalan Priska dan Rania tidak berkembang menjadi sesuatu yang lebih rumit.
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • DIPTA   BAB 180 Rencana Perjamuan

    Malam itu, suasana rumah terasa lebih tenang setelah Askara selesai bermain dan akhirnya tertidur di kamarnya. Lampu-lampu di ruang keluarga menyala dengan cahaya hangat, berpadu dengan suara pendingin ruangan yang terdengar samar. Di atas meja kecil, dua cangkir minuman hangat sudah hampir kosong, sementara televisi yang sejak tadi menyala hanya menjadi latar tanpa benar-benar menarik perhatian siapa pun. Aira duduk bersandar di sofa dengan sebuah bantal kecil di pangkuannya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, sesekali ia selipkan ke belakang telinga ketika membaca pesan di ponselnya. Di sebelahnya, Dipta baru saja menyelesaikan beberapa surel pekerjaan yang memang tidak bisa ditinggalkan sampai pagi. Setelah meletakkan ponsel di atas meja, laki-laki itu mengembuskan napas panjang, kemudian meregangkan bahunya yang terasa kaku setelah seharian bekerja. Aira meliriknya sekilas. “Sudah selesai?” “Untuk malam ini, iya.” “Bagus. Berarti sekarang aku boleh tanya sesuatu?” Dipta m

  • DIPTA   BAB 179 Rumah

    Menjelang magrib, mobil yang dikendarai Dipta akhirnya memasuki halaman rumah. Cahaya matahari sore mulai meredup, menyisakan semburat jingga di antara pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan masuk. Setelah mematikan mesin, Dipta sempat duduk beberapa detik di balik kemudi. Hari itu cukup melelahkan, bukan semata-mata karena urusan perusahaan yang harus diselesaikannya, melainkan juga karena ia harus memastikan bahwa persoalan Priska dan Rania tidak berkembang menjadi sesuatu yang lebih rumit. Setidaknya, untuk saat ini, langkah yang perlu diambil sudah jelas. Sisanya akan berjalan melalui prosedur yang semestinya.Ia mengembuskan napas panjang, lalu meraih tas kerja di kursi sebelah sebelum keluar dari mobil. Begitu melangkah masuk, suasana rumah yang tenang langsung menyambutnya. Terdengar suara anak kecil dari arah ruang bermain, sesekali diselingi bunyi mainan yang beradu, sementara dari ruang keluarga terdengar suara televisi dengan volume rendah.Dipta meletakkan tasnya di meja

  • DIPTA   BAB 178 Prosedur

    Pagi itu, ruang rapat kecil di lantai eksekutif Rajendra Engineering kembali digunakan untuk membahas perkembangan kasus yang melibatkan Priska dan Rania. Tidak banyak orang yang diizinkan masuk.Dipta hanya meminta kehadiran kepala divisi legal, perwakilan sumber daya manusia, serta tim internal yang sejak awal memeriksa bukti-bukti kejadian di ruangannya. Baginya, perkara tersebut sudah cukup jelas untuk memasuki tahap berikutnya. Ia tidak berniat menghabiskan waktu perusahaan hanya untuk mendengarkan penyangkalan yang sama berulang kali, terlebih setelah rekaman kamera pengawas dan sejumlah catatan akses memperlihatkan rangkaian kejadian yang sulit dibantah.Kepala divisi legal meletakkan sebuah map di atas meja. “Kami sudah menyusun kronologi berdasarkan rekaman kamera, catatan akses ruangan, keterangan pegawai yang bertugas, serta hasil pemeriksaan internal sementara. Ada cukup banyak bukti yang perlu kami serahkan kepada pihak berwenang untuk dinilai lebih lanjut, terutama menge

  • DIPTA   BAB 177 Adi Pradana

    Ruang pemeriksaan masih sama, tapi atmosfernya sudah berubah. Rania sekarang bukan lagi orang yang ditanya. Dia sudah jadi orang yang bercerita sendiri. “Saya awalnya hanya diminta mengatur akses kecil." suara Rania pelan. “…tapi lama-lama berubah.” Auditor tidak memotong hanya mendengarkan. “Dia tidak pernah bilang langsung apa target akhirnya.Yang dia lakukan itu… mengarahkan situasi.” “Bukan perintah.. tapi kondisi.” Rania berhenti sebentar. Tangannya menekan meja pelan. “…tapi ada satu hal yang saya baru sadar belakangan.” Semua langsung fokus. “…dia tidak bekerja sendirian dari awal.” “Dia punya jalur lain, bukan hanya saya.” “Ada seseorang yang membantu dari luar sistem.” Auditor langsung mengangkat pandangan. “Anda tahu identitasnya?” Rania menelan ludah, kali ini lebih berat. “Saya tidak tahu nama awalnya, top 10 api dia selalu menyebut seseorang yang ‘bisa mengamankan kalau terjadi masalah besar’.” Di titik ini, arah mulai berubah. Bukan lagi sekadar Priska ta

  • DIPTA   BAB 176 Tahap Akhir

    Ruang audit internal itu terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena AC, justru karena tidak ada lagi ruang untuk “alasan sosial”. Hanya ada meja, laptop, dan dua orang auditor yang sudah tidak tertarik pada emosi hanya fakta. Rania duduk, tangannya mulai tidak setenang sebelumnya. Di depan layar, log komunikasi kembali ditampilkan. Nama-nama, waktu, akses, percakapan singkat. Semuanya terlalu rapi untuk bisa dibantah sepenuhnya. “Akses ini Anda lakukan atas instruksi siapa?” tanya auditor lagi. Rania diam, kali ini tidak seperti awal yang masih bisa pura-pura tenang. Diamnya lebih berat. “Saya hanya membantu.” jawabnya akhirnya. Auditor tidak langsung bereaksi, hanya geser satu file lagi. “Ini bukan bantuan internal biasa. Ini melibatkan koordinasi dengan pihak luar perusahaan.” Rania menelan ludah. Di sisi lain gedung, ruang kerja Dipta. Aira duduk di sofa, membaca beberapa dokumen kecil di tablet. Namun telinganya jelas “setengah fokus” ke arah ini. “Dia mulai tertekan.”

  • DIPTA   BAB 175 Efek Samping

    Aira menutup pintu ruang kerja Dipta pelan. Begitu bunyi klik terdengar bahunya langsung turun sedikit. Seperti ada beban yang baru saja “diizinkan jatuh”. Langkahnya yang tadi di luar terlihat rapi dan tenang, perlahan berubah begitu dia sudah tidak lagi jadi sorotan siapa pun. Baru dua langkah di dalam ruangan, kakinya terasa agak goyah. Bukan jatuh tapi jelas tidak stabil. Aira langsung berhenti, berdiri diam sebentar. Matanya melirik ke lantai, lalu ke kursi terdekat. Seolah sedang “mengkalibrasi ulang” tubuhnya sendiri. “Capek banget ternyata jadi manusia profesional.” gumamnya pelan, nyaris tidak terdengar. Dia menarik napas panjang, lalu duduk di kursi tanpa drama. Baru setelah itu, bahunya benar-benar lemas. Di sisi lain ruangan, Dipta sedang membereskan beberapa dokumen. Dia melirik sekilas, lalu sadar satu hal kecil yang tidak diucapkan Aira tadi di luar. Mode tadi itu bukan stabil, itu mode bertahan hidup. Dipta tidak langsung komentar, hanya saja sudut bibirnya naik s

  • DIPTA   BAB 2 Mata Yang Mengamati

    Di kelas dekat sisi lapangan, suasana pagi begitu hidup. Beberapa murid masih asyik mengobrol, ada yang menatap papan tulis dengan serius didalam kelas, ada yang memainkan pulpen sambil setengah mengantuk saat berjalan. Di salah satu sisinya, empat murid Angger, Bayu, Raka, dan David duduk berdampi

  • DIPTA   BAB 1 Hari Pertama Humaira

    Humaira Navya Aruna atau biasa akrab dipanggil Aira menatap halaman depan sekolah baru itu dengan mata berbinar campur gugup. Gedung tinggi, cat krem yang rapi, kaca-kaca besar memantulkan cahaya pagi yang lembut. Semua terlihat begitu megah, berbeda dari sekolah lamanya yang sederhana. Jalan setap

  • DIPTA   BAB 7 Perhatian

    Pagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beb

  • DIPTA   BAB 6 Chemistry dan Konflik kecil

    Hari itu, Dipta duduk di kelas XII IPS 1 sambil membaca catatan ekonomi. Tapi matanya tidak sepenuhnya fokus pada buku, tatapannya sesekali tertuju ke kelas XI IPA 2, tepatnya ke Aira yang sedang menulis catatan di meja dekat jendela.“Hmm… berbeda dari yang lain", pikirnya dalam hati.Bukan karena

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status