Share

bab 57

Author: Azzura Rei
last update publish date: 2026-02-04 22:16:57

Sasha mendesah panjang, kelelahan yang menyenangkan menyelimuti dirinya. Pertengkaran itu berakhir dengan kemenangan gairah, menegaskan ikatan mereka yang semakin rumit dan kuat.

Setelah beberapa saat, William menarik diri seperlunya. Ia menatap Sasha, membetulkan kembali pakaiannya dengan gerakan terampil, seperti merapikan kembali aset berharganya.

"Kau harus tahu batasan," ucap William, nada suaranya kini kembali ke mode protektif yang dingin.

"Bapak yang memulai," jawab Sasha jujur, merasak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 231

    William memejamkan matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan kasar untuk meredakan gejolak di dadanya yang masih naik-turun. Ia menatap Sasha dengan pandangan menusuk yang seolah mengatakan hal yang justru membuat Sasha semakin asyik menikmati pemandangan langka tersebut."Tunggu di situ," perintah William dengan suara yang ditekan serendah mungkin, terdengar serak dan berbahaya.William berbalik memunggungi Sasha, membenarkan posisi pakaiannya, mengancingkan kembali celananya, dan merapikan kemejanya yang sedikit kusut dengan gerakan gusar yang kentara. Setelah memastikan penampilannya kembali prima dan profesional meski telinganya masih memerah menahan hasrat William melangkah menuju pintu.Ia membuka pintu hanya selebar celah yang cukup untuk tubuhnya, menghalangi pandangan Karina agar tidak bisa melihat ke dalam ruangan tempat Sasha duduk di atas meja."Manajemen waktu kamu sangat buruk, Karina," ucap William dingin, suaranya terdengar seperti es yang m

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 230

    Sentuhan jari William di rahangnya terasa seperti aliran listrik yang langsung melumpuhkan sisa-sisa argumen di kepala Sasha. Keberanian yang sempat ciut saat melewati lobi kantor tadi mendadak berganti menjadi debaran adrenalin yang pekat. Tatapan William yang menggelap, tanpa jarak, dan menuntut, membuat Sasha tidak bisa berpikir jernih lagi.Tanpa menjawab, Sasha justru memajukan wajahnya, memangkas sisa jarak yang ada untuk menyatukan bibir mereka. Tindakan impulsif itu seperti menyulut sumbu dinamit. William mengerang rendah, langsung memperdalam ciuman mereka dengan dominasi yang mutlak. Tubuh Sasha terdorong hingga punggungnya merapat pada dinding marmer yang dingin, namun rasa dingin itu segera menguap oleh kehangatan tubuh William yang menghimpitnya.Tangan William bergerak cepat, menuntun pinggang Sasha agar semakin merapat padanya. Setelan kemeja kerja William yang rapi mulai kusut oleh cengkraman tangan Sasha yang mencari pegangan. Di antara deru napas yang memburu dan k

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 229

    Sasha menahan napas sejenak, merasakan embusan napas William yang hangat menerpa kulit pelipisnya hingga mengirimkan gelenyar halus ke seluruh tubuh. Pertanyaan retoris yang berbisik begitu dekat itu membuat pertahanannya semakin terkikis.Ia melirik ke arah kaca spion depan dengan panik. Meskipun sekat kaca tipis dan profesionalitas supir pribadi William menjamin privasi mereka, posisi tubuh William yang teramat dekat ini tetap saja membuat Sasha merasa sedang melakukan sesuatu yang terlarang di tempat umum."P-Pak William, tolong mundur sedikit," cicit Sasha, mencoba mendorong dada bidang pria itu dengan tangan kirinya yang bebas. Namun, alih-alih bergeser, otot dada William yang keras di balik setelan jas mahalnya justru terasa seperti dinding kokoh yang mustahil dipindahkan.William terkekeh rendah, sebuah suara berat yang menggetarkan rongga dadanya dan terdengar begitu intim di telinga Sasha. Bukannya mundur, tautan jemari mereka di atas armest justru semakin dipererat, mengunci

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 228

    "Salah kirim?" “Hehehe, pis…” Sasha memasang wajah lugunya.Jantung Sasha seolah melompat keluar saat melihat ponselnya kini berada di genggaman tangan besar William. Pria itu membuka layarnya tanpa kesulitan—karena ia tahu kata sandinya dan menatap ruang obrolan mereka."Kalimat ranjang' itu... kamu tujukan untuk siapa lagi kalau bukan untuk aku, hm?" William membaca kembali pesan itu dengan nada datar, namun penuh intimidasi yang sensual.Wajah Sasha seketika memanas, merah padam hingga ke ujung telinga. Ia mencoba merebut ponselnya, namun William dengan mudah mengangkat benda itu tinggi-tinggi, menjauhkannya dari jangkauan Sasha."Pak William, ini di kampus! Kalau ada dosen atau mahasiswa lain yang lewat bagaimana?" bisik Sasha panik, suaranya parau karena menahan malu."Maka dari itu, ikut saya sekarang," ujar William tegas. Ia memasukkan ponsel Sasha ke dalam saku jasnya sendiri, lalu berbalik arah menuju koridor samping yang terhubung langsung dengan area parkir VIP, tempat m

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 227

    Sasha membeku. Suara bariton yang berat, dalam, dan sarat akan otoritas itu sama sekali tidak asing di telinganya. Jantungnya yang baru saja berdegup kencang karena aksi kejar-kejaran dengan Nina, kini serasa berhenti berdetak selama satu detik penuh.Ia mendongak perlahan, menyusuri sepasang sepatu pantofel hitam yang mengilat, celana kain berpotongan sempurna, hingga berakhir pada wajah tegas dengan rahang kokoh yang kini tengah menatapnya datar.William.Pria itu berdiri tegap di koridor kampus dengan setelan jas formalnya, tampak luar biasa mencolok di antara lingkungan para mahasiswa. Di belakangnya, beberapa jajaran dekanat dan rektorat kampus tampak mengekor dengan raut wajah sungkan."P-Pak William?" cicit Nina yang berada beberapa langkah di belakang Sasha. Nyali dosen muda itu seketika menciut. Ia buru-buru menyembunyikan ponsel Sasha di balik punggungnya, wajahnya memucat melihat siapa yang baru saja mereka tabrak.William tidak mengindahkan sapaan Nina. Sepasang mata elang

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 226

    Sasha segera meletakkan ponselnya dengan jantung yang berdegup dua kali lebih kencang dari biasanya. Sesaat setelah pesan itu terkirim, ia baru menyadari apa yang baru saja ia ketik. Matanya membelalak, wajahnya seketika memerah padam hingga ke pangkal leher."Apa yang baru saja kulakukan?" bisiknya pada diri sendiri, napasnya tertahan.Ia ingin sekali menarik kembali pesan tersebut, namun tanda centang biru sudah muncul di sana. William telah membacanya.Detik demi detik berlalu terasa seperti jam. Sasha menatap layar ponsel yang sunyi, tangannya gemetar saat memegang sendok. Ia baru saja menggoda pria yang dikenal paling kaku dan otoriter itu dengan kalimat yang... sangat berani. Mungkin terlalu berani.Ting!Ponselnya bergetar di atas meja kayu. Pesan balasan dari William muncul, singkat dan dingin seperti biasanya, namun entah mengapa Sasha merasa bisa membayangkan seringai tipis di wajah pria itu saat mengetiknya.“Hukumanmu sudah menanti di rumah. Jangan berani mencoba menghinda

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 33

    Sasha justru memilih maju mengabaikan larangan William. Jiwa simpatiknya tergali. Otak nya juga lama lama mulai memahami, kenapa William saat itu terlihat stres di club saat baru pertama kali dia jumpai. "Pergi! Saya bilang pergi! Saya tak ingin melihatmu!" William mencoba mendorong Sasha, tapi te

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 31

    Sasha merasa bosan tidur seharian di penjara mewah itu. Dia memilih bangkit dan berjalan mencari sesuatu yang bisa membuat dia sedikit terhibur. Langkahnya terhenti di sebuah tempat yang unik. Dia tidak pernah menyangka bahwa di balik pintu kayu ek yang berat di ujung lorong penthouse itu, tersembu

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 30

    Lingerie merah maroon itu terasa seperti kulit kedua, dan William memperlakukannya seperti itu. Ia menyobeknya dengan satu tarikan ke bawah, suara kain yang robek memecah kesunyian rumah itu. Potongan sutra jatuh ke lantai, meninggalkan tubuh Sasha yang benar-benar telanjang dan rentan di bawah ca

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 29

    Pria itu menyudahi teleponnya dengan desisan kasar. William tidak perlu memutar badan untuk tahu Sasha ada di sana. Bahkan dalam kegelapan temaram, ia bisa merasakan perubahan tekanan udara, denyut nadi yang terlalu cepat, dan kepanikan yang terbungkus di balik kolom marmer. Asap rokoknya mengepul

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status