تسجيل الدخولFajar keesokan harinya menyingsing dengan warna merah darah di langit perbatasan utara.Arthur memimpin langsung pasukan kavalerinya menembus kabut tebal, mengabaikan draf saran dari Henry agar sang Duke tetap berada di balik tembok kastil yang aman demi keselamatan pengantin barunya.Di depan barikade jalur kereta api yang rusak, ratusan milisi pemberontak telah bersiap dengan senapan laras panjang dan obor api di tangan mereka.Seorang pemimpin pemberontak, mantan perwira militer faksi Vane bernama kapten Miller, melangkah maju menunggangi kudanya dengan aksi yang menantang di hadapan Arthur."Duke Arthur! Kebijakan barumu mengenai penyitaan aset bangsawan dan kontrol mutlak atas tambang adalah bentuk tirani yang tidak akan kami terima! Jika kau tidak memulihkan hak komoditas kami, jalur utara ini akan menjadi kuburan bagi pasukan Grosvenor!"Arthur menatap Miller dari atas kuda hitam besarnya dengan pandangan meremehkan, tidak ada sedikit pun gurat ketakutan atau keraguan di wajahn
Ketegangan di ruang dewan distrik mencapai puncaknya ketika Arthur mengambil alih draf kepemimpinan proyek secara sepihak, memotong seluruh jalur birokrasi aristokrat kuno yang lambat dan memuakkan.Dia lalu berdiri di depan papan dewan, mencoret nama-nama bangsawan faksi Vane yang tidak kompeten dengan goresan arang hitam yang kasar, lalu menggantinya dengan nama-nama insinyur muda yang dia pilih berdasarkan efisiensi kerja nyata di lapangan tambang."Mulai hari ini, manajemen operasional proyek kereta utara berada di bawah pengawasan langsung kantor Duke Grosvenor," tegas Arthur, dengan jemarinya mengetuk meja dengan ritme konstan yang intimidatif."Tidak ada lagi komisi untuk para Lord, tidak ada lagi potongan pajak ilegal untuk faksi wilayah. Setiap buruh tambang akan dibayar penuh langsung dari kas pusat."Mendengar kebijakan baru tersebut, beberapa Lord berbisik-bisik dengan raut wajah penuh penolakan, menganggap tindakan Arthur terlalu radikal dan mengancam hak istimewa kaum ba
Sebelum bergerak ke medan militer, Arthur harus menyelesaikan kekacauan administratif yang ditinggalkan oleh kepemimpinan korup Lord Vane di gedung dewan distrik.Ruang pertemuan dipenuhi oleh para Baron dan Lord yang tampak cemas, memegang tumpukan draf proyek pembangunan jalur kereta tambang bawah tanah yang mangkrak selama dua tahun terakhir akibat penggelapan dana massal.Lord Sterling, salah satu bangsawan yang berupaya mencari muka setelah faksi Vane runtuh, melangkah maju dengan aksi taktis yang terkesan dibuat-buat."Tuan Duke, proyek jalur kereta utara membutuhkan suntikan dana tambahan sebesar dua puluh ribu pound dari kas Grosvenor, jika tidak, buruh akan terus membangkang dan bergabung dengan milisi pemberontak."Arthur tidak menjawab; dia hanya menatap Lord Sterling dengan pandangan mata kelabu yang begitu tajam hingga membuat pria tua itu mulai berkeringat dingin di tempat duduknya.Arthur perlahan membuka draf laporan keuangan yang dibawa Henry, lalu melemparkannya tepa
Ruang strategi bawah tanah Kastil Grosvenor mendadak menjadi pusat gravitasi wilayah barat. Di tengah ruangan yang remang-remang oleh pendar lampu minyak dinding, sebuah meja kayu ek raksasa dipenuhi oleh draf peta taktis pertambangan dan jalur perbatasan utara yang mulai berdebu.Arthur berdiri di ujung meja, kedua tangannya bertumpu pada peta, sementara para perwira militer senior dan menteri distrik berkumpul di sekelilingnya dengan napas yang tertahan menahan ketegangan atmosfer ruangan."Pemberontak di perbatasan utara bukan sekadar buruh yang mogok kerja," sela Henry, menunjuk ke arah titik merah di draf peta perbatasan menggunakan ujung belati komandonya."Mereka dipimpin oleh sisa-sisa pengikut Lord Vane yang melarikan diri, menggunakan persenjataan ilegal yang diselundupkan dari pelabuhan timur untuk memblokade jalur kereta api komoditas kita."Arthur tidak terkejut, dia justru menyunggingkan sebuah senyuman miring yang sarat akan kalkulasi bisnis yang dingin dan kejam. "Mere
Roda kereta kuda belum sepenuhnya berhenti berputar di pelataran Kastil Grosvenor ketika Arthur melompat turun dengan aksi taktis yang tegas. Jubah bulan madunya telah berganti dengan seragam militer dinasti Grosvenor berwarna biru gelap yang kaku, lengkap dengan lencana singa emas bersilang pedang di bahu kirinya.Udara hangat pegunungan Cumberland seketika menguap, digantikan oleh hawa dingin urusan negara yang pekat dan berbau mesiu. Di aula utama, dua utusan khusus dari Istana Buckingham sudah berdiri tegap, memegang gulungan perkamen berstempel lilin malam merah tua berlambang Raja."Tuan Duke Arthur Grosvenor," ujar salah satu utusan dengan suara bariton yang formal dan dingin."Yang Mulia Raja menitahkan Anda untuk segera mengonsolidasikan resimen infanteri cadangan barat. Pergerakan faksi pemberontak di perbatasan utara telah menghentikan pasokan komoditas batubara mahkota."Arthur merebut perkamen itu tanpa membalas tatapan sang utusan. Matanya yang kelabu membaca baris-baris
Fajar hari ketujuh pun menyingsing dengan sangat megah, membiarkan draf cahaya keemasan yang jernih menyapu bersih sisa-sisa kabut salju di puncak Pegunungan Cumberland.Semburat warna fajar itu menandakan berakhirnya masa pelarian romantis mereka di pondok pegunungan yang telah menjadi saksi bisu runtuhnya dinding ego dan trauma masa lalu.Kereta kuda mewah berlogo singa emas Grosvenor kini telah kembali terparkir dengan anggun di depan halaman pondok.Henry sudah berdiri tegap menanti di samping pintu kereta. Di lengannya, tersampir sepasang pakaian formal Duke dan Duchess yang baru, ditenun dari kain wol dan sutra terbaik yang sengaja dibawanya langsung dari lemari utama kastil.Arthur menuntun Helena keluar dari pintu pondok kayu dengan langkah kaki yang mantap, penuh wibawa seorang penguasa tertinggi yang telah terlahir kembali dengan jiwa yang utuh.Tidak ada lagi gumpalan trauma masa lalu, bayang-bayang kelam mendiang Duke
“Ta-tapi, Tuan Duke—”Kalimat Helena terputus ketika jari telunjuk Arthur yang dingin menekan bibirnya dengan kuat. Helena bisa merasakan tekstur kulit pria itu yang halus namun terasa mengancam.Arthur mendekatkan wajahnya, memangkas jarak hingga Helena bisa mencium aroma alkohol dari sampanye pag
Helena berdiri mematung di tengah koridor sayap timur yang sepi. Di hadapannya, Ny. Gable, kepala pelayan senior yang telah mengabdi pada keluarga Grosvenor selama tiga puluh tahun, berdiri tegak dengan tangan tertangkup di depan apron hitamnya yang kaku.Wajah wanita tua itu tampak seperti pahatan
Helena mencoba menarik pergelangan tangannya, namun cengkeraman Arthur terasa seperti borgol besi yang dingin.Punggungnya membentur meja kerja mahoni yang keras, membuat beberapa pena bulu di atasnya bergetar pelan.Dia lalu menatap mata Arthur, mencari sedikit saja jejak belas kasihan atau penjel
Pagi itu, suasana Kastil Grosvenor terasa berbeda. Keberangkatan Duchess Selene menuju perbatasan selatan menyisakan keheningan yang janggal sekaligus mencekam bagi Helena.Kereta kuda yang membawa sang nyonya baru saja menghilang di balik gerbang besar, dan bagi seluruh penghuni kastil, itu berart







