Share

Chapter 06

Author: authorpuspita
last update publish date: 2026-10-06 17:00:20

"Tujuanku datang ke sini untuk—" Jarvis melirik Dellza, "—menikahinya."

Bagai petir yang menyambar telinga, mereka sangat tersentak dengan kalimat itu.

"Apa?!" Maeson membelalakkan mata kepada Jarvis.

"Ya, aku ingin menikahi Dellza Leuzinger," tegas Jarvis.

Dellza menatapnya marah. "Kegilaan apa ini?! Keinginan yang tidak masuk akal! I don't even know you!"

"Keinginanku sangat masuk akal. Menikah itu sesuatu yang waras," ucapnya datar.

"Dan kau yang tidak waras!" Dellza bangkit dari tempat duduknya, suaranya bergetar. "Maafkan aku, tapi memang benar kau gila. Menikah katamu?"

Manka menyambung, "Tn. Jarvis, kau datang dengan membawa bencana untuk kami."

Jarvis tersenyum kecut. "Menikah adalah bencana? Are you serious, Mrs. Leuzinger?"

"Apa alasanmu ingin menikahi putriku?" tanya Maeson.

Jarvis menjawab, "Aku ingin menikahinya, cukup itu saja yang kau ketahui."

"Tidak! Aku tidak mau!" Dellza beranjak, melangkahkan kakinya ingin meninggalkan ruang tamu.

"Kau sungguh tidak mau? Maka aku benar-benar akan seperti apa yang Ibumu katakan!" Suara Jarvis begitu lantang.

Dellza berhenti dan membalikkan badan. "Apa maksudmu?"

Jarvis berdiri. "Membawa bencana untuk kalian."

"Apa yang akan kau lakukan?!" Dellza menatapnya tajam.

Maeson berkata, "Dellza takkan menikah denganmu. Aku sebagai ayahnya takkan pernah setuju."

"Kau dengar itu, Tn. Goncalve?" geram Dellza.

Jarvis merogoh belakang tubuhnya dan tiba-tiba mengarahkan pistol ke arah serong kiri, tepat di tempat Maeson duduk di kursi roda. Manka dan Dellza terkejut.

"Dad!" Dellza satu langkah mendekat.

"Apa yang kau lakukan? Jangan sakiti suamiku!" pekik Manka.

Jarvis menunjukkan wajah dinginnya. "Aku bisa saja melenyapkan orang tersayang kalian ini sekarang juga. Tapi Dellza, aku akan memberimu waktu sampai besok pagi. Jika kau menolak, Ayah dan segalanya yang kau miliki akan kulenyapkan. Aku serius."

"Bukankah kau cukup tahu banyak tentangku? Aku mencintai seseorang! Kau tak bisa memaksa perasaanku!" Dellza menunduk, suaranya serak menahan tangis. Tangannya menggenggam ujung bajunya erat-erat.

Jarvis tersenyum miring. "I don't fucking care! Kau pilih Ayahmu atau Theo? Pilihan ada padamu."

He really knows about me. Bahkan dia tahu nama Theo. God, what's this problem? Dellza membatin.

Jarvis menurunkan tangannya, menyimpan pistol, lalu melenggang pergi. Dellza mendekati Ayahnya dan memeluknya. Gadis itu menangis, ia takut setengah mati ketika Jarvis mengarahkan pistol ke Maeson.

Pada sore harinya...

Maeson menyendiri di kamarnya. Kepalanya rasanya ingin pecah memikirkan masalah hari ini. Ia tak sanggup melihat Dellza menderita karena pernikahan yang dipaksa; ia mencoba berpikir mencari cara untuk menghentikan Jarvis. Namun bila dipikirkan, seandainya Maeson menyerahkan hidupnya demi Dellza, itu sia-sia. Jarvis pasti akan tetap membuat Dellza menikah dengannya, lalu Dellza akan menderita tanpa kehadiran Maeson. Itu akan jauh lebih menyakitkan untuk Dellza.

Ponsel Maeson berdering, panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Maeson menerimanya.

"Hai, Tn. Leuzinger. Kau masih mengenali suaraku?" ucap seseorang di seberang sana.

Maeson membeku. Itu suara Jarvis Goncalve.

"Aku lihat Dellza mendatangi kantor polisi. Aku yakin dia ingin melaporkanku."

"Itu bagus."

"Sungguh? Dengar, jangan menganggapku remeh. Bila polisi sampai berurusan denganku, aku tak segan melukai Dellza."

"Kau! Jangan beraninya kau sentuh putriku!"

Jarvis tertawa di seberang sana. "Kau pasti tidak mau dengar berita tewasnya seorang mahasiswi, bukan?"

Maeson mengepalkan tangannya. Panggilan diakhiri secara sepihak oleh Jarvis. Kemudian pesan demi pesan masuk. Maeson membuka pesan berisi multimedia—foto-foto Dellza yang tampaknya diambil secara diam-diam oleh seseorang yang mengawasinya. Maeson ingat penampilan Dellza dari beberapa hari yang lalu. Jarvis ternyata sudah mengawasinya sejak lama, hingga hari ini datang ke rumah.

Beberapa menit kemudian...

Dellza kembali dari kampusnya kali ini bersama seorang polisi. Gadis itu mempersilakan polisi untuk duduk; ia akan memanggil orangtuanya. Tak lama, Dellza datang bersama Manka yang mendorong kursi roda Maeson.

"Sayang, kenapa ada polisi?" tanya Maeson.

Dellza menatap polisi, lalu kembali ke Maeson. "Dad, aku melaporkan perbuatan Jarvis padamu."

"Apa?" Manka mengernyit.

Polisi beranjak dan mendekat. "Ya, itu benar. Nona ini melaporkan seorang pria bernama Jarvis Goncalve atas tindak kejahatan. Katanya Tn. Jarvis mengancam kalian dan menodongkan pistol padamu, Tn. Leuzinger. Aku datang untuk mendengar langsung darimu, karena Tn. Jarvis bukan sembarang orang dan dia punya reputasi baik."

"Kau mulai lagi, Pak Polisi!" sambar Dellza. "Seseorang dengan reputasi baik belum tentu dirinya benar-benar baik."

Polisi itu menggeleng pelan. "Untuk mengurus laporanmu itu harus ada bukti, Nona. Bagaimana bisa kami kepolisian langsung percaya pada ucapanmu saja?"

Dellza maju selangkah, matanya menyala. "Kau bisa tanya langsung pada Ayahku! Dia yang pria gila itu todongkan pistol!"

Manka mengernyit. "Kau ini bicara apa, Dellza?"

Dellza menoleh dan mengerutkan dahi. "Mom, what?"

"Aku tidak mengerti. Pistol apa maksudmu, Nak?" Maeson berusaha mengangkat tubuhnya dari kursi roda, wajahnya penuh kebingungan.

Dellza tercengang. "Dad! Dad, kau tidak mungkin lupa! Jarvis mengarahkan pistolnya padamu! Dia mengancam kita!"

"Apa itu benar, Tn. Leuzinger?" tanya polisi.

Maeson menggeleng. "Tidak, itu sama sekali tidak benar. Tuan Goncalve datang dengan sangat baik ke rumah kami."

Polisi menatap Dellza, alisnya terangkat penuh selidik. "Apa ini, Nona? Kau coba mempermainkan polisi?"

"Tidak, Pak! Aku bersumpah!" Dellza memegang kursi roda Ayahnya. "Kenapa kau berbohong?! Apa kau takut? Apa Jarvis mengancammu lagi? Katakan, Dad!"

Maeson enggan menatap mata putrinya. "Manka, bawa dia ke kamarnya."

Manka memegang Dellza, menariknya untuk ikut bersamanya. Namun Dellza menghentakkan tangannya dan berhadapan dengan polisi.

"Demi Tuhan! Percaya padaku! Entah apa yang terjadi pada Daddy, dia sampai berbohong!" kata Dellza.

Maeson membantah. "Kau yang berbohong, Dellza!"

Dellza menatap Maeson tak percaya. Polisi itu sangat bingung dengan keadaan keluarga tersebut.

Polisi berkata, "Baiklah, begini saja, Nona. Jika ucapanmu benar, apa kau punya bukti yang lebih kuat lagi? Foto atau rekaman video?"

"Aku tidak punya! Tapi tolong, percaya padaku! Cuma kau yang bisa menyelamatkan hidup kami!" Dellza terlihat akan menangis.

"Pak, kau pergi saja. Anakku ini sedang depresi berat sehingga pikirannya tidak terkontrol," ucap Maeson.

Dellza menatap Maeson dengan kecewa. Karena tak ada yang perlu dilakukan lagi, polisi pun pergi. Dellza meneteskan air matanya tepat di depan sang Ayah. Ia marah, kecewa, dan sedih. Manka menahan air matanya susah payah.

"Ya, aku akan depresi. Karena kebohonganmu itu." Air mata Dellza mengalir.

Maeson menunduk. "Maafkan Daddy. Aku terpaksa lakukan ini demi kebaikanmu. Aku tidak ingin kehilangan putriku satu-satunya."

"Apa kau ingin aku menerima pernikahan itu? Apa kalian ingin?" Dellza melihat Manka dan Maeson bergantian.

Mereka hanya diam. Dellza tersenyum dan menyeka air matanya. "Baiklah, karena kalian tidak mendukungku. Pernikahan itu akan membuat kalian benar-benar kehilanganku," katanya.

"Tolong, mengerti!" pekik Manka. "Kita bertiga terjebak, Dellza! Kalau kau menolak, dia akan menghabisi Ayahmu dan kemungkinan besar dia akan tetap menikahimu dengan segala cara. Dengan segala cara, kau dengar! Kau hanya akan membuat kita dalam kesulitan!"

Dellza melawan. "Kalau begitu kita bertiga bunuh diri saja! Semuanya akan selesai!"

"Dellza!" bentak Manka. "Kau ingin mengubur harapan Ayahmu untuk mati dengan tenang demi keegoisanmu?"

Dellza terdiam. Bibirnya bergetar, kedua tangannya gemetar di samping tubuh.

"Hanya karena satu penolakanmu, kau korbankan Ayahmu? Itu sama saja kau yang menghabisinya, bukan Tn. Jarvis. Catat itu!" kata Manka.

Maeson berucap, "Aku mau kau menikah dengannya, demi hidup kami... dan hidupmu."

Kecewa sekali rasanya Dellza, gadis itu kehilangan kata-kata dan energi tubuhnya. Gadis berusia duapuluh tiga tahun itu melenggang pergi ke lantai atas. Sampai di kamar, ia menguncinya dan terjatuh. Ia berteriak sekencang-kencangnya diiringi tangis.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 11

    Beberapa saat kemudian ... Seperti yang sudah dikatakan Altherr, Moses membawa Dellza untuk memperlihatkan klub malam tersebut. Dellza merasa tidak bersemangat mengingat sikap Altherr yang semena-mena terhadapnya kali ini. Namun, bersikap menurut mungkin lebih baik untuk saat ini. Gedung klub malam itu membuat Dellza terkesima. Dari dalam mobil, ia sudah bisa melihat kemegahannya. Setelah Moses memarkirkan mobil, ia dan Dellza keluar. "Ayo," ajak Moses Elwood. For God's sake! Gedung klub malam itu tinggi sekali. Dari luar saja sudah terlihat bahwa klub itu bukan klub biasa. Pasti di dalamnya sangat mewah, pikir Dellza. Mereka berjalan masuk. Suasananya sepi sekali. Hanya ada beberapa orang yang tampak sedang membersihkan dan mempersiapkan segala sesuatu. Moses mulai menjelaskan tentang XOV, nama klub malam tersebut. Bangunannya terletak di Downtown LA dan berdiri sejak tahun 1983. Dulu, p

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 10

    "Cari tahu lebih banyak tentang gadis itu dan atur beberapa Black Gonca untuk mengawasinya." Altherr berbalik, menatap Moses Elwood. Dellza kembali lagi ke pusat rehabilitasi untuk Theo Burckhalter. Theo adalah salah satu manusia yang cukup berarti baginya. Begitu pula sebaliknya. Di usianya yang kedua puluh tujuh tahun, Theo harus menjalani rehabilitasi setelah kecanduan narkoba, dan Dellza selalu mendukungnya agar bisa sembuh. Dellza menerima segala kekurangannya dan mencintainya dengan tulus, membuat Theo setia menaruh hatinya untuk gadis itu. Di ruang makan, Dellza dengan telaten menyuapi Theo yang tak melepaskan pandangan darinya sama sekali. Aku menikmati setiap detik bersamamu hari ini. Karena mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu, ucap Dellza dalam hati. "Ini sangat lezat!" kata Theo. Dellza tersenyum. "Setelah ini, kau minum obatmu." "Dari tanganmu lagi," ujar Theo sambil ter

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 09

    Pada siang hari... Sorot mata abu-abu miliknya menembus kaca mobil. Tak memperhatikan suasana di sepanjang jalan, pikirannya tenggelam dengan kebingungan. Kemana dia akan pergi? Dellza tidak tahu. Soal bibinya, dia berbohong. Dia tidak punya kerabat tinggal di Los Angeles. Kemudian Dellza menatap ponselnya yang mati. "Kau ingin menghubungi seseorang? You can use my phone." Suara Moses memecah keheningan. Dellza menoleh dan tersenyum kecil. "No, thanks." Gadis itu ada keinginan menghubungi Ibu atau Ayahnya, namun dia tak yakin. Moses masih saja memperhatikan Dellza, ia merasa gadis itu kebingungan. Ia pun menyarankan Dellza untuk kembali mansion karena Altherr sendiri tidak keberatan. Dellza juga bisa tinggal di apartemen milik Altherr. Uf, bila gadis lain di posisi Dellza saat ini pasti akan berpikir betapa enak hidupnya. Mendapat bantuan seserius itu. Namun Dellza Leuzinger, seseorang yang tidak mau terus menerus merepotkan orang lain. "Nona?" panggil Moses. Dellza a

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 08

    Seperti bos pada umumnya, Altherr memerintahkan Moses untuk menangani Dellza selama dia tidak ada, sampai gadis itu meninggalkan mansion. Dellza menatap keluar jendela melihat Altherr yang melangkah mendekati mobilnya, nampaknya dia akan pergi. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih secara langsung padanya, batin Dellza. Ia teringat ucapan si wanita kepala pelayan mansion. "Tuan tidak terbiasa menerima ucapan terima kasih, jika apa yang dia lakukan memang karena keinginannya sendiri." Senyuman kecil bergerak di bibirnya yang ranum. Itu artinya Altherr memang sungguh menolong dirinya. Kelihatannya pria itu bukan manusia yang punya simpati, sebab matanya yang tajam, auranya yang sedingin es, dan kadang dia berkata seenaknya. Dellza ingat bagaimana Altherr bicara kepada Ulrich dan Jarvis, ayahnya. Tidak ada sopan santun. Namun semuanya menjadi dominan dengan sifat Altherr pada Dellza; menolongnya, mengurusnya, dan yang paling berkesan saat Altherr menghormati Dellza di depan J

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 07

    Kembali ke masa kini… "Siapa pun tidak boleh tahu jika kau adalah istriku." Kalimat barusan menyentuh otak Dellza. Sebenarnya ini bukan yang pertama pria setengah baya itu mengatakannya—ralat, tepatnya peringatan. Jarvis menarik kursi dan duduk tepat di samping Dellza, memperhatikannya. Dellza tetap menatap ke depan, tak sedikit pun menoleh padanya, pada sosok yang secara resmi menjadi suaminya. Hanya saja pernikahan yang terjadi di antara mereka sangat rahasia. Prosesi janji suci diadakan di rumah Leuzinger dan hanya dihadiri oleh Maeson, Manka, serta orang kepercayaan Jarvis sebagai saksi. Tak ada pesta; lepas begitu saja setelah pendeta menyatakan mereka suami istri. Sebelum membawa pergi Dellza, Jarvis memaparkan peringatan kepada orang tuanya untuk menutup rapat-rapat pernikahan itu sampai ia sendiri yang mengatakannya pada publik. Bila pernikahan mereka bocor, Jarvis akan memperlakukan Dellza dengan sangat buruk. Tibalah waktu Dellza dibawa oleh suami yang usianya san

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 06

    "Tujuanku datang ke sini untuk—" Jarvis melirik Dellza, "—menikahinya." Bagai petir yang menyambar telinga, mereka sangat tersentak dengan kalimat itu. "Apa?!" Maeson membelalakkan mata kepada Jarvis. "Ya, aku ingin menikahi Dellza Leuzinger," tegas Jarvis. Dellza menatapnya marah. "Kegilaan apa ini?! Keinginan yang tidak masuk akal! I don't even know you!" "Keinginanku sangat masuk akal. Menikah itu sesuatu yang waras," ucapnya datar. "Dan kau yang tidak waras!" Dellza bangkit dari tempat duduknya, suaranya bergetar. "Maafkan aku, tapi memang benar kau gila. Menikah katamu?" Manka menyambung, "Tn. Jarvis, kau datang dengan membawa bencana untuk kami." Jarvis tersenyum kecut. "Menikah adalah bencana? Are you serious, Mrs. Leuzinger?" "Apa alasanmu ingin menikahi putriku?" tanya Maeson. Jarvis menjawab, "Aku ingin menikahinya, cukup itu saja yang kau ketahui." "Tidak! Aku tidak mau!" Dellza beranjak, melangkahkan kakinya ingin meninggalkan ruang tamu. "Kau sunggu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status