ANMELDENBeberapa saat kemudian ...
Seperti yang sudah dikatakan Altherr, Moses membawa Dellza untuk memperlihatkan klub malam tersebut. Dellza merasa tidak bersemangat mengingat sikap Altherr yang semena-mena terhadapnya kali ini. Namun, bersikap menurut mungkin lebih baik untuk saat ini. Gedung klub malam itu membuat Dellza terkesima. Dari dalam mobil, ia sudah bisa melihat kemegahannya. Setelah Moses memarkirkan mobil, ia dan Dellza keluar. "Ayo," ajaDellza bertanya, "Lalu, kenapa kau terlihat khawatir?" "Aku mengkhawatirkanmu!" jawab Hannah. "Caroline itu bersikap seenaknya di sini. Salah satu kebiasaannya adalah mempermainkan karyawan baru." Dellza terdiam. Hannah mengembuskan napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya. "Dia pernah mengikatku di tiang pole dance dan menyiramku dengan rum. Membiarkan orang-orang menyaksikannya, menjadikan aku bahan olok-olokan. Tapi untungnya, tidak ada yang boleh merekam kejadian itu." "Itu tetap mengerikan dan tidak manusiawi!" seru Dellza dengan wajah tak percaya. "Kau tidak melaporkannya pada Bonedette?" "Sudah," jawab Hannah lesu, "tapi dia tak bisa berbuat apa-apa." "Tuan Altherr?" tanya Dellza, berharap ada campur tangan dari pemilik klub. Hannah menggeleng dengan ekspresi getir. "Tetap nihil. Justru dia memarahiku." "Eeww, what the fuck!" Dellza tampak kesal.
Ini dia, awal malam yang akan Dellza Leuzinger jalani dengan statusnya sebagai pramuria di klub malam milik Altherr Goncalve. Sebelum terjun ke ruang klub, Dellza mempersiapkan diri di ruang ganti. Seragam pramuria XOV sudah membalut tubuhnya. Warnanya hitam, dengan simbol kepala serigala dan nama klub berwarna emas di bagian dada kiri. Dellza mematut dirinya di cermin berukuran besar. Ia mencoba menurunkan sedikit roknya, tetapi tidak bisa. Rok ini terlalu pendek, keluhnya dalam hati. Perhatian Dellza berubah ketika tiga orang wanita lewat di belakangnya. Dari pantulan kaca, ia melihat bagaimana mereka memandangnya, lebih tepatnya dengan tatapan bertanya-tanya. Mungkin mereka baru pertama kali melihat Dellza. Setelah mereka pergi, Dellza tidak langsung keluar. Ia duduk dan menghela napas gusar. Ia merasa khawatir. Bekerja di klub membuatnya takut. Seandainya dia punya pilihan. Ia teringat perkataan Moses.
Beberapa saat kemudian ... Seperti yang sudah dikatakan Altherr, Moses membawa Dellza untuk memperlihatkan klub malam tersebut. Dellza merasa tidak bersemangat mengingat sikap Altherr yang semena-mena terhadapnya kali ini. Namun, bersikap menurut mungkin lebih baik untuk saat ini. Gedung klub malam itu membuat Dellza terkesima. Dari dalam mobil, ia sudah bisa melihat kemegahannya. Setelah Moses memarkirkan mobil, ia dan Dellza keluar. "Ayo," ajak Moses Elwood. For God's sake! Gedung klub malam itu tinggi sekali. Dari luar saja sudah terlihat bahwa klub itu bukan klub biasa. Pasti di dalamnya sangat mewah, pikir Dellza. Mereka berjalan masuk. Suasananya sepi sekali. Hanya ada beberapa orang yang tampak sedang membersihkan dan mempersiapkan segala sesuatu. Moses mulai menjelaskan tentang XOV, nama klub malam tersebut. Bangunannya terletak di Downtown LA dan berdiri sejak tahun 1983. Dulu, p
"Cari tahu lebih banyak tentang gadis itu dan atur beberapa Black Gonca untuk mengawasinya." Altherr berbalik, menatap Moses Elwood. Dellza kembali lagi ke pusat rehabilitasi untuk Theo Burckhalter. Theo adalah salah satu manusia yang cukup berarti baginya. Begitu pula sebaliknya. Di usianya yang kedua puluh tujuh tahun, Theo harus menjalani rehabilitasi setelah kecanduan narkoba, dan Dellza selalu mendukungnya agar bisa sembuh. Dellza menerima segala kekurangannya dan mencintainya dengan tulus, membuat Theo setia menaruh hatinya untuk gadis itu. Di ruang makan, Dellza dengan telaten menyuapi Theo yang tak melepaskan pandangan darinya sama sekali. Aku menikmati setiap detik bersamamu hari ini. Karena mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu, ucap Dellza dalam hati. "Ini sangat lezat!" kata Theo. Dellza tersenyum. "Setelah ini, kau minum obatmu." "Dari tanganmu lagi," ujar Theo sambil ter
Pada siang hari... Sorot mata abu-abu miliknya menembus kaca mobil. Tak memperhatikan suasana di sepanjang jalan, pikirannya tenggelam dengan kebingungan. Kemana dia akan pergi? Dellza tidak tahu. Soal bibinya, dia berbohong. Dia tidak punya kerabat tinggal di Los Angeles. Kemudian Dellza menatap ponselnya yang mati. "Kau ingin menghubungi seseorang? You can use my phone." Suara Moses memecah keheningan. Dellza menoleh dan tersenyum kecil. "No, thanks." Gadis itu ada keinginan menghubungi Ibu atau Ayahnya, namun dia tak yakin. Moses masih saja memperhatikan Dellza, ia merasa gadis itu kebingungan. Ia pun menyarankan Dellza untuk kembali mansion karena Altherr sendiri tidak keberatan. Dellza juga bisa tinggal di apartemen milik Altherr. Uf, bila gadis lain di posisi Dellza saat ini pasti akan berpikir betapa enak hidupnya. Mendapat bantuan seserius itu. Namun Dellza Leuzinger, seseorang yang tidak mau terus menerus merepotkan orang lain. "Nona?" panggil Moses. Dellza a
Seperti bos pada umumnya, Altherr memerintahkan Moses untuk menangani Dellza selama dia tidak ada, sampai gadis itu meninggalkan mansion. Dellza menatap keluar jendela melihat Altherr yang melangkah mendekati mobilnya, nampaknya dia akan pergi. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih secara langsung padanya, batin Dellza. Ia teringat ucapan si wanita kepala pelayan mansion. "Tuan tidak terbiasa menerima ucapan terima kasih, jika apa yang dia lakukan memang karena keinginannya sendiri." Senyuman kecil bergerak di bibirnya yang ranum. Itu artinya Altherr memang sungguh menolong dirinya. Kelihatannya pria itu bukan manusia yang punya simpati, sebab matanya yang tajam, auranya yang sedingin es, dan kadang dia berkata seenaknya. Dellza ingat bagaimana Altherr bicara kepada Ulrich dan Jarvis, ayahnya. Tidak ada sopan santun. Namun semuanya menjadi dominan dengan sifat Altherr pada Dellza; menolongnya, mengurusnya, dan yang paling berkesan saat Altherr menghormati Dellza di depan J







