ANMELDENSenyum Dellza memudar mengingat kecelakaan satu tahun lalu yang menimpa Ayahnya, sehingga Maeson harus kehilangan kemampuan berjalan atau biasa disebut lumpuh. Itu sangat mengacaukan perasaannya. Dellza tahu bukan cuma kecelakaan di persimpangan depan saja yang Maeson pikirkan, pasti dia juga trauma dengan kecelakaan yang dialami sendiri. Dellza sampai membawa Maeson ke meja makan, mereka sarapan bersama.
Menit-menit telah berlalu. Waktu sarapan telah selesai, kini saatnya bagi Dellza untuk mengantar keranjang-keranjang berisi tomat yang sudah siap di mobil pick up-nya. Maeson melihat putrinya yang masuk ke dalam mobil untuk pergi. Dellza melambaikan tangannya dan melaju meninggalkan rumah. Ia menikmati perjalanannya, membiarkan jendelanya terbuka sehingga merasakan sensasi angin yang bertiup mengibaskan rambut panjangnya. Ia juga mendengarkan musik dari radio yang diputar, sesekali bernyanyi. Dellza dengan ramah menyapa para tetangga yang kebetulan berpapasan dengannya. Hal yang paling Dellza sukai ketika pergi keluar ialah ia bisa melihat peternakan dan sapi-sapi yang dilepas di rerumputan hijau di sekitar peternakan. Dellza sampai di tujuan, ia berhenti di depan minimarket yang menjajakan aneka buah dan sayuran. Dellza turun dari mobilnya dan menghampiri wanita gemuk pemilik tokonya. "Akhirnya gadis cantik datang!" ucap wanita itu dengan ramah. Dellza tertawa. "Gadis tomat, Bibi!" Mereka tertawa bersama. Usai pick up-nya dikosongkan, saatnya Dellza untuk pulang. Sejenak Dellza menghitung uang yang berada di tangannya. Lalu membawa mobilnya meluncur ke jalan. Dellza berhenti di tepi jalan peternakan, ia turun dan memanggil pemuda yang tengah membawa seember air. Pemuda itu mendekat ke pagar pembatas. "Berkencan dengan sapi, huh?" ucap Dellza dengan tersenyum. Pemuda itu tertawa. "Tidak pagi-pagi begini. Nanti malam." Dellza tertawa. "Hahaha! What's up, Johnny?" "Nothing much. Seperti biasa ... memberi pakan sapi. Pamanku juga akan menyuruhku menemui pelanggannya nanti. How about you?" Johnny menyandarkan embernya di pagar, menatap Dellza penuh arti. "Same to you, nothing much. Seperti biasa." Dellza mengangkat bahu sambil menyandarkan satu tangannya ke atas pagar. "Nanti siang aku jemput kau." Dellza menunjuk Johnny dengan telunjuknya. "Kau yakin ingin pergi?" Johnny mengerutkan dahi, "bukankah kau benci dosen itu? Haha!" Dellza menghela napas panjang. "Yeah, aku ingin lihat lagi, apakah dia akan menunjukku untuk menjawab pertanyaan tidak rasionalnya." "Konyol!" Johnny menggelengkan kepala sekejap. "Oh ya, kau sudah kunjungi Theo?" Dellza membuang napas dari mulut, terdengar putus asa. "Aku belum ada waktu untuk pergi ke LA. Aku yakin dia baik-baik saja." "Ya, dia akan sembuh." Johnny tersenyum menenangkan, menepuk bahu Dellza dari balik pagar. "Aku akan pulang. Sampai bertemu nanti siang!" Dellza berbalik, melambaikan tangan tanpa menoleh. "See ya." Johnny mengangkat satu tangannya, tersenyum sebelum kembali ke embernya. Dellza melangkah ke mobil pick up-nya. "Bye, Johnny Sins!" "The fuck, Dellza! Aku bukan bintang situs menjijikkan itu! Awas kau nanti!" balas Johnny dengan berkacak pinggang dan melebarkan senyumnya. Di samping itu. Pada saat Manka merapikan taman dengan alat kebunnya, ia dibuat bingung dengan kemunculan dua mobil mewah berwarna hitam. Manka mengelap peluh keringatnya dan terus memperhatikan mobil-mobil tersebut. Pertama yang muncul dua pria berpakaian serba hitam yang formal, seperti pengawal presiden saja. Lalu muncullah seorang pria yang lebih mencolok. Penampilannya classy gentleman. Kemeja putih dengan rompi berwarna royal blue. Pria itu memakai kacamata senada dengan warna rompinya. Pria itu menghampiri Manka, sembari melepas kacamata. "Selamat pagi, Nyonya Leuzinger!" "Pa--pagi, Tuan," jawab Manka sedikit gugup. Pria itu melangkah mendekat, menunduk sedikit. "Kau terlihat bingung sekali." "Aku seperti pernah melihatmu, kau ada di televisi kemarin. Kau ... Jarvis Goncalve?" Manka menutup mulutnya dengan tangan, tidak percaya. Pria itu tersenyum. "Ya!" "Oh, my God!" Manka terkejut, "apa yang membuatmu datang kemari, Tuan?" Jarvis meletakkan kacamatanya ke kepala Manka. "Dellza Leuzinger, putrimu. Di mana dia?" "Pu--triku?" Manka mengernyit. "Dia sedang pergi, tapi dia akan segera pulang." "Baiklah, aku akan menunggunya." Jarvis tersenyum. Manka menawarkan pebisnis besar itu untuk masuk ke rumahnya, menunggu Dellza pulang. Maeson bingung dengan kedatangan tamu sebesar Jarvis Goncalve. Manka memberitahu suaminya bila Jarvis ingin bertemu dengan Dellza. Maeson merasa cemas, kenapa pria dengan reputasi tinggi seperti Jarvis ingin bertemu dengan putrinya? Apakah Dellza membuat kesalahan? Jarvis menenangkan pria tua itu dengan berkata bila ia tak ada masalah dengan Dellza. Jarvis yang duduk di sofa mengedarkan pandangannya menatap kondisi rumah keluarga Leuzinger, pandangannya begitu menilai. "Kau mau minum apa, Tuan?" tanya Manka dengan hati-hati. "Tidak, tidak perlu. Terima kasih," kata Jarvis. Dari jendela Manka melihat kepulangan Dellza dengan pick up-nya. Manka melenggang keluar. Dellza merasa sangat bingung melihat keberadaan dua mobil mewah dan pengawal. Dellza sampai di teras rumah. Dellza bertanya, "Mom, siapa yang datang?" Manka menarik tangan Dellza, membawanya masuk. Dellza terkejut melihat sosok yang populer di internet itu. Jarvis berdiri dan tersenyum. "Nona Leuzinger, hi!" Dellza melempar tatapannya pada Manka dan Maeson. Lalu ke Jarvis lagi. "Hi.. Tuan." "Tn. Jarvis ingin menemuimu," ucap Manka. Jarvis mendekat. "Ya." "Kenapa?" tanya Dellza. "Aku dengar kalian punya area berkuda," gumam Jarvis. "Bisa aku melihatnya? Tapi dengan Dellza saja." Dellza sungguh bingung dengan sikap pria usia kepala empat ini. Sorot matanya yang nakal cukup mengganggunya, namun Dellza akan mencoba bersikap tetap baik. Mungkin ini hanya perasaannya saja. Dellza mengangguk dan berjalan ke belakang rumah, Jarvis mengekorinya. Manka duduk di sofa. "Bukankah ini aneh? Tuan kaya raya itu datang untuk menemui Dellza, Maeson." "Apa mereka saling mengenal?" tanya Maeson. "Tidak. Aku tahu tentang Dellza. Aku akan menanyakannya nanti pada Tn. Jarvis. Bagaimana bisa dia kenal kita dan apa alasannya menemui putri kita?" Manka mengerutkan kening, gelisah sambil melipat tangannya di pangkuan. Keluarga Leuzinger memanfaatkan halaman luas yang berada di belakang rumah untuk rumah kandang bagi keempat kudanya, dan area berkuda. Jarvis menatap seluruhnya dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. "Keluargamu suka berkuda?" tanya Jarvis. Dellza berdiri di sisinya. "Hanya aku. Mom and Dad hanya mendukungku. Aku sangat tertarik dengan kuda." Jarvis duduk di kursi kayu, diikuti oleh Dellza. Mereka saling berhadapan. "Jadi kau gadis penyuka kuda? Great! Jarang ada gadis seperti dirimu," ucap Jarvis. Dellza tersenyum. "Seandainya bisa, aku ingin sekali unicorn. Dengan rambut dan ekornya berwarna pastel. Tapi itu hanya ada di dongeng." Jarvis tertawa. "Jika itu ada, aku akan memberikanmu lima ekor unicorn." Dellza menunduk malu, pipinya memerah. "Kalau begitu, sepertinya aku harus berdoa keras supaya unicorn itu benar-benar ada." "Kalau kau ingin kuda lagi, beritahu aku saja. Aku akan memberikannya," kata Jarvis. Dellza lantas menatapnya. "Apa yang kau katakan? Kau bicara seolah kau kenal aku." "Aku cukup banyak tahu tentangmu. Sangat." Jarvis tersenyum tipis, matanya menyipit penuh arti. "Seriously?" Dellza mengangkat satu alisnya. "Ini aneh. Orang besar sepertimu kenapa ingin menemuiku. Aku sungguh tidak mengerti. Dan bagaimana kau tahu banyak tentangku?" Jarvis mencondongkan badan ke depan. "Kau ingin tahu tujuanku?" "Ya, tentu saja." Dellza mengangguk mantap, menunggu. Jarvis menyampaikan keinginannya untuk bicara dengan Maeson dan Manka, serta dirinya soal hal yang sangat serius. Dellza yang penasaran pun mengajak Jarvis kembali masuk. Maeson dan Manka masih di ruang tamu. Kini mereka berempat berada di ruangan yang sama.Seperti bos pada umumnya, Altherr memerintahkan Moses untuk menangani Dellza selama dia tidak ada, sampai gadis itu meninggalkan mansion. Dellza menatap keluar jendela melihat Altherr yang melangkah mendekati mobilnya, nampaknya dia akan pergi. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih secara langsung padanya, batin Dellza. Ia teringat ucapan si wanita kepala pelayan mansion. "Tuan tidak terbiasa menerima ucapan terima kasih, jika apa yang dia lakukan memang karena keinginannya sendiri." Senyuman kecil bergerak di bibirnya yang ranum. Itu artinya Altherr memang sungguh menolong dirinya. Kelihatannya pria itu bukan manusia yang punya simpati, sebab matanya yang tajam, auranya yang sedingin es, dan kadang dia berkata seenaknya. Dellza ingat bagaimana Altherr bicara kepada Ulrich dan Jarvis, ayahnya. Tidak ada sopan santun. Namun semuanya menjadi dominan dengan sifat Altherr pada Dellza; menolongnya, mengurusnya, dan yang paling berkesan saa
"Tujuanku datang ke sini untuk—" Jarvis melirik Dellza, "—menikahinya." Bagai petir yang menyambar telinga, mereka sangat tersentak dengan kalimat itu. "Apa?!" Maeson membelalakkan mata kepada Jarvis. "Ya, aku ingin menikahi Dellza Leuzinger," tegas Jarvis. Dellza menatapnya marah. "Kegilaan apa ini?! Keinginan yang tidak masuk akal! I don't even know you!" "Keinginanku sangat masuk akal. Menikah itu sesuatu yang waras," ucapnya datar. "Dan kau yang tidak waras!" Dellza bangkit dari tempat duduknya, suaranya bergetar. "Maafkan aku, tapi memang benar kau gila. Menikah katamu?" Manka menyambung, "Tn. Jarvis, kau datang dengan membawa bencana untuk kami." Jarvis tersenyum kecut. "Menikah adalah bencana? Are you serious, Mrs. Leuzinger?" "Apa alasanmu ingin
Pada siang hari... Sorot mata abu-abu miliknya menembus kaca mobil. Tak memperhatikan suasana di sepanjang jalan, pikirannya tenggelam dengan kebingungan. Kemana dia akan pergi? Dellza tidak tahu. Soal bibinya, dia berbohong. Dia tidak punya kerabat tinggal di Los Angeles. Kemudian Dellza menatap ponselnya yang mati. "Kau ingin menghubungi seseorang? You can use my phone." Suara Moses memecah keheningan. Dellza menoleh dan tersenyum kecil. "No, thanks." Gadis itu ada keinginan menghubungi Ibu atau Ayahnya, namun dia tak yakin. Moses masih saja memperhatikan Dellza, ia merasa gadis itu kebingungan. Ia pun menyarankan Dellza untuk kembali mansion karena Altherr sendiri tidak keberatan. Dellza juga bisa tinggal di apartemen milik Altherr. Uf, bila gadis lain di posisi Dellza saat ini pasti akan berpikir betapa enak hidupnya. Mendapat bantuan seserius itu. Namun De
Kembali ke masa kini… "Siapa pun tidak boleh tahu jika kau adalah istriku." Kalimat barusan menyentuh otak Dellza. Sebenarnya ini bukan yang pertama pria setengah baya itu mengatakannya—ralat, tepatnya peringatan. Jarvis menarik kursi dan duduk tepat di samping Dellza, memperhatikannya. Dellza tetap menatap ke depan, tak sedikit pun menoleh padanya, pada sosok yang secara resmi menjadi suaminya. Hanya saja pernikahan yang terjadi di antara mereka sangat rahasia. Prosesi janji suci diadakan di rumah Leuzinger dan hanya dihadiri oleh Maeson, Manka, serta orang kepercayaan Jarvis sebagai saksi. Tak ada pesta; lepas begitu saja setelah pendeta menyatakan mereka suami istri. Sebelum membawa pergi Dellza, Jarvis memaparkan peringatan kepada orang tuanya untuk menutup rapat-rapat pernikahan itu sampai ia sendiri yang mengatakannya pada publik. Bila pernikahan mereka bocor, Jarvis akan memperlakukan Dellza dengan sangat buruk.
Senyum Dellza memudar mengingat kecelakaan satu tahun lalu yang menimpa Ayahnya, sehingga Maeson harus kehilangan kemampuan berjalan atau biasa disebut lumpuh. Itu sangat mengacaukan perasaannya. Dellza tahu bukan cuma kecelakaan di persimpangan depan saja yang Maeson pikirkan, pasti dia juga trauma dengan kecelakaan yang dialami sendiri. Dellza sampai membawa Maeson ke meja makan, mereka sarapan bersama. Menit-menit telah berlalu. Waktu sarapan telah selesai, kini saatnya bagi Dellza untuk mengantar keranjang-keranjang berisi tomat yang sudah siap di mobil pick up-nya. Maeson melihat putrinya yang masuk ke dalam mobil untuk pergi. Dellza melambaikan tangannya dan melaju meninggalkan rumah. Ia menikmati perjalanannya, membiarkan jendelanya terbuka sehingga merasakan sensasi angin yang bertiup mengibaskan rambut panjangnya. Ia juga mendengarkan musik dari radio yang diputar, sesekali bernyanyi. Dellza dengan ramah menyapa para tetangga yang kebetulan berpapasan dengannya. Hal yan
"Ini pakaian untukmu, Nona. Tuan Altherr yang memesannya untukmu," gumam Anne. Dellza terdiam sejenak. Ia menggigit bibir bawahnya, menatap shopping bag dan Anne secara bergantian. "Aku ... merasa begitu merepotkan. Hum, sampaikan terima kasihku padanya." "Tuan tidak terbiasa menerima ucapan terima kasih jika apa yang dia lakukan karena keinginannya sendiri," balas Anne dengan nada tegas. "Saya akan kembali." Tinggallah Dellza sendirian, ia mendekat ke ranjang tidur dan melihat pakaian apa yang pria itu berikan padanya. Pajama, casual, dan classy outfit. Ia mendadak bingung, bila ia memakai pajama, apakah mungkin? Bukankah seharusnya dia harus pergi dari sini? Dellza duduk di tepi ranjang, dia memutuskan menunggu Anne. Anne datang membawakan makanan hangat untuknya. Anne meletakkan bakinya di meja. "Nona, apa yang Anda pikirkan sampai belum memakai pajama? Anda butuh sesuatu?" "Pajama? Mungkin yang casual, karena aku seharusnya pergi," jawab Dellza. Anne diam. "Bisakah a







