LOGINBeberapa saat kemudian ... Seperti yang sudah dikatakan Altherr, Moses membawa Dellza untuk memperlihatkan klub malam tersebut. Dellza merasa tidak bersemangat mengingat sikap Altherr yang semena-mena terhadapnya kali ini. Namun, bersikap menurut mungkin lebih baik untuk saat ini. Gedung klub malam itu membuat Dellza terkesima. Dari dalam mobil, ia sudah bisa melihat kemegahannya. Setelah Moses memarkirkan mobil, ia dan Dellza keluar. "Ayo," ajak Moses Elwood. For God's sake! Gedung klub malam itu tinggi sekali. Dari luar saja sudah terlihat bahwa klub itu bukan klub biasa. Pasti di dalamnya sangat mewah, pikir Dellza. Mereka berjalan masuk. Suasananya sepi sekali. Hanya ada beberapa orang yang tampak sedang membersihkan dan mempersiapkan segala sesuatu. Moses mulai menjelaskan tentang XOV, nama klub malam tersebut. Bangunannya terletak di Downtown LA dan berdiri sejak tahun 1983. Dulu, p
"Cari tahu lebih banyak tentang gadis itu dan atur beberapa Black Gonca untuk mengawasinya." Altherr berbalik, menatap Moses Elwood. Dellza kembali lagi ke pusat rehabilitasi untuk Theo Burckhalter. Theo adalah salah satu manusia yang cukup berarti baginya. Begitu pula sebaliknya. Di usianya yang kedua puluh tujuh tahun, Theo harus menjalani rehabilitasi setelah kecanduan narkoba, dan Dellza selalu mendukungnya agar bisa sembuh. Dellza menerima segala kekurangannya dan mencintainya dengan tulus, membuat Theo setia menaruh hatinya untuk gadis itu. Di ruang makan, Dellza dengan telaten menyuapi Theo yang tak melepaskan pandangan darinya sama sekali. Aku menikmati setiap detik bersamamu hari ini. Karena mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu, ucap Dellza dalam hati. "Ini sangat lezat!" kata Theo. Dellza tersenyum. "Setelah ini, kau minum obatmu." "Dari tanganmu lagi," ujar Theo sambil ter
Pada siang hari... Sorot mata abu-abu miliknya menembus kaca mobil. Tak memperhatikan suasana di sepanjang jalan, pikirannya tenggelam dengan kebingungan. Kemana dia akan pergi? Dellza tidak tahu. Soal bibinya, dia berbohong. Dia tidak punya kerabat tinggal di Los Angeles. Kemudian Dellza menatap ponselnya yang mati. "Kau ingin menghubungi seseorang? You can use my phone." Suara Moses memecah keheningan. Dellza menoleh dan tersenyum kecil. "No, thanks." Gadis itu ada keinginan menghubungi Ibu atau Ayahnya, namun dia tak yakin. Moses masih saja memperhatikan Dellza, ia merasa gadis itu kebingungan. Ia pun menyarankan Dellza untuk kembali mansion karena Altherr sendiri tidak keberatan. Dellza juga bisa tinggal di apartemen milik Altherr. Uf, bila gadis lain di posisi Dellza saat ini pasti akan berpikir betapa enak hidupnya. Mendapat bantuan seserius itu. Namun Dellza Leuzinger, seseorang yang tidak mau terus menerus merepotkan orang lain. "Nona?" panggil Moses. Dellza a
Seperti bos pada umumnya, Altherr memerintahkan Moses untuk menangani Dellza selama dia tidak ada, sampai gadis itu meninggalkan mansion. Dellza menatap keluar jendela melihat Altherr yang melangkah mendekati mobilnya, nampaknya dia akan pergi. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih secara langsung padanya, batin Dellza. Ia teringat ucapan si wanita kepala pelayan mansion. "Tuan tidak terbiasa menerima ucapan terima kasih, jika apa yang dia lakukan memang karena keinginannya sendiri." Senyuman kecil bergerak di bibirnya yang ranum. Itu artinya Altherr memang sungguh menolong dirinya. Kelihatannya pria itu bukan manusia yang punya simpati, sebab matanya yang tajam, auranya yang sedingin es, dan kadang dia berkata seenaknya. Dellza ingat bagaimana Altherr bicara kepada Ulrich dan Jarvis, ayahnya. Tidak ada sopan santun. Namun semuanya menjadi dominan dengan sifat Altherr pada Dellza; menolongnya, mengurusnya, dan yang paling berkesan saat Altherr menghormati Dellza di depan J
Kembali ke masa kini… "Siapa pun tidak boleh tahu jika kau adalah istriku." Kalimat barusan menyentuh otak Dellza. Sebenarnya ini bukan yang pertama pria setengah baya itu mengatakannya—ralat, tepatnya peringatan. Jarvis menarik kursi dan duduk tepat di samping Dellza, memperhatikannya. Dellza tetap menatap ke depan, tak sedikit pun menoleh padanya, pada sosok yang secara resmi menjadi suaminya. Hanya saja pernikahan yang terjadi di antara mereka sangat rahasia. Prosesi janji suci diadakan di rumah Leuzinger dan hanya dihadiri oleh Maeson, Manka, serta orang kepercayaan Jarvis sebagai saksi. Tak ada pesta; lepas begitu saja setelah pendeta menyatakan mereka suami istri. Sebelum membawa pergi Dellza, Jarvis memaparkan peringatan kepada orang tuanya untuk menutup rapat-rapat pernikahan itu sampai ia sendiri yang mengatakannya pada publik. Bila pernikahan mereka bocor, Jarvis akan memperlakukan Dellza dengan sangat buruk. Tibalah waktu Dellza dibawa oleh suami yang usianya san
"Tujuanku datang ke sini untuk—" Jarvis melirik Dellza, "—menikahinya." Bagai petir yang menyambar telinga, mereka sangat tersentak dengan kalimat itu. "Apa?!" Maeson membelalakkan mata kepada Jarvis. "Ya, aku ingin menikahi Dellza Leuzinger," tegas Jarvis. Dellza menatapnya marah. "Kegilaan apa ini?! Keinginan yang tidak masuk akal! I don't even know you!" "Keinginanku sangat masuk akal. Menikah itu sesuatu yang waras," ucapnya datar. "Dan kau yang tidak waras!" Dellza bangkit dari tempat duduknya, suaranya bergetar. "Maafkan aku, tapi memang benar kau gila. Menikah katamu?" Manka menyambung, "Tn. Jarvis, kau datang dengan membawa bencana untuk kami." Jarvis tersenyum kecut. "Menikah adalah bencana? Are you serious, Mrs. Leuzinger?" "Apa alasanmu ingin menikahi putriku?" tanya Maeson. Jarvis menjawab, "Aku ingin menikahinya, cukup itu saja yang kau ketahui." "Tidak! Aku tidak mau!" Dellza beranjak, melangkahkan kakinya ingin meninggalkan ruang tamu. "Kau sunggu







