Share

Chapter 08

Author: authorpuspita
last update publish date: 2026-10-06 17:00:52

Seperti bos pada umumnya, Altherr memerintahkan Moses untuk menangani Dellza selama dia tidak ada, sampai gadis itu meninggalkan mansion. Dellza menatap keluar jendela melihat Altherr yang melangkah mendekati mobilnya, nampaknya dia akan pergi.

  Aku belum sempat mengucapkan terima kasih secara langsung padanya, batin Dellza.

  Ia teringat ucapan si wanita kepala pelayan mansion. "Tuan tidak terbiasa menerima ucapan terima kasih, jika apa yang dia lakukan memang karena keinginannya sendiri."

  Senyuman kecil bergerak di bibirnya yang ranum. Itu artinya Altherr memang sungguh menolong dirinya. Kelihatannya pria itu bukan manusia yang punya simpati, sebab matanya yang tajam, auranya yang sedingin es, dan kadang dia berkata seenaknya. Dellza ingat bagaimana Altherr bicara kepada Ulrich dan Jarvis, ayahnya. Tidak ada sopan santun. Namun semuanya menjadi dominan dengan sifat Altherr pada Dellza; menolongnya, mengurusnya, dan yang paling berkesan saat Altherr menghormati Dellza di depan Jarvis. Itu membuat Altherr layak disebut gentleman.

  Selepas mobil yang Altherr kendarai melaju semakin jauh, Dellza menjauh dari jendela. Dia akan ke teras mansion. Ulrich berpesan sebelumnya bila ia ingin Dellza menemuinya di teras. Tetapi teras yang mana tepatnya? Mengingat betapa luasnya mansion ini. Dellza bertanya pada seorang pelayan dan diantarnya. Ternyata teras belakang.

  Teras yang sangat luas seperti beranda dengan kolam renang di sana. Pemandangan indah juga menjadi background mansion ini. Dellza sejenak menatap pria tua itu yang duduk di sofa sambil bermain ponsel. Ulrich Goncalve, entah bagaimana reaksinya bila dia tahu bahwa Dellza menantunya.

  Dellza berjalan mendekat. "Tn. Goncalve."

  Ulrich menoleh, dia meletakkan ponselnya dan tersenyum. Dia menepuk sofa di sampingnya, memberi isyarat pada gadis itu untuk duduk. Dellza menurut, duduk dengan sopan.

  "I've been waiting for you since earlier, sweetheart. Ngomong-ngomong jangan memanggilku tuan, panggil aku kakek. Itu lebih nyaman untukku," gumam Ulrich.

  Dellza tersenyum sambil menunduk sopan. "Sesuai keinginanmu, kakek."

  "Yaaa! Like that!" seru Ulrich. "Dellza, aku suka sekali melihatmu dan ... bicara denganmu."

  Dellza mengernyit. Sempat pikiran konyol mendarat di benaknya, takut-takut pria tua itu juga akan seperti Jarvis. "Kenapa, kakek?" tanyanya.

  Ulrich tampak menerawang. "Kau yang punya kualitas dalam bersikap ini mengingatkanku pada seseorang."

  "Kakek, bagaimana bisa kau berpikir sebagus itu padaku? Kita baru saja bertemu dan aku tak yakin sikapku benar-benar baik. But I always try," ujarnya sambil menatap pria tua itu.

  "Aku tak menemukan kepura-puraan di matamu yang indah itu, Dellza. Senyummu yang tulus. I really like. Kehadiranmu cukup ... mengobati kerinduanku padanya," jawab Ulrich dengan suara yang melembut.

  "Siapa wanita itu, kakek?" tanya Dellza penasaran.

  "Ariana, kekasih cucuku Dustin," jawab Ulrich pelan.

  "Jadi Altherr punya saudara?" tanya Dellza.

  "Ya. Adiknya," sahut Ulrich.

  "Apa dia tinggal di tempat lain? Kenapa dia tidak ada di sini, kakek?" tanya Dellza lagi.

  Ulrich diam sebentar. "Dia sudah meninggal, sayang. Bersama kekasihnya."

  Mendengar itu Dellza terkejut sampai tubuhnya membeku seketika. Dia merasa tidak enak karena mengajukan pertanyaan barusan.

  "Kakek, aku sungguh minta maaf. Aku ..." ucap Dellza dengan suara bergetar.

  "It's okay, darling." Ulrich tersenyum. "Kau tidak tahu. Jadi bukan masalah."

  "Aku turut berduka. Semoga mereka beristirahat dalam damai," ucap Dellza lembut sambil menunduk.

  Dellza penasaran mengapa itu bisa terjadi; sangat langka sepasang kekasih meninggal bersama. Namun dia takkan bertanya. Siapalah dia yang layak bertanya seperti itu? Mengingat dirinya hanyalah orang asing, meski ada fakta tersembunyi hubungannya dengan Jarvis Goncalve.

  Ulrich bertanya, "Kau sepertinya tidak tahu tentang keluarga Goncalve. Benarkah?"

  "Aku ... hanya tahu Jarvis Goncalve. Dia cukup sering tampil di media, dan ... aku sebenarnya tidak tertarik dengan kehidupan orang lain. Aku lebih suka sibuk dengan urusan rumah dan tugas kuliah," papar Dellza sambil menatap tangannya sendiri.

  Ulrich tertawa. "Ah yeah, Jarvis. Tidak dengan cucu kesayanganku Altherr, dia tidak membiarkan dirinya memenuhi setiap laman media dan internet. Dia lebih tertutup."

  Dellza membayangkan Jarvis dan Altherr.

  "Haha, Dellza! Kau sungguh gadis yang berbeda dan menarik," ujar Ulrich. "Kebanyakan wanita yang pernah aku temui ... mereka manja, tidak tahu apa itu pekerjaan rumah, kehidupan yang glamor. Menyenangkan diri dengan dunia gemerlap. Kau gadis kedua yang aku sukai setelah Ariana."

  "Aku senang kakek menyukaiku. Thanks," ucap Dellza dengan senyum tulus.

  Ulrich berkata sambil menatap lekat-lekat, "Aku harap, Altherr mendapatkan gadis seperti dirimu."

  "Amen, semoga saja." Dellza tersenyum.

  "Sekarang aku jadi punya harapan ... semoga kau ditakdirkan untuk cucuku Altherr Goncalve," ucap Ulrich penuh antisipasi.

  Senyum Dellza lantas perlahan memudar. Ulrich bisa punya pikiran sejauh itu. Dellza sendiri tahu itu takkan terjadi; ia sudah menikah.

  Ulrich mendesah, "Ah, aku akan senang sekali bila keluarga Goncalve memiliki dirimu."

  Keluargamu memiliki aku. Hanya saja aku tidak tahu apakah dia sungguh menganggapku atau tidak, batin Dellza.

  "Kenapa kau tidak mengucapkan amin setelah kusebutkan harapanku lagi? Kau justru tampak murung." Suara Ulrich memecahkan lamunan Dellza.

  Dellza mengulas senyum. "Tidak ada apa-apa, kakek. Aku hanya ... berpikir itu takkan terjadi."

  "Kenapa?" Ulrich penasaran.

  "Humm." Dellza mencari alasan di kepalanya. "Altherr pria yang sempurna, dia punya segalanya dan aku yang gadis biasa takkan pantas."

  "Hahahaha, darling!"

  Dellza ikut tertawa dan dengan ramah dia mengatakan apa yang ia katakan sebelumnya itu benar; Altherr pria yang punya segalanya. Kata sempurna seperti cocok padanya. Pria seperti itu kebanyakan tipe wanitanya sekelas berlian. Sementara dirinya hanya gadis biasa, gadis yang sering mengantar keranjang-keranjang tomat.

  Ulrich melebarkan matanya dan senyumnya. "Kau memanen tomat? Dellza, kau gadis yang lima kali lipat lebih menarik! I'm serious! Mungkin para wanita lain memang sekelas berlian, tapi berlian yang sebenarnya ada dalam dirimu."

  "Kakek, kau sungguh berlebihan," ucap Dellza sambil tertawa kecil malu.

  "Kau tidak mengenal Altherr. It's okay, nanti mungkin kau bisa mengenalnya lebih baik," ujar Ulrich sambil mengedipkan satu mata.

  Moses memperhatikan mereka dari balik jendela dengan pandangan mata yang sangat fokus. Ulrich dan Dellza cepat sekali akrab. Moses sudah lama tidak melihat Tuan Besar Goncalve sebahagia itu. Dellza menyayangkan perkataan Ulrich, karena ia pasti takkan bertemu lagi dengan Altherr. Sebab dia harus pergi; dia hanya orang asing yang Altherr tolong, dan cukup waktunya ia berada di mansion. Ia akan segera pergi.

  Pria tua tampan itu menunjukkan kesedihan di wajahnya, kemudian dia memberitahu Dellza bila ia tahu Dellza ada masalah dengan ibunya. Beliau tahu dari Altherr.

  "I want to meet your Mother and scold her," ucap Ulrich sambil mengepalkan tangannya. "Aku tidak tahu masalah apa yang terjadi di antara kalian. Jika kau membuat kesalahan, tidak sepantasnya dia membuangmu begitu saja. Kalau ibumu tidak mau mengurusmu lagi, biar aku yang mengurusmu! Aku akan menjadikanmu cucuku."

  Manusia sebaik Ulrich di kalangan kelas besar membuat Dellza semakin terkesan. Dia sampai tidak habis pikir mengapa Ulrich bisa mudahnya mengatakan itu.

  "No, it's fine. Aku akan baik-baik saja, kakek. Aku masih bisa menjalani hidupku. Aku akan menemui bibiku," ucap Dellza lembut.

  Ulrich mengangkat satu alisnya. "Are you sure, darling?"

  Dellza mengangguk.

  "Bila nanti kau pergi, kau ingin menemuiku jika aku meminta?" tanya Ulrich.

  "Of course!" jawab Dellza sambil tersenyum meyakinkan.

  "Nice, aku menganggapmu seperti cucuku sekarang," ucap Ulrich sambil tersenyum hangat.

  "Kakek ..." Dellza sungguh kehabisan kata-kata.

  Tuan besar itu berkutat pada ponselnya, dan tidak lama datanglah Pius dengan membawa handbag yang maskulin. Pius memberikannya pada Ulrich. Kemudian Ulrich merogoh isi tasnya dan mengeluarkan sebuah kartu kredit. Dia menyodorkannya pada Dellza.

  "Untukmu. Ambilah!" kata Ulrich.

  Dellza terkejut dan menggeleng. "Ti--tidak, kakek. Untuk apa?"

  "Apapun! Untuk hidupmu. Kau harus melanjutkan hidupmu dengan sangat baik. Ayo, ambil!" desaknya sambil menyodorkan kartu itu lebih dekat.

  "Kakek, kau sudah sangat baik padaku. Sudah cuk--" Dellza menggeleng lagi, hendak menolak.

  "Aku akan kecewa bila kau tidak menerimanya," potong Ulrich.

  Dellza terdiam, dia sungguh bingung. Dia tidak enak hati. Ulrich menarik tangan Dellza dan meletakkan kartu ATM-nya di telapak tangan kanan gadis cantik itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 11

    Beberapa saat kemudian ... Seperti yang sudah dikatakan Altherr, Moses membawa Dellza untuk memperlihatkan klub malam tersebut. Dellza merasa tidak bersemangat mengingat sikap Altherr yang semena-mena terhadapnya kali ini. Namun, bersikap menurut mungkin lebih baik untuk saat ini. Gedung klub malam itu membuat Dellza terkesima. Dari dalam mobil, ia sudah bisa melihat kemegahannya. Setelah Moses memarkirkan mobil, ia dan Dellza keluar. "Ayo," ajak Moses Elwood. For God's sake! Gedung klub malam itu tinggi sekali. Dari luar saja sudah terlihat bahwa klub itu bukan klub biasa. Pasti di dalamnya sangat mewah, pikir Dellza. Mereka berjalan masuk. Suasananya sepi sekali. Hanya ada beberapa orang yang tampak sedang membersihkan dan mempersiapkan segala sesuatu. Moses mulai menjelaskan tentang XOV, nama klub malam tersebut. Bangunannya terletak di Downtown LA dan berdiri sejak tahun 1983. Dulu, p

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 10

    "Cari tahu lebih banyak tentang gadis itu dan atur beberapa Black Gonca untuk mengawasinya." Altherr berbalik, menatap Moses Elwood. Dellza kembali lagi ke pusat rehabilitasi untuk Theo Burckhalter. Theo adalah salah satu manusia yang cukup berarti baginya. Begitu pula sebaliknya. Di usianya yang kedua puluh tujuh tahun, Theo harus menjalani rehabilitasi setelah kecanduan narkoba, dan Dellza selalu mendukungnya agar bisa sembuh. Dellza menerima segala kekurangannya dan mencintainya dengan tulus, membuat Theo setia menaruh hatinya untuk gadis itu. Di ruang makan, Dellza dengan telaten menyuapi Theo yang tak melepaskan pandangan darinya sama sekali. Aku menikmati setiap detik bersamamu hari ini. Karena mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu, ucap Dellza dalam hati. "Ini sangat lezat!" kata Theo. Dellza tersenyum. "Setelah ini, kau minum obatmu." "Dari tanganmu lagi," ujar Theo sambil ter

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 09

    Pada siang hari... Sorot mata abu-abu miliknya menembus kaca mobil. Tak memperhatikan suasana di sepanjang jalan, pikirannya tenggelam dengan kebingungan. Kemana dia akan pergi? Dellza tidak tahu. Soal bibinya, dia berbohong. Dia tidak punya kerabat tinggal di Los Angeles. Kemudian Dellza menatap ponselnya yang mati. "Kau ingin menghubungi seseorang? You can use my phone." Suara Moses memecah keheningan. Dellza menoleh dan tersenyum kecil. "No, thanks." Gadis itu ada keinginan menghubungi Ibu atau Ayahnya, namun dia tak yakin. Moses masih saja memperhatikan Dellza, ia merasa gadis itu kebingungan. Ia pun menyarankan Dellza untuk kembali mansion karena Altherr sendiri tidak keberatan. Dellza juga bisa tinggal di apartemen milik Altherr. Uf, bila gadis lain di posisi Dellza saat ini pasti akan berpikir betapa enak hidupnya. Mendapat bantuan seserius itu. Namun Dellza Leuzinger, seseorang yang tidak mau terus menerus merepotkan orang lain. "Nona?" panggil Moses. Dellza a

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 08

    Seperti bos pada umumnya, Altherr memerintahkan Moses untuk menangani Dellza selama dia tidak ada, sampai gadis itu meninggalkan mansion. Dellza menatap keluar jendela melihat Altherr yang melangkah mendekati mobilnya, nampaknya dia akan pergi. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih secara langsung padanya, batin Dellza. Ia teringat ucapan si wanita kepala pelayan mansion. "Tuan tidak terbiasa menerima ucapan terima kasih, jika apa yang dia lakukan memang karena keinginannya sendiri." Senyuman kecil bergerak di bibirnya yang ranum. Itu artinya Altherr memang sungguh menolong dirinya. Kelihatannya pria itu bukan manusia yang punya simpati, sebab matanya yang tajam, auranya yang sedingin es, dan kadang dia berkata seenaknya. Dellza ingat bagaimana Altherr bicara kepada Ulrich dan Jarvis, ayahnya. Tidak ada sopan santun. Namun semuanya menjadi dominan dengan sifat Altherr pada Dellza; menolongnya, mengurusnya, dan yang paling berkesan saat Altherr menghormati Dellza di depan J

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 07

    Kembali ke masa kini… "Siapa pun tidak boleh tahu jika kau adalah istriku." Kalimat barusan menyentuh otak Dellza. Sebenarnya ini bukan yang pertama pria setengah baya itu mengatakannya—ralat, tepatnya peringatan. Jarvis menarik kursi dan duduk tepat di samping Dellza, memperhatikannya. Dellza tetap menatap ke depan, tak sedikit pun menoleh padanya, pada sosok yang secara resmi menjadi suaminya. Hanya saja pernikahan yang terjadi di antara mereka sangat rahasia. Prosesi janji suci diadakan di rumah Leuzinger dan hanya dihadiri oleh Maeson, Manka, serta orang kepercayaan Jarvis sebagai saksi. Tak ada pesta; lepas begitu saja setelah pendeta menyatakan mereka suami istri. Sebelum membawa pergi Dellza, Jarvis memaparkan peringatan kepada orang tuanya untuk menutup rapat-rapat pernikahan itu sampai ia sendiri yang mengatakannya pada publik. Bila pernikahan mereka bocor, Jarvis akan memperlakukan Dellza dengan sangat buruk. Tibalah waktu Dellza dibawa oleh suami yang usianya san

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 06

    "Tujuanku datang ke sini untuk—" Jarvis melirik Dellza, "—menikahinya." Bagai petir yang menyambar telinga, mereka sangat tersentak dengan kalimat itu. "Apa?!" Maeson membelalakkan mata kepada Jarvis. "Ya, aku ingin menikahi Dellza Leuzinger," tegas Jarvis. Dellza menatapnya marah. "Kegilaan apa ini?! Keinginan yang tidak masuk akal! I don't even know you!" "Keinginanku sangat masuk akal. Menikah itu sesuatu yang waras," ucapnya datar. "Dan kau yang tidak waras!" Dellza bangkit dari tempat duduknya, suaranya bergetar. "Maafkan aku, tapi memang benar kau gila. Menikah katamu?" Manka menyambung, "Tn. Jarvis, kau datang dengan membawa bencana untuk kami." Jarvis tersenyum kecut. "Menikah adalah bencana? Are you serious, Mrs. Leuzinger?" "Apa alasanmu ingin menikahi putriku?" tanya Maeson. Jarvis menjawab, "Aku ingin menikahinya, cukup itu saja yang kau ketahui." "Tidak! Aku tidak mau!" Dellza beranjak, melangkahkan kakinya ingin meninggalkan ruang tamu. "Kau sunggu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status