Share

Chapter 09

Author: authorpuspita
last update publish date: 2026-10-06 17:00:52

Pada siang hari...

  Sorot mata abu-abu miliknya menembus kaca mobil. Tak memperhatikan suasana di sepanjang jalan, pikirannya tenggelam dengan kebingungan. Kemana dia akan pergi? Dellza tidak tahu. Soal bibinya, dia berbohong. Dia tidak punya kerabat tinggal di Los Angeles. Kemudian Dellza menatap ponselnya yang mati.

  "Kau ingin menghubungi seseorang? You can use my phone." Suara Moses memecah keheningan.

  Dellza menoleh dan tersenyum kecil. "No, thanks."

  Gadis itu ada keinginan menghubungi Ibu atau Ayahnya, namun dia tak yakin. Moses masih saja memperhatikan Dellza, ia merasa gadis itu kebingungan. Ia pun menyarankan Dellza untuk kembali mansion karena Altherr sendiri tidak keberatan. Dellza juga bisa tinggal di apartemen milik Altherr. Uf, bila gadis lain di posisi Dellza saat ini pasti akan berpikir betapa enak hidupnya. Mendapat bantuan seserius itu. Namun Dellza Leuzinger, seseorang yang tidak mau terus menerus merepotkan orang lain.

  "Nona?" panggil Moses.

  Dellza agak terkejut. "Aku sangat berterimakasih, tapi aku bisa sendiri. Aku sudah dapat bantuan dari kakek."

  Moses menghela napas. "Alright, sekarang kau mau kemana?"

  Dellza teringat seseorang, senyumnya langsung terukir. Dia menyebut tujuannya pada Moses. Selang beberapa menit, mobil berhenti di tepi jalan. Moses melirik ke sisi kanan jalan, menatap papan sambutan sebuah gedung rehabilitasi.

  "Nona, jika aku boleh tahu. Siapa yang ada di pusat rehabilitasi?" tanya Moses.

  "Namanya Theo. Aku akan menemuinya," jawab Dellza. Gadis itu membuka sabuk pengamannya.

  Sebelum pergi, Dellza sekali lagi mengucapkan terimakasih. Ia juga meminta pria berkulit gelap itu untuk menyampaikan rasa terimakasihnya pada Altherr Goncalve, tidak peduli Altherr akan menerima atau tidak. Moses menawarkan diri untuk menunggunya sampai kembali dan mengantarnya lagi, namun Dellza menolak. Setelah itu Dellza keluar dari mobil. Gadis berbaju putih dan mengenakan rok hijau itu melangkahkan kakinya masuk ke pusat rehabilitasi. Moses masih di tempat, ia terus melihat gedung tersebut.

  Kemudian melajukan mobilnya memasuki pusat rehabilitasi. Ia memakirkan mobilnya di area parkir dan bergegas masuk ke gedung. Pusat rehabilitasi itu di tumbuhi banyak pepohonan, rerumputan hijau dan taman yang cantik. Tempat yang cukup tenang. Usai Dellza bicara dengan perawat, gadis itu berjalan melewati koridor dan tiba di taman yang begitu luas.

  Matanya tertuju pada seorang pria yang mengenakan pakaian pasien berwarna biru. Pria itu posisinya duduk membelakangi, berhadapan dengan danau. Pria itu terkejut ketika seseorang menutup matanya dari belakang. Senyum pria itu langsung terutas dan tangannya memegang tangan Dellza.

  "I know it's you!" ucapnya.

  Dellza meletakan dagunya di pundak dan melepas tangannya dari mata pria itu. "Hi, long time no see!"

  Pria itu berdiri dan memeluk Dellza dengan sangat erat. "Rasa rinduku padamu membuat aku sekarat! Why are you doing this to me?"

  "Theo," sebut Dellza. "I'm so sorry. Now I'm here, right?!"

  Dellza mengurai pelukan dan membuat Theo duduk lagi di kursinya, ia menarik kursi untuk duduk berhadapan dengan pria tampan bernama Theo itu. Dengan erat dan penuh perasaan Dellza menggenggam tangan Theo. Rasanya sakit sekali, rasanya dia ingin menangis saat ini juga. Ia ingin mengeluh atas penderitaan yang ia alami sejak tiga bulan yang lalu. Dimana ia dipaksa menikah, di permainkan dan dicampakan oleh Manka. Tetapi situasi mendorongnya untuk menahan air mata itu.

  "How are you?" tanya Dellza, "bagaimana kesehatanmu? Perkembanganmu?"

  Theo membelai wajah Dellza. "Aku menyimpan kabar baik untukmu. Guess what?"

  "Hum ... perkembanganmu semakin baik?"

  "Tidak lama lagi, aku akan keluar dari tempat ini!"

  Pria itu mengatakannya dengan begitu happy. Senyumnya tak menunjukan kebohongan. Dellza ikut tersenyum dan tertawa kecil, ia memberi apresiasi padanya. Theo mengatakan ia akan kembali bebas menjalani hari-harinya bersama Dellza, itu menyakitkan untuk Dellza dengar.

  Theo bertanya, "Bae, how are you? Apa kau sudah lama di LA? Seminggu yang lalu Johnny bilang padaku di telepon bila kau pergi ke kota ini."

  Dellza diam sesaat. "Eh--hmm, ya! Aku ada urusan di sini bersama Mom."

  "Kenapa kau tidak ajak dia kesini? Aku juga rindu padanya."

  "Dia ... sibuk sekali, Theo. Tapi dia akan segera menemuimu."

  "Kenapa kau tidak datang sejak kemarin?"

  Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Theo semakin mencekik Dellza. Dia tidak bisa berbohong—tapi berkata jujur juga dia tidak bisa. Dellza memberi jawaban yang di luar fakta lagi, dengan alasan Manka membutuhkannya. Lalu Dellza mencoba mengalihkan pembicaraan dengan meminta maaf karena ia tidak membawa sesuatu saat menemui Theo. Biasanya ia membawakan buku, makanan atau minuman kesukaan Theo.

  "No problem, bae. Kenapa kau meminta maaf untuk masalah sepele? Kehadiranmu sudah cukup," ucap Theo.

  Dellza membelai wajah Theo. "Kau sudah makan siang?"

  Theo menggeleng. Dellza memintanya untuk makan, dia akan menyuapinya, namun Theo tidak mau. Dia merasa tidak mau makan makanan dari pusat rehabilitasi. Theo ingin melahap makanan buatan Dellza, dia rindu sekali. Dellza menarik nafas dan menepuk tangannya satu kali. Sebagai menebus kedatangannya yang baru sekarang terjadi, Dellza akan menurutinya.

  "Kau bisa ke apartemenku atau mansion untuk memasak. Tapi Ayah dan Ibuku tidak ada di mansion, mereka berada di Euthopia untuk beberapa hari ke depan." Jelas Theo.

  Dellza memilih apartemen Theo saja. Selanjutnya mereka masuk ke dalam gedung dengan saling berpegangan tangan. Theo membawa Dellza ke kamarnya, dia mengambil kartu apartemennya. Pria itu memberikannya pada Dellza. Mereka keluar dari kamar, di lorong mereka masih berdiri berhadapan. Theo terus menatap gadis cantik itu, tatapannya penuh kasih sayang.

  Sekian detik kemudian Theo lebih mendekat ke Dellza dan merengkuh pinggangnya. Theo mendekatkan wajahnya pada Dellza, hidung mereka saling bersentuhan. Jantung Dellza berpacu cepat. Theo siap mencium bibir Dellza. Di momen seperti itu, bayangan Jarvis masuk ke benak Dellza. Gadis itu lantas menundukan kepala dan bergerak mundur.

  "Aku harus segera pergi," ucap Dellza. "Atau jam makan siangmu akan semakin lewat, okay?"

  Theo menghela napas pelan. "Okay. Aku menunggu."

  Tanpa mereka sadari, sepasang mata mengawasi mereka sejak mereka bertemu beberapa saat yang lalu. Moses Elwood. Tangan kanan dari Altherr Goncalve itu diam-diam mengikuti Dellza pergi. Moses membuntuti uber yang mengantar Dellza. Dellza sendiri sama sekali tidak menyadari apapun, dia fokus melakukan apa yang harus dilakukan. Pertama Dellza mengunjungi mesin atm untuk menarik uang cash untuk membayar uber nanti.

  "Oh, Gosh! Kakek Goncalve itu kerasukan apa?" Betapa shock-nya Dellza melihat nominal di depan matanya, lima belas ribu dollar.

  Setelah selesai. Dellza kembali menaiki ubernya dan mengunjungi toko tas, ia membeli satu tas slempang sederhana. Selanjutnya ke toko ponsel, ia akan membeli ponsel baru. Dellza berjanji pada dirinya sendiri, dia takkan menghabiskan isi atm tersebut dalam waktu yang cepat. Waktu semakin berjalan. Dellza sampai di lokasi gedung apartemen. Di tangannya dia membawa kantung roti berisi bahan-bahan yang akan dia olah.

  Moses berjalan di belakangnya, menyisakan beberapa jarak. Dellza membuka pintu apartemen dan masuk, ia tidak menutup rapat pintunya. Gadis itu mengedarkan pandangannya, sudah lama sekali ia tidak mempijakan kakinya di sana. Ada banyak kenangannya bersama Theo. Dellza menuju dapur, meletakan kantung rotinya dan tasnya. Moses ada di dalam, dengan lancang masuk secara diam-diam. Ia membuka pintu dapurnya dengan hati-hati dan mengintip ke area dapur. Ia memperhatikan Dellza Leuzinger.

  Gadis berambut panjang tersebut diam saja, melamun dan samar-samar mendengar suara menangis. "God knows I love you. But He didn't destine us to be together. It hurts," ucapnya.

  Ketika Dellza berbalik. Moses lantas menutup pintunya. Gadis terjatuh dan duduk bersandar di counter top. Menangis selepas-lepasnya, mengeluarkan air mata ia tahan sebelumnya.

  ⚔▫️👑▫️⚔

  Goncalve Co. menjadi salah satu tempat yang sering Altherr Goncalve datangi. Di mana ia bekerja dan menghabiskan waktu. Makhluk dengan sifatnya yang dominan itu bersantai di sofa, menatap buku di tangannya dan menunggu apa yang akan Moses Elwood katakan.

  "Tuan, gadis itu punya hubungan dengan Theo Burckhalter."

  Mendengar kalimat barusan, lantas mata elang Altherr beralih lurus ke depan dan menutup bukunya hingga menimbulkan suara.

  Altherr mengarahkan tatapan tajamnya pada Moses. "BURCKHALTER," ucapnya dengan nada menekan.

  Ia mendengarkan penjelasan Moses. Altherr menatap ke arah lain, ekspresinya menunjukan jelas betapa terkejutnya dia. Gadis yang ia tolong ternyata berhubungan dengan Burckhalter. Altherr beranjak dan mendekat ke dinding kaca, memperlihatkan suasana kota. Tangannya mengepal.

  Altherr membatin. Akan ku buat ucapan gadis itu menjadi lebih nyata. Aku, Altherr Goncalve takkan membiarkan dia dan bajingan Burckhalter bersama. Tidak akan pernah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 11

    Beberapa saat kemudian ... Seperti yang sudah dikatakan Altherr, Moses membawa Dellza untuk memperlihatkan klub malam tersebut. Dellza merasa tidak bersemangat mengingat sikap Altherr yang semena-mena terhadapnya kali ini. Namun, bersikap menurut mungkin lebih baik untuk saat ini. Gedung klub malam itu membuat Dellza terkesima. Dari dalam mobil, ia sudah bisa melihat kemegahannya. Setelah Moses memarkirkan mobil, ia dan Dellza keluar. "Ayo," ajak Moses Elwood. For God's sake! Gedung klub malam itu tinggi sekali. Dari luar saja sudah terlihat bahwa klub itu bukan klub biasa. Pasti di dalamnya sangat mewah, pikir Dellza. Mereka berjalan masuk. Suasananya sepi sekali. Hanya ada beberapa orang yang tampak sedang membersihkan dan mempersiapkan segala sesuatu. Moses mulai menjelaskan tentang XOV, nama klub malam tersebut. Bangunannya terletak di Downtown LA dan berdiri sejak tahun 1983. Dulu, p

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 10

    "Cari tahu lebih banyak tentang gadis itu dan atur beberapa Black Gonca untuk mengawasinya." Altherr berbalik, menatap Moses Elwood. Dellza kembali lagi ke pusat rehabilitasi untuk Theo Burckhalter. Theo adalah salah satu manusia yang cukup berarti baginya. Begitu pula sebaliknya. Di usianya yang kedua puluh tujuh tahun, Theo harus menjalani rehabilitasi setelah kecanduan narkoba, dan Dellza selalu mendukungnya agar bisa sembuh. Dellza menerima segala kekurangannya dan mencintainya dengan tulus, membuat Theo setia menaruh hatinya untuk gadis itu. Di ruang makan, Dellza dengan telaten menyuapi Theo yang tak melepaskan pandangan darinya sama sekali. Aku menikmati setiap detik bersamamu hari ini. Karena mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu, ucap Dellza dalam hati. "Ini sangat lezat!" kata Theo. Dellza tersenyum. "Setelah ini, kau minum obatmu." "Dari tanganmu lagi," ujar Theo sambil ter

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 09

    Pada siang hari... Sorot mata abu-abu miliknya menembus kaca mobil. Tak memperhatikan suasana di sepanjang jalan, pikirannya tenggelam dengan kebingungan. Kemana dia akan pergi? Dellza tidak tahu. Soal bibinya, dia berbohong. Dia tidak punya kerabat tinggal di Los Angeles. Kemudian Dellza menatap ponselnya yang mati. "Kau ingin menghubungi seseorang? You can use my phone." Suara Moses memecah keheningan. Dellza menoleh dan tersenyum kecil. "No, thanks." Gadis itu ada keinginan menghubungi Ibu atau Ayahnya, namun dia tak yakin. Moses masih saja memperhatikan Dellza, ia merasa gadis itu kebingungan. Ia pun menyarankan Dellza untuk kembali mansion karena Altherr sendiri tidak keberatan. Dellza juga bisa tinggal di apartemen milik Altherr. Uf, bila gadis lain di posisi Dellza saat ini pasti akan berpikir betapa enak hidupnya. Mendapat bantuan seserius itu. Namun Dellza Leuzinger, seseorang yang tidak mau terus menerus merepotkan orang lain. "Nona?" panggil Moses. Dellza a

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 08

    Seperti bos pada umumnya, Altherr memerintahkan Moses untuk menangani Dellza selama dia tidak ada, sampai gadis itu meninggalkan mansion. Dellza menatap keluar jendela melihat Altherr yang melangkah mendekati mobilnya, nampaknya dia akan pergi. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih secara langsung padanya, batin Dellza. Ia teringat ucapan si wanita kepala pelayan mansion. "Tuan tidak terbiasa menerima ucapan terima kasih, jika apa yang dia lakukan memang karena keinginannya sendiri." Senyuman kecil bergerak di bibirnya yang ranum. Itu artinya Altherr memang sungguh menolong dirinya. Kelihatannya pria itu bukan manusia yang punya simpati, sebab matanya yang tajam, auranya yang sedingin es, dan kadang dia berkata seenaknya. Dellza ingat bagaimana Altherr bicara kepada Ulrich dan Jarvis, ayahnya. Tidak ada sopan santun. Namun semuanya menjadi dominan dengan sifat Altherr pada Dellza; menolongnya, mengurusnya, dan yang paling berkesan saat Altherr menghormati Dellza di depan J

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 07

    Kembali ke masa kini… "Siapa pun tidak boleh tahu jika kau adalah istriku." Kalimat barusan menyentuh otak Dellza. Sebenarnya ini bukan yang pertama pria setengah baya itu mengatakannya—ralat, tepatnya peringatan. Jarvis menarik kursi dan duduk tepat di samping Dellza, memperhatikannya. Dellza tetap menatap ke depan, tak sedikit pun menoleh padanya, pada sosok yang secara resmi menjadi suaminya. Hanya saja pernikahan yang terjadi di antara mereka sangat rahasia. Prosesi janji suci diadakan di rumah Leuzinger dan hanya dihadiri oleh Maeson, Manka, serta orang kepercayaan Jarvis sebagai saksi. Tak ada pesta; lepas begitu saja setelah pendeta menyatakan mereka suami istri. Sebelum membawa pergi Dellza, Jarvis memaparkan peringatan kepada orang tuanya untuk menutup rapat-rapat pernikahan itu sampai ia sendiri yang mengatakannya pada publik. Bila pernikahan mereka bocor, Jarvis akan memperlakukan Dellza dengan sangat buruk. Tibalah waktu Dellza dibawa oleh suami yang usianya san

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 06

    "Tujuanku datang ke sini untuk—" Jarvis melirik Dellza, "—menikahinya." Bagai petir yang menyambar telinga, mereka sangat tersentak dengan kalimat itu. "Apa?!" Maeson membelalakkan mata kepada Jarvis. "Ya, aku ingin menikahi Dellza Leuzinger," tegas Jarvis. Dellza menatapnya marah. "Kegilaan apa ini?! Keinginan yang tidak masuk akal! I don't even know you!" "Keinginanku sangat masuk akal. Menikah itu sesuatu yang waras," ucapnya datar. "Dan kau yang tidak waras!" Dellza bangkit dari tempat duduknya, suaranya bergetar. "Maafkan aku, tapi memang benar kau gila. Menikah katamu?" Manka menyambung, "Tn. Jarvis, kau datang dengan membawa bencana untuk kami." Jarvis tersenyum kecut. "Menikah adalah bencana? Are you serious, Mrs. Leuzinger?" "Apa alasanmu ingin menikahi putriku?" tanya Maeson. Jarvis menjawab, "Aku ingin menikahinya, cukup itu saja yang kau ketahui." "Tidak! Aku tidak mau!" Dellza beranjak, melangkahkan kakinya ingin meninggalkan ruang tamu. "Kau sunggu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status