Share

Chapter 07

Author: authorpuspita
last update publish date: 2026-10-06 17:00:20

Kembali ke masa kini…

  "Siapa pun tidak boleh tahu jika kau adalah istriku."

  Kalimat barusan menyentuh otak Dellza. Sebenarnya ini bukan yang pertama pria setengah baya itu mengatakannya—ralat, tepatnya peringatan. Jarvis menarik kursi dan duduk tepat di samping Dellza, memperhatikannya. Dellza tetap menatap ke depan, tak sedikit pun menoleh padanya, pada sosok yang secara resmi menjadi suaminya. Hanya saja pernikahan yang terjadi di antara mereka sangat rahasia.

  Prosesi janji suci diadakan di rumah Leuzinger dan hanya dihadiri oleh Maeson, Manka, serta orang kepercayaan Jarvis sebagai saksi. Tak ada pesta; lepas begitu saja setelah pendeta menyatakan mereka suami istri. Sebelum membawa pergi Dellza, Jarvis memaparkan peringatan kepada orang tuanya untuk menutup rapat-rapat pernikahan itu sampai ia sendiri yang mengatakannya pada publik. Bila pernikahan mereka bocor, Jarvis akan memperlakukan Dellza dengan sangat buruk.

  Tibalah waktu Dellza dibawa oleh suami yang usianya sangat jauh darinya. Jarvis membawanya ke Beverly Hills. Tidak ada hal apa pun yang terjadi di antara mereka; tak ada yang namanya malam pernikahan. Jarvis tidak menyentuhnya, dan Dellza bersyukur atas itu. Satu bulan sudah usia pernikahan mereka ketika, pada suatu hari, Dellza melihat Jarvis bercinta dengan wanita lain di mansion. Merasa dipermainkan, dia kabur sampai kemudian Manka menemukannya. Manka sangat marah dan lelah dengan ancaman Jarvis.

  Manka memutuskan untuk melepas Dellza dari tanggung jawabnya. Dia sempat memberi tahu bahwa ia akan pergi jauh bersama Maeson demi menghindari masalah dengannya. Dellza yakin sekali Maeson akan sangat marah bila tahu apa yang Manka lakukan. Apa ini? Manka membuangnya sampai ke tempat di mana Jarvis berada.

  "Semoga dia menemukanmu!"

  Ucapan Manka malam itu menjadi doa yang terwujud. Oh, tidak. Ini lebih cocok menjadi kutukan. Jarvis, si suami brengsek, kini berada tepat di sampingnya. Entah ada apa dengan hidup Dellza. Ia susah payah kabur, lalu tertangkap dan dilempar ke tempat yang isinya keluarga Jarvis. Ulrich dan Altherr tidak tahu bahwa Dellza adalah menantu Goncalve. Sungguh, pernikahan mereka nyata? Hubungan macam ini rahasia dan tak berarti. Sampai sekarang Dellza tidak tahu alasan Jarvis menikahinya.

  "Manka benar-benar menyerahkanmu padaku. Anak yang malang, orang tuamu tidak peduli lagi," ledek Jarvis.

  Dellza menoleh sekilas, menatapnya tajam. "Hanya Ibuku, tidak dengan Ayahku! Ayahku tidak tahu kalau istrinya sudah membuangku," sergahnya.

  "Ibumu tidak salah, sayang," balas Jarvis santai, menyilangkan kaki. "Dia memang harus melepas putrinya setelah putrinya menikah."

  Kekesalan Dellza menggebu. "Kau mengancam nyawanya! Dasar pria pengecut, bisanya hanya mengancam! Huh, menikah… pernikahan apa ini? Kenapa kau tidak biarkan aku lari? Waktumu lebih berharga dengan menghabiskan waktu bersama wanita lain daripada menahanku," geramnya, telapak tangannya mengepal di pangkuan.

  Jarvis terkekeh pelan. "Kau cemburu."

  "Tidak!" bantah Dellza dan menatapnya kesal. "Aku hanya tidak suka dipermainkan."

  Dengan cepat Jarvis mencengkeram lengan Dellza dan menariknya hingga jarak wajah mereka sangat berdekatan.

  "Aku tahu kau tidak senang dengan hubungan kita. Aku tahu kau tidak mau kusentuh, itu sebabnya aku memilih wanita lain. Tapi kau selalu punya kesempatan. Bila kau mau aku tidak bersama wanita lain, kau harus melayaniku. Bagaimana, Mrs. Goncalve?" desis Jarvis, napasnya hangat mengenai wajah Dellza.

  "Aku takkan pernah mau. Lepaskan!" Dellza mencoba menarik tangannya.

  Jarvis semakin memegangnya erat sampai Dellza kesakitan. Tanpa mereka sadari, Altherr berdiri di ambang pintu sejak beberapa detik yang lalu, memperhatikan apa yang terjadi.

  "Lepas! Sakit!" ringis Dellza.

  Altherr mengepalkan tangannya dan melangkah. Jarvis merasakan kerah jasnya ditarik hingga ia terangkat dari kursi, dan eratan tangannya pada Dellza lepas. Altherr mendorong Jarvis dengan kasar, tatapannya sangat menohok.

  Altherr mencengkeram bahu Jarvis, menahan emosinya. "Kenapa kau menyakiti gadis ini? Apa yang kau inginkan darinya?"

  Jarvis diam. Ia hanya menyibak kerah jasnya dengan santai sebelum mendongak menatap Altherr.

  "Kau coba memaksanya untuk melayanimu? Jarvis, ada banyak wanita yang lebih pantas kau jadikan pelayan. Tidak dengan gadis ini!" ucap Altherr dengan nada tinggi.

  Jarvis tersenyum. "Kau menyukainya? Sampai kau lindungi seperti ini."

  "Aku yang membawanya ke mansion ini, dia tanggung jawabku!" tangkas Altherr. "Pergilah!"

  Mendengar ucapan Altherr, Dellza menatapnya. Dia pikir Altherr pria beku yang benar-benar beku hatinya, tapi dia bersikap sehormat ini pada perempuan. Jarvis melirik Dellza sesaat, begitu pun Dellza. Kemudian Jarvis melenggang pergi. Tinggallah Altherr berdua dengan Dellza. Altherr menghela napas dan mengarahkan tubuhnya pada Dellza yang masih duduk.

  Altherr meraih tangan kiri Dellza untuk melihat bekas cengkeraman Jarvis yang memerah. "Kau harus jauh-jauh darinya. Dia pria brengsek yang suka sekali mempermainkan wanita," ucapnya pelan.

  Itu membuat Dellza memikirkan hal yang biasa ia pertanyakan: ke mana istri pertama Jarvis? Apakah masih ada atau sudah tiada? Dellza ingin bertanya pada Altherr, tapi sepertinya tidak sopan. Dellza teringat statusnya sendiri—dia justru istri Jarvis. Artinya, pria yang memegang tangannya saat ini adalah putranya? Membayangkannya membuat Dellza terkejut dan lantas menarik tangannya dari tangan Altherr.

  Altherr bergumam, "Jarvis nampaknya harus mengganti matanya dengan mata zombie."

  Dellza mengernyit. "Kenapa?"

  "Supaya penglihatannya jauh lebih buruk. Sudah punya mata normal, tapi tidak bisa melihat kenyataan dirimu," jawab Altherr datar.

  "Ada apa dengan diriku?" tanya Dellza, penasaran.

  "You look like a good girl. Not a sugar baby," ucap Altherr sambil menatapnya.

  "Aku bukan gadis seperti itu!" sahut Dellza cepat.

  Altherr menunjukkan ekspresi skeptis.

  This guy. Dia sendiri yang menilaiku dengan baik. Why aren't you sure now? batin Dellza.

  "Aku menilaimu sesuai dengan penglihatanku, bukan karena aku mengenalmu. Jadi tidak yakin itu hal yang wajar," ucap Altherr dingin.

  Dellza tersentak. "Apa kau bisa…"

  "Nope," tukas Altherr. "Aku menebak dari matamu. Caramu melihatku yang bingung setelah aku melihatmu dengan tidak yakin."

  Altherr merasa ada yang tidak biasa dengan kebiasaannya—ia banyak bicara dengan seorang gadis dalam waktu yang lama. Kemudian Altherr pergi begitu saja.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 11

    Beberapa saat kemudian ... Seperti yang sudah dikatakan Altherr, Moses membawa Dellza untuk memperlihatkan klub malam tersebut. Dellza merasa tidak bersemangat mengingat sikap Altherr yang semena-mena terhadapnya kali ini. Namun, bersikap menurut mungkin lebih baik untuk saat ini. Gedung klub malam itu membuat Dellza terkesima. Dari dalam mobil, ia sudah bisa melihat kemegahannya. Setelah Moses memarkirkan mobil, ia dan Dellza keluar. "Ayo," ajak Moses Elwood. For God's sake! Gedung klub malam itu tinggi sekali. Dari luar saja sudah terlihat bahwa klub itu bukan klub biasa. Pasti di dalamnya sangat mewah, pikir Dellza. Mereka berjalan masuk. Suasananya sepi sekali. Hanya ada beberapa orang yang tampak sedang membersihkan dan mempersiapkan segala sesuatu. Moses mulai menjelaskan tentang XOV, nama klub malam tersebut. Bangunannya terletak di Downtown LA dan berdiri sejak tahun 1983. Dulu, p

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 10

    "Cari tahu lebih banyak tentang gadis itu dan atur beberapa Black Gonca untuk mengawasinya." Altherr berbalik, menatap Moses Elwood. Dellza kembali lagi ke pusat rehabilitasi untuk Theo Burckhalter. Theo adalah salah satu manusia yang cukup berarti baginya. Begitu pula sebaliknya. Di usianya yang kedua puluh tujuh tahun, Theo harus menjalani rehabilitasi setelah kecanduan narkoba, dan Dellza selalu mendukungnya agar bisa sembuh. Dellza menerima segala kekurangannya dan mencintainya dengan tulus, membuat Theo setia menaruh hatinya untuk gadis itu. Di ruang makan, Dellza dengan telaten menyuapi Theo yang tak melepaskan pandangan darinya sama sekali. Aku menikmati setiap detik bersamamu hari ini. Karena mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu, ucap Dellza dalam hati. "Ini sangat lezat!" kata Theo. Dellza tersenyum. "Setelah ini, kau minum obatmu." "Dari tanganmu lagi," ujar Theo sambil ter

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 09

    Pada siang hari... Sorot mata abu-abu miliknya menembus kaca mobil. Tak memperhatikan suasana di sepanjang jalan, pikirannya tenggelam dengan kebingungan. Kemana dia akan pergi? Dellza tidak tahu. Soal bibinya, dia berbohong. Dia tidak punya kerabat tinggal di Los Angeles. Kemudian Dellza menatap ponselnya yang mati. "Kau ingin menghubungi seseorang? You can use my phone." Suara Moses memecah keheningan. Dellza menoleh dan tersenyum kecil. "No, thanks." Gadis itu ada keinginan menghubungi Ibu atau Ayahnya, namun dia tak yakin. Moses masih saja memperhatikan Dellza, ia merasa gadis itu kebingungan. Ia pun menyarankan Dellza untuk kembali mansion karena Altherr sendiri tidak keberatan. Dellza juga bisa tinggal di apartemen milik Altherr. Uf, bila gadis lain di posisi Dellza saat ini pasti akan berpikir betapa enak hidupnya. Mendapat bantuan seserius itu. Namun Dellza Leuzinger, seseorang yang tidak mau terus menerus merepotkan orang lain. "Nona?" panggil Moses. Dellza a

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 08

    Seperti bos pada umumnya, Altherr memerintahkan Moses untuk menangani Dellza selama dia tidak ada, sampai gadis itu meninggalkan mansion. Dellza menatap keluar jendela melihat Altherr yang melangkah mendekati mobilnya, nampaknya dia akan pergi. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih secara langsung padanya, batin Dellza. Ia teringat ucapan si wanita kepala pelayan mansion. "Tuan tidak terbiasa menerima ucapan terima kasih, jika apa yang dia lakukan memang karena keinginannya sendiri." Senyuman kecil bergerak di bibirnya yang ranum. Itu artinya Altherr memang sungguh menolong dirinya. Kelihatannya pria itu bukan manusia yang punya simpati, sebab matanya yang tajam, auranya yang sedingin es, dan kadang dia berkata seenaknya. Dellza ingat bagaimana Altherr bicara kepada Ulrich dan Jarvis, ayahnya. Tidak ada sopan santun. Namun semuanya menjadi dominan dengan sifat Altherr pada Dellza; menolongnya, mengurusnya, dan yang paling berkesan saat Altherr menghormati Dellza di depan J

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 07

    Kembali ke masa kini… "Siapa pun tidak boleh tahu jika kau adalah istriku." Kalimat barusan menyentuh otak Dellza. Sebenarnya ini bukan yang pertama pria setengah baya itu mengatakannya—ralat, tepatnya peringatan. Jarvis menarik kursi dan duduk tepat di samping Dellza, memperhatikannya. Dellza tetap menatap ke depan, tak sedikit pun menoleh padanya, pada sosok yang secara resmi menjadi suaminya. Hanya saja pernikahan yang terjadi di antara mereka sangat rahasia. Prosesi janji suci diadakan di rumah Leuzinger dan hanya dihadiri oleh Maeson, Manka, serta orang kepercayaan Jarvis sebagai saksi. Tak ada pesta; lepas begitu saja setelah pendeta menyatakan mereka suami istri. Sebelum membawa pergi Dellza, Jarvis memaparkan peringatan kepada orang tuanya untuk menutup rapat-rapat pernikahan itu sampai ia sendiri yang mengatakannya pada publik. Bila pernikahan mereka bocor, Jarvis akan memperlakukan Dellza dengan sangat buruk. Tibalah waktu Dellza dibawa oleh suami yang usianya san

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 06

    "Tujuanku datang ke sini untuk—" Jarvis melirik Dellza, "—menikahinya." Bagai petir yang menyambar telinga, mereka sangat tersentak dengan kalimat itu. "Apa?!" Maeson membelalakkan mata kepada Jarvis. "Ya, aku ingin menikahi Dellza Leuzinger," tegas Jarvis. Dellza menatapnya marah. "Kegilaan apa ini?! Keinginan yang tidak masuk akal! I don't even know you!" "Keinginanku sangat masuk akal. Menikah itu sesuatu yang waras," ucapnya datar. "Dan kau yang tidak waras!" Dellza bangkit dari tempat duduknya, suaranya bergetar. "Maafkan aku, tapi memang benar kau gila. Menikah katamu?" Manka menyambung, "Tn. Jarvis, kau datang dengan membawa bencana untuk kami." Jarvis tersenyum kecut. "Menikah adalah bencana? Are you serious, Mrs. Leuzinger?" "Apa alasanmu ingin menikahi putriku?" tanya Maeson. Jarvis menjawab, "Aku ingin menikahinya, cukup itu saja yang kau ketahui." "Tidak! Aku tidak mau!" Dellza beranjak, melangkahkan kakinya ingin meninggalkan ruang tamu. "Kau sunggu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status