공유

181.

작가: Ellailaist
last update 게시일: 2026-06-05 09:08:11
Pria itu melangkah mendekat dari arah belakang, lalu ikut terdiam di samping tubuh Elara.

Di hadapan mereka saat ini terbentang sebuah lembah yang begitu indah hingga terlihat seperti sebuah lukisan nyata.

Hamparan rumput hijau yang subur membentang luas sejauh mata memandang, memanjakan indra penglihatan mereka.

Sebuah aliran sungai kecil berkelok tenang, membelah bagian tengah lembah dengan airnya yang jernih.

Di berbagai sudut padang rumput tersebut, mawar-mawar liar bermekaran dalam jumlah
Ellailaist

Aduh, gemas banget sih! Siapa sangka Alpha Joseph yang garang di medan perang ternyata udah planning buat kabur—eh, maksudnya "persiapan matang" buat pensiun dini bareng Elara, wkwk. Mana pas pasang dinding kayu malah miring dan gak mau kalah lagi, untung Luna Elara sigap mode pawang. Kehidupan baru mereka di lembah mawar peninggalan Albert ini bener-bener definisi bahagia yang hakiki ya! Yuk, apresiasi kerja keras Joseph bangun rumah kayu dengan lempar GEM kalian, atau boleh banget sawer hadiah manisnya buat kado syukuran rumah baru mereka! Kira-kira, bakal ada yang nemuin tempat rahasia mereka gak ya? Tulis teori kalian di komentar!

| 좋아요
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   191.

    Evan bahkan butuh beberapa detik hanya untuk memproses arti dari kalimat yang baru saja disampaikan Albert. "Kau pasti sedang membawakan lelucon konyol untuk menguji fokus batinku, Albert," ucap Evan dengan rahang yang menegang. "Aku tidak berniat membuat lelucon tentang nama mendiang Luna Diana, Evan," balas Albert dengan sorot mata yang memancarkan kejujuran mutlak. "Kau benar-benar pernah menyimpan rasa cinta kepada sosok Luna Diana?" tanya Evan lagi, mencari kepastian dari ekspresi wajah lawan bicaranya. "Aku sudah menyimpan perasaan itu sejak kami berdua masih sangat muda di lingkungan klan Utara ini," aku Albert, membuka lembaran rahasianya. Evan menatap wajah tua Albert dengan pandangan yang dipenuhi rasa tidak percaya. "Dan kau memilih untuk tidak pernah mengatakannya sampai dia wafat?" Albert mengulas senyuman tipis yang sangat teduh. "Sebab aku tahu tidak semua bentuk rasa cinta yang suci harus selalu berakhir dengan kepemilikan." Kalimat itu seketika membuat napas di

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   190.

    Elara menoleh sedikit dan menatap Joseph dengan penuh tanya. "Terima kasih untuk apa, Joseph?" Pria itu terdiam sejenak. Alih-alih menjawab, ia mengarahkan pandangannya ke lembah mawar perak yang terbentang di depan mereka. Joseph menatap hamparan mawar yang membentang luas, rumah kayu kecil mereka yang hangat, dan langit senja yang berwarna keemasan. Dulu, ia tidak pernah berani membayangkan kehidupan setenang ini. "Terima kasih karena memilih untuk tetap bersamaku setelah semua yang kita lalui," ujar Joseph. Ada getaran halus dalam suaranya yang membuat setiap kata terdengar begitu tulus. Mendengar kata-kata itu, kehangatan langsung memenuhi dada Elara. Ucapan sederhana tersebut terasa begitu berarti karena berasal dari pria yang paling ia cintai. "Joseph," bisik Elara dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan haru, ia merapatkan posisi kepalanya untuk bersandar pada permukaan dada bidang milik suaminya yang kokoh. "Ada masa ketika aku yakin hidupku hanya akan berputar di

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   189.

    Sentuhan tangan itu merasakan adanya sebuah tanda kehidupan kecil dari keturunan darah klan yang sedang tumbuh aktif di dalam rahimnya. Seluruh pasang mata Elara seketika langsung berubah menjadi terasa menghangat meresap.Kadang di dalam keheningan sore, ia masih merasa sedikit sulit untuk mempercayai seluruh kenyataan manis yang sedang ia jalani saat ini. Setelah melewati seluruh rentetan peperangan klan yang berdarah dan intriknya. Setelah dipaksa merasakan seluruh bentuk kehilangan orang-orang yang dicintai, dan seluruh luka batin masa lalu yang sempat menyiksa jiwanya. Kini takdir abadi justru memilih untuk menghadiahkan sebuah kehidupan baru yang suci.Tanda mawar perak yang melingkar di kulit leher jenjang Elara tampak mulai memendar dengan lembut di bawah temaram cahaya senja. Tanda suci tersebut seperti sedang ikut bergerak bersama merasakan seluruh letupan kebahagiaan sejati yang saat ini sedang memenuhi ruang hati milik sang Luna baru. Elara memejamkan kedua matanya ses

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   188.

    Joseph menatap lekat ke dalam sepasang mata cokelat milik sahabatnya. "Apakah kau merasa sudah berhasil memimpin klan dengan caramu?""Ya, aku sudah berhasil melakukannya dengan sangat baik," jawab Evan dengan nada suara yang terdengar sangat sederhana namun sarat keyakinan.Untuk pertama kalinya sejak hari pertama ia memutuskan untuk menyerahkan takhta kekuasaan klan, Joseph tampak benar-benar merasa puas. Ia lega mendengarkan seluruh tingkat kepastian dari mulut Evan.Elara terus memperhatikan sosok sahabat terbaik mereka tersebut secara diam-diam dari arah sudut meja kayu dengan perasaan hangat. Dulu ia sempat menyimpan sebuah rasa kekhawatiran yang sangat besar.Ia sempat khawatir jika Evan akan menghabiskan seluruh sisa hidupnya hanya untuk memenuhi kepentingan dan kebahagiaan orang lain. Pria itu selalu menempatkan posisi dirinya sendiri di urutan paling terakhir.Namun sekarang, seluruh rasa kekhawatiran yang sempat mengganggu pikiran Elara perlahan-lahan mulai menghilang sep

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   187.

    Joseph menyipitkan sepasang mata emas gelapnya menatap interaksi akrab di depan matanya dengan pandangan menginterogasi. "Kenapa aku merasa kau terlihat jauh lebih bersemangat untuk menemui Elara daripada menyapa kami?"Albert membalas tatapan curiga dari mantan Alpha WarcliffWarcliff itu dengan raut wajah yang sama sekali tidak merasa bersalah. "Karena hanya Elara saja yang bisa menghargai seluruh dedikasiku terhadap dunia herbal.""Itu bukan jawaban atas pertanyaanku, Albert." sahut Joseph ketus."Tapi itu adalah bentuk jawaban yang akan tetap kupakai sampai kapan pun untuk menghadapi protesmu," balas Albert tidak mau kalah.Elara kembali tertawa lepas mendengar jawaban polos dari Albert, meredakan seluruh ketegangan yang sempat tercipta. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, halaman rumah mereka dipenuhi suara tawa.Menjelang waktu siang hari tiba, mereka berempat memutuskan untuk menikmati makan bersama di bawah naungan pohon besar. Pohon rindang itu tumbuh kokoh tidak jau

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   186.

    "Joseph, berhenti mengucapkan kalimat manis seperti itu di tempat terbuka," protes Elara dengan nada suara yang terdengar lemah karena ia sendiri tidak bisa menahan senyumnya.Joseph tertawa pelan mendengar protes kecil dari istrinya, ia menaikkan telapak tangan besarnya untuk menyentuh permukaan kulit pipi Elara dengan seleruh kelembutan yang ia miliki.Di dalam sentuhan tangan Joseph kali ini, sudah tidak ada lagi bentuk luapan gairah liar yang menuntut hak kepemilikan seperti saat mereka masih dikejar oleh ancaman musuh.Tak ada lagi keadaan mendesak yang mengharuskan mereka segera berpindah tempat. Yang tersisa di dalam sentuhan tangan Joseph hanyalah sebuah rasa syukur.Sebuah rasa syukur yang amat besar dan mendalam yang bahkan terasa sangat sulit untuk diungkapkan dengan menggunakan rangkaian kata-kata manusia biasa oleh sang mantan Alpha.Mereka berdua merasa sangat bersyukur karena telah berhasil untuk melangkah bersama sampai sejauh ini, melewati seluruh rangkaian konspirasi

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   71.

    Elara membeku. Seluruh aliran darahnya sakan berhenti mengalir mendengar kata itu. "I-ikatan?""Dan aku tidak pernah merasakan sesuatu yang sekuat ini sebelumnya pada siapa pun," ucap Joseph sebagai kalimat penutup.Joseph melepaskan tangannya dari leher Elara secara tiba-tiba. Ia mundur beberapa la

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   70.

    "Jangan bergerak," perintah Joseph dengan nada mutlak. Ia kini berdiri tepat di depan Elara, aroma tubuhnya yang kuat mulai mengepung indra penciuman Elara."T-tuan, j-jangan. Tolong b-biarkan aku s-sendiri," pinta Elara dengan suara yang hampir menghilang."Diam," balas Joseph singkat. Ia tidak ped

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   50.

    Elara mematung di depan meja dapur yang kosong, tangannya sibuk menggosok nampan yang sudah bersih. Pikirannya tidak berada di sana. Ia masih bisa merasakan sisa cengkeraman Joseph di pergelangan tangannya dan tatapan mata Evan yang seolah menembus kulitnya.Tenggorokannya kembali berdenyut tipis,

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   44.

    Elara terbangun dengan leher yang terasa seperti tercekik. Ia menyentuh tenggorokannya, merasakan denyut panas sisa sentuhan Victor semalam yang beradu dengan kehangatan ramuan Albert.Ia teringat ucapan Albert tentang sesuatu yang terkunci di dalam dirinya. Rasa takut mulai merayap, bukan hanya pa

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status