로그인Regita keluar sebagai orang terakhir saat restoran ditutup. Malam ini adalah jadwal piketnya, Regita bersama rekan yang lain membersihkan restoran sampai larut malam.
Tak seperti rekan lain yang memiliki keluarga. Regita pulang seorang diri tanpa ada yang menjemput. Wanita ini berjalan dengan cepat sambil memperketat jaket yang ia pakai.Udara malam ini sangat dingin menembus tulang. Regita berjalan ke arah halte. Tak ada bis, tapi aplikasi ojek online masih aktif. Ia pun meRegita masuk ke ruangan dimana pria itu sudah menunggu. Pintu itu terbuka tipis. Regita melesatkan pandangannya. Wanita ini tersenyum miring.Yang datang bukanlah Barnes Junior, melainkan perwakilannya. Regita masuk dengan langkah tegap dan bibir merahnya. Saat melihat siapa yang datang, pria ini lekas berdiri untuk menyambut kedatangan nyonya besar."Selamat siang, nyonya Cakrawala." Ucapnya sopan."Regita Cakrawala." Regita tersenyum dan duduk di sofa single yang ada di hadapan pria itu."Perkenalkan, saya Alwan. Asisten tuan Jonathan Barnes. Saya kemari ingin menyampaikan satu hal."Alwan duduk di sebrang Regita dan menyerahkan satu map yang berisi salinan kerjasama."Perusahaan kami ingin bekerja sama dengan perusahaan Cakrawala." "Untuk kedua kalinya?" Tanya Regita.Dengan kuku-kuku cantiknya, ia mengambil dokumen tersebut dan membacanya pelan-pelan. Wanita ini menarik sudut bibirnya."I
Dua langkah yang tegap. Serasi dalam balutan jas berwarna hitam. Dua tubuh itu condong ke depan. Berjalan dengan tegas dan meyakinkan.Beberapa orang sampai berhenti dan memberikan anggukan sopan. Serasa hormat pada tuan dan nyonya yang telah memimpin Cakrawala.Regita membalas sapaan itu dengan hangat. Ia sangat cantik dengan balutan jas wanita berwarna hitam dengan rambut yang di urai indah.Tak bersama Elang, Regita diberikan sebuah ruangan khusus sebagai singgasana ratunya. Yaitu ruangan yang berada di sisi Elang. Sama luasnya. Namun memiliki kesan feminim.Seperti Elang yang memiliki Rico sebagai asisten pribadinya, Regita menunjuk Michel sebagai tangan kanannya. Wanita itu ikut bersama Regita dalam kegiatan perusahaan."Selamat datang tuan dan nyonya." Sapa Jorgi ramah.Jorgi membuka pintu yang dilapisi warna gold. Saat pintu itu dibuka, Elang meraih tangan istrinya untuk digenggam. Wanita itu dibawanya masuk ke rumahnya ba
Sambil membawa akta cerai di tangan, Elang berkunjung terlebih dahulu ke pondok Alisa. Istri kedua Elang itu hanya bisa menatap getir. Ia merasa terbebani karena perceraian Silvya. Yang dilakukan oleh kakak madunya memang tidak dibenarkan. Dibalik sikap manisnya, ternyata Silvya menyimpan sisi gelap yang bisa menghancurkan semua orang. Tapi tak hanya itu yang dipikirkan Alisa. Melainkan posisinya sendiri.. untuk pertama kalinya, dia merasa sendiri. Dia kesepian. Perceraian itu bak peringatan bagi Alisa agar tidak mencari masalah dengan Regita. Atau bisa jadi, Alisa juga akan merasakan hal yang sama. Sementara, Regita memandang akta cerai itu dengan samar. Tanpa emosi ataupun luapan kebahagiaan. Ia tahu jika Elang merasa berat atas perpisahan ini.. tapi mau bagaimana lagi? Perpisahan adalah hukuman yang pantas untuk Silvya. "Bersiaplah untuk besok pagi." Ucap
"Anak-anakku yang tampan.." Regita mencium hidung anak-anaknya secara bergantian.Wanita ini mengulum senyum manis dan menaruh keduanya satu per satu di box bayi. Tak jauh dari sana ada Michel yang ikut memandang. Wanita ini ikut merasakan bahagia."Aku bersyukur sekali kamu bisa melewati semuanya, Jane. Bila tidak, anak-anakmu bisa menjadi anak piatu.""Hush!" Regita mendelik. "Jangan sebut aku dengan panggilan itu. Semua orang mengenalku dengan nama Regita."Michel melipat bibirnya. Dia sudah keceplosan menyebut nama asli temannya."Jam berapa Elang pulang?"Michel menggeleng. "Aku akan bertanya pada Rico. Apa ada yang kamu butuhkan?""Tidak ada. Aku hanya ingin tahu saja."Tak lama, pintu kamar Regita terbuka. Rupanya ada kunjungan dari Elang. Melihat siapa yang datang, Michel langsung menyingkir. Regita menyambut dan memberikan pelukan."Apa kabar dua raja ku hari ini?""Mereka sedang terti
Plak!!!Pipi Diana ditampar dengan keras. Diana terjatuh dengan pinggul terlempar ke lantai. Matanya menggelepar ketakutan.Sekarang bukan lagi pengawal yang memukulnya. Melainkan tuan muda dari perusahaan Cakrawala."Tuan!" Diana menangis tersedu-sedu.Silvya yang melihat kemarahan suaminya langsung bergidik. Ia bersembunyi di balik tubuh kecil Alisa."Putar videonya!" Seru Elang pada pengawal. Rahangnya mengeras mengkilatkan kemarahan.Tayangan itu diputar. Diana masuk dengan cara mengendap-ngendap. Senyum licik dan mata penuh ambisi itu terlihat dari wajahnya.Sapu tangan yang diisi oleh racun sebagai bukti dari kekejaman wanita ini. Namun nama yang disebutkan oleh Diana membuat Elang meradang.Silvya, istri pertamanya. Sahabat kecilnya telah menjadi dalang pembunuhan istri ketiganya sendiri."Silvya!" Teriak Elang menggelegar. "Kau!""Mas.." tahan Alisa. Silvya semakin memeluk Alisa dari be
Kedua bayi itu menangis mencari air susu ibunya. Kesadaran Regita belum pulih. Wanita itu masih berjuang melewati masa kritisnya.Michel bergantian menjaga Regita dan melihat dua kembar di kamar bayi. Pun Elang begitu.Sudah tiga hari, Regita tak terjaga kesadarannya. Hingga Elang hampir putus asa. Pria kaku yang tak bisa mengekspresikan wajahnya itu kini mengalirkan air mata."Bangunlah.. kumohon.." lirih pria ini.Di belakang Elang ada Michel yang ikut menatap sedih. Sahabatnya sejak kecil, Janina sekarang tengah terbaring lemah.Tidak. Jane tidak boleh kalah. Perjuangan mereka baru saja dimulai. Dan Michel juga berjanji akan membantu sahabatnya itu mencapai tujuannya.Seorang perawat datang lagi untuk memberikan transfusi, hingga empat jam darah itu mengalir.. wajah Regita yang tadinya pucat sudah memerah."Regita.." Elang menyentuh pelan kedua pipi itu. "Aku disini untukmu.. dengarkan lah.. aku akan setia menunggumu.







