LOGINMobil Kaliel melaju membelah malam menuju Sektor Onyx dengan kecepatan tinggi. Di balik kemudi, hatinya terasa begitu riang dan ringan. Bagaimana mungkin dia tidak bahagia? Setelah semua ketegangan dan jarak yang sempat membentang di antara mereka, malam ini ia akhirnya benar-benar berbaikan dengan Tatiana, bahkan dengan cara yang jauh lebih intim dari yang ia bayangkan sebelumnya.
Kaliel melirik jam tangan ya
Tatiana terus menatap kalung berlian di tangannya tanpa ada niat untuk mengenakannya. Pikirannya masih berkecamuk, mencoba mencerna kegilaan situasi hari ini.Kaliel yang baru saja selesai mandi berdehem pelan sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Melihat tatapan kosong Tatiana yang tak kunjung beralih dari kotak perhiasan, ia terkekeh tipis. "Kau tampak menyeramkan, Sayang. Seperti sedang merencanakan hal yang jahat."Tatiana mendongak, menatap Kaliel dengan raut wajah yang masih diliputi kecemasan. "Tentu saja aku takut, Kaliel. Menikah bukan hal yang sesederhana seperti yang kau bayangkan."Kaliel melempar handuknya ke atas kursi kosong, lalu berjalan mendekat ke arah ranjang. "Bagiku sederhana. Hal-hal di dunia ini menjadi rumit hanya karena kau terlalu banyak berandai-andai
Mobil mereka melaju membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, meninggalkan area perbatasan yang kacau itu sejauh mungkin. Di tengah deru mesin yang, Kaliel memindahkan satu tangannya dari kemudi, lalu meremas lembut jemari Tatiana yang masih terasa dingin."Kita sudah memastikan polisi datang sebelum pergi tadi, kan?" Pria itu terdengar terlalu santai.Tatiana mengembuskan napas lega yang panjang, ketegangan yang sejak tadi menumpuk di bahunya perlahan menguap. Ia menoleh, menatap wajah Kaliel dari samping yang tampak begitu tenang di balik kemudi. "Kau... sama sekali tidak punya rasa takut, ya?"Kaliel terkekeh rendah, namun sorot matanya yang melirik Tatiana sesaat tampak begitu tulus. "Satu-satunya yang membuatku takut di dunia ini adalah kau, Tatiana. Urat tegang, rasa takut, dan kecemasanku hanya ak
Refleks Kaliel bergerak secepat kilat. Ia langsung menarik tubuh Tatiana ke dalam dekapan dadanya, menggunakan badannya sendiri sebagai tameng sembari melindungi kepala gadis itu dengan kedua tangan."Kita keluar dari—" Kata-kata Kaliel terputus oleh rentetan suara tembakan susulan yang menggema lebih dekat, diiringi suara kaca pecah dan derap langkah kaki yang kacau. Sadar pintu keluar utama terlalu berisiko, Kaliel menarik Tatiana mundur, menyusuri koridor sempit hingga menemukan sebuah toilet umum yang tandanya sudah agak usang dan tampak rusak.Begitu mendorong pintu di salah satu bilik, Kaliel mendesak Tatiana masuk. "Berdiri di atas dudukan toilet, sembunyikan kakimu dari celah bawah pintu," bisiknya tajam penuh penekanan.Tatiana yang jantungnya berpacu hebat menatap Kaliel panik. "Lal
Keesokan harinya, suasana tenang di Sektor Carasano mulai terusik. Kawasan yang selama ini terkenal sangat aman dan minim kriminalitas itu mendadak diguncang oleh berita-berita miring. Kasus pencurian kecil, penjambretan, hingga aksi nekat seperti yang dialami Tatiana kemarin mulai sering terjadi di berbagai sudut sektor.Saat sedang berjalan-jalan pagi, Tatiana tak sengaja mendengar obrolan serius di depan toko kue. Sepasang suami istri muda tampak sedang berbincang tegang dengan sang pemilik toko kue yang wajahnya terlihat cemas.Tatiana memperlambat langkahnya, berpura-pura melihat etalase sambil menajamkan pendengarannya."Ini benar-benar gila," ucap pria muda itu sambil menggelengkan kepala. "Carasano tidak pernah seperti ini sebelumnya. Kemarin kedai dekat bundaran dirampok, lalu tadi malam a
Setelah menekan tombol merah pada layar ponselnya, Tatiana tidak langsung bangkit dari bangku taman. Ia terdiam sejenak, membiarkan matanya menyapu sekeliling area bundar tersebut. Kawasan itu terasa begitu tenang dan damai siang ini, sangat kontras dengan badai emosi dan konflik yang baru saja mereka lewati beberapa waktu lalu.Keheningan itu membawa pikirannya terbang kembali pada keintiman dan ketulusan yang baru saja Kaliel tunjukkan. Perlahan, tanpa sadar, jemari mungil Tatiana bergerak turun dan mengelus perutnya sendiri dengan lembut. Sentuhan itu membawa sebuah desiran hangat yang berbeda ke dalam dadanya.'Mungkin... aku sudah siap menikah dengan Kaliel,' batinnya lirih, pengakuan yang akhirnya berani ia suarakan dalam hati setelah segala keraguan yang sempat menahannya runtuh.
Mobil Kaliel melaju membelah malam menuju Sektor Onyx dengan kecepatan tinggi. Di balik kemudi, hatinya terasa begitu riang dan ringan. Bagaimana mungkin dia tidak bahagia? Setelah semua ketegangan dan jarak yang sempat membentang di antara mereka, malam ini ia akhirnya benar-benar berbaikan dengan Tatiana, bahkan dengan cara yang jauh lebih intim dari yang ia bayangkan sebelumnya.Kaliel melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah hampir menunjukkan tengah malam. 'Mungkin Tatiana sudah tidur,' batinnya penuh perhatian, membayangkan gadis itu kini tengah bergelung nyaman di balik selimut hangatnya.Namun, perkiraan Kaliel sepenuhnya keliru.Jauh di balik dinding rumahnya, Tatiana j







