LOGINSinar matahari senja mulai membiaskan warna merah keemasan yang cantik di atas permukaan Danau Mutiara. Angin sore berhembus sedikit lebih kencang dan membawa udara dingin yang menusuk kulit. Kenneth yang sedang berbaring di atas rumput melirik ke arah dua anak kembarnya. Perutnya yang dijadikan area panjat tebing mini mendadak sepi. Di samping kanan, Valerius sudah tersungkur telungkup dengan bokong gembul nya menungging ke atas, terlelap nyenyak sambil menggenggam rumput. Sementara di sisi kiri, Rosalie menguap tebal, matanya yang bulat perlahan didatangi rasa kantuk yang berat setelah puas melangkah di rumput. Rosalynd terkekeh pelan ketika melihat pemandangan. "Sepertinya dua prajurit kecil Anda sudah kehabisan tenaga, Tuan." "Kerja bagus untuk alam," sahut Kenneth rendah sambil bangkit dari duduknya perlahan supaya tidak membangunkan Valerius. "Udara luar memang obat paling ampuh untuk membuat mereka tertidur cepat." Dengan sigap, Kenneth merengkuh Valerius yang telungkup di
Di dalam kereta kuda yang melaju tanpa ornamen megah, namun dilapisi pelindung tinggi dan meluncur pelan meninggalkan batas benteng luar Istana Barat.Di dalam kereta, suasana begitu hangat. Kenneth sengaja melepas jubah kebesarannya dan hanya mengenakan kemeja katun longgar berwarna hitam tanpa dasi atau pin kerajaan. Di sebelahnya, Rosalynd tampak anggun dan segar dengan gaun kain linen simpel berwarna krem."Ini kita benar-benar keluar istana hanya berempat, Kenneth?" tanya Rosalynd sambil menatap keluar jendela kereta, menikmati pemandangan perbukitan hijau yang membentang luas.Kenneth tersenyum tipis, merengkuh pinggang Rosalynd dan menariknya semakin rapat. "Tentu saja. Caelan dan beberapa pasukan berjaga dari jarak jauh di balik pepohonan. Hari ini, tidak ada Kaisar dan permaisuri. Hanya ada kita berempat."Di sisi lain, di karpet empuk. Valerius dan Rosalie sibuk menepuk-nepuk jendela kayu sambil mengoceh gembira."Puuu! Burung!" seru Valerius menunjuk seekor burung kawari ya
Pemberhentian jabatan Duke Vane yang mendadak membuat suasana Aula Agung Istana Barat berada di puncak ketakutan. Tidak ada satu pun menteri yang berani menatap mata Kenneth, apalagi memprotes nya. Di mata mereka, bayangan Tiran dingin dan tanpa belas kasih kembali lagi. Siap meremukkan siapa pun yang memicu kelemahannya. "Pelaksanaan akan segera dilakukan hari juga, Yang Mulia," sahut Caelan dengan suara lantang dan menggelegar seolah menegaskan kepatuhan mutlak atas perintah sang Kaisar. Tanpa membuang waktu atau memberikan sepatah kata pun bagi para pejabat fraksi Selatan untuk membela diri, Kenneth menarik pedangnya dari meja kayu tebal dengan satu gerakan tenang. Besi tajam yang berkilat itu dimasukkan kembali ke sarungnya dengan dentingan nyaring. Kenneth berbalik dan pergi meninggalkan Aula Agung dengan jubah kebesarannya yang melambai megah. Langkah nya berat bergema di sepanjang koridor dan disusul oleh Caelan yang mengekor. "Pastikan seluruh pasukan elit bergerak ke wila
Aura di ruangan kerja Paviliun Mawar seketika berubah mencekam. Caelan menunduk dalam, tidak berani menatap langsung sepasang iris mata gelap milik Kenneth yang berkilat mematikan. "Baik, Yang Mulia. Saya akan mengumpulkan seluruh anggota dewan menteri dan para petinggi fraksi sebelum fajar menyingsing," tegas Caelan dengan patuh dan mengundurkan diri secara perlahan. Keheningan yang dingin dan menusuk tiba-tiba menyelimuti ruangan. Kenneth berdiri kaku di depan meja kerjanya, jemari besarnya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memang teratur namun berat, memancarkan naluri pembunuh dari seorang Tiran yang telah lama di pendam. Rosalynd bangkit dari duduknya. Rasa terkejutnya kini berubah menjadi amarah seorang ibu. Ia melangkah mendekati Kenneth dan mencengkeram kuat lengan suaminya yang mengeras. "Kenneth," panggil Rosalynd dengan suara bergetar menahan emosi. "Aku tidak akan pernah mengizinkan siapa pun menyentuh anak-anak ku. Baik itu Valerius ataupun Rosa
Lilin-lilin aromaterapi di sudut ruangan memberikan suasana tenang. Di sofa panjang dekat meja kerja, Rosalynd menyandarkan kepalanya di dada bidang Kenneth dan menikmati ritme detak jantung suaminya yang teratur. "Cepat sekali mereka tidur malam ini," gumam Rosalynd pelan. Kenneth yang sedari tadi membelai lembut rambut istrinya tersenyum tipis. "Tentu saja. Bagaimana tidak. Seharian ini mereka berlagak seperti prajurit di Medan perang. Valerius mengejar kupu-kupu dan Rosalie juga sibuk menyuapiku bunga." Rosalynd terkekeh pelan. "Tapi, Anda menikmatinya bukan? Sampai-sampai saya tidak pernah membayangkan bahwa seorang Kaisar Agung, pemimpin tertinggi Blackwood mau berbaring di rumput hanya untuk menjadi area panjat untuk anak-anaknya. "Kau mengejek ku, Permaisuri?" goda Kenneth dengan nada rendah sambil mencubit lembut pipi Rosalynd. "Tidak tidak. Ampun. Saya hanya kagum saja sama Anda," balas Rosalynd. Jemarinya merapikan kerah kemeja suaminya. "Anda berubah banyak sekali. Dul
Setelah melalui hari yang lelah karena memimpin rapat dan menyusun strategi perang. Kenneth kembali ke Paviliun Mawar. Ia melihat kedua anaknya sedang bermain bersama istrinya. "Ayah pulang—" kata nya sambil menggendong Rosalie. Ia mengecup pipi Rosalie gemas. Rosalie pun tak kalah gemas dengan tingkah laku ayahnya yang menciumnya tanpa henti. "Nah, sudah ya sayang. Jangan minta gendong ayah dulu. Biarkan ayah istirahat, nanti sore kita main lagi di taman. Hemthhhh," tawar Rosalynd pada kedua putranya. "Tidak. Aku tidak lelah. Kenapa kau seolah-olah malah membuatku lemah dihadapan dua anakku? Apa maksudnya itu?" Kali ini, Kenneth yang merajuk. Ia yang masih menggendong Rosalie berjalan ke balkon. "Eh eh. Mau kemana bayi besarku. Sini, berikan putriku padaku!" bentak Rosalynd. Seolah ingin menggoda istrinya, Kenneth tak bergeming. Ia mematung dan seolah mengerti, Rosalie juga ikut merajuk seperti ayahnya. "Ah, cukup dong. Kalau di diamkan, nanti ibu kalau ada urusan,
Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Akan tetapi, suasana di pelataran paviliun Mawar terasa sangat dingin.Rosalynd melangkah melewati gerbang melengkung yang dipenuhi hiasan mawar merah darah yang cantik dan anggun. Di belakangnya, Lily mengikuti Rosalynd dengan berjalan menunduk sambil mem
Suasana kamar mendadak sunyi. Suara pip dari terputusnya sambungan alat komunikasi di balik pisau itu seolah merenggut semua nya.Kondisi Lily sudah jatuh terduduk lemas di lantai marmer yang dingin. Wajahnya pucat pasi dan netranya terbelalak kaget."N—Nona. A—apa tadi suara Kaisar? Jadi, sejak t
Pintu tersembunyi di balik lemari kayu ek berderit pelan. Jantung Rosalynd berdegup kencang, tangannya spontan menarik sisa robekan gaun untuk menutupi tubuhnya.Akan tetapi, setelah ditunggu beberapa detik keluarlah wanita berpakaian pelayan sederhana melangkah keluar dengan buru-buru."Nona Rosal
Matahari pagi itu belum sempat menampakkan wujudnya di ufuk timur, namun pintu paviliun obsidian sudah digedor dengan sangat berwibawa."Perhatian, selir Rosalynd. Ibu Suri dan Permaisuri Agung telah tiba!" seru dayang Martha dari balik pintu kamar.Rosalynd tersentak kaget.Jantungnya berdegup ken







