เข้าสู่ระบบUntuk apa Cassius kembali menemui Lilian? Apa yang sudah mereka bicarakan di belakangnya?Pertanyaan-pertanyaan itu berhasil buat wajah Mante suram dan matanya berkilat tajam. Mante mengenal orang-orang dari keluarga Giedon bukan sekadar dari nama dan kedudukan mereka. Dia memahami kepribadian setiap anggotanya, hafal kebiasaan mereka, serta mengetahui sejauh mana hubungan dan loyalitas masing-masing terhadap keluarga Giedon Hemilton.Cassius adalah salah satu orang yang berani memilih jalan berbeda dibandingkan yang lainnya. Dia tidak terikat dengan siapapun, dia tifak bergantung pada keluarga Hemilton, karena baginya.. kedudukan sebagai anggota keluarga kerajaan membawa tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan untuk mengumpulkan kekayaan pribadi.Cassius tidak pernah tertarik melibatkan diri dalam dunia bisnis kotor. Alih-alih mengejar kekayaan, dia memilih menekuni diplomasi kemanusiaan, memperjuangkan dukungan bagi sektor kesehatan, pendidikan, dan penangg
Tubuh Celestine menegang kaku. Semua hal yang diucapkan Cassius telah berhasil memukul hatinya dengan begitu keras, membuka paksa mata dan pikirannya pada kebenaran-kebenaran yang selama ini berusaha Celestine abaikan karena egonya.Ego yang tidak terima, bahwa kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasinya.Sesungguhnya, sejak beberapa hari lalu Celestine telah menyadarinya. Celestine tahu, bahwa dia begitu menyedihkan karena hidupnya hancur oleh bertepuk sebelah tangan, hidupnya hancur oleh rasa percaya diri yang telah melampaui batas.Justru.. karena kesadaran itulah Celestine pertahankan egonya.Dada Celestine teramat sakit dan jiwanya terguncang setiap kali memikirkan bagaimana akhirnya kini dia menunjukan wajahnya di hadapan semua orang? Bagaimana Celestine harus menanggung malu? Berapa lama Celestine akan jadi bahan olok-olokan? Bagaimana Celestine hadapi orang-orang yang selama ini sering menasihatinya, namun dia bebal enggan mendengarkan! Lalu bagaimana juga Celestine hadapi be
Derak lembut suara pintu terdengar kala Elisio pergi meningggalkan ruangan. Air mata yang telah berusaha Lilian tahan, tangisan yang dia coba redam karena malu tidak tidak ingin dipandang lemah, kini akhirnya pecah berderai. Lilian tertunduk menangkup wajahnya dengan bahu gemetar.Lebih dari sepuluh menit ayah Mante duduk, sudah cukup banyak percakapan yang terjadi diantara mereka. Namun apa pun yang Lilian katakan, pada akhirnya dia tetap terpojok.Mante dan ayahnya ternyata tidak jauh berbeda. Keduanya sama-sama ingin kehendak mereka dipatuhi.. dan ketika seseorang menolak kehendaknya, mereka membiarkan lawan bicara merasa masih memiliki kendali untuk diri mereka sendiri, lalu perlahan mempersempit jalan keluar dengan pilihan-pilihan yang pada akhirnya.. kembali pada apa yang sejak awal mereka diinginkan.Tunduk melalui jalan berbeda..Andai saja ayah Mante hanyalah orang biasa, Lilian mungkin masih berani menjawab sesuka hati dan mengabaikan segala peringatan yang diberikan tanpa
Bibir Lilian terkatup rapat, gadis itu tidak memiliki keberanian untuk langsung menjawab tawaran rahasia ayah Mante.Lilian sudah cukup lelah dengan masalah hidupnya yang dari hari ke hari terasa semakin berat.. semakin sulit untuk dihadapi dengan kepala tegak.. semakin sulit dikendalikan.Bisa bertahan hingga sejauh ini tanpa kehilangan akal sehat saja sudah menjadi pencapaian yang patut dibanggakan bagi Lilian, seorang perempuan penakut yang bahkan tidak pernah membayangkan dirinya harus menghadapi begitu banyak persoalan hidup.Lilian tidak ingin menambah satu lagi persoalan ke dalam hidupnya dengan menerima sebuah taruhan dan risiko yang belum sepenuhnya dipahami.Dahulu, Lilian pernah jatuh sehancur-hancurnya ketika kedua orang tuanya meninggal, disusul bangkrut dan dikhianati suaminya sendiri. Namun, betapapun menyakitkan pengalaman itu, Lilian masih mampu bangkit dan menghadapi kenyataan dengan kepala tegak.Alasannya sederhana. Pada saat itu, lawan yang harus dihadapi Lilian
Pupil mata Lilian gemetar, napasnya sesak tertekan oleh rentetan persyaratan yang harus dipenuhinya untuk menjadi istri Mante. Tuntutan itu terdengar begitu besar hingga membuatnya bertanya-tanya apakah jika Lilian habiskan sisa waktunya untuk penuhi syarat-syarat itu... Lilian bisa hidup bahagia?Belum sembuh trauma Lilian oleh kejadian beberapa hari lalu yang hampir merenggut nyawa. Kebimbangannya menghadapi kehidupan baru yang bertolak belakang dengan segala nilai yang ditanamkan orang tuanya pun belum menemukan jalan keluar. Kini, di tengah batin yang belum pulih dan pikiran yang masih dipenuhi keraguan, Lilian harus menghadapi satu kenyataan lagi: mencintai Mante ternyata tidak hanya semerta- merta cukup berada disampingnya, tapi juga harus terjerumus lebih dalam ke dunianya.Rasanya sungguh tidak adil...Bukankah Mante sendiri yang sejak awal memaksanya menikah? Pria itu bahkan tidak memberi Lilian kesempatan untuk mengenal dan menerima dunianya sedikit demi sedikit. Lantas, me
Percakapan penting belum dimulai, namun sebuah permintaan sudah lebih Lilian ajukan tanpa dia pikirkan siapa yang kini duduk di hadapannya.Dari gerak-geriknya, siapapun juga tahu dengan jelas bahwa gadis itu tengah diliputi ketakutan. Namun, siapa yang akan menyangka bahwa di balik kegugupannya, dia memiliki keberanian untuk bicara sesuatu yang bahkan tidak sembarangan orang berani katakan.Darimana keberaniannya berasal? Apakah dari ketidak pekaannya yang tidak sadar bahwa setiap keinginan ada konsekuensinya, atau justru kebodohan yang terbungkus kepolosan?Elisio bukanlah seseorang yang bisa dengan mudah dimintai sesuatu, apalagi sesuatu yang secara tidak langsung sedang memberinya perintah. Elisio juga bukan seseorang suka sembarangan menodongkan senjata hanya untuk dapatkan kepatuhan dari orang yang dikehendakinya. Tanpa bicara sepatah katapun Elisio lepaskan genggamannya pada tongkat dan menyandarkannya ke kursi. Hal sederhana yang Elisio lakukan secara tidak langsung menyangg
“Dipertemuan tadi, semua orang membicarakan hal penting yang bahkan tidak aku tahu.” Seorang pria paruh baya melepaskan setelan jassnya, dengan sigap sang isteri menerimanya dan mengikuti langkah suaminya. “Memangnya apa yang sedang dibicarakan mereka?” tanya Katty penasaran. Dengan wajah muram
Lilian mundur seketika, dengan wajah pucat pasinya gadis itu mundar-mandir menggigit ujung jari, tidak dapat mengendalikan kepanikan yang semakin berkeacamuk dalam kepala. Jika pria asing itu tidak ingat apapun, apa itu artinya dia mengalami lupa ingatan akibat benturan? Jika hal itu benar, ini
“Keadaannya baik-baik saja meski ada beberapa luka dan memar. Setelah nanti teman Anda bangun, baiknya mandi air dingin untuk membantu mengurangi nyeri dari benturan dan pembengkakan. Untuk mengetahui apakah ada cedera, Anda harus membawanya ke rumah sakit,” ucap seorang dokter sambil meletakan tab
Kendaraan bergerak cepat ditengah kegelapan malam, sambil menyetir Lilian berkali-kali melihat dan menyentuh ujung hidung pria yang tidak sengaja dia tabrak, memastikan kondisinya yang kini tidak sadarkan diri masih bernapas. Perasaan Lilian bercampur aduk, takut dan cemas menjadi satu, tidak t







