แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Selene21
last update วันที่เผยแพร่: 2024-01-22 09:38:42

Yulia berdiri cukup lama di depan pintu kamar cucian, cukup untuk menyimpulkan bahwa Minah berbahaya baginya. Awalnya, ia ingin meminta tolong Minah membuat secangkir kopi pahit untuknya karena sakit kepala tiba-tiba menyerangnya setelah bertengkar dengan Elia. Tapi, apa yang didengarnya dari balik pintu, nyatanya mampu menyembuhkan sakit kepalanya.

Dibukanya pintu kamar dengan keras.

“Ngapain kalian sembunyi di sini?!” hardik Yulia. Hatinya bersorak, manakala melihat wajah pias Minah dan gurat kejengkelan adik tirinya. “Lho, malah bengong. Lagi main petak umpet? Kok cuman berdua, kurang seru, dong. Ikutan, boleh gak?”

Tanpa bicara, Elia mendorong bahu Yulia dengan kesal agar perempuan itu menyingkir dari jalan dan membiarkannya keluar ruangan. Minah bermaksud mengekor Elia, tapi lengan Yulia mencekalya.

“Bik Minah, tolong buatin kopi pahit, dong,” pinta Yulia dengan nada lembut yang dibuat-buat tertuju pada Minah, sedang matanya mengiring kepergian Elia.

Setelah memastikan Elia masuk ke dalam rumah utama, Yulia berpaling menatap Minah dengan mata mendelik marah.

“Heh, bacot! Mau lapor apa kamu ke Elia, hah?! Mau aku kirim pulang seperti adikmu?!” desis Yulia geram.

“A-ampun, Neng. Bibik bukannya mau lapor, hanya menjawab pertanyaan Neng Elia. Kasihan, Neng.” Minah menjawab terbata dengan kepala menunduk, menghindari tatapan tajam Yulia.

“Kasihan, kasihan, apaan?! Pikir aja nasib keluargamu sendiri, kalau sampai kamu juga pulang kampung. Kasihan mana, Elia atau mereka?”

Remasan kuat jemari Minah, sudah cukup memberi Yulia jawaban.

“Bagus! Jangan sampai lupa kalau bapakmu di kampung harus cuci darah tiga kali seminggu!” tegas Yulia seraya mengacungkan tangan kanannya dengan jari manis dan kelingking menekuk ke dalam.

Minah tidak bisa berkata-kata, hanya mengangguk pasrah.

“Oke. Aku anggap tidak melihat dan mendengar kejadian barusan.” Yulia meremas kedua bahu Minah. “Sekarang, tolong buatkan saya kopi hitam pekat tanpa gula, bisa?” pinta Yulia lembut sarat kepura-puraan.

***

Kantin Fakultas Kedokteran

Sepiring gado-gado menjadi korban kegalauan Elia. Jemari rampingnya terus bergerak mengaduk bumbu kacang, telur rebus, kentang serta berbagai olahan daging ayam yang terbungkus tahu putih, pare dan kulit pangsit. Di depannya, gadis seusianya berpenampilan culun lengkap dengan kacamata bulat berlensa besar menggoyangkan dua kuncir kudanya melihat kelakuan sang sahabat.

“Astaga … El! Bentar lagi, itu gado-gado berubah jadi bubur kacang semua!” tegur Shinta.

Elia masih melanjutkan kegiatannya, seolah tidak mendengar teguran sahabatnya.

“El, Elia! Hellow ….” Shinta melambaikan tangannya di depan wajah Elia. “Whoi!”

Tang!

Elia menjatuhkan sendok di tangannya dan mengerjap kaget karena hardikan Shinta.

“Astaga … apaan, sih?!” sungut Elia kesal.

“Apaan, sih. Harusnya gue yang ngomong gitu. Tuh, gado-gadonya udah cair, siap diminum!” balas Shinta tak kalah kesal.

Elia terbeliak melihat kondisi gado-gado di piringnya. “Ini ulah gue?” tanyanya ragu.

“Bukaaannn! Sendok garpu pelakunya.” Bibir Shinta seketika manyun mendengar pertanyaan konyol mahasiswa terpintar di angkatannya. “Lu napa, sih? Bengong mulu. Kena panah si Ciprut?”

Cebikan Elia membuat Shinta terbahak sambil menahan gagang bagian tengah kacamatanya agar tidak merosot.

“Panah Ciprut, apaan?”

Shinta masih saja tertawa.

“Shin, lu tau gak, Rafi i-ship di mana?” tanya Elia polos.

Tawa Shinta makin menjadi.

Kening Elia mengkerut karena respon sahabatnya. “Ehh … ditanya bukannya jawab, malah ngakak! Gue serius ini!”

Shinta membekap mulutnya agar tawanya berhenti. Dibutuhkan sebuah tatapan tajam bak pedang untuk membuat Shinta berhenti tertawa. Gadis berkacamata itu mengangkat kedua tangannya tanda setuju bekerja sama.

“Oke, serius.” Shinta mengambil selembar tisu untuk mengelap sudut matanya yang basah. “For your information, ya. Rafi itu udah lulus, Jeng. Dia sekarang udah jadi dokter magang di rumah sakit bapaknya. Keren, lho, dia.” Shinta memainkan kedua alisnya seraya mengulum senyum.

“Medistra, bukan?” tanya Elia memastikan.

“Yups! Betul banget.” Shinta mengacungkan dua jempolnya bersamaan. “Gue gak nyangka, diem-diem, ternyata lu perhatian juga.”

“Sial!”

Elia meraih tas ransel dan ponselnya. “Tolong, bayarin dulu, ya. Bye.

Shinta hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Elia yang belum pernah dilihatnya.

“Hmm, cinta memang bisa merubah segalanya,” desah Shinta sendu.

***

IGD Rumah Sakit Medistra

Elia memarkir motornya dengan tergesa. Ia tidak sabar bertemu Rafi dan memastikan sesuatu. Kaki jenjangnya setengah berlari memasuki pintu IGD sebuah rumah sakit besar di kotanya.

“Permisi, Sus. Bisa saya bertemu dengan dokter Rafi?” tanya Elia saat mencapai meja perawat.

Alih-alih menjawab, dua suster yang kebetulan sedang bertugas, saling pandang.

“Sus, bisa saya bertemu dokter Rafi?” ulang Elia.

“El,” sapa sebuah suara bariton dari balik punggung Elia, membuat gadis itu menoleh cepat ke arah suara.

“Raf …,” balas Elia dengan suara yang tiba-tiba bergetar.

Entah kenapa, emosi Elia menjadi tidak terkontrol saat matanya bertemu mata bening Rafi yang begitu intens menatapnya. Seluruh wajahnya mendadak menghangat, pandangannya buram.

“El?” tegur Rafi cemas manakala melihat Elia limbung.

Bruk.

Elia pingsan. Beruntung, dua lengan kokoh Rafi berhasil menangkap tubuhnya tepat sebelum gadis itu ambruk ke belakang.

“El, Elia!” Rafi menoleh cepat ke meja perawat. “Bantuin, Sus!”

Satu Jam Kemudian

Aroma antiseptik membuat Elia sadar bahwa ia masih berada di rumah sakit. Lengan kanannya terangkat ke atas dahi, menghalangi sinar lampu yang menusuk pupilnya.

“Kamu sudah sadar, El?”

Elia meneleng ke kanan mendengar teguran Rafi. Senyum lemah tersungging di bibirnya.

“Mau aku ambilkan sesuatu, El?”

Gadis itu menghela napas dalam sebelum menarik tubuhnya bangun. Ia duduk di tepi ranjang dengan kaki menggantung.

“Minum,” jawab Elia singkat.

Jari panjang dan kokoh meraih gelas kaca bening dari atas meja pasien dan mengisi setengahnya dengan air. Tak lama, isi gelas itu sudah berpindah ke dalam lambung Elia.

Hening.

Rafi hanya berani menatap jemari Elia yang menggenggam erat gelas pemberiannya. Ia khawatir, kegugupannya akan mudah diketahui Elia bila ia terlalu banyak bersuara.

“Hmm …,”

Gumaman Elia membuat Rafi mendongak.

“Kenapa, El? Ada yang tidak nyaman?” tanya Rafi cemas.

Elia menggeleng. “Aku datang ke sini untuk meminta bantuanmu, Raf.”

“Katakan saja.” Rafi menegakkan punggungnya.

“Aku ingin melihat rekam medis ayahku, Surya Wijaya. Seminggu lalu, ia meninggal di sini,” tukas Elia jujur.

Rafi terperanjat mendengar permintaan Elia. Ia tidak menduga, ayah gadis pujaannya meninggal di sini, rumah sakit tempatnya magang, tanpa ia tahu.

“Ayahmu meninggal di sini? Kapan? Causa?”

Elia tersenyum getir. “Aku rasa, kita akan tahu pasti penyebab kematiannya, setelah membaca rekam medisnya.”

Rasa malu membuat wajah Rafi terasa panas. Pertanyaan itu tentu terdengar konyol di telinga Elia, terlihat dari cara gadis itu menjawab.

“Ehem! Kamu tentu tahu, rekam medis tidak bisa dengan mudah diakses meskipun oleh anggota keluarga, kecuali untuk alasan pemeriksaan kepolisian atau pengajuan klaim asuransi,” balas Rafi diplomatis.

“Ya, aku tahu. Itu sebabnya, aku datang meminta bantuanmu. Aku dengar dari Shinta, kamu anak pemilik rumah sakit. Betul?”

Rafi terdiam sejenak. Dahinya berkerut mencari jalan keluar. Putra pemilik rumah sakit, tidak berarti membuatnya bisa bertindak sesuka hati.

“Hmm, kamu tunggu sini. Aku akan pinjam laporan harian perawat jaga IGD.” Rafi bergegas keluar tanpa menunggu persetujuan Elia.

“Makasih,” lirih Elia, yang sepertinya tidak sempat Rafi dengar.

****

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 52

    “Yah, jangan tinggalkan El sendirian.” Elia mencekal lengan Wirasena.Wirasena yang masih membungkuk di atas tubuh Elia membeku oleh sentuhan itu. Sampai malam ini, Wirasena tidak pernah menyadari bahwa ia—tubuhnya—sangat merindukan wanita itu. Bukan karena Elia sedang mengandung anaknya, bukan karena tanggung jawab yang selama ini ia jadikan alasan untuk bisa dekat dengan wanita itu, tapi karena wanita itu Elia.“El, kamu akan menyesalinya dan semakin marah padaku begitu kamu bangun besok pagi.”Elia menarik lengan Wirasena semakin erat hingga lengan berotot itu bersentuhan dengan dada penuh yang terbalut kain kaos. Wirasena mengejang, rahangnya gemerutuk menahan hasrat yang ditahannya beberapa bulan ini.Tangan bebas Wirasena mengusap wajah Elia lembut. Ibu jarinya menyentuh bibir Elia yang lembab.“Pers*tan, El! Aku siap menanggung semuanya besok,” gumam Wirasena sebelum merendahkan kepalanya dan melumat bibir istrinya yang setengah terbuka.Tidak berhenti di situ, Wirasena berpind

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 51

    Elia sedang merendam kakinya setelah beberapa jam berdiri dan berjalan mengerjakan tugasnya di puskesmas dan balai desa sekaligus. Ia bersandar nyaman pada sofa dan menikmati larutan garam hangat melebarkan pembuluh darahnya dan menenangkan ototnya yang kaku.“Cokelat hangat?” tawar Jonas dari meja makan.“Tidak, terima kasih. Seharian ini aku merasa perutku penuh dan napsu makanku hilang.” Elia menegakkan punggungnya. “Jonas, apakah respon warga selalu antusia begitu saat ada penyuluhan?” tanya Elia penasaran.Jonas tersenyum. “Ya, setidaknya di sini, mereka sangat antusias terhadap informasi kesehatan yang diberikan. Atau mungkin ….” Jonas duduk di samping Elia. “Mereka lebih antusias karena kamu yang berbicara.”Elia terkekeh. “Bukankah sebelumnya mereka sudah punya doknas yang ganteng?” gurau Elia polos.“Dok, Dokter!” Bagus muncul di ambang pintu dengan wajah panik. “Pasien baru, anak-anak usia sembilan tahun, luka bakar empat puluh persen.”Jonas dan Elia bergegas menuju UGD pus

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 50

    Di atas ranjang, Barata tersenyum memandangi foto yang sengaja diambilnya untuk sebuah tujuan yang mulia. Pose mereka berdua sangat provokatif, meskipun itu terjadi karena ketidaksengajaan dan didukung keahlian sang fotografer, Joko.“Kamu kenapa? Pulang dari area konflik malah senyum-senyum.” Elena naik ke atas ranjang menjejeri suaminya. “Jangan kelewat bahagia, besok ketemu Wira, jadi remahan rempeyek.”Barata terkekeh seraya menyerahkan foto yang dipandanginya sejak tadi. “Coba lihat. Apa yang akan terjadi padaku besok, ketika si Wira lihat foto ini?”Elena menerima ponsel Barata dengan rasa penasaran. “Wahh, habis kamu, Yang. Bakal jadi perkedel kamu. Kok bisa posenya begini, sih?!” Elena menyodorkan kembali ponsel suaminya dengan bergidik.“Disuruh bantu selesaikan masalah, malah nambah masalah. Misimu itu meredakan perang, bukan sebaliknya. Astaga ...,” desah Elena lelah.“Biar saja. Jengkel aku dibuatnya! Istri siapa yang kabur, siapa yang disuruh kejar.” Barata kembali mengam

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 49

    “Tidak mungkin ketahuan, maksudmu?” sela Wirasena dengan sorot mata tajam. “Bukan tidak ketahuan, tapi belum saatnya diketahui orang. Sama seperti tindakanmu pada almarhum ibuku yang akan aku bongkar sebentar lagi.”Wajah Rossana makin pias. Keringat sebesar biji jagung, muncul di kedua pelipisnya. “A-apa maksudnya?”“Cih! Dari sikap gugup dan butiran keringat yang keluar, sudah cukup membuktikan bahwa kamu mengerti betul apa maksud ucapanku,” cibir Wirasena sinis. “Ayo, Nar. Tidak perlu berlama-lama.”“Sampaikan pada Yulia, kami tidak akan menuntut kalau semua dikembalikan pada pemiliknya. Itu saja.” Danar meraih tas kerjanya dan bangkit dari kursinya. “Kami permisi.”Wirasena hanya melirik ketika Danar menepuk bahunya sambil lalu. Ia belum berniat beranjak dari tempatnya.“Sekilas, aku ingat Elia pernah menyebut tentang tukang kebunnya yang tiba-tiba menghilang setelah kematian ayahnya. Apa itu juga ada hubungannya denganmu?”Dengan tenang, Wirasena mengusap dagunya yang kasar. “Aku

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 48

    Haris duduk bersandar pada kursi plastik tebal yang baru pertama kali dipakainya menemui tamu karena semenjak dirinya mendekam dalam tahanan, belum ada satu orang pun yang menjenguknya, termasuk para perempuannya. Ia mengernyit melihat dua pria yang menjadi tamu pertamanya. Rasanya, ia belum pernah melihat apalagi mengenal mereka berdua. “Kalian siapa?” Pria berdasi menegakkan punggungnya dan mengeluarkan selembar kertas dari dalam tas kulit hitam yang biasanya juga Haris pakai ketika menemui klien atau yang berkaitan dengan kasus yang ditanganinya. “Saya Danar Wiguna, kuasa hukum dari Wirasena. Saya datang untuk menyampaikan ini kepada anda.” Danar memutar kertas menghadap Haris agar pria itu mudah membacanya. Tangan bergelang borgol itu, menerima dengan ragu. Bola matanya bergerak lambat mencermati setiap kata yang tertera dalam kertas. Sejurus kemudian, senyum sinis terbersit di sudut kanan bibirnya. “Pemalsuan surat wasiat? Apa ini?!” Haris meremas kertas di tangannya dan mem

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 47

    Mata wanita Bali itu lekat menatapnya, membuat Elia was-was.“Secara keseluruhan, kondisi bayinya sehat. Hanya saja ….”“Hanya saja apa, Dok? Bayi saya kenapa?” sambar Elia cepat.Tok tok tok.“Masuk.”Elia sedikit kesal pada pemilik tangan di balik pintu yang mengganggunya. Wajah cemberutnya tidak lepas dari pengamatan Kadek.“Permisi, Dok. Apa suami pasien sudah boleh masuk?” tanya perawat pendamping polos.“Boleh. Persilakan masuk, Sus.” Senyum jenaka terbersit di sudut bibir Kadek.Elia memalingkan wajahnya menanti kemunculan Jonas. Begitu pria itu menampakkan wajah tampannya yang sedang tersenyum canggung, Elia menekuk bibirnya keluar.“Kenapa masuk sekarang, sih?!” ketus Elia disambut ekspresi kebingungan Jonas.“Hah?”“Silakan duduk.” Kadek berdiri dan mengulurkan tangan. “Tidak perlu kaget, pengaruh pregnancy hormone.”Mulut Jonas membulat tanda maklum. “Jadi, bagaimana dengan bayinya, Dok?” Jonas mengambil kursi di samping Elia, mengabaikan wajah cemberut yang masih menatapny

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 45

    “Masuk, Bang!” Jonas mengiring Barata masuk. “Kok gak kabar-kabar dulu? Kakak gaka ikut?”Elia hanya terbengong melihat Jonas begitu akrab dengan dosen walinya. Kalau hanya kenal, dirinya juga mengenal Barata dengan baik. Tapi ini, lebih dari sekedar saling kenal.

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 44

    “Mau apa?” Mata Elia melebar karena panik.Alih-alih menjawab pertanyaan Elia, Jonas menarik turun kedua kaki Elia dan meletakkannya di dalam ember berisi larutan garam hangat.“Rendam kakimu sebentar.” Jonas merasa Elia menarik kakinya dengan tatapan curiga. &

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 41

    “Jonas! Apa benar yang dikatakan nenek Aminah?!” tanya Andika tak sabar.Mulut Jonas setengah terbuka hendak menjawab pertanyaan Andika, tapi urung karena kepala-kepala lain menyusul di belakang Andika. Tatapan penasaran menghujani Elia dan Jonas yang masih bingung mencerna kondisi yang sedang terjad

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 39-2

    “Haish! Dia lagi di mana, sih?!” kesal Shinta seraya menghubungi Elia kembali. “Kamu di mana, El?” cemas Shinta kala operator menjawab panggilannya.Maswir calling ….“Halo, Maswir.”[Ada apa dengan Elia?] tanya Wirasena dengan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status