Share

Bab 3

Penulis: Selene21
last update Tanggal publikasi: 2024-01-22 09:39:23

Elia membaca dengan cermat laporan singkat pemeriksaan perawat dan dokter, matanya berkaca-kaca. Ingatannya kembali pada hari di mana ia mendapat telepon dari Rossa yang mengabarkan bahwa ayahnya sedang dirawat karena serangan jantung.

“El,” panggil Rafi membuyarkan lamunan gadis itu.

“Hmm?” Elia mendongak sambil mengusap matanya yang basah.

“Kamu baik-baik saja, El?”

Air mata Elia luruh. “Jadi, ayahku DOA (Death on Arrival), Raf? Dia tidak sempat mendapatkan pertolongan? Dia meninggal dalam perjalanan?” cecar Elia sambil terisak.

Rafi memegang bahu Elia agar gadis itu tenang. “Menurut perawat yang bertugas hari itu, ayahmu datang dalam kondisi cardiac arrest (henti jantung). Sudah dilakukan pertolongan pertama, tapi jantungnya tidak merespon. Kesimpulan dokter jaga DOA karena akralnya masih hangat.”

Pernyataan Rafi membuat Elia tergugu. Pasalnya, semua itu berbeda dengan apa yang Yulia ceritakan padanya.

‘Ayah bukan tipe pasien yang tidak patuh. Apa yang membuatnya tiba-tiba mengalami serangan jantung? Pasti ada sesuatu yang terjadi di rumah.’ Elia membatin.

“El, Elia?” tegur Rafi lagi.

Elia menggeleng. “Ehh. Terima kasih banyak atas bantuannya.” Elia turun dari ranjang dan menyerahkan buku besar pada Rafi. “Aku pamit.”

“El!” panggil Rafi menghentikan langkah Elia, gadis itu berbalik menatap Rafi. “Kalau kamu butuh teman bicara, kamu bisa hubungi aku kapan saja.”

“Makasih,” ucap Elia singkat diiring senyum ramah sebelum akhirnya berbalik lagi dan pergi.

***

Dalam perjalanan pulang, Elia tidak hentinya memikirkan kejanggalan cerita Yulia dan fakta yang ditemukannya di rumah sakit. Instingnya meyakini ada sesuatu yang membuat cerita itu rumpang. Elia membelokkan skuternya di sebuah swalayan. Ia berniat membeli sebotol air mineral dingin untuk menyegarkan otaknya. Saat memarkir motor, dilihatnya Yulia keluar dari pintu swalayan melalui kaca spion.

“Dasar pembohong!” geram Elia seraya menaikkan lagi standar motornya. “Ayo kita selesaikan hari ini juga!” ujarnya sambil melajukan motornya mengejar mobil Yulia.

Hampir setengah jam lamanya Elia membuntuti sedan putih di depannya, hingga mobil itu berhenti di halaman parkir sebuah apartemen. Elia berhenti di kejauhan agar Yulia tidak menyadari kehadirannya.

“Ngapain dia kemari?” gumam Elia penasaran. Dilepasnya helm hitam bermerk sama dengan motornya, digantungnya asal di spion.

Matanya memicing mencermati sosok pria yang turun bersama Yulia dan menggandeng mesra tangan perempuan itu. Penasaran, Elia putuskan untuk terus mengikuti Yulia. Di depan pintu lift yang masih tertutup, Yulia dan teman prianya semakin menempel mesra seolah tidak bisa dipisahkan. Spontan, ia mendapatkan ide gila untuk mengacau.

Namun, langkahnya terhenti manakala si pria mengarahkan wajahnya ke samping untuk mendaratkan sebuah kecupan di pipi Yulia. “Om Haris?” gumam Elia tak percaya. “Mereka saling kenal? Apa yang mereka lakukan di sini?”

Tanpa pikir panjang, Elia meraih lengan kiri Haris yang menggantung bebas dan menariknya kuat hingga pelukan Yulia terlepas. “Papa! Papa di sini ternyata?! Tega banget ninggalin mama di rumah sakit sendirian!”

“Hei! Apa-apaan ini?!” hardik Haris marah.

“Papa yang apa-apaan! Istri lagi sakit, malah asik-asikan sama selingkuhan!” balas Elia lebih lantang lagi.

Plak!

Tamparan Yulia terasa lebih kuat dan menyakitkan, membuat tubuh kecil Elia terhuyung, nyaris jatuh. Elia meringis menahan sakit sekaligus senang. Kepalanya mengedar, ia melihat beberapa orang mulai mengarahkan pandangan padanya seperti lampu sorot panggung.

“Lihat, kelakuan jalang ini! Dia menggoda laki-laki yang sudah punya anak istri. mama saya sedang sekarat di rumah sakit! Lihat!” teriak Elia sungguh-sungguh.

“Astaga … kurang ajar bener ini perempuan. Udah ngrebut suami orang, tega-teganya nampar anaknya,” ucap seorang wanita bergaun batik.

“Iya. Mana bapaknya diem aja. Setali tiga uang sama selingkuhannya!” cibir wanita lainnya.

“Udah, Pak. Pulang aja dulu. Nanti kalau istrinya udah sembuh, lanjutin lagi!” sindir seorang pria berpakaian kasual.

“Ada apa ini?!” hardik petugas keamanan. “Mohon tidak mengganggu penghuni lainnya. Silakan kalian selesaikan dulu di luar!” usir petugas berbadan kekar.

Wajah Haris merah padam. Dengan kasar, ditariknya lengan Elia meninggalkan lobi apartemen diikuti Yulia. Di halaman parkir, Haris mengibaskan tangan Elia sambil menengadah ke langit, mengembuskan kemarahannya.

Grep.

Lepas dari singa, ditangkap buaya. Dari arah belakang, Yulia menarik keras rambut sebahu Elia yang diekor kuda hingga gadis itu jatuh terduduk.

“Kurang ajar! Mau cari gara-gara, heh?!” bentak Yulia disertai percikan-percikan ludah karena emosi.

Elia meringis kesakitan, lalu terkekeh beberapa saat kemudian.

“Apa yang kau tertawakan, hah?!” bentak Yulia. “Gila!”

Tawa Elia menggelegar, tawa pilu seorang anak yang kehilangan ayahnya. “Akhirnya aku mengerti apa yang terjadi. Kalian berdua ada hubungannya dengan kematian ayah dan pemalsuan surat wasiatnya.”

Haris mengusap kasar wajahnya. “Sebaiknya kalian berdua pulang dan selesaikan masalah ini. Aku tidak ingin ikut campur masalah keluarga kalian!”

“Apa? Tidak ingin ikut campur?” Elia segera berdiri dan menarik pinggiran jas hitam, kehilangan rasa hormatnya pada teman dekat ayahnya itu. “Bagaimana dengan surat wasiat ayahku? Apa benar Om tidak ikut campur?”

Berdiri berhadapan sedekat ini dengan putri almarhum sahabatnya, membuat Haris diliputi rasa bersalah, wajahnya pias, napasnya pendek. Tangannya dengan kasar melepaskan cengkeram Elia.

“Maaf, Om tidak mengerti apa yang kamu maksud, El. Sebaiknya kalian pulang.”

Setelah berkata demikian, Haris bergegas meninggalkan halaman parkir apartemen. Berdiri beberapa saat di trotoar dan melambai ke arah taksi kosong yang kebetulan melintas.

“Lihat saja apa yang akan terjadi padamu!” tuding Yulia ke muka adik tirinya. “Aku akan balas semuanya lunas!”

“Hei, Jalang! Aku tidak peduli apa yang akan kau lakukan, yang jelas, aku minta semua hartaku kembali!” teriak Elia melihat Yulia bergegas pergi.

***

Malam sudah larut saat Elia sampai rumah. Dilihatnya carport masih kosong.

‘Dia belum kembali,’ batin Elia. ‘Ini kesempatanku menanyai Minah.’

Elia bergegas ke rumah belakang melalui pintu samping. Instingnya mengatakan, kegaduhan akan mengaburkan kebenaran. Maka, Elia berjalan mengendap menuju kamar Minah.

“Minah, saya minta tolong, kamu tutup mulut. Demi ketenangan di rumah ini. Ingat, bapak berpesan khusus padamu untuk menjaga kami bertiga, bukan?”

“Tapi, Bu. Bapak bilang, titip Elia. Kamu dan Ujang harus menjaga dia baik-baik. Bukan titip mereka bertiga, Bu,” sanggah Minah polos. “Sekarang saja, Ujang sudah dipulangkan. Jadi kurang lengkap formasi bodigat yang bapak minta, Bu.”

“Halah! Bawel kamu! Turuti saja perkataan saya kalau masih ingin bekerja di sini!” tukas Rossa sebelum meraih gagang pintu dan membukanya.

Betapa terkejutnya Rossa, mendapati Elia berdiri bersedekap di ambang pintu yang terbuka. “E-el!” gugup Rossa. “Se-sejak kapan kamu berdiri di sini? Kok tante gak denger kamu dateng?”

Elia tersenyum kecut. “Tante Ros terlalu sibuk mengancam Bik Minah, sih!”

Rossa makin pucat. ‘Rupanya, Elia mendengar semua ucapanku. Bagaimana ini?’ paniknya dalam hati. “M-mengancam apa? Tante cuma sedang bicara dengan Minah, kok. Iya ‘kan, Minah?”

Pluk.

Rossa menepuk lengan atas Elia kikuk. “Jangan terlalu banyak pikiran, istirahatlah. Tante masuk dulu, ya.” Hampir saja ia tersandung kakinya sendiri karena buru-buru melangkah dan kurang fokus.

“Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Bukan begitu, Tan?” cibir Elia menghentikan langkah Rossa. Gadis itu menghadang Rossa. “Aku akan bongkar kebohongan di rumah ini. Tentang kematian ayah atau pemalsuan surat wasiat yang Yulia lakukan.”

Rona pias Rossa, perlahan memerah. “El, tante paham kamu tidak pernah menerima kami. Tapi, itu tidak berarti bahwa kamu bisa menuduh sembarangan, ya. Tante tidak pernah membalas sikap acuhmu selama ini karena menghormati Mas Surya. Jangan melebihi batas, El!”

“Wohoho … si kancil belajar mengaum rupanya.” Elia berkacak pinggang. “Kalau tante tahu, rumah ini tidak pernah menerima, kenapa masih bertahan sampai sekarang?” tanya Elia ketus.

“Kalau dulu tidak pernah membalas karena ayah masih hidup, sekarang mau apa? Balas saja semuanya sekaligus.” Elia maju selangkah mengintimidasi Rossa. “Apa kematian ayah merupakan wujud balasan, Tante?”

“Elia! Jaga bicaramu! Bukan kamu saja yang sedih karena kepergian Mas Surya, tante juga.”

“Hahaha … sedih?” Suara Elia mulai serak. “Mengancam Bik Minah itu perwujudan dari kesedihan? Iya, Tan?!” Elia maju selangkah lagi, berhasil membuat Rossa mundur menempel tembok.

“Karena ayah sudah tidak ada, tidak ada lagi alasan untuk Tante tetap tinggal di sini. Sebaiknya Tante bawa Yulia pergi dari sini. Mungkin Tante bisa tinggal di rumah Om Haris karena ternyata Yulia punya hubungan special dengan pengacara itu.”

“TUTUP MULUTMU!” teriak Yulia dari ambang pintu yang menghubungkan rumah utama dan halaman belakang. “RUMAH INI MILIK KAMI SEKARANG!” Yulia mulai bergegas menghampiri Elia.

“Kalau kamu tidak ingin kehilangan rumah ini selamanya, sebaiknya kamu berkemas sekarang juga!” desis Yulia tepat di depan muka Elia. “Atau aku akan menjual rumah ini,” imbuhnya masih dengan desisan mengerikan.

Elia mendorong bahu Yulia menjauh. “Mimpi kamu! Jangan kamu pikir bisa mengancamku lagi!”

“Oke, kalau kamu masih bersikeras untuk tinggal, maka aku akan menjual rumah ini.” Yulia mengeluarkan ponsel dari dalam tas selempangnya. Ditekannya layar ponsel pintar itu dan menunjukkannya pada Elia.

Begitu tersambung, Yulia langsung berkata, “Silakan mulai ditawarkan. Tawarkan dengan harga paling rendah. Saya ingin malam ini juga, rumah ini terjual.”

Kini, giliran Elia berang. Direbutnya ponsel Yulia dan dilemparnya ke dinding hingga pecah berantakan. “Lancang! Siapa kamu?! Beraninya menjual rumah peninggalan orang tuaku!”

Yulia tertawa penuh kemenangan melihat Elia hilang kendali. Dikibaskan rambutnya yang lengket di leher jenjangnya dengan kasar.

“Kamu tanya aku siapa? Aku adalah pemilik sah rumah ini. Lihat, aku sudah merubah nama pemilik rumah ini menjadi namaku.” Yulia melemparkan satu bendel kopian sertifikat rumah pada Elia.

“Tidak mungkin!” kalut Elia. Dipungutnya kertas yang terbuka di lantai. ‘Benar katanya, dia sudah mengganti nama pemilik rumah ini. Kurang ajar!’ geram Elia dalam hati.

“Pilihanmu hanya pergi. Sekarang!”

****

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 52

    “Yah, jangan tinggalkan El sendirian.” Elia mencekal lengan Wirasena.Wirasena yang masih membungkuk di atas tubuh Elia membeku oleh sentuhan itu. Sampai malam ini, Wirasena tidak pernah menyadari bahwa ia—tubuhnya—sangat merindukan wanita itu. Bukan karena Elia sedang mengandung anaknya, bukan karena tanggung jawab yang selama ini ia jadikan alasan untuk bisa dekat dengan wanita itu, tapi karena wanita itu Elia.“El, kamu akan menyesalinya dan semakin marah padaku begitu kamu bangun besok pagi.”Elia menarik lengan Wirasena semakin erat hingga lengan berotot itu bersentuhan dengan dada penuh yang terbalut kain kaos. Wirasena mengejang, rahangnya gemerutuk menahan hasrat yang ditahannya beberapa bulan ini.Tangan bebas Wirasena mengusap wajah Elia lembut. Ibu jarinya menyentuh bibir Elia yang lembab.“Pers*tan, El! Aku siap menanggung semuanya besok,” gumam Wirasena sebelum merendahkan kepalanya dan melumat bibir istrinya yang setengah terbuka.Tidak berhenti di situ, Wirasena berpind

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 51

    Elia sedang merendam kakinya setelah beberapa jam berdiri dan berjalan mengerjakan tugasnya di puskesmas dan balai desa sekaligus. Ia bersandar nyaman pada sofa dan menikmati larutan garam hangat melebarkan pembuluh darahnya dan menenangkan ototnya yang kaku.“Cokelat hangat?” tawar Jonas dari meja makan.“Tidak, terima kasih. Seharian ini aku merasa perutku penuh dan napsu makanku hilang.” Elia menegakkan punggungnya. “Jonas, apakah respon warga selalu antusia begitu saat ada penyuluhan?” tanya Elia penasaran.Jonas tersenyum. “Ya, setidaknya di sini, mereka sangat antusias terhadap informasi kesehatan yang diberikan. Atau mungkin ….” Jonas duduk di samping Elia. “Mereka lebih antusias karena kamu yang berbicara.”Elia terkekeh. “Bukankah sebelumnya mereka sudah punya doknas yang ganteng?” gurau Elia polos.“Dok, Dokter!” Bagus muncul di ambang pintu dengan wajah panik. “Pasien baru, anak-anak usia sembilan tahun, luka bakar empat puluh persen.”Jonas dan Elia bergegas menuju UGD pus

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 50

    Di atas ranjang, Barata tersenyum memandangi foto yang sengaja diambilnya untuk sebuah tujuan yang mulia. Pose mereka berdua sangat provokatif, meskipun itu terjadi karena ketidaksengajaan dan didukung keahlian sang fotografer, Joko.“Kamu kenapa? Pulang dari area konflik malah senyum-senyum.” Elena naik ke atas ranjang menjejeri suaminya. “Jangan kelewat bahagia, besok ketemu Wira, jadi remahan rempeyek.”Barata terkekeh seraya menyerahkan foto yang dipandanginya sejak tadi. “Coba lihat. Apa yang akan terjadi padaku besok, ketika si Wira lihat foto ini?”Elena menerima ponsel Barata dengan rasa penasaran. “Wahh, habis kamu, Yang. Bakal jadi perkedel kamu. Kok bisa posenya begini, sih?!” Elena menyodorkan kembali ponsel suaminya dengan bergidik.“Disuruh bantu selesaikan masalah, malah nambah masalah. Misimu itu meredakan perang, bukan sebaliknya. Astaga ...,” desah Elena lelah.“Biar saja. Jengkel aku dibuatnya! Istri siapa yang kabur, siapa yang disuruh kejar.” Barata kembali mengam

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 49

    “Tidak mungkin ketahuan, maksudmu?” sela Wirasena dengan sorot mata tajam. “Bukan tidak ketahuan, tapi belum saatnya diketahui orang. Sama seperti tindakanmu pada almarhum ibuku yang akan aku bongkar sebentar lagi.”Wajah Rossana makin pias. Keringat sebesar biji jagung, muncul di kedua pelipisnya. “A-apa maksudnya?”“Cih! Dari sikap gugup dan butiran keringat yang keluar, sudah cukup membuktikan bahwa kamu mengerti betul apa maksud ucapanku,” cibir Wirasena sinis. “Ayo, Nar. Tidak perlu berlama-lama.”“Sampaikan pada Yulia, kami tidak akan menuntut kalau semua dikembalikan pada pemiliknya. Itu saja.” Danar meraih tas kerjanya dan bangkit dari kursinya. “Kami permisi.”Wirasena hanya melirik ketika Danar menepuk bahunya sambil lalu. Ia belum berniat beranjak dari tempatnya.“Sekilas, aku ingat Elia pernah menyebut tentang tukang kebunnya yang tiba-tiba menghilang setelah kematian ayahnya. Apa itu juga ada hubungannya denganmu?”Dengan tenang, Wirasena mengusap dagunya yang kasar. “Aku

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 48

    Haris duduk bersandar pada kursi plastik tebal yang baru pertama kali dipakainya menemui tamu karena semenjak dirinya mendekam dalam tahanan, belum ada satu orang pun yang menjenguknya, termasuk para perempuannya. Ia mengernyit melihat dua pria yang menjadi tamu pertamanya. Rasanya, ia belum pernah melihat apalagi mengenal mereka berdua. “Kalian siapa?” Pria berdasi menegakkan punggungnya dan mengeluarkan selembar kertas dari dalam tas kulit hitam yang biasanya juga Haris pakai ketika menemui klien atau yang berkaitan dengan kasus yang ditanganinya. “Saya Danar Wiguna, kuasa hukum dari Wirasena. Saya datang untuk menyampaikan ini kepada anda.” Danar memutar kertas menghadap Haris agar pria itu mudah membacanya. Tangan bergelang borgol itu, menerima dengan ragu. Bola matanya bergerak lambat mencermati setiap kata yang tertera dalam kertas. Sejurus kemudian, senyum sinis terbersit di sudut kanan bibirnya. “Pemalsuan surat wasiat? Apa ini?!” Haris meremas kertas di tangannya dan mem

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 47

    Mata wanita Bali itu lekat menatapnya, membuat Elia was-was.“Secara keseluruhan, kondisi bayinya sehat. Hanya saja ….”“Hanya saja apa, Dok? Bayi saya kenapa?” sambar Elia cepat.Tok tok tok.“Masuk.”Elia sedikit kesal pada pemilik tangan di balik pintu yang mengganggunya. Wajah cemberutnya tidak lepas dari pengamatan Kadek.“Permisi, Dok. Apa suami pasien sudah boleh masuk?” tanya perawat pendamping polos.“Boleh. Persilakan masuk, Sus.” Senyum jenaka terbersit di sudut bibir Kadek.Elia memalingkan wajahnya menanti kemunculan Jonas. Begitu pria itu menampakkan wajah tampannya yang sedang tersenyum canggung, Elia menekuk bibirnya keluar.“Kenapa masuk sekarang, sih?!” ketus Elia disambut ekspresi kebingungan Jonas.“Hah?”“Silakan duduk.” Kadek berdiri dan mengulurkan tangan. “Tidak perlu kaget, pengaruh pregnancy hormone.”Mulut Jonas membulat tanda maklum. “Jadi, bagaimana dengan bayinya, Dok?” Jonas mengambil kursi di samping Elia, mengabaikan wajah cemberut yang masih menatapny

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 39-1

    Shinta kembali ke kamarnya dengan panik. Ia nyaris bertabrakan dengan Wirasena di ruang tamu. Melihat gelagat pria itu, perasaan Shinta menjadi tidak enak dan khawatir tentang Elia.“El, are you okay?” Shinta menghampiri Elia. Gadis itu menekuk kaki dan memeluknya erat sambil tersedu. “Dia menyakitim

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 38

    “Ehm, ya. Saya hendak mengajukan pengunduran diri, Dok.”Armand terpaku menatap wajah cantik di hadapannya. “Mengundurkan diri? Kenapa? Apa karena gurauan saya kelewat batas?” Armand mencoba untuk tetap santai, meskipun hatinya was-was.Sejauh yang pernah diden

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 37

    Elia tetap terjaga hingga dini hari. Setelah yang terjadi di ruang tamunya beberapa jam yang lalu, pikirannya terus berkecamuk. “Dia berucap seolah aku ini hanya rahim sewaan baginya.” Elia bergerak gelisah di atas ranjang. “Kenapa dia tidak menyebutkan di awal, supaya aku tidak banyak ber

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 36

    Sepeninggal Shinta, Elia melanjutkan kegiatannya menata barang dan membersihkan rumah. Hari sudah gelap, ketika Elia keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan terburu-buru karena suara bel pintu yang tidak berhenti berbunyi.“Ya …!” teriak Elia sambil bergegas. &ldq

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status